Rabu, 20 April 2016

[Cerpen Kompas Anak] Lari, Rheina!

            Memilih nama tokoh dalam cerita kadang memang bikin mumet. Walau mengaku tidak terlalu memikirkan nama dengan begitu detail, tapi kerap saya kehabisan ide juga memberi nama untuk tokoh dalam cerita. Beberapa kali nama yang saya gunakan berulang sehingga nama yang saya pakai itu-itu saja.

            Salah satu sumber ide nama saya adalah dari film yang saya tonton. Saya pernah menulis cerpen remaja dengan tokohnya bernama Kai. Ketika ada seorang teman yang membacanya, dia bilang nama yang saya pakai sama dengan nama tokoh pada novel karya Windry Ramadhina. Padahal, saya memakai nama Kai karena merujuk pada film yang baru saya tonton saat itu yaitu 47 Ronin. Tokohnya juga bernama Kai, kan?

            Pada satu-satunya cerpen yang dimuat di Kompas Anak ini juga saya memilih nama tokohnya berasal dari film yang baru saya tonton yaitu Rush. Niki, kakak dari Rheina di cerpen ini, ide namanya dari Niki Lauda. Cerpen ini dimuat di Kompas Anak pada tanggal 29 Juni 2014 dan sampai Kompas Anak berhenti terbit cuma satu cerpen ini yang berhasil dimuat. Hiks. Sekarang Kompas Anak sudah berhenti terbit. T_T
            



Lari, Rheina!
Oleh : Hairi Yanti

“Kemarin aku mencetak dua gol,” Niki berkata sambil melirik Rheina di sampingnya. Niki tersenyum senang melihat wajah Rheina yang cemberut.

“Sepak bola itu menyenangkan, Rheina,” ujarnya lagi. Niki memang paling tahu bagaimana membuat adiknya kesal. Rheina selalu ingin ikut bermain sepak bola. Tapi Niki dan teman-temannya tidak pernah mengizinkan dia bermain serta.

“Aku bisa berlari lebih cepat dari kakak,” sungut Rheina yang membuat Niki tertawa. Rheina ingat ketika berlomba lari dengan kakaknya, ayahnya selalu bilang kalau Rheina setinggi kakaknya pasti akan bisa lari lebih baik dari Niki.

“Apa artinya berlari tanpa menggiring bola. Kalau sepakbola itu perpaduan semuanya. Larinya ada, kerja samanya ada dan yang tak tergantikan itu perasaan senang ketika gol,” jawab Niki. Rheina memasang wajah kesal di depan kakaknya yang membuat kakaknya tersenyum puas.

***
Hari ini Rheina senang sekali karena ayah akan mengajaknya main bola di halaman belakang rumah mereka. Ada dua buah batu yang ditaruh di sisi kiri dan kanan sebagai penanda jarak antara dua buah batu itu adalah gawang.

“Ayo, Rheina, tendang bolanya,” ayah memberi semangat. Rheina pun menendang bola ke arah gawang, tapi tendangan Rheina meleset. Sementara tendangan Niki selalu berhasil. Saat Rheina menggiring bola, Niki juga bisa dengan mudah mengambil bola dari kaki Rheina. Rheina pun jadi tak bersemangat lagi main bola.

“Ini karena aku nggak pernah main bola, jadi kak Niki lebih jago main bolanya,” sungut Rheina dengan wajah kesal malam harinya.

“Tapi Rheina kan larinya lebih bagus. Waktu finish, jarak antara Rheina dan Kak Niki nggak jauh. Padahal kak Niki lebih tinggi dari Rheina,” kata ayah menghibur Rheina. Sore tadi Rheina dan kak Niki memang sempat lomba lari juga.

“Rheina nanti latihan lari aja, ya.” Ayah menepuk pundak Rheina dengan lembut. Rheina menggeleng. Dia mau main bola. Bukan lari.

***
“Ayo, Rheina! Lari!” Niki bersorak di pinggir lapangan. Memberikan semangat buat Rheina yang hari ini mengikuti lomba lari di sekolah. Siapa yang menang akan mewakili sekolah buat perlombaan di tingkat kabupaten. Niki sudah terpilih masuk menjadi tim inti sepakbola sekolah. Karena tidak ada tim wanita, jadi wali kelas mereka menyarankan Rheina ikut lomba lari.

“Bersedia! Siap! Ya!” Rheina membawa tubuhnya berlari sekencang-kencangnya. Nafasnya memburu. Keringat pun mulai membasahi tubuhnya. Tidak ada teman yang mendahuluinya, artinya Rheina masih memimpin. Tapi beberapa detik kemudian, Rheina kaget. Ada sekelabat tubuh yang melewati dirinya.

“Erggh… Ada yang mendahuluiku,” Rheina membatin. Rheina berusaha mempercepat larinya. Tapi, garis finish sudah di depan mata. Rheina terduduk di rerumputan begitu sampai di garis finish.

“Dan yang jadi pemenang lomba lari adalah… “ Pak Anto, Guru Olahraga mengumumkan. “Alda!” Kata Pak Anto dengan suara lantang. Mata Rheina terlihat berkaca-kaca.

“Aduh.” Rheina memekik pelan. Rupanya ada semut merah yang menggigit lengannya.

“Kenapa?” Niki sudah ada di depan Rheina..

“Ada semut, Kak. Aku digigitnya. Sakit.” Rheina bercerita sambil terisak. Kekalahan di lomba lari dan sengatan semut merah membuat Rheina tidak bisa menahan tangisnya.

“Kita ke UKS, ya. Cari minyak kayu putih buat mengolesi yang disengat semut tadi,” ajak Niki. Rheina mengganguk. Dibantu Niki, Rheina berdiri dari duduknya. Niki menggandeng tangan adiknya.

“Tadi Rheina larinya sudah bagus. Tapi setelah start Rheina larinya terlalu kencang. Jadi ngos-ngosan di tengah. Kecepatan Rheina jadi berkurang. Makanya Alda bisa menyalip Rheina,” Niki berkata sambil menepuk-nepuk pundak Rheina pelan. Rheina mengganguk setuju. Kakaknya mengatakan hal yang benar.

“Tapi Rheina jangan menyerah. Kan masih ada tahun depan. Kak Niki juga baru tahun ini bisa ikut serta mewakili sekolah di pertandingan bola.”

Rheina tersenyum ke arah kak Niki. Rheina menyadari kalau ternyata kakaknya tidak terlalu menyebalkan, justru sangat sayang padanya.

***

8 komentar:

  1. ah... mba Yanti kalo bikin cerpen anak, selalu bagus. Jadi ingat waktu anak saya tanding pencak silat, ternyata dia kalah dan menangis :)

    BalasHapus
  2. Mencari nama tokoh pun bisa terinspirasi dari mana aja ya, Mbak :)

    BalasHapus
  3. Duuuh bisa jadi bahan koleksi nih. :D BTW di kompas feenya lumayan. :D

    BalasHapus
  4. btw majalah anak bobo sekarang masih terbit nggak ya? hehe

    BalasHapus
  5. Wah cerpen anaknya keren sekali mbak, tulisannnya asik di baca :)

    BalasHapus
  6. Hmm muantappp juga mbak alur ceritanya.

    BalasHapus
  7. Yantiii...seriusan itu kompas anak udah gak ada lagi?
    Kok syediiiiih :)

    Akh, kalo bikin cerpen anak ternyata temanya emang harus yang sederhana, tapi mampu menceritakan isi hati anak tersebut yah...cateeeet!

    BalasHapus
  8. Oooo kompas tuh pernah ada kompas anak ya? *barutau*
    Ciba nulis utk bobo mba..

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...