Minggu, 20 Maret 2016

[Cerita Anak] Cita dan Blog


“Aku sekarang punya blog.” Cita bercerita kepada teman-temannya sepulang sekolah.
            “Blog?” Niken bertanya.
Cita mengangguk membenarkan. Kemarin Cita dibuatkan bunda sebuah blog. Blog seperti punya bunda. Bunda sering menulis banyak hal di sana. Cita juga ingin seperti bunda.
“Blog itu bukan facebook?” Kali ini Anggit yang bertanya. Cita menggeleng.
“Beda. Blog lebih banyak tentang tulisan. Bisa masukin foto juga. Aku mau nulis banyak hal di sana,” seru Cita dengan semangat.
Cita ingin menulis tentang liburan ke pantai minggu lalu, bikin kue cubit bersama bunda, dan banyak lagi.
“Apa harus berteman buat baca tulisan kamu?” Tanya Sekar.
“Tidak perlu. Tinggal ketik alamat dan langsung bisa lihat blog aku. Tidak perlu berteman seperti facebook,” jelas Cita.
“Apa alamat blognya, Cita? Kalau seru, aku juga mau bikin.” Cita memberikan alamat blog pada teman-temannya.

***
Menulis blog jadi kesenangan Cita sekarang. Cita jadi rajin duduk di depan laptop. Menulis tentang kejadian sehari-hari.
Cita bercerita tentang kejadian lucu di sekolah. Anggit, sang ketua kelas ngomel-ngomel di depan kelas. Kelas sedang tidak ada guru. Teman-teman ribut dan bermain di dalam kelas.
Saat Anggit menegur teman-teman, Anggit terpeleset. Teman-teman tertawa melihatnya. Cita juga tertawa. Itu lucu sekali. Cita juga menulis agar Anggit jangan suka ngomel-ngomel. Nanti cepat tua dan jadi terpeleset.
Hari ini Cita menulis tentang Riska. Riska itu kaya, ayahnya punya banyak mobil bagus. Tapi Riska pelit. Setiap ke kantin tidak pernah belanja. Riska selalu bawa bekal. Paling Riska hanya pesan minum atau dia makan di taman sekolah. Padahal kan kaya, kenapa tidak belanja?
Besoknya Cita menceritakan Niken yang lagi pilek dan batuk. Rasanya enggak nyaman kalau ada Niken di dekatnya. Suara batuknya mengganggu. Belum lagi kalau virusnya nular. Hiiii…. Cita tidak mau ketularan batuk juga.
Cita memandang puas blog-nya yang sudah berisi banyak tulisan. Semoga bisa seperti blog bunda yang juga banyak komentar.
***
Suatu pagi yang cerah, Cita melangkah memasuki kelas dengan hati riang.
“Halo, semua.” Cita menyapa teman-temannya.
Tidak ada yang menjawab sapaan Cita. Riska sibuk mengobrol dengan Niken. Anggit juga menatap Cita sebentar kemudian melengos begitu saja. Ada apa dengan teman-teman? Cita bertanya-tanya dalam hati.
Waktu istirahat tiba, Cita ingin mengajak Niken ke kantin. Biasanya, Cita pergi ke kantin bersama Niken dan Riska. Tapi Niken dan Riska buru-buru ke kantin. Meninggalkan Cita sendirian. Saat di kantin, Cita duduk di meja dekat Niken dan Riska.
“Niken, Riska, kok tadi enggak nungguin aku. Langsung pergi ke kantin aja,” celutuk Cita.
Tidak ada jawaban yang didapat Cita. Niken dan Riska malah pergi dan beralih ke meja lain. Cita ditinggalkan sendirian. Cita jadi tahu kalau mereka tidak mau berteman dengan Cita. Tapi aku salah apa? Kening Cita berkerut memikirkannya.
***
Pulang sekolah Cita langsung membuka laptop bunda. Cita ingin menulis di blog. Tentang teman-temannya yang hari ini tidak menghiraukannya.
Hari ini aku dicuekin teman-teman. Aku tidak tau salahku apa. Mereka tidak mau bicara denganku.
Sebal. Tapi juga sedih.
Aku mengingat-ingat kesalahanku. Rasanya tidak ada.
Pulang sekolah kemarin, aku masih bercerita seru dengan teman-teman.
Paginya, mereka sudah tidak menghiraukanku.
Aku sempat mikir kalau mereka sedang mengerjaiku, karena aku ulang tahun.
Tapi, ulang tahunku kan masih empat bulan lagi.
Lalu, salahku apa?
Cita menerbitkan tulisannya di blog. Cita memandangi halaman blog-nya. Saat itulah dia melihat ada komentar yang masuk di postingan tentang Riska.
‘Ibuku selalu membikinkan bekal buatku setiap pagi. Masakan ibu selalu enak. Aku tidak belanja bukan karena pelit, kok.’
Cita kaget membaca komentar Riska. Duh, apa Riska marah karena tulisanku? Cita menggigit jarinya. Kebiasaan jeleknya jika sedang bingung.
Cita membaca ulang semua tulisannya di blog. Ah, kalau jadi Anggit pasti juga sebal dibilang suka ngomel. Padahal Anggit mungkin hanya ingin agar kelas tertib karena itu tanggung jawabnya sebagai ketua kelas. Andai jadi Niken, pasti juga kesal kalau dibilang enggak nyaman dekat-dekat dia. Padahal Niken sedang sakit. Dan Riska, Cita sudah menuduh dia pelit.
Cita menulis postingan baru di blog. Meminta maaf pada teman-teman akan kesalahannya. Cita jadi dapat pelajaran penting, bahwa tidak semua hal harus diceritakan lewat blog. Apalagi kalau menyinggung teman-teman. Setelah ini Cita akan menelpon teman-temannya buat minta maaf. Semoga mereka mau memaafkan Cita.
***

 “Tulisan ini diikutsertakan dalam #FirstGiveawayCeritaAnak” 

14 komentar:

  1. Dg teknologi yg semakin canggih, anak2 bisa mengakses segala macam aplikasi di dunia maya, tetapi orang tua harus tetap mengawasinya.. Kalau tidak, ya seperti Cita ini, karena baru dibuatkan blog, kejelekan teman2nya tulis.. beruntung dia cepat sadar.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak Ery. Anak2 harus tetap diarahkan dan diawasi, ya. Untung ada kejadian yang membuat Cita sadar ;-)

      Hapus
  2. ceritanya baguuus... mba Yanti punya banyak ide, saya mah miskin ide hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Santiiii... Sy juga sering jungkir balik mikir ide. Ide ada di sekitar kita padahal, Mbak :-)

      Hapus
  3. Wah-wah, cernak yang kekinian banget. :D Tentang blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihihi... Seperti kesenangan si empu blog. Senang ngeblog :D

      Hapus
  4. cerita Cita ini menjadi pelajaran untuk kita juga yah Mbak, bahwa tidak semua yang kita rasakan harus kita tuliskan di media sosial :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betulll, Mbak Irawati. Ini mengingatkan saya sendiri juga. Buat memfilter apa mana yg bisa dituliskan di medsos, mana yg jangan :-)

      Hapus
  5. Waw muantappp nih ceritanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Makasiiiih, Mbak Nurul :-)

      Hapus
  6. Keren deh ceritanya. Pingin bisa bikin cerita anak juga. palagi bisa tembus media kayak mbak. Bangganya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, Mbak, sama-sama belajar :-)

      Hapus
  7. Aku kalo nulis nggak brani sebut merk. Kalo yg krg bagus maksudnya. Khawatir nyinggung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yg ga sebut merk aja bisa ada yg ngerasa trus baper ya, Mbak. Apalagi sebut merk :-)

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...