Selasa, 09 Februari 2016

Bolos Dhuha Berjamaah



Bicara tentang masa putih abu-abu emang sesuatu ya. Segala kenangan menyeruak. Manis, pahit, asam, asin. Masa itulah di mana kita dengan riang gembira menyebut usia 15, 16, atau 17 tahun tanpa perlu menambahkan dalam hati plus sekian tahun :p

 Konon katanya, tidak afdhol masa itu dilewati kalau tidak nakal-nakal meski sedikit #ups #JanganDitiruAnakMuda. Kenakalan itu tak terkecuali dilakukan oleh saya yang katanya dari tampang tidak bakalan macam-macam #benerinMukena :p

 Shalat Dhuha. Kapan teman-teman mengenal ibadah sunnah itu? Dari SD? Wow.. Alhamdulillah yah. Kalau saya mengenalnya saat masih berseragam putih - abu-abu. Pada saat itulah shalat dhuha menjadi kegiatan di sekolah saya, salah satu Madrasah Aliyah Negeri di kota saya. Tidak setiap hari, bergantian per dua kelas setiap hari tapi itu pun sudah cukup membuat saya merasa terbebani. Ihiks... Ampuni Hamba Ya Allah...

Sekali pun anak Rohis, tapi saya anak Rohis yang begitu lah. Tidak sealim dan seberubah Mas Gagah. Shalat dhuha menjadi sesuatu hal yang terpaksa saya lakukan karena adanya peraturan. Hal itulah yang memacu saya kemudian membuat satu tindakan : Bolos Dhuha Berjamaah.

Berjamaah dalam artian beramai-ramai bersama teman-teman, juga dalam artian sebenarnya. Tidak melaksanakan Dhuha berjamaah.

Emang boleh shalat dhuha berjamaah?

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, di sekolah saya memang ada aturan shalat dhuha berjamaah itu. Tujuannya adalah agar membiasakan siswa dan siswi terhadap ibadah sunnah tersebut. Setiap hari ada dua kelas yang melaksanakan shalat dhuha berjamaah di mesjid.

Sekolah saya memang satu kompleks dengan mesjid besar di kota saya. Istirahat pertama buat kami saat itu ada di pukul 10.10. Untuk kelas yang kena giliran shalat dhuha, pukul 10 pagi sudah bisa keluar kelas. Bersiap-siap melaksanakan shalat dhuha. Berwudhu, ngerapihin jilbab, masang mukena, dan beragam persiapan yang lain. Namun, kebijakan itu tetap merampas waktu istirahat. Sehingga saya kerap tak sempat buat makan-makan saat istirahat karena bel tanda masuk kadung berbunyi.

Sebenarnya waktu yang dialokasikan dengan mendahulukan istirahat 10 menit lebih awal untuk yang kena giliran shalat dhuha itu cukup-cukup saja. Tapiiii... Kebijakan dan peraturan dari sekolah memerintahkan murid-murid buat shalat dhuha secara berjamaah. Jadilah kami harus menunggu imam shalat yang terkadang datangnya lambat.

Berawal dari situ, maka sebagian dari kami, khususnya saya mengambil inisiatif buat shalat dhuha sendiri. Keluar kelas 10 menit lebih awal bersama teman-teman lain, ambil wudhu, shalat dhuha, benerin kerudung, dan langsung cusss menuju kantin buat makan.

Hal itu ternyata juga dilakukan oleh teman-teman lain. Sehingga saat imam masuk mesjid dan mau memimpin shalat dhuha berjamaah, hanya segelintir murid yang ada di sana. Beberapa kali terjadi seperti itu akhirnya membuat pihak sekolah bertindak. Dibikinlah pengumuman siapa yang tidak shalat dhuha secara berjamaah agar keluar kelas dan dijemur. Wkwkwk....

Saya bagaimana?

Ikut juga dunk di barisan tersebut. Karena walau keukeuh bilang saya shalat dhuha kok tapi saya melanggar bagian pada berjamaahnya itu. Di sana kami pun berdialog dengan pihak sekolah. Maklum ya... Masa remaja masa kritis. Protes karena imam telat datang. Protes karena dalam aturan tidak ada shalat dhuha berjamaah, yang berjamaah itu shalat idul fitri dan idul adha. Protes bagian terakhir diwakili teman-teman yang pernah mengecap bangku pesantren.

Saya lupa sih bagaimana keputusan akhirnya. Mungkin yang bertugas jadi imam akan berusaha untuk tidak datang telat dan yang shalat dhuha pun mulai sadar akan aturan sekolah. Mungkin begitu. Yang saya ingat tetap sih aturan shalat dhuha itu dilaksanakan. 

Kata mama saya, saat itu salah seorang Guru saya yang satu pengajian dengan mama sempat bertanya kepada ustadz tentang shalat dhuha berjamaah itu yang dalam aturan harusnya dilaksanakan sendiri-sendiri tapi dilakukan berjamaah untuk membiasakan anak-anak melakukan ibadah sunnah. Tapi sayang mama saya lupa apa jawaban ustadz.

Namun, dengan segala kelebihan dan kekurangan program Dhuha Berjamaah itu, saya bersyukur pernah menjalani program tersebut. Walaupun dulu saya menjalaninya dengan agak-agak dipaksa gitu. Beda banget dengan anak Rohis lain yang walaupun tanpa giliran, tetap shalat dhuha tiap hari. Saya mah anak Rohis apalah apalah :D


 Sekarang saya tidak tahu bagaimana program itu berjalan di sekolah saya. Tapiii... Kalau saya pemilik kebijakan, mungkin solusi yang tepat untuk program Dhuha ini adalah dengan mencanangkan program dhuha tanpa berjamaah. Cukup dengan memberikan waktu dan mengarahkan murid-murid untuk melakukan shalat dhuha. Dhuha dapat, istirahat buat murid-murid pun tidak terampas dari kehidupan mereka. 

Itulah salah satu cerita saya tentang zaman putih abu-abu. Kamu punya cerita apa? Cinta pertama? Uhuks. Yuk, ikutan giveaway nostalgia putih abu-abu.

8 komentar:

  1. Kalo di SMA saya tidak ada aturan harus berjamaah sih mbak, tp kadang suka disindir sama guru2 kalo gak mau berjamaah hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda sekolah, beda aturan ya, Mbak :-)

      Hapus
  2. Mulai rutin dhuha pas di meindo aja, sejak ketemu hadist tentang pentingnya dhuha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga istiqomah ya, Sayang. Jangan spt bini dunk. Injury time :p

      Hapus
  3. Sekolahnya keren, ada sholat Dhuha berjamaahnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Madrasah sih, Mbak. Jadi emang Islami. Hehehe...

      Hapus
  4. Sekolahnya keren ih.
    tapi setuju dengan saran akhirnya, dikasih ultimatum buat dhuha tanpa berjamaah biar tetep bisa menyerbu kantin :P

    makasih sdh ikut GA saya Mba.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekolahnya Madrasah, Mbak. Jadi nilai islaminya emang kental banget :D
      Sama2, Mbak :D

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...