Kamis, 05 November 2015

Candy Crush Mania

Ada masa di mana saya senang main games. Candy Crush Saga adalah salah satu games yang saya mainkan. Selain itu ada Hay Day dan Coda Crush Saga, setipe sama Candy Crush Saga. Tapi sekarang sih sudah jarang saya mainkan semuanya. Hay Day entah kenapa tidak bisa dibuka lagi di ponsel saya. Sedangkan Candy Crush dan Soda Crush sudah terlanjur bosan karena stuck di satu level.

Kesenangan saya akan permainan itu kemudian memunculkan ide untuk menulis satu cerpen. Tentang seorang anak yang kecanduan main games di tabletnya hingga beberapa hal dalam hidupnya berantakan. Nama anak tersebut Fida.

Membaca kisah Fida seperti membaca kisah diri saya sendiri. Hihihi... Dan seperti biasa, apa yang ada di cerpen ini adalah nasehat untuk penulisnya sendiri.


Cerpen ini adalah cerpen pertama saya di media cetak. Dimuat di Yunior Suara Merdeka, sebuah koran di Jawa Tengah. CMIIW. Judul yang saya kirimkan Candy Crush Mania kemudian diganti redaksi menjadi Candy Crush saja.

Happy Reading ^_^

Candy Crush Mania
Oleh: Hairi Yanti

“Fida, kamu tidur lagi.” Suara mama dan goncangan di bahunya membuat Fida tersentak. Mata Fida langsung tertuju ke jam dinding. Fida kaget melihat jam sudah setengah 7. Jam segini seharusnya dia sudah berada dalam mobil menuju sekolah.

“Fida ketiduran, Ma.” Fida meloncat dari tempat tidurnya. Meraih handuk dan bergegas menuju kamar mandi. Fida memegang kepalanya yang masih terasa berat. Dia masih sangat mengantuk. Selepas shalat subuh tadi Fida merebahkan tubuhnya lagi dan tertidur.

Fida memang tidur terlalu larut tadi malam. Dia asyik bermain Candy Crush sampai lupa waktu. Fida penasaran kalau tidak bisa menuntaskan satu level permainan. Begitu sudah selesai menyelesaikan satu level, Fida penasaran tantangan apa yang ada di level berikutnya.

Main Candy Crush juga ada penalti waktu ketika gagal berkali-kali dalam menyelesaikan satu level. Fida sudah merebahkan diri dan memejamkan matanya ketika kena penalti waktu. Tapi, Fida tak juga bisa tertidur. Akhirnya Fida terus membuka tabletnya. Begitu penalti waktu berakhir, Fida akan memainkannya lagi. Kantuknya seolah lenyap saat main Candy Crush. Fida lupa jam berapa persisnya dia tertidur. Matanya berat sekali saat mama membangunkannya subuh tadi.

“Astaga, aku belum mengerjakan PR matematika.” Fida menepuk keningnya ketika mengambil tas sekolahnya. Buku PR matematikanya masih tergeletak di atas meja. Tidak ada waktu lagi, Fida bergegas memasukkan buku ke dalam tasnya. Fida sudah mengenakan baju seragamnya yang dia pakai dengan tergesa.

“Sarapan di mobil aja. Ini roti sama susu kamu.” Mama menyerahkan kotak makanan dan botol minuman buat sarapan Fida. Fida mencium tangan mama dan setengah berlari masuk ke mobil. Ayah sudah siap menunggunya.

“Maaf ya, Yah. Fida ketiduran tadi.” Fida berkata sembari membuka kotak bekalnya. Mobil sudah melaju di jalanan.

“Fida sekarang sering terlambat ya.” Ayah berkata dengan pandangan tetap ke depan. Fida tak menjawab tapi matanya melirik ayah dengan takut-takut. Pagi ini memang bukan pertama kali Fida terlambat. Sudah beberapa kali Fida tertidur setelah shalat subuh atau malah shalat subuhnya yang kesiangan.

“Ayah kan juga tidak boleh terlambat masuk kantor, Fida.” Kata-kata Ayah membuat Fida merasa bersalah. Tapi Fida masih enggan bercerita kalau dia telat karena main Candy Crush. Fida takut ayah tidak mengizinkan Fida main di tablet lagi.

Fida langsung melompat keluar dari mobil setelah bersalaman dengan ayahnya begitu sampai di depan gerbang sekolah. Pak Imran penjaga sekolah sudah hampir menutup gerbang ketika Fida sampai di gerbang sekolah. Huff… Fida menarik nafas lega karena bisa masuk sebelum gerbang ditutup. Fida berlari lagi menuju kelasnya. Nafasnya tersengal begitu duduk di bangkunya.

“Fida sekarang sering telat ya.” Wina teman sebangkunya mengatakan hal yang sama dengan ayah.

“Aku ketiduran tadi, Win.” Jelas Fida singkat. Pada saat pelajaran berlangsung, Fida susah payah menahan ngantuk. Saat istirahat, Fida masih tetap di kelas karena dia harus menyelesaikan PRnya. Untung tadi Fida sempat sarapan di mobil, jadi dia tidak terlalu lapar. Dan pelajaran matematika tidak di jam awal jadi Fida masih bisa mengerjakannya.

“Fida.. Fida..” Wina mencolek lengan Fida. Fida tergeregap di buatnya.

“Ada apa, Win?” Fida mengocek matanya yang terasa berat sekali.

“Kamu ketiduran ya? Itu ada tugas dari Bu Guru. Nanti disuruh maju ngerjain kamu malah bingung.” Fida menatap papan tulis yang di sana sudah tertulis soal matematika yang harus dia dan teman-teman kerjakan.

“Makasih ya, Win. Sudah bangunin aku. Duh, untung Bu Guru nggak lihat ya.” Wina tersenyum menanggapinya.

“Ayo kita kerjakan.” Wina berkata kemudian asyik menekuri bukunya. Fida juga melakukan hal yang sama, tapi beberapa menit kemudian dia malah bingung karena tidak mengerti bagaimana menyelesaikan soal yang diberikan Bu Guru.

“Huh. Ini gara-gara Candy Crush. Hari-hariku jadi berantakan,” sungut Fida.
Sesampai di rumah Fida menatap tabletnya  sembari menggigit bagian bawah bibirnya. Ada tarikan luar biasa yang membuat Fida ingin memainkan Candy Crush lagi. Tapi ada juga keinginan buat tidak memainkannya. ‘Ayo Fida, kamu harus mengambil keputusan sekarang,’ hati Fida bersuara. Fida menarik nafas dan mengambil tabletnya dengan gerak cepat. Fida bergegas melangkah keluar kamar. Fida takut dia akan berubah pikiran.

“Ma,” Fida menghampiri mamanya yang menyiapkan makan siang.

“Fida mau minta maaf karena tadi pagi ketiduran. Fida ngantuk banget, Ma. Malamnya Fida tidur larut malam karena asyik main Candy Crush.”

“Oh, jadi Fida begadang main Candy Crush? Mama kira Fida ketiduran karena enggak enak badan.”

“Iya, Ma. Maafkan Fida. Hari Fida jadi kacau. Kemarin-kemarin juga begitu. Fida hampir telat ke sekolah, PR lupa mengerjakan, di kelas ngantuk banget. Jadi, Fida mau bikin kesepakatan sama mama. Fida cuma mainin tablet ini sejam di siang hari dan malam hari kalau PR dan belajar Fida selesai. Setelah itu mama ambil dan simpan tabletnya ya. Jadi Fida nggak mainin pas di kamar.”

Mama tersenyum dan menyetujui usul Fida. Tablet itu kini berpindah tangan. Fida tak bisa leluasa lagi memainkannya.

***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...