Jumat, 18 Desember 2015

Menyusuri Jejak Dewi Rengganis dalam Cerita Pendakian

Rengganis - Azzura Dayana

Perjalanan selalu membuahkan banyak cerita. Tentang hal-hal yang ditemui sepanjang jalan atau tentang teman yang menyertai kita dalam perjalanan tersebut. Terlebih jika perjalanan yang ditempuh melalui medan yang tak biasa. Alam yang masih jarang disentuh oleh manusia, tumbuhan yang tumbuh alami di hutan, hewan liar yang masih banyak berkeliaran, juga alam gaib yang tak bisa kita sangkal keberadaannya. Hal itulah yang dialami oleh delapan anak manusia dalam perjalanan mereka menjelajahi Argopuro. Sebuah kawasan yang menyimpan misteri tentang puteri Majapahit bernama Dewi Rengganis. 

Perjalanan lima pemuda (Dimas, Dewo, Fathur, Rafli, dan Acil) dan tiga pemudi (Ajeng, Nisa, dan Sonia) dimulai dari Terminal Bungurasih Surabaya yang menjadi titik pertemuan mereka. Dari situlah mereka bertolak menuju Probolinggu dan kemudian menuju Baderan, titik awal pendakian mereka. Perjalanan awal para pendaki itu sudah penuh dengan tantangan. Mereka dihadang oleh ribuan pacet, cacing dan ulat sebelum pemberhentian pertama di satu tempat yang bernama Mata Air Pertama.


Dari Mata Air Pertama perjalanan terus berlanjut ke Alun-alun kecil, Alun-alun Besar, Cikasur, Cisentur, Rawa Embik hingga ke Puncak  Rengganis. Banyak cerita yang tercipta dalam perjalanan tersebut, informasi tentang daerah-daerah di Argopuro pun disisipkan.dalam dialog di antara tokoh-tokoh di dalam novel ini. Argopuro adalah trek terpanjang di Pulau Jawa. Dewo dan teman-temannya merencanakan lima hari perjalanan untuk pendakian gunung tersebut.

Kawasan Gunung Arguporo sering dikaitkan dengan cerita tentang Dewi Rengganis. Informasi tentang Dewi Rengganis ini masih simpang siur, ada banyak cerita yang tak utuh dan simpang siur, tapi tetap menarik untuk disimak. Ada yang menyebut Dewi Rengganis adalah salah satu selir Prabu Brawijaya, Raja Majapahit di era terakhir, namun ada juga yang menyebut kalau Dewi Rengganis adalah puteri dan Prabu Brawijaya dan selirnya.

Dewi Rengganis mempunyai istana di puncak gunung Argopuro. Tentang latar belakang mengapa istana ada di puncak gunung pun masih simpang siur. Ada yang menyebut bahwa sang putrid ingin mengasingkan diri, ada juga yang mengatakan kalau Prabu Brawijaya ingin memanjakan sang puteri, tapi kabar lain juga menyebutkan kalau Dewi Rengganis sengaja diasingkan ke puncak gunung karena diramalkan takhta kerajaan akan jatuh ke tangannya. Apapun cerita di balik itu semua, membangun istana di puncak gunung adalah sesuatu yang membuat kita berdecak kagum. Apalagi hal itu dilakukan di masa lampau.

Separuh cerita di novel ini hanya bercerita tentang perjalanan dan dialog tokoh-tokoh di dalamnya. Konflik baru timbul saat mereka di Puncak Rengganis. Acil yang mejadi guide perjalanan mereka turun dari puncak dan kembali ke basecamp di Rawa Embik. Hal itu membuat Sonia gelisah hingga ia bersikeras untuk menyusul Acil ke Rawa Embik. Perbedaan pendapat antara Dewo yang menghalangi niat Sonia dan Rafli yang mendukung Sonia pun tak dapat dihindari. Hal ini lah yanv kemudian membuat hubungan antara Dewo dan Rafli menjadi meruncing. Nyatanya, firasat Sonia benar adanya. Terjadi sesuatu dengan Acil yang membuat rencana perjalanan mereka berubah dan para pendaki itu pun harus mempercepat perjalanan mereka untuk sampai ke titik finish pendakian. 

Namun, perjalanan tak sepenuhnya berjalan lancar. Suatu kejadian yang besar menghadang perjalanan mereka. Pemandangan sunrise yang indah pun menjadi tak berarti apa-apa. Seseorang di antara mereka ‘melihat’ pentas yang tengah dilangsungkan oleh Sang Dewi.

Rengganis adalah novel yang berkisah tentang pendakian ke wilayah Argopuro. Dari awal cerita sudah bisa dirasakan betapa penulisnya sangat mengetahui detail jalur pendakian. Ibaratnya kita harus belok kiri atau kanan, diceritakan detail di novel ini. Jika ingin mendaki Argopuro, novel ini layak dijadikan panduan.

Informasi tentang kawasan Argopuro juga menambah wawasan buat pembaca. Saya yang awalnya tidak tahu menjadi tahu dalam banyak hal. Tentang Putri Rengganis, tentang kawasan pendakian terpanjang di pulau Jawa, informasi tentang gunung yang paling sulit di daki di Indonesia, dan banyak lagi.

Tak lupa beberapa tips untuk.mendaki gunung pun dibeberkan di novel ini. Penjelasan tentang pendakian gunung ada dalam dialog dan narasi. Lewat novel ini saya kaget sendiri mendapati banyaknya logistik yang harus dibawa tim pendaki. Hal jni disebutkan di halaman 21, ada rincian tentang logistik yang mereka bawa di antaranya ulekan kayu, sayur-sayuran dan buah-buahan pun diikutsertakan dalam pendakian. Sempat terpikir di benak saya, mengapa tidak membawa abon, mie instant atau rendang saja? Kan lebih praktis tinggal dilahap.

Keheranan saya terjawab di halaman 85 di mana salah satu tokoh bernama Dewo berkata, “Beginilah perihal memasak dan menyiapkan menu dalam pendakian yang seharusnya, Son. Bukan hal sederhana atau harus diremehkan. Semakin lama waktu tempuh pendakian atau semakin berat trek yang akan dilalui, asupan makanan yang dibutuhkan tubuh tidak main-main. Kalau pendaki hanya mengandalkan makan mi instan saja setiap hari, bisa berakibat menurunnya daya tahan tubuh.” Apa yang disampaikan Dewo ini menambah wawasan saya tentang pendakian gunung.

Nilai-nilai keislaman pun menyusup dengan cantik di novel ini. Seperti para pendaki yang diceritakan tidak meninggalkan shalat mereka, juga tentang nilai keislaman yang disampaikan secara tersirat pada hal mengangkat pemimpin. Dalam hadist disebutkan Jika tiga orang berada dalam suatu perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.  (HR Abu Dawud).  Dan di novel ini titah Nabi disisipkan dengan cantik dalam sebuah dialog.

“Siapa nih yang mau cari carteran?”
“Gimana kalau ketua ekspedisi ini aja?” usul Fathur sambil meregangkan tulang-tulang pundaknya.
“Memang ketuanya siapa, sih?” Dewo balik tanya ke Fathur.
“Ah, lagakmu itu, lho, Wo, kayak baru pertama nge-trip aja. Mana mungkin ekspedisi besar gini tanpa pucuk pimpinan?” (Halaman 16-17)

Sayangnya keseruan perjalanan para pendaki ini tidak membuat saya melebur dalam tokoh-tokohnya. Latar belakang kehidupan tokoh-tokoh di dalamnya tidak diceritakan. Hal itu membuat kedekatan pembaca dengan tokoh tidak terjalin sejak awal cerita sehingga di awal penyajian cerita terasa membosankan. Untunglah dalam novel ini prolog yang disajikan sangat menjanjikan dan membuat penasaran, hal itulah yang membuat saya betah membacanya.

Karakter-karakter dalam tokoh baru bisa dikenali setelah melewati pertengahan cerita. Tetapi latar belakang mereka tetap terasa gelap buat pembaca. Hal yang mengejutkan ternyata penjelasan tentang tokoh justru ada di bagian akhir cerita. Mengapa tidak ditaruh di depan? Sebagai saran, ada baiknya melibatkan satu dua cerita tentang kehidupan tokoh di dalamnya untuk menambah konflik dan keterikatan emosi dengan pembaca.  

Walaupun begitu, Rengganis tetap sebuah karya yang layak diacungkan jempol. Membacanya pembaca mendapatkan wawasan yang banyak. Tentang Arguporo, tentang Dewi Rengganis, tentang kerajaan Majapahit, tentang trik dan tips selama pendakian,  juga tentang alam gaib. 

***

Judul                                        : Rengganis (Altitude 3088)
Penulis                                     : Azzura Dayana
Penyunting Bahasa                    : Mastris Radyamas
Penerbit                                   : Indiva
Tahun Terbit                             : Cetakan Pertama, Agustus 2014
ISBN                                        : 978-602-1614-26-6
Tebal Buku      & Ukuran            : 232 Halaman. ; 20 cm
Harga Buku                               : Rp. 46.000,-


24 komentar:

  1. buku ini cocok dibaca buat yang sudah mendaki nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang belum juga cocok, Mbak Titis. Biar nambah wawasan ;-)

      Hapus
  2. Duh. Membaca novel2 ttg pendakian ga ada matinya. Selalu bikin iri dan pengen pergi...

    Gunung Arguporo? Hmmm kayaknya seru nih mba bacanya soalnya belum banyak ditulis...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa.. Kebanyakan yg ngebahas mendaki gunung itu mendaki Mahameru ya. Ini emang jarang dibahas :-)

      Hapus
  3. gaya bercerita di buku ini membuai dan bikin penasaran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Penasaran. Apalagi pas udah sampai tengah cerita :D

      Hapus
  4. aku penasaran sama argopuro, mba. :D kalo denger tentang pendakian itu rasanya jadi pengin njejak ke daerah yang para pendaki udah taklukkan. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengin lihat keindahannya ya, Mbak Ila. Kalau udah di atas katanya indaaaah banget. Dulu baca novel ttg pendakian sy sampai googling fotonya. Saking penasaran gimana indahnya :D

      Hapus
  5. Nama rengganis menyiratkan sosok yg anggun dan berwibawa plus tenang. Demikiankah sosok Rengganis yg sebenarnya? *penasaran*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Sosok Rengganis sebenarnya masih misteri. Kalau menurut info di novel tersebut :-)

      Hapus
  6. jadi inget nama citra rengganis, anak didik di kantor yg sekarang jauh :)

    jadi penasaran sosok rengganis..

    BalasHapus
  7. Akan menambah wawasan buat yang gak pernah mendaki seperti saya, ya, pastinya :) trus cerita sejarahnya juga pasti menarik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menambah wawasan banget, Mbak. Banyak informasi baru yg saya dapatkan setelah membaca novel ini :-)

      Hapus
  8. Seneng baca postingan ini, secara bisa juga tahu tentang cerita putri Majapahit itu. Setelah baca ini, perlu gak ya, beli bukunya, hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perlu dunk, Bunda. Biar dapat informasi lebih banyak. Ini kan hanya sedikit :-)

      Hapus
  9. samaan deh.. kita ngeresensi buku yg sama.. Sukses yaa, buat kita berdua.. hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... Iya, Mbak. Good luck ya, Mbak :-)

      Hapus
  10. Baca buku tentang pendakian, tertarik mendaki juga ga? Mendaki gunung kawi di Balikpapan aja gimana? Hehehe.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mendaki gunung kawi naik motor ya yang? :p

      Hapus
  11. Bagusan mana sama altitude 3878 yan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masing2 punya kelebihan dan kekurangan, Mbak. Tapi bagusan altitude 3878 sih. hehehe....

      Hapus
  12. Makasih atas resensinya ya sist Hairi Yanti :-)

    Saya barusan mereview buku ini juga sebagai penulisnya sendiri, berbagi beberapa unek-unek. Monggo dibaca di sini: http://azzura-dayana.blogspot.co.id/2016/01/menjawab-rengganis.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Mbak Yana. terima kasih juga sudah mampir. Saya sudah mampir di tulisan Mbak Yana. Salut sama penulis seperti Mbak Yana. Sukses selalu, Mbak :-)

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...