Kamis, 04 Agustus 2016

7 Bahan Makanan yang Dibawa ke Perantauan

         
Kampung halaman biasanya punya arti special buat kita. Jika merantau, apa yang di kampung halaman kerap dirindukan. Saya pun begitu, walaupun merantaunya hanya melompat dikit ke provinsi tetangga. Saya berasal dari Kalimantan Selatan, setelah menikah mengikuti suami ke Kalimantan Timur.

            Walau hanya dari Selatan ke Timur dan masih di pulau yang sama, namun, ada beberapa hal yang sangat saya sukai di kampung halaman saya tapi tidak saya temukan di perantauan. Karena itulah kesempatan mudik biasanya saya sempatkan untuk mencicipi hal-hal yang tidak saya temui itu. Dan tak lupa, ketika pulang balik ke Kaltim membawa serta segala hal-hal itu ke Kaltim.

            Berikut adalah beberapa bahan makanan yang sering saya bawa pulang ke Kaltim. Bukan buat oleh-oleh juga, tapi buat simpanan dan makanan sendiri aja.


1.      Beras Unus

Di Kalsel ada punya beras andalannya yaitu beras unus. Ciri khas beras ini teksturnya yang tidak pulen tapi pera. Dan butir-butir nasi (setelah masak tentunya) bisa dipisahkan butir demi butir. Bedalah dengan beras jawa yang banyak dijual di sini.

            Saya suka sekali nasi yang dimasak dengan beras ini. Saya suka nasi yang pera bukan yang pulen. Bahkan saya pernah membawa sendiri nasi ke satu tempat makan waktu mau makan keluar bareng keluarga, karena saya tau di tempat makan itu tidak menggunakan beras unus.

            Tadinya saya pikir karena masih tetanggaan, maka akan dengan mudah saya temukan beras unus di Kaltim. Dan ternyata tidak adaaaa…. Huwaaaa…. Pernah saya menjelajah pasar besar di Balikpapan, ada sih yang jual beras Banjar tapi kualitasnya bukan seperti beras unus.

            Oleh sebab itulah, maka, di beberapa kesempatan pulang dan kalau memungkinkan membawa beras, saya akan membawa beras unus. Untung pulang kampungnya lumayan sering ya :D

2.      Cabe Rawit
            Wkwkwk… Segala cabe rawit dibawa juga :p
Cabe rawit
            Tapi cabe rawit dari Barabai itu beda dengan cabe rawit yang saya temui di Balikpapan dan sekitarnya. Sama-sama pedas sih, tapi cabe rawit di Barabai itu mungil-mungil lucu menggemaskan. Sementara cabe rawit yang saya temui di Kaltim itu gede-gede. Walaupun tidak bisa menjelaskan perbedaan rasanya gimana, tapi ada yang beda deh di lidah saya saat menikmatinya. Cabe rawit dari kampung halaman lebih enaaak. Saya biasa membawa sedikit aja sih. Beli seribu atau dua ribu di pasar.

3.      Pakasam
pakasam
            Ini khas daerah saya banget. Bahkan di kota lain di Kalimatan Selatan juga jarang bisa ditemui penganan satu ini. Pakasam ini jenis lauk yang diawetkan yang rada unik karena diawetkan dengan beras yang ditumbuk dan disangrai. Rasanya pun bukan dominan asin seperti ikan asin, tapi ada rasa asam-asamnya. Makanya namanya pakasam. Beras yang ditumbuk dan disangrai itu nantinya menjadi sesuatu yang namanya samu. Samu ini kalau digoreng krenyes-krenyes gitu. Nikmat deh makan pakasam ini.

            Pakasam mentah ini aromanya juga aduhai… Bisa menguar ke seluruh isi tas dan bikin kita mencuci semua pakaian yang dibawa di tas tersebut. Tapi, nikmatnya juga luar biasa. Digoreng dengan bawang merah dan cabe merah hijau yang banyak dan dimakan dengan nasi dari beras unus yang panas bikin lupa diet deh.



4.      Masak Asam Telang / Telang Asam Manis

            Saya tidak tau apa bahasa Indonesianya ikan telang itu. Pernah mencoba bikin dengan ikan asin lain seperti ikan asin kakap atau ikan asin tenggiri. Namun, tidak ada yang mengalahkan rasa ikan asin telang dari kampung halaman sendiri.

            Biasanya sih bawa ini kalau kakak ipar saya yang punya usaha catering itu menawarkan. Karena suami doyan, jadi saya selalu iya-iya aja kalau ditawarkan apakah mau bawa olahan ikan asin ini. Apalagi waktu Ramadan kemarin seperti cerita saya di sini. Apalagi olahan dari catering kakak ipar saya yang memang nikmat tiada tara, duh, siapa yang bisa menolak ketika ditawarkan?

5.      Lumpia Ibu Mega Rantau
lumpia ibu Mega
            Ahahaha… Waktu nulis ini lagi ingat sama lumpia tersebut. Saya juga enggak kenal sih siapa ibu Mega tersebut. Pertama kali nyoba lumpia ini waktu kakak saya beli, oh oke lah rasanya enak karena saya lapar. Kemudian keluarga saya punya lagi langganan yang jual lumpia ini. Kali ini lebih enak karena hanya akan digoreng saat kita mau beli, beda dari penjual sebelumnya yang sudah digoreng duluan lumpianya.

            Lumpia Ibu Mega ini banyak cabangnya di mana-mana di seantero Kalsel. Favorit saya yang rasa kentang, kentang manis atau kentang pedas keduanya oke. Lumpianya panjang dan lumayan gede.

            Awal Ramadan kemarin, saat mau balik ke Kaltim, saya membawa lumpia ini pulang ke Kaltim. Lumpia yang belum digoreng. Penjualnya sih khawatir kalau lumpianya tidak tahan karena terlalu lama di perjalanan. Tapi, karena sebelum naik pesawat saya mampir dulu ke rumah kakak di Banjarbaru, jadi lumpia bisa saya masukkan lagi ke dalam frezer. Alhamdulillah, rasanya tetap enak dan bisa saya nikmati sebagai penganan saat buka puasa bersama suami.

6.      Bawang Goreng

            Wkwkwk… Ini sih dibawa karena faktor malas saya aja. Saya tinggal di sebuah kota kecamatan di mana bahan-bahan makanan yang dijual tidak selengkap yang ada di kota besar. Yang jual bawang sih banyak ya. Tapi, saya belum menemui yang jual bawang merah dan bawang putih yang sudah dikupas yang segar-segar.

            Jadinya, setiap pulang kampung saya selalu menyempatkan bikin bawang goreng di rumah orangtua. Sekalian bikin buat stok orang rumah di Barabai juga. Sebagian saya bawa juga. Karena bawang goreng itu nikmat buat ditaburkan di atas makanan, apalagi kalau mau bikin soto. Wah, harus punya stok bawang goreng yang melimpah ruah. Jadiii… Bawang goreng ini baik bawang merah atau bawang putih goreng, lumayan sering saya bawa saat mudik.

7.      Sambal Petis Botolan

            Buat saya makan gorengan itu paling enak pakai sambal petis. Tempe, tahu, atau bakwan bahkan pisang goreng sekali pun enak banget kalau dicocol ke sambal petis. Dan sambal petis produksi Martapura ini yang jadi andalan saya.

            Belum nemu juga yang jual ini di Kaltim, jadinya selalu bawa dari Banua atau dari Kalsel. Dulu sih sekali bawa bisa 4 botol sekaligus, sekarang karena mau mengurangi makan gorengan jadi bawanya sedikit saja. Kalau sambal petis habis, jadi tidak semangat lagi makan gorengan. Hehehe….

Nah, itulah 7 bahan makanan yang sering atau pernah saya bawa ke Kalimantan Timur. Selain yang tujuh itu, ada beberapa lagi yang sering saya bawa. Seperti sambal pecal, ikan asin, terasi, sirup, dan lain sebagainya.


Kalau teman-teman, suka bawa apa dari kampung halaman kalau sedang merantau? :D

10 komentar:

  1. Belum pernah cobain semua kecuali cabe rawit sama bawang goreng :))) tiap daerah pasti ada yang khas y mba mantep kayaknya Pakasam klo kirim ke Bandung busuk di jalan y mba hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau yang nyampai sehari mungkin bisa mbak Herva... Tapi lumayan awet sih di suhu ruang ini :-)

      Hapus
  2. Ew, sambal petis dalam botol? aku baru tahu, ada sambal gitu.. hikss penasaran rasanya. biasanya aku cuma bisa beli dari pasar, terus kemasannya dibungkus pakai daun pisang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, Mbak. Jadi ini siap makan sambal petisnya. Tinggal dituang ke piring dan dicocol sama gorengan :D

      Hapus
  3. Kalau aku sih, kecap. bagiku kecap dari kampung halaman rasanya juara. Mungkin karena sudah familiar sejak kecil sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu saya juga sukaaa banget sama kecap produk lokal, Mbak. Kemudian kecap tersebut mulai langka. Saya kehilangan sangat. Sekarang sih udah bisa move on ke kecap ABC. Hehehe... Jadi pengin cerita tentang kecap :D

      Hapus
  4. penasaran sam pakasan juga telang asam manis :o

    BalasHapus
  5. Kalau jalan-jalan ke luar negeri gak bisa bawa beras unus lho Yan...gimana tuh? wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwk... Kalau terpaksa bisa aja kok, Teh ;-)
      Kalau ke tanah suci amaaan, Teh. Saya suka beras di sana. Mirip2 lah sama beras unus yang pera. Tapi bedanya di sana berasnya panjang2 :D

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...