Sabtu, 16 Februari 2013

[BeraniCerita #1] Keputusan Hati

    "Tak terganti?" Naina menatapku dengan pandangan heran. Aku mengangguk, kemudian dari lisanku mengalir sebuah cerita. Saat berusia 18 tahun aku dikenalkan dengan seseorang yang orang tuaku bilang dengannya aku akan menjalani biduk rumah tangga.

    Perjodohan memang bukan hal baru bagi keluarga kami. Tiga dari empat kakakku menikah karena perjodohan. Maka sebagai bungsu aku sudah siap akan hal itu. Menentang tidak ada dalam kamusku. Aku yakin setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.


    Tahun-tahun setelah itu aku mencoba mengenalnya dan aku sadar sepenuhnya kalau aku mulai jatuh hati padanya. Namanya tertanam dalam hatiku dan aku terus memupuknya karena satu hal yang kuyakini, pernikahan kami tinggal menunggu waktu.



    Aku terlupa, bahwa jodoh bukan diatur oleh orang tua, tapi oleh Tuhan. Suatu ketika dia berkata. "Kita sudah sama-sama dewasa Rayya. Sama-sama bisa memilih dan mungkin sudah punya pilihan hati. Tentang perjodohan kita. Kalau kita menolak, orang tua kita juga tidak bisa memaksakan."


    Hatiku hancur saat itu. Kenapa baru sekarang dia berkata kalau dia menolak perjodohan itu? Di saat hatiku sudah jatuh padanya. Tapi aku bisa apa? Mengatakan padanya kalau aku telah sebegitu menginginkannya? Tak mungkin! Itu semakin membuatku terpuruk di hadapannya. Aku benci dikasihani. Aku pun akhirnya sempurna bersandiwara di depannya juga di depan keluarga kami. Mendukung penuh keputusannya.


    "Bukan tak terganti Rayya, tapi belum menemukan ganti," tegas Naina setelah aku usai bercerita.


    "Aku bilang pada diriku aku telah melepaskannya. Aku terima segala keputusannya. Tapi tetap saja Na, setiap mengingatnya hatiku sakit." Ada perih yang hadir saat mengakuinya. Berbilang purnama aku dirundung nestapa, entah kenapa ingatan tentangnya selalu ada. Semakin aku ingin melupakannya, semakin aku tak bisa lupa. Aku benar-benar ingin di saat aku bangun pagi bukan namanya yang pertama terlintas di pikiranku.


    "Usaha Rayya, Man Jadda Wajadda," Naina meyakinkanku.


                                                                                ***
  
  "Gimana Ray?" Naina memandangku dengan wajah penasaran. Sejak cerita tentang perjodohan yang gagal itu Naina gigih menjadi mak comblang buatku.

    "Dia orangnya baik. Teman baik suamiku sejak kuliah," Naina kembali mengatakan itu, untuk ke sekian kali. Meyakinkanku kalau calon yang disodorkannya kali ini sayang sekali untuk ditolak. Aku pun berpikir demikian. Ada kemantapan yang entah darimana datangnya dengan yang satu ini. Semoga ini jawaban atas segala doa.


    Pelan aku mengangguk. Naina menatapku takjub. "Serius Ray?"


    "Mau aku berubah pikiran?" Naina langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat mendengar pertanyaanku.


    "Tidak Rayya sayang. Kamu berhak bahagia." Sore itu senyum terus merekah di wajah kami.


                                                                             ***
   

   Sepuluh menit berlalu setelah kepulangan Naina, pintu rumahku kembali diketuk. Aku tergeragap mendapati seorang pria yang begitu kukenal berdiri di balik pintu, dengan kikuk aku mempersilahkan dia duduk.

    "Ibu sakit keras," dia berkata lirih. Bayang wanita lembut yang dulu kuyakini akan menjadi mertuaku bermain di pelupuk mata.


    "Ibu memintaku untuk menikah secepatnya." Aku terhempas. Jadi dia datang hanya untuk mengabarkan berita pernikahannya. Ada perih yang kembali menusuk, ternyata aku belum sempurna melepasnya, padahal baru saja aku menyampaikan satu keputusan hati pada Naina. 


    "Menikahlah denganku Rayya. Tak ada wanita yang paling diinginkan Ibu menjadi menantunya selain kamu."


    Seketika aku kembali meragu dengan keputusan hatiku tadi.
                                                                               ***



"Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma."



4 komentar:

  1. Balasan
    1. hahahaha... Lakiiii.. kenapa pian jadi banjar banar wahini bapander? siapa malajari??? :p

      Hapus
  2. Jadi andi lau deh, hehehe....

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...