Jumat, 28 Oktober 2016

Cinta yang Tak Berujung pada Kebersamaan


"Yanti suka baca. Suka nulis juga enggak? Biasanya orang yang suka membaca juga suka menulis.” Suatu hari senior saya di satu organisasi menanyakan hal tersebut. Saya pun lantas menjawab.

"Suka membaca. Kalau menulis, hanya sebatas di buku harian. Walaupun saya ingin menjadi penulis."

Mendengar jawaban saya, beliau pun bertanya lagi. "Mau gabung di FLP?"

Hati saya membuncah mendengar pertanyaan tersebut. Saya pun langsung menyatakan berminat dan antusias sekali. Mungkin itu adalah jalan agar saya bisa menulis bagus seperti orang-orang hebat yang tergabung di FLP. Dengan bersemangat saya pun mengisi formulir untuk menjadi anggota FLP.


Membaca adalah kegemaran saya sejak bisa mengeja kata-kata. Semenjak kecil pula, saya tahu kalau lebih senang membaca cerita fiksi. Setiap tahun ajaran baru dan menerima buku paket Bahasa Indonesia, maka saya akan langsung membaca cerita-cerita yang ada di buku tersebut. Begitu pun dengan majalah, yang paling saya suka adalah membaca cerpen-cerpen yang dimuat di sana.

Kesenangan itu terus berlanjut. Saat mengalami masa puber, saya pun beralih dari majalah Ananda koleksi kakak saya ke majalah remaja. Saya habiskan siang-siang sepulang sekolah dengan melahap banyak cerpen di sana. Namun, ada sesuatu yang saya rasakan hampa saat membaca tersebut. Saya membaca banyak kisah romansa tapi seperti ada sesuatu yang berasa kosong. Entah apa, saya belum bisa mendefinisikannya.

Waktu demi waktu berjalan, saya kemudian duduk di bangku sekolah menengah atas. Saya mengenal teman yang memperkenalkan satu majalah bernama Annida. Bahagia sekali mendapatkan banyak cerpen di dalamnya. Saya meminjam koleksi teman saya dan juga mulai memburu majalah Annida untuk saya koleksi. Begitu pun dengan buku-buku yang diiklankan di majalah tersebut juga saya buru.

Saat membaca majalah Annida dan buku-buku fiksi islami saya seperti menemukan sesuatu yang mengisi kehampaan saya selama membaca cerpen-cerpen fiksi lainnya. Sesuatu yang membuat saya bertumbuh ingin terus memperbaiki diri. Sesuatu yang membuat pemahaman saya akan agama menjadi lebih baik. 

Sesuatu yang menjadi pengingat saya bahwa ada yang harus dibenahi dalam hidup saya, baik itu dalam pergaulan atau sikap dan pikiran saya. Walaupun saya masih bandel dalam pelaksanaannya, tapi saya tetap bersyukur bersyukur. Masa remaja saya diisi dengan booming-nya fiksi islami kala itu. Fiksi islami seperti rem yang bisa menahan laju kebandelan saya saat itu.

Semua fiksi baik berupa cerpen atau novel yang saya baca mengarah pada satu nama yaitu FLP. Buku-buku yang saya baca nyaris semua ada logo FLP di cover belakang buku tersebut. Membaca tentang orang-orang berkarya yang ada di dalamnya membuat saya ingin bergabung di sana.
Ada logo FLP di belakang buku

Saya ingin bergabung tapi tak tahu di mana dan bagaimana. Ketika saya duduk di bangku kuliah, senior saya di satu organisasi memberikan pertanyaan seperti yang saya ceritakan di awal tulisan ini.

Kemudian bagaimana setelah saya mengisi formulir pendaftaran? Begitu saja. Selesai dan tidak ada perkembangan apa-apa. Entah saya yang ketinggalan informasi tentang kegiatan FLP atau FLP memang tidak ada kegiatan apa-apa. Jadi, kiprah saya di FLP hanya sebatas mengisi formulir dan tidak terdaftar sebagai anggota. FLP tetap menjadi mimpi buat saya.

Ketika dunia maya sudah semakin menggurita, saya pun berharap bisa bergabung di FLP. Siapa tahu dengan mudahnya akses informasi dan berhubungan dengan orang-orang di dunia maya, membuat saya bisa menjadi anggota FLP. Namun, tahun demi tahun berlalu, hal itu tak juga terwujud.

Sampai pada satu ketika saya membaca informasi perekrutan anggota FLP baru. Bahagia sekali rasanya mendapatkan pengumuman tersebut. Saya pun kemudian bertanya bisakah saya ikut serta? Tempat acara bisa saya jangkau karena kakak saya tinggal di kota tersebut. Namun, panitia bilang saya tak bisa ikut serta karena saya tidak berdomisili di kota tersebut.

Oh, saya ditolak. Rasanya sakit. Saya sedih. Perasaan sedih dan sakit itu pun kemudian membuat saya mengibarkan bendera putih untuk FLP. Saya menyerah. Saya kubur saja mimpi untuk menjadi anggota FLP. Mungkin memang saya terlalu cepat menyerah karena baru sekali ditolak, tapi penantian saya sudah bertahun-tahun lamanya.

Di satu sisi saya rasanya ingin protes, mengapa FLP tidak membuka perekrutan secara online? Agar kasus calon anggota seperti saya yang di wilayahnya belum ada cabang FLP atau ada cabang tapi tidak aktif masih bisa bergabung. Namun, di sisi lain saya harus menghargai apa yang telah menjadi aturan bagi para anggota FLP.

Walaupun tidak tergabung di dalamnya, saya tetap berharap FLP bisa maju sebagai sebuah komunitas menulis paling besar di Indonesia. Memberikan karya-karya terbaik dan berisi bagi pembaca Indonesia. Tidak merasa paling hebat, terus semangat belajar dan berkarya. Cinta terkadang tak harus selalu berujung pada kebersamaan. Biarlah saya tetap menjadi seperti pungguk yang merindukan bulan untuk menjadi anggota FLP.


23 komentar:

  1. Di kotaku ada FLP, mba. Syaratnya gampang. Ada teman yang ngajak aku, tapi akunya yang sok sibuk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe... Kalau belum jodoh adaaa aja kendalanya ya, Mbak :-)!

      Hapus
  2. saya juga kepengen mba ikut keanggotaan FLP, supaya tulisan fiksi saya menjadi lebih baik lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toss sama mbak. Dulu saya juga pengin banget jadi anggota FLP. Sekarang udah nyerah. Hehehe...

      Hapus
  3. Itu buku Mba Haya NUfus y mba aku pengen baca..
    btw aku pun pngen ikutan FLP mba tapi entah semesta belum mendukung hehhee..
    meski blm gabung tp mba uda mampu berkarya semangat mba ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa. Buku mb Haya Nufus. Baru dapat saya bukunya :D
      Iya, Mbak. Kalau enggak jodoh ada aja ya. Saya pengin ikut FLP tapi dulu. Sekarang udah kibar bendera putih. Hehehe...

      Hapus
  4. Wah...mbak, saya juga pingin bergabung di FLP, tapi sampai sekarang nggak tahu harus daftar kemana. Saat kuliah dulu saya memang kurang aktif berorganisasi, makanya linknya cuman dikit. Ada teman kerja waktu itu juga jadi anggota FLP, dia mau ngajakin sih, tapi ya cuman sekadar ngajakin aja. Hihihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah... Sama dunk, Mbak. Moga ada petinggi FLP yang baca ya, Mbak. Jadi bisa memfasilitasi buat yang mau gabung FLP tapi ga tau caranya :D

      Hapus
  5. Masya Allah... lama banget penantiannya.. semoga setelah ini bisa segera tergabung di FLP ya, Mbak. Mungkin saja ada pengurus FLP yang baca ini trus bisa mengadakan perekrutan secara online.
    Btw belum gabung di FLP saja fiksi-fiksi mbak Hairi sudah banyak terbit di media massa. Semoga semakin banyak lagi karya mbak yang lahir dan terbit ya, Mbak.
    Terus semangat dan menginspirasi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. InsyaAllah dibaca pengurus FLP, Mbak. Karena tulisan ini saya ikutkan lomba di FLP. Hehehe... Sekarang saya sudah menyerah, Mbak. Sakit ditolak masih berasa. Hehehe...

      Hapus
  6. Kalau sekarang ditawarin gabung flp, masih mau Mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak, Mbak. Keputusan saya untuk menyerah sudah final :D

      Hapus
  7. Yanti, enggak ceritakan alasannya kenapa kalau jauh dengan tempat kegiatan FLP?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan termaktub di bagian ini: Agar kasus calon anggota seperti saya yang di wilayahnya belum ada cabang FLP atau ada cabang tapi tidak aktif masih bisa bergabung. Namun, di sisi lain saya harus menghargai apa yang telah menjadi aturan bagi para anggota FLP.

      Hapus
  8. Jiaaah Yantii.. dah kadung sakit ya..
    Klw skrg ditawarin, dah nggak mau lagi..?

    BalasHapus
  9. Tetap semangat Mbak Yanti! Semoga suatu saat bisa bergabung dengan FLP ya Mbak meskipun sekarang sudah mengibarkan bendera putih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Makasiiih, Mas. Keputusan mengibarkan bendera putih sudah final :D

      Hapus
  10. Balasan
    1. Hihihihi..... Bahannya ini doang :D

      Hapus
  11. sini sini ke banjar. nyaman langsung kurekrut. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Banjarbaru ulun ditolaak, Ka. Hihihi...

      Hapus
    2. Di Banjarbaru ulun ditolaak, Ka. Hihihi...

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...