Senin, 28 Desember 2015

Psikologi, Cinta, dan Obsesi dalam Bulan Nararya

Cover Bulan Nararya


Latar belakang profesi merupakan salah satu hal yang bisa menjadi kekuatan sebuah novel. Apalagi jika profesi tokoh dalam novel tersebut menyatu dalam cerita. Saling dukung antara cerita yang berjalan, karakter tokoh-tokoh di dalamnya, juga profesi yang ditekuninya. Pembaca pun tidak hanya mendapatkan jalinan cerita demi cerita, tapi ilmu pengetahuan baru yang akan menambah wawasan.

Nararya atau yang biasa dipanggil Rara adalah seorang terapis dengan latar belakang pendidikan ilmu psikologi di sebuah mental health center di kota Surabaya. Suatu hari Nararya membuat terkejut pimpinannya di tempat ia bekerja karena ia menghentikan pengobatan agar para pasien tidak akan pernah relapse atau tak akan pernah tergantung pada apa pun.


Metode yang diusulkan Nararya adalah transpersonal di mana menurut Nararya dengan terapi itu pasien akan sembuh total dan tidak kambuh. Tidak tergantung lagi pada siapa pun dan bisa kembali utuh ke tengah keluarga dan masyarakat. Metode transpersonal adalah suatu aliran baru psikologi (sebelumnya hanya psikoanalis, humanistic, behaviors) yang menyembuhkan penderita gangguan mental dengan pendekatan budaya, pengalaman puncak seperti Sufi, Shaman, Tao, Tantra, Zen. Apa yang dikemukan Nararya mengagetkan Bu Sausan sang pemilik klinik kesehatan mental dan juga Moza, yang dulu adalah sahabat sekaligus rekan kerja Nararya. 

Nararya berharap obat antipsikotik atau obat neuroleptik tidak ditelan seumur hidup oleh para pasien. Karena dulu obat ketidakwarasan itu dipenuhi pemerintah, tapi sekarang tidak lagi. Dampak orang yang telah bergantung dengan obat tersebut dan tidak mampu lagi membelinya itulah yang menjadi pikiran Nararya. Sebab itulah ia memberikan wacana untuk berusaha mengupayakan jenis terapi baru. 

Di klinik ada tiga klien atau pasien yang dekat dengan Nararya. Yang pertama adalah Sania, seorang gadis kecil yang memiliki masa kecil tragis dan ditemukan dinas sosial di terminal dengan kondisi yang menggenaskan. Sania berpindah dari satu tempat ke tempat lain hingga tiba di pusat rehabilitasi di mana Nararya bekerja.

Orang kedua yang menyambut Nararya spesial adalah seorang laki-laki berusia 70 tahun yang dipanggil Pak Bulan. Pak Bulan adalah seorang penghuni lembaga permasyarakatan yang ditangkap dengan tuduhan pencurian. Di rumah tahanan, kemampuan akal Pak Bulan menurun drastis. Bagi orang lain Pak Bulan gila, bagi Nararya terkadang ucapan anehnya adalan inspirasi.

Yudistira adalah sahabat ketiga Nararya. Sahabat sekaligus klien buatnya. Seorang lelaki muda simpatik yang sering menenggelamkan diri dalam lukisan. Nararya juga merasa aneh karena ia mendapatkan kebahagiaan bertemu dengan ketiga kliennya itu. Sampai kemudian ia menyadari orang-orang dengan kekurangan fisik dan mental adalah manusia paling jujur dan welas asih.

Perjuangan tak selaku mulus. Demi mewujudkan keinginannya untuk melakukan metode transpersonal, Nararya menghadapi tantangan demi tantangan. Keraguan pihak keluarga klien pun keraguan dari rekan kerjanya. Belum lagi masalah pribadi yang menimpa Nararya. 

Pasca berpisah dengan suaminya, Angga, setelah menikah selama 10 tahun, Nararya harus mengatasi perasaan kehilangan. Apalagi ia merasa masih menginginkan sang mantan suami ada di sampingnya. Hal yang memperkeruh suasana hati Nararya justru datang dari Moza, sahabat sekaligus rekan kerjanya, tempat ia melarung curahan hati tersebut justru menjadi wanita selanjutnya buat sang mantan suami. Bukan hal yang mudah buat Nararya menghadapinya sekalipun ia adalah seorang terapis yang terbiasa menghadapi orang-orang bermasalah. 

Suatu ketika Nararya melihat kelopak-kelopak mawar berserakan dan genangan darah di depan ruang kantornya. Sesuatu yang menbuat ia ketakutan dan membuat ia merasa berhalusinasi. Karena setelah di tengok kembali, semua yang dilihat Nararya sebelummya lenyap tak bersisa. Misteri kelopak mawar dan genangan darah ini menghantui pikiran Nararya. 

Semua masalah pun membebani pikirannya. Tentang metode transpersonal yang coba ia perjuangkan, masalah ia dengan Angga juga Moza, mantan suami dan seorang sahabat di masa lampau, juga tentang dugaan halusinasi yang dialaminya serta klien-klien dan permasalahan di klinik yang juga ikut menyita perhatiannya. Bersama Nararya dalam sebuah karya berjudul Bulan Nararya ini kita akan mengikuti kisah lika liku kehidupan seorang terapis dan lebih mengenal ODS, Orang Dengan Skizophrenia.

Skizophrenia adalah orang-orang dengan gangguan struktur otak dan beragam tekanan luar biasa dalam hidup yang menyebabkan mereka kehilangan kemampuan berpikir normal dengan salah satu cirri yang spesifik : halusinasi. (Halaman 18)

***

Sinta Yudisia kembali dengan karya yang sarat dengan ilmu yang baru digelutinya yaitu Psikologi. Bulan Nararya adalah sebuah karya yang kental dengan ilmu psikologi dengan menjadikan sang tokoh sebagai seorang terapis di mental health center. Ilmu psikologi yang ada di sini bukan tempelan belaka karena ia menyatu dengan karakter dan konflik di sepanjang cerita. Pembaca pun bisa menambah wawasan dan informasi terkait beberapa hal. Seperti penyakit skizophrenia dan hal-hal lain yang bisa diterapkan pembaca dalam kehidupan. Misalkan saat Nararya berbicara dengan Diana, istri dari Yudhistira di haaman 44.

Untuk menenangkan emosi seseorang, kita harus mencoba menangkap apa yang dirasakan. Membantu menangkap perasaan seperti marah dan sedih akan membantu secara jujur menemukan inti permasalahan. Perasaan buruk tak harus selalu disangkal. Mengakuinya jauh lebih baik untuk mulai memperbaiki apa yang masih bisa diluruskan. 

Atau ketika Bu Sausan mengingatkan Nararya di halaman 85 saat Nararya merasa terbuai dengan perhatian Angga. 

“Otakmu harus diasah oleh hal-hal berbau kognisi, bukan senantiasa memelihara memori.”
Mematikan memori adalah cara bypass melupakan sakit hati.

Dalam novel ini, cerita bergulir ketika Nararya ingin melakukan metode baru untuk pasien skizophrenia. Hal ini sepertinya adalah gagasan penulisnya yang ingin disampaikan ke masyarakat, menulis memang cara jitu untuk menyampaikan gagasan. Semoga dengan membaca novel ini membuat pembaca menjadi lebih paham dengan metode transpersonal.

Kepiawaian Sinta Yudisia dalam mengemas cerita memang layak diacungi jempol. Termasuk dalam teknik kepenulisan yang kerap ditekankan para ahli yaitu show don't tell. Dalam novel ini kita bisa menemukan bagaimana diksi yang dipilih oleh penulisnya begitu memukau. Semisal untuk menggambarkan matahari terbit, penulis menggunakan istilah ‘bundaran kuning telur raksasa keluar dari balik benua’ atau saat mendeskripsikan tentang senyum yang memudar, penulis justru menggunakan kalimat ‘lengkung bibir memudar’.

Salah satu hal yang paling menentukan dari sebuah karya adalah tendangan pertama atau bab pertama dari sebuah novel. Bagaimana bab pertama ini bisa menarik minat pembaca. Di bulan Nararya ketika membaca bab pertamanya kita sudah melihat tokoh-tokoh yang akan mewarnai jalan cerita. Nararya, Bu Sausan, Moza, Angga, Sania, Yudhistira, Pak Bulan, dan konflik yang sudah digulirkan di awal bab yaitu tentang metode transpersonal. Bagus memang tapi karena banyaknya tokoh semua terasa berjejelan. Ada baiknya dipecah menjadi satu sampai tiga bab dan tokoh per tokoh diceritakan lebih rinci di satu scene tanpa dijejalkan semuanya di bab pertama,

Jika pembaca sudah membaca Rinai, karya lainnya dari Sinta Yudisia yang juga berlatar ilmu psikologi, maka akan menemukan pola yang sama dari tokoh ceritanya antara Rinai dan Bulan Nararya. Seorang yang bekerja sebagai psikolog, punya saingan dan rekan kerja wanita juga atasan seorang wanita yang sudah senior juga superior. Untuk karya selanjutnya, saya berharap penulisnya tidak memakai pola yang seperti ini lagi walau tetap berharap penulisnya mengupas ilmu psikologi dalam ceritanya. 

Hal yang mengganggu dalam novel ini yaitu tidak adanya judul bab per bab. Bukan hal yang wajib tentunya dalam sebuah bab sebuah novel harus pakai judul walaupun judul bab diperlukan untuk memancing tasa ingin tahu pembacanya. Namun, di novel ini ada daftar isi yang berisi judul bab per bab. Sementara ketika halaman demi halaman di buka, semua judul bab itu tidak ditemukan sama sekali di awal bab. Semoga bisa diperbaiki untuk cetakan selanjutnya. 
Ada daftar isi berupa judul bab, tapi di halaman awal bab tidak ada judul

Beberapa istilah dijelaskan di akhir buku seperti istilah transpersonal, narsistik, histrionic, OCD (Obsessive Compulsion Disorder), dan beberapa kalimat dalam bahasa daerah. Padahal dalam beberapa istilah lain, dijelaskan secara apik dalam kalimat sebelumnya pada cerita. Seperti penjelasan tentang farmakologi dan relapse. Sebagai pembaca saya merasa nyaman dengan cara yang kedua, di mana penjelasan istilah yang mungkin asing buat pembaca dijelaskan secara langsung. Kalaupun tidak bisa diselipkan dalam cerita, bisa dijadikan catatan kaki dengan menaruh penjelasan di bawah halaman, bukan di bagian akhir buku.

Namun, beberapa ‘keretakan gading’ yang terdapat di novel ini tak mengurangi kualitas Bulan Nararya. Bulan Nararya tetap sebuah novel yang sarat makna dan menambah wawasan pembacanya. Maka layaklah memang jika novel ini menjadi salah satu juara dalam Kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2013 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
***

Judul                                        : Bulan Nararya
Penulis                                     : Sinta Yudisia
Penyunting Bahasa                    : Mastris Radyamas
Penerbit                                   : Indiva Media Kreasi
Tahun Terbit                             : Cetakan Pertama, September 2014
ISBN                                        : 978-602-1614-33-4
Tebal Buku      & Ukuran     : 256 Halaman. ; 19 cm
Harga Buku                               : Rp. 46.000,-



38 komentar:

  1. Aku punya buku ini, tapi belum dibaca *penimbun buku*. Reviewnya bagus bgt Yan, aku jd belajar nih. Kurang mendalam kalo bikin review.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Teteh. Ynt jg berasa kurang mendalam kalau bikin review. Masih belajar nulis review yg cakep spt mb Lyta. Atau kmrn ada lihat blog yg ngereview drama korea detaiiil banget. Pengin ngereview buku spt itu :D

      Hapus
  2. Wah kayaknya berat nih kalau baca novel psikologi. Kadang saya nggak ngerti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga berat ini, Mbak Lina. Pembahasannya mudah dipahami karena ada contoh cerita :D

      Hapus
  3. sepertinya menarik :)
    tertarik pengen baca bukunya :)

    terimakasih resensinya Mbak Hairi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2, Mbak. Ini bukunya bagusss banget :D

      Hapus
  4. Kasus2 psikologi selalu menarik ya utk dibahas jadi cerita fiksi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Dijadikan drama Korea juga asyik :D

      Hapus
  5. Covernya tantiiik... Keren idenya. Psikologi, pasti deh perasaan kita diaduk-aduk baca ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Tambah pengetahuan juga. Kalau saya bilang berasa tambah pinter abis bacanya. Hehehe...

      Hapus
  6. Wahhh aku pernah hampir mau beli buku ini dan ragu. Duh, sepertinya pilihanku kemarin salah. Apa tabunganku yang harus diperbanyak ya. Aku ingin baca buku ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah nanti harus dibeli, Mbak. Saya penggemar karya mb Sinta Yudisia jadi udah naksir bukunya lama. Sering diskon bukunya di toko buku Afra :D

      Hapus
  7. Wahhh aku pernah hampir mau beli buku ini dan ragu. Duh, sepertinya pilihanku kemarin salah. Apa tabunganku yang harus diperbanyak ya. Aku ingin baca buku ini.

    BalasHapus
  8. Saya punya buku ini, masih segelan. Ih, habis baca kok pengen kenalan sama Nararya juga. Siapa tahu masalah saya bisa didapati penyelesaiannya di sana. Tulisan yang manis, Kak Hairi Yanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... Ayo, Mbak. Dibaca. Sy udah kepengin baca bukunya sejak lihat pengumuman lomba Tulis Nusantara :D

      Hapus
  9. Resensinya bagus, jelas memikat, jadi pengen beli bukunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak. Bukunya juga bagus banget. Sampai saya kasih bintang 5 di Goodreads :D

      Hapus
  10. desain covernya manis banget, jadi pingin tau jalan ceritanya

    BalasHapus
  11. wuih.. komennya dah banyak euy.. :D
    resensinya cakep Yant.. bkin aku tergoda pingin baca lagi dan bkin resensi buku ini jg.. hahaa.. maruk lomba..
    Sukses yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... Ayo, Mbak. Bikin resensi ini jugaa... Sukses jg buat mbak Linda :-)

      Hapus
  12. Suka baca reviewnya, detil dan menarik, jadi pengen baca bukunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak. Ceritanya baguss :-)

      Hapus
  13. serasa lg baca bukunya...kyknya menarik nih buat dibaca. novel psikologis yg sarat makna

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Sy suka novel ini :-)

      Hapus
  14. Balasan
    1. Semoga bisa membacanya suatu saat nanti ya, Mbak Wiwiek :D

      Hapus
  15. Hemm... Salut buat kesabaran orang-orang yang bekerja di klinik mental seperti cerita di atas ya. Bukunya sepertinya menarik. Ga melulu romance kan seperti yang biasa dibaca? :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gaaaa.... Ini mirip2 spt drakor yang tentang psikologi atau kejiwaan itu, Yang. Spt yg bini tonton kemarin itu... :p
      Iya ya. Salut juga...

      Hapus
  16. Saya kasih 5 star di goodread untuk novel ini. Jarang2 lho sy kasih angka 5 hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun, Mbak Lyta. Kasih 5 bintang juga :D

      Hapus
  17. Aduh yantii keren amiiir resensinya, ada pujian ada kritikan,lengkap sekaleee.. btw kapan deadlinenya nih hahaha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh Mak Tridi.. Sy mah apa atuh.. Masih belajar ngeresensi dan belajar dari kekalahan yg dulu. Hihihihi... Deadline-nya detik terakhir 2015 kemarin, Mak. Udah lewaaat... Hahaha...

      Hapus
  18. Kayaknya rame ya, sdh lama gak baca novel, gak keburu aja. Penyakit saya kalau baca harus tuntas ga diseling apa pun, akibatnya kalau baca novel suka banyak kerjaan ya gak keurusin hihi... eh jadi curcol :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Ini bagusss sekali novelnya. Wah... Kalau saya masih bisa selang seling bacanya, Mbak :D

      Hapus
  19. Aku sempat takut baca atau nonton sesuatu yang berbau psikologi setelah nonton film yang bikin sakit kepala. Tapi, kayaknya sekarang mulai nggak setakut itu. Buku ini juga sepertinya seru.

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...