Sabtu, 01 September 2012

Dzulhijjah, 4 tahun silam

Idul Adha, biasanya saya akan melewatinya seperti biasa, shalat ied pagi harinya, silaturrahim sebentar kemudian beranjak ke rumah nenek saya, berkumpul bersama keluarga. Idul Adha di sana meriah.. tak kalah deh dengan Idul Fitri karena keluarga akan berkumpul dan kami masak bareng. Masing-masing mengeluarkan jurus andalannya mengolah daging. Yup, daging korban yang baru dipotong. Masih segar sekali. Dibikin apa aja maknyus punya.

Namun jika ditanya, kapan Idul Adha yang paling berkesan selama hidup saya ini, tentu saja jawabannya adalah Idul Adha 4 tahun yang lalu. Idul Adha yang begitu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Idul Adha di tahun 1429 Hijriah. Idul Adha yang saya lewati hanya dengan kakak dan tante sebagai keluarga saya. Idul Adha yang saya impikan bertahun-tahun untuk berada di tempat itu. 10 Dzulhijjah yang saya lewati di Arafah, Mekkah dan Mina.


8 Dzulhijjah 1429 (Hari Tarawiah)

Pagi sekali saya sudah terbangun, menjadi orang nomor satu masuk kamar mandi. Tentu saja alasan saya berpagi-pagi supaya saya bisa lebih leluasa menggunakan kamar mandi dan tidak digedor-gedor karena kelamaan di kamar mandi. Hehehe.... Mandi kali ini mesti lama, mesti bersih dan cling cling gitu karena dalam beberapa jam ke depan sudah mengambil niat ihram yang artinya akan ada larangan-larangan terhadap hal-hal yang biasanya dibolehkan.
Setelah sarapan pagi, bersiap-siap kami serombongan sudah berada di atas Bis, bersiap menuju Arafah. Ustadz pembimbing memberikan sedikit sambutan dan memandu kami untuk berniat Haji. Subhanallah... Alhamdulillah... Saya larut dalam keharuan, kesyukuran dan kebahagiaan yang tak bisa saya lukiskan saat melafadzkan Labbaika Allahumma Hajjan. Ya Allah... Aku memenuhi panggilanMu untuk berhaji. Allah... Sungguh Maha Baik. Dikabulkannya impian saya untuk berhaji, di usia saya yang masih muda. 23 tahun.

Jalanan menuju Armina saat itu sudah padat. Kendaraan menyemut memenuhi jalan dengan pakaian yang seragam buat kamu pria. Putih-putih. Kami serombongan memang ke Mina dulu pada hari tarawiah atau hari ke 8 Dzulhijjah. Kata Ustadz, itu bagian dari sunnah Nabi, tapi pihak Depag tak menyarankan jamaah Indonesia untuk melaksanakan hal itu. Kalau tidak salah karena khawatir akan terlambatnya jamaah nanti datang ke Arafah, namun karena saya ikut Haji Plus dan ditangani oleh travel swasta, maka ikut kebijakan travel dan pihak travel menjadwalkan tanggal 8 Dzulhijah kami akan ada di Mina, melaksanakan shalat 5 waktu di Mina sebelum bertolak ke Arafah esok paginya.

Menjelang dzuhur bis yang kami tumpangi sampai di Mina. Saya lupa waktu itu ditempatkan di maktab berapa. Tapi lokasinya lumayan dekat dengan tempat melontar jumrah. Sampai di sana saya melihat tenda-tenda permanen yang katanya tahan api yang dulunya hanya bisa saya lihat di TV atau beberapa hari yang lalu saya lihat dari kejauhan ketika diajak mengunjungi Armina sebelum waktu puncak ibadah Haji. Beberapa tenda sudah diisi oleh jamaah dari travel lain. Saya bersyukur karena untuk travel kami bisa menempati tenda yang terpisah antara jamaah pria dan wanita, sehingga membuat saya lebih leluasa bergerak.

Di dalam tenda, telah tersusun kasur-kasur dengan selimut dan bantal di atasnya dengan corak warna yang beraneka ragam. Kata mama saya untuk Haji Reguler fasilitas kasur, selimut dan bantal ini tidak tersedia. Hanya ada karpet, tapi mama saya berangkat Haji tahun 1992, sekarang entah bagaimana saya tak tahu. Namun, karena tenda hanya digunakan setahun sekali, jadi kondisi kasur, selimut dan bantalnya juga tak terlalu bersih. Dan saya bersyukur membawa sarung jadi bisa digunakan sebagai alas berbaring. So, tips buat para calhaj, jangan lupa sertakan sarung atau kain sejenis waktu ke ARMINA.

Dalam satu maktab terdiri dari banyak tenda diisi beberapa travel dan tentu saja ratusan jamaah. Dan ada toilet-toilet umum yang bisa gunakan. Karena penggunanya banyak dan toilet cuma beberapa antri merupakan hal mutlak yang ada di sini. Kondisinya memang tak senyaman dengan sewaktu di penginapan. Tapiiii.... Ga tiap hari juga kan... Saya terus mengingatkan hati buat bersabar, jangan mengeluh. Apa yang terjadi di sana adalah ujian kesabaran buat kita. Terlebih saat itu kan dalam kondisi ihram. Ga boleh bicara sembarangan :)

Karena saya termasuk orang yang lama kalau di kamar mandi, makanya saya ambil waktu-waktu yang antriannya ga banyak. Jangan mepet dengan waktu shalat, karena jika mendekati waktu shalat pastilah antriannya panjaaaang sekaliiii.... Karena ingin melakukan aktivitas yang lama di kamar mandi, saya pernah bangun sekitar jam 2 dini hari dan menuju kamar mandi. Dan wuzzzzz..... angin dingin menerpa saya rasanya menusuk sampai ke tulang. Subhanallah... Dingin sekali. Tapi saya menikmatinya. Hehehe... Waktu itu Arab Saudi memang sudah memasuki musim dingin :)

Setelah melakukan shalat dzuhur, saya dan jamaah lain pun bersiap mengantri buat mengambil makanan. Ada nampan yang kita pegang masing-masing dan nantinya diisi oleh petugas dengan piring berisi nasi, sayur dan lauk. Juga ada buah dan walau jarang akan ada puding yang terasa enak sekali. Di maktab ini, di luar waktu makan ada minuman2 tersedia, baik dingin maupun panas. Kita tinggal mendatangi ke tenda makanan buat mendapatkannya. Tapiii... tak ada makanan kecil. Sore hari biasanya ada pop mie yang dibagikan. Alhamdulillah... enak sekali buat mengganjal perut, karena udara dingin memang kerap bikin cepat lapar. Untuk amannya kalau tak mau ikut berebut atau antri pop mie, boleh jika membawa pop mie sendiri. Air panas? Selalu adaaa.... Beberapa jamaah rombongan kami bergumam, entah sudah berapa tahun mereka tak menikmati pop mie di tanah air. Dan makan pop mie di Mina. Nikmat sekali...

Oya, di ARMINA, makanan yang disajikan tak jauh dari daging, daging dan daging. So, buat yang ga doyan atau anti makan daging, boleh membawa abon atau telur asin. Walau doyan aja dengan daging, tak salahnya kok membawa abon atau telur asin atau sejenisnya, karena bosan juga kan kalau tiap hari daging mulu :)

Bada ashar, saya diajak teman buat jalan-jalan di seputaran maktab. Saya setuju dan begitu keluar maktab, saya terkesima dengan pemandangan yang saya temui. Mina sore itu sungguh sangat indah dalam pandangan saya. Gunung-gunung batu, langit biru dengan semberut jingga dan pakaian putih-putih di mana-mana. Subhanallah.... Sy lagi-lagi didekap haru dan syukur. Kini saya di Mina.. Mina.. Mina... tempat impian saya.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, saat itu tentu saja saya sudah dalam kondisi ihram dan besok adalah puncak dari segalanya : WUKUF di Arafah. Jam 2 dinihari saya sudah terbangun, bergegas ke kamar mandi, mengambil wudhu dan bersiap shalat malam. Ketika saya ingin mengangkat takbir, seorang ibu jamaah menegur saya. 

"Anti, kita tidak boleh shalat sunnah."

"Eh?" saya bingung dengan pernyataan itu.

"Iya, kita dalam kondisi Ihram Haji ini tak boleh shalat sunnah. membaca talbiyah saya. Saya udah mau negur anti dari tadi malam, tapi ga enak."

"Kok ga boleh Bu?" Saya masih bingung. Ini malam penting dalam hidup saya. Karena besok sudah saya akan melaksanakan wukuf, tentu saja malam ini saya ingin mengisinya dengan mendekat pada Allah. Bersujud yang panjang. Berterima kasih atas karuniaNya yang sungguh besar.

"Iya, ga boleh shalat sunnah. Yang wajib aja. Baca talbiyah aja yang banyak. Saya juga pengin kok shalat tahajud. Tapi kan jadi sia-sia aja kalau ga boleh. Sudah, banyakin talbiyah aja," Ibu itu memberitahu lagi. 

Saya terserang galau. Tak jadi shalat. Saya mencoba menelpon kakak saya untuk bertanya di tenda sebelah tapi tak diangkat. Saya melirik jam, sudah lewat dari jam 3 dini hari. Beda waktu 5 jam dengan tanah air, jadi ini sudah pagi di tanah air, saya menelpon paman saya bertanya pada beliau dan beliau terkaget dengan pertanyaan saya, tapi juga tak memberikan jawaban yang memuaskan.

Saya masih galau saja dan akhirnya saya tak jadi shalat malam itu sampai subuh menjelang. Hiks.

Esoknya ketika saya sampaikan pada kakak saya. Dia bilang dia tetap shalat kok, rombongan pria yang lain juga. Ahhh... Saya merasa rugi sekali. Tapi sudah lah semua sudah terjadi. Saya mengambil hikmah dari kejadian itu, kalau kita mesti punya bekal ilmu yang banyak. Karena bisa jadi ada beberapa hal yang tak terduga hadir dalam perjalanan ibadah kita.

Pada tiap teman yang bertanya apa aja sih persiapan penting buat Haji, hampir selalu saya menjawab, optimalkan persiapan ilmu. Belajar, belajar dan terus belajar. Baca buku Haji, miliki, walau tak tau kapan akan berangkat. Semoga dicatat Allah sebagai amal dan kesungguhan kita buat berangkat.

*InsyaAllah Bersambung*

7 komentar:

  1. Alhamdulillah kita diberi kemudahan untuk berhaji di usia muda ya, aku mah 21 Ti. Nikmatnya berhaji kala muda, semangat 45 dan seger buger. Aku ikut yg reguler, waktu di Mina cuman dialasi karpet aja, tanpa kasur...hehehhhe

    BalasHapus
  2. saya baru dengar yanti kalau ihram g boleh shalat sunnah

    waktu di maktab malah shalat jama'ahnya pada rawatib-an semua tuh
    saya waktu hajj galaunya saya sdg terapi menstruasi pasca perdarahan memanjang(setiap hari mens)

    rasanya kurang gimana aja, gitu. ibadah tapi dalam kondisi 'berdarah' meski istihadoh

    smg ibadah kita diterima Allah ya yanti
    saya paling suka waktu lempar jumrah, seru rasanya seneng banget waktu disitu
    habis jalan jauuuh, sampai disana sama sekali g capek malah rasa senangnya membuncah ^^

    BalasHapus
  3. Ry... Iyaa... Alhamdulillah. Daku pun juga sangat bersyukur akan hal itu. Rasanya amazing. Serasa mimpi. Allah mengabulkan doaku yang dalam perhitunganku sendiri rasanya jauh sekali baru bisa terwujud.

    BalasHapus
  4. mbak Indri.. Iya mbak, boleh aja kok, hanya saja saya terpengaruh dengan jamaah lain yang bilang ga boleh. Hehehe.. karena itulah yanti pikir kita mesti banyak2 belajar, punya ilmu. Biar ketika ada yang bilang gini, qta ga terpengaruh. Kalau terpengaruh dengan yang benar dan membuat kita tahu apa yang kita tidak tahu Alhamdulillah ya mbak...

    Aamiin... Semoga mambrur... diterima Allah.. Aamiin...

    Iya mbak, yanti juga senang sekali. rasanya ada sesuatu yang nyess gitu ketika melempar jumrah. Semoga bisa kembali melakukan semua prosesi itu ya mbak. Aamiin....

    BalasHapus
  5. Mbak Indri dan Yanti, semoga kita bisa kesana lagi ya....Aamiin :)

    BalasHapus
  6. Aamiin ya Rabb... Kabulkan doa-doa kami...

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...