Selasa, 20 November 2012

[Short Story] Bukan FF Poligami

"Apa kabar dek?"
Kakak kelas sewaktu SMA menyapaku lewat YM.

"Kabar baik mbak."

"Lama ga kelihatan nih, ke mana aja?"

"Lagi sibuk mbak."

"Hayoo, sibuk apa nih? Persiapan nikah ya?"
Astagaaa… persiapan nikah? Heran deh, aku lama ga nongol di jejaring sosial dibilang mau nikah. Kemarin aku ketemu teman di toko buku dan aku lagi asyik baca buku resep juga dibilang mau nikah. Minggu lalu, aku beli baju baru dan ketemu tetangga, dia bilang aku mau nikah. Apa segala hal yang kulakukan selalu berhubungan dengan persiapan menikah? Apa karena aku berada di usia yang sudah sangat pantas untuk menikah? Sabar Ra, aku membelai hati sebelum menanggapi.


"Bukan kok mbak. Lagi banyak kerjaan kantor aja."

"Oh, kirain mau nikah. Kapan nih? Udah ditunggu undangannya tapi ga nongol juga. Sampai lumutan nungguin. Jangan terlalu milih lho."
WHAT? Aku dibilang terlalu milih? Hatiku yang tadi susah payah kubelai kembali memanas. Gemetar tanganku mengetik jawaban.

"Mbak, siapa sih yang ga mau nikah? Saya mau mbak. Tapi, kenapa sampai sekarang saya belum menikah juga, itu bukan karena terlalu milih mbak. Tapi emang ga ada pilihan. Gini deh mbak, supaya mbak ga lumutan nungguin undangan saya dan supaya saya juga punya pilihan, gimana kalau mbak minta suami mbak yang melamar saya? Poligami boleh kan mbak?"
Sent.

Aku langsung offline setelah itu. Tak peduli apa reaksinya. Walaupun ada secarik sesal yang menyusup kenapa aku bisa menanggapi dengan sebegitu emosi. Kemarin juga ada Rindra, teman angkatanku yang mengajukan pertanyaan menyebalkan itu dan disertai dengan kata-kata "Wanita punya deadline masa subur lho," hatiku mendidih dan langsung menjawab.

"Kalau kamu memang pengin lihat aku nikah. Kenapa dulu kamu ga ngelamar aku aja? Tapi malah ngelamar gadis yang lebih muda. Pikir sendiri, kalau kamu khawatir dengan 'usia' para gadis yang tak juga kunjung menikah, seharusnya kamu menikahi gadis yang lebih tua atau minimal sepantaran. Bukan yang lebih muda," tuh kan jawaban penuh emosi.

Tapi satu pikiran membenarkan tindakanku. Biar mereka mikir, betapa sangat tidak nyamannya ditanya hal seperti itu. Tapi aku juga dilingkupi rasa malu, kenapa aku menjawab seperti itu? Seakan aku begitu nestapanya karena belum menikah.

Pandanganku jatuh ke kalender dan aku mendapat jawaban atas emosiku yang begitu mudah menyala. Pelajaran penting buat yang hobby nanya 'kapan nikah?', JANGAN BERTANYA SAMA ORANG YANG LAGI PMS!

**

Aku terkesiap mendapati seorang wanita yang sering kulihat di SMA dulu berdiri di depan pintu. Setelah duduk dan berbasa basi wanita itu berkata.

"Dek Raya, saya dan suami sudah berdiskusi panjang tentang penawaran dek Raya. Dan diskusi kami bermuara pada satu keputusan. Kami sepakat. Dek Raya siap menikah kan? Dengan suami saya," aku melihat luka di mata wanita itu walaupun senyum terukir di wajahnya.  Perasaan sangat bersalah menderaku.

"Mbak, maaf ya. Saya kemarin itu ga serius kok. Cuma emosi. Hadoh mbak, jangan ditanggapi serius dong."

"Tapi kami serius dek. Sangat serius," aku merasakan ada yang melilit di perutku. Reaksi tubuh yang sudah sangat kukenal jika aku berada dalam situasi stress dan panik.

InshaAllah Maher Zain terdengar nyaring memecah hening, mengagetkan kami berdua yang sama-sama terdiam. Gegas aku meraih handphoneku. "Ray, ini aku Rindra. Aku udah bicara sama istriku. Dia setuju kalau aku menikah lagi dengan kamu."

Glek! Aku terpaku di tempatku. Suara batinku memohon. "Rabbi, aku memang ingin menikah. Tapi bolehkah aku meminta? Aku ingin menjadi yang pertama dan satu-satunya."

***

Tadinya pengin ikutan lomba FF Poligaminya mbak Leyla. Tapi menyerah memangkas katanya, juga merasa ceritanya fiktif banget dan terlalu maksa nyambung sama tema. Hehehe... jadi batal ikutan :p

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...