Kamis, 12 April 2012

Hujan dan Teduh (Wulan Dewatra)







"Aku dan kamu seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.

Mungkin jalan kita tidak bersimpangan."


Itu alasan pertama, kenapa pada akhirnya saya menginginkan novel ini. Ah, tuh kan saya selalu tertarik menceritakan bagaimana saya berjodoh dengan sebuah buku. Dan perumpamaan tentang hujan dan teduh yang ada di cover belakang novel ini menarik, menarik sekali. Humm, gagas memang selalu bisa membuat saya tertarik dengan cover2nya yang cantik dan manis itu, tidak hanya tampilan warnanya yang saya banget tapi juga kata2nya yang membius. Hihihi….

"Juara pertama 100% roman asli Indonesia."

Label itulah yang tercetak di cover depan novel ini. Dan itu alasan kedua kenapa saya menjemput novel ini. Pengin tahu, gimana sih si jawara itu. Apa saya juga akan berpendapat yang sama dengan para juri kalau naskah itu pantas jadi juara? Ceileee… Siapa elo yan? :p

Singkat kata singkat cerita pada akhirnya novel ini pun menjadi milik saya. Huahahaha…..

Bagaimana setelah membacanya?

Humm… Sebelum membaca saya tengok dulu tuh profil penulis karena nama Wulan Dewatra adalah nama yang asing bagi saya. Dan sepotong wajah manis berjilbab hitam saya jumpai di foto profil tersebut. Melihat tampilan si penulis yang berjilbab. Jujur nih yaa… Saya jadi berharap banget kalau novel ini membawa moral of the story yang cukup kuat sehingga ketika saya selesai membacanya bukan hanya cerita cinta2an saja yang saya dapat tapi juga dapat sesuatu gitu. Oh ya, satu lagi, penulisnya masih muda euy, kelahiran tahun 90.

Qta masuk ke dalam cerita. Jeng… Jeng.. Jeng…

Hujan dan teduh bercerita tentang Bintang, novel ini memakai alur maju mundur. Yang dalam satu chapter, kedua alur bisa muncul beriringan dengan hanya dibedakan huruf miring aja. Rentang waktu yang pendek antara masa lalu dan masa kini, tapi apa yang dialami Bintang banyak sekaliii… Saat SMA konflik berputar tentang Bintang dan sahabatnya Kaila. Sebuah persahabatan yang sangat tidak wajar. Tak wajar? Yaah… sangat2 tidak wajar.

Saat kuliah juga bercerita tentang bagaimana Bintang menjalin asmara dengan Noval yang awalnya adalah musuhnya. Sebuah hubungan antar anak muda yang sangat kebablasan. Saya jadi tercenung sendiri di titik ini, ngeri dengan kebebasan pergaulan yang diceritakan di sini. Tapiii… Wulan Dewatra, sang penulis menuliskannya dalam bahasa yang masih wajar kok.

Trus? Hadeh, saya menahan diri untuk tidak menceritakan secara rinci isi novel ini. Karena disitulah menariknya. Kejutan2 yang diberikan di novel ini membuat saya ingin berlari mengetahui apa selanjutnya yang terjadi. Dan mungkin itu ya salah satu yang bikin novel ini jadi jawara.

Lalu kemudian, adakah moral of the story yang menjadi harapan saya ketika membuka halaman novel ini? Ada. Walau tak langsung. Mengutip twit dari salah satu penerbit tentang manfaat membaca novel yaitu kita bisa belajar sebab-akibat dr pengalaman hidup tokoh, qt jd tahu jika melakukn A maka akan berakibat B.

Yup. Itulah yang bisa kita ambil.. Apa yang dialami Bintang semoga membuat kaum muda (yang tua juga) berpikir. Bahwa… itu ga bagus loooh, juga berdosa. Dosa besar lagi… Mari menjaga diri qta. *kalimat ini terutama ditujukan pada saya*

Dan yang menjadi pertanyaan saya juga selepas membaca novel ini apa begitu mudah ya merubah penyimpangan yang ada dalam diri dalam waktu 2-3 tahun? Seseorang yang dulunya punya ketertarikan dengan sesama jenis bisa stop total gitu? Bisa aja kali ya kalau komitmennya kuat namun keterbatasan halaman di novel ini membuat proses perang batin dalam diri Bintang jadi ga berasa.

Dan jugaaa…. Saya jadi menebak2 apa hubungan jalan cerita dengan tulisan di cover belakang buku tentang hujan dan teduh yang tak bisa berjalan bersama? Mungkin ini tentang hubungan Bintang dan Kaila.. Tapi yang lebih mungkin sepertinya tentang masa lalu dan masa kini yang menjadi alur cerita ini, seperti Hujan dan Teduh.

Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...