Selasa, 15 November 2016

[Cerpen Majalah GADIS] Sepasang Mata Rindu

Seperti yang saya ceritakan di sini, cerpen Sepasang Mata Rindu dimuat di Majalah Gadis. Tepatnya di Majalah Gadis No. 21 di bulan Oktober 2016. Ini cerpen pertama saya di Majalah Gadis, tapi merupakan tulisan kedua saya di majalah tersebut. Sebelumnya ada tulisan saya yang berjudul Nama Pena yang dimuat di rubrik Percikan.

Pada Majalah Gadis terdapat informasi terkait pengiriman tulisan ke majalah tersebut. Berikut informasinya :

GADIS menerima PERCIKAN (2 halaman folio) atau CERPEN (6-7 halaman folio). Ketik rapi dan kirim melalui email ke GADIS.Redaksi@feminagroup.com. Tuliskan identitas lengkap kamu, nomor rekening dan fotokopi halaman depan buku tabungan (yang mencantumkan nama dan nomor rekening) serta nomor telepon yang bisa dihubungi.

Itu info yang saya salin dari Majalah Gadis. Perihal emailnya mental mulu, saya pun tak tahu. Hehehe… Berikut adalah cerpen saya yang dimuat di sana. Happy Reading ^_^



Sepasang Mata Rindu
Oleh : Hairi Yanti

"Kamu phobia rasa rindu, Alina."

Perkataan Dinar sukses membuat aku tersedak. Dinar mengatakan hal tersebut tepat di saat aku menelan satu suapan dari sepiring makan siang kami. Dinar menyodorkan segelasa air putih untukku. Segera kuambil dan meneguknya pelan. 

"Kamu melakukan banyak hal agar tak merindukan rumah, kan, Alina?" Tanya Dinar lagi.

Tatapannya menyelidik ke mataku. Gegas aku mengalihkan pandang. Kemudian kembali berkonsentrasi dengan buku di tanganku, di sela suapan makan siang. Aku tak menyanggah apa yang dikatakan Dinar karena mungkin sebagian apa yang dikatakannya adalah kebenaran, atau bisa jadi sepenuhnya benar. 

Aku masuk ke sekolah ini sembilan bulan yang lalu. Semester awal kehadiranku di sekolah, aku sukses merebut perhatian semua warga sekolah dengan prestasi. Memiliki nilai rata-rata tertinggi, juara beberapa event, anggota aktif beberapa ekskul yang kuikuti. Mereka bilang aku jenius, aku bilang pada mereka kalau aku hanya berusaha di atas rata-rata. Mungkin hanya Dinar yang tahu, ada alasan lain di balik semua itu. Aku sedang membunuh rindu. 

Berpisahlah dengan orang yang kamu cintai, maka akan kamu lakukan apa saja untuk membunuh waktu yang ditikam kerinduan. Itulah yang kulakukan selama ini. Kuhabiskan waktu dengan belajar, belajar, dan belajar. Bergerak aktif dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain. Aku berusaha keras agar tak ada waktu yang membuat aku melamun, merindukan sesuatu yang tak ingin kurindukan. Semua bermula dari dua tahun yang lalu. Semenjak papa meninggalkanku untuk selamanya. 

***

"Kamu tidak ke mana-mana, Alina?" Dinar bertanya sembari tangannya menutup koper warna magenta miliknya. 

"Ya." Aku menjawab singkat.

Boarding School tempat aku berada adalah sekolah berasrama. Setiap bulan sekali, murid-murid diberikan waktu libur dua hingga tiga hari. Para orangtua satu per satu menjemput anak-anak mereka. Mobil-mobil berjejer di parkiran, menanti satu sosok dari asrama yang akan muncul dan kemudian masuk ke mobil mereka. 

Sementara teman-temanku antusias menghadapi kebebasan mereka di luar asrama, aku akan meminjam empat sampai lima buku di perpustakaan. Buku matematika, fisika, kimia, dan apa saja. Mengerjakan semua soal-soal latihan di buku itu ketika waktu libur. Semenjak kedatanganku di sekolah ini, tak sekali pun aku beranjak dari kamar ini saat libur tiba. 

Dinar sudah lama berlalu. Senyap yang sedari tadi menemani terusik saat ketukan pada pintu terdengar. Tak lama, pintu terbuka setelah aku menyahut sebuah sapaan di luar kamar. Wajah Miss Mirna muncul dari balik pintu. Ia tersenyum dengan ramah kemudian berjalan ke arah meja belajarku. Miss Mirna memegang pundakku, memijitnya perlahan. Miss Mirna adalah ibu asrama, ia dicintai seluruh penghuni asrama. 

"Kau tidak lelah, Alina?" Aku menggeleng. 

"Ada yang mencarimu." Miss Mirna berkata pelan. 

"Miss tahu aku tidak ingin bertemu..."

"Namanya Elma. Dia bilang, dia tante kamu." Miss Mirna memotong perkataanku.

Mataku terbeliak. Kemudian mengerjap dan tak lama kemudian aku telah bangkit dari duduk dan berjalan menuju ruang tamu asrama. Aku menolak setiap orang yang datang, tapi tidak untuk kedatangan Tante Elma.

"Tante..." Panggilku.

Wanita usia pertengahan tiga puluhan di depanku membalikkan tubuhnya. Aku terpaku sejenak melihat wajahnya. Tante Elma tinggal di Australia, aku tak pernah bertemu dengannya lagi semenjak pemakaman papa. Namun, semenjak kecil, aku sangat dekat dengan Tante Elma sebelum kepindahannya ke negeri orang. Tante Elma sudah seperti ibu kedua bagiku.

Pada wajah Tante Elma, Aku seperti melihat wajah papa. Dari ketiga adik Papa, Tante Elma adalah yang paling mirip dengan papa. Konon katanya, Tante Elma juga adik yang paling dekat dan paling disayang Papa. Tante Elma kemudian merentangkan tangannya yang membuat aku segera menghambur ke pelukannya. 

Aku tersedu di rengkuhan Tante Elma. Membiarkan tangisku tumpah di sana. Aku merindukan papa. Kali ini aku menyerah untuk terus berpura-pura kuat. Saat ini, aku tak bisa membunuh rinduku.

Saat tangisku mereda, Tante Elma mengajakku duduk. Kami berbincang tentang banyak hal. 

"Kabarnya keponakan Tante adalah murid yang cemerlang di sekolah ini," kata Tante Elma yang membuat aku tersenyum masygul. Obrolan terus mengalir antara aku dan Tante Elma sampai…

"Lelaki itu..." Perkataan Tante Elma selanjutnya langsung membuatku menutup telinga. Hanya mendengar frase lelaki itu aku sudah tahu ke mana pembicaraan ini akan mengarah. Dengan lembut Tante Elma meraih tanganku dan menurunkannya. 

"Dengarkan Tante kali ini, Alina, " tawar Tante Elma. 

"Tidak, Tante. Tidak akan ada pembicaraan tentangnya," tolakku.

Tante Elma menatapku dengan pandangan memohon. Aku menggelengkan kepala, tapi Tante Elma tak menghentikan tatapannya. Sesak di dadaku semakin terasa, saat air mataku kembali mengalir, aku mengangguk dengan lemah. Pada satu wajah yang sangat mirip dengan papa, aku tak bisa berkata tidak.

"Dia sahabat papamu." Tante Elma mengawali cerita yang membuat mataku terbelalak. Aku hanya tahu kalau lelaki itu adalah cinta lama bunda. Begitu bisikan orang-orang kepadaku saat itu. Tapi kenyataan kalau ia adalah juga sahabat papa sungguh membuat hatiku tidak lebih baik.

"Mereka dulu disebut tiga serangkai. Sangat akrab. Persahabatan antara dua orang lelaki dan satu orang perempuan. Dua lelaki itu mencintai perempuan yang sama." Alisku mengernyit. Tante Elma mengangguk seolah bisa membaca apa yang kupikirkan.

"Perempuan yang dicintai dua lelaki itu adalah bunda kamu," ujar Tante Elma lagi.

Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa mendengar penuturan Tante Elma. Tante Elma meneruskan ceritanya, tentang lelaki patah hati yang meninggalkan negerinya saat perempuan yang ia cintai menikah dengan sahabatnya sendiri. Lelaki itu masih sendiri, hingga sahabatnya wafat. Kembali ke tanah air dan siapa yang menyangka, tiga bulan sebelum kepergian papa, papa mengirimkan surat untuk sahabatnya itu. Meminta sahabatnya menjaga istri dan anaknya jika sesuatu terjadi pada papa.

"Kita semua kaget, Alina. Mungkin papamu sudah punya firasat.” Tante Elma menarik napas. “Berpikirlah dari sudut pandang orang lain, Alina. Dari ibumu, dari papamu. Papamu pasti bahagia ada seorang lelaki yang ia kenal baik bisa menjaga bunda dan kamu. Ibumu juga butuh penopang baru selepas kepergian papamu,” lanjut Tante Elma sembari menggenggam tanganku.

Air mataku kembali merebak. Ingatan pada hari kematian papa menyerbu masuk begitu saja. Papa meninggal mendadak. Sebelum kejadian itu, papa hanya terlihat lelah, tapi ia tak kelihatan seperti orang sakit. Kepergian papa mengejutkan semua orang. Papa hanya mengeluh sakit pada dadanya, kemudian tak sadarkan diri.

Bunda menjerit memanggilku. Kami memapah papa yang tak sadarkan diri dibantu para tetangga. Melarikan mobil menuju rumah sakit. Sampai di rumah sakit, dokter menggelengkan kepalanya setelah memeriksa tubuh papa. Kemudian lelaki setengah baya berjas putih itu menutup tubuh papa dengan kain putih. Aku dan bunda histeris melihatnya. Kami meraung, menangis sejadi-jadinya.

Saat aku sudah bisa menahan isak, bunda belum bisa meredakan tangisnya. Bunda terus menangis keras saat pemakaman papa.  Aku mendelik saat mendengar ocehan wanita muda di dekatku berdiri. 

"Biasanya kalau menangis keras seperti itu, tak lama juga kawin lagi." Bagitu kata wanita muda itu.

Aku menatapnya dengan tajam. Tak terima bunda disebut begitu. Ia yang tak menyangka aku mendengar perkataannya hanya berlalu dari hadapanku. Tapi setelah satu tahun kepergian papa, aku sadar wanita muda itu benar. Bunda mengajakku bicara. Berkata bahwa ia akan menikah lagi.

"Bunda tidak bekerja, Alina. Kita harus terus hidup. Bunda tidak mungkin menguras tabungan pendidikanmu yang sudah disiapkan papa kamu. Bunda... "

Selanjutnya aku tak mendengar lagi apa kata Bunda. Aku tahu kami kehilangan pegangan saat papa tiada. Tapi untuk alasan itu bunda menikah lagi, sungguh aku tak bisa terima. Apalagi setelah aku menyelesaikan pendidikan SMP, Bunda memintaku masuk Boarding School. Sesuai amanat papa katanya. Sesuai keinginanku juga, tapi dulu.

Selanjutnya aku memaknainya lain. Aku merasa terbuang karena bunda ingin menjalani kehidupan barunya dengan lelaki itu. Tanpa aku. Semenjak itu aku menolak untuk pulang, menolak untuk bertemu bunda dan membunuh semua kerinduan dengan aktifitas padat yang kulakukan.

Tepukan lembut di punggung tanganku mengembalikanku pada kenyataan. Tante Elma di menyodorkan selembar foto. Aku meliriknya sekilas, kemudian mendorong foto itu lagi ke depan Tante Elma. Tak perlu dijelaskan, aku tahu siapa yang ada di foto itu. Bola mata bayi yang ada di foto itu berwarna cokelat, persis sama dengan kedua bola mataku, juga bola mata bunda.

"Bundamu sudah melahirkan. Adikmu gendut dan cantik sekali." Tapi Tante Elma menjelaskan juga siapa yang ada di foto tersebut. 

"Pulanglah, Alina. Belajarlah menerima," ujar Tante Elma di tengah pelukannya saat aku mengantarkan ia ke gerbang asrama. Saat mobil Tante Elma melaju, ada sesuatu yang terlihat dari balik kaca mobil yang terbuka sedikit. sepasang mata yang menatapku. Aku tak mungkin salah mengenali pemilik sepasang mata itu. Tubuhku melunglai saat aku tiba di kamar. Kuabaikan buku-buku latihan soal, liburan kali itu kuhabiskan waktu dalam tangisan.

***

"Mnemophobia, Alina. Fobia terhadap kenangan. Mungkin kamu mengalami hal itu." Ocehan Dinar kali ini.

Entah sejak kapan, teman sekamarku itu seperti tergila-gila akan jenis fobia. Ia bisa melontarkan jenis fobia yang asing, kemudian menganalisa siapa di antara teman-teman kami yang menderita fobia tersebut. 

"Tapi fobia itu ketika tubuhmu bereaksi dengan serius saat menemui hal yang membuat kamu phobia. Kamu bisa menggigil, gemetar, dan ketakutan setengah mati. Apa kamu merasakan hal tersebut, Alina?" Tanganku terhenti. Mataku menerawang, memikirkan apa yang dikatakan Dinar.

"Kalau tidak seperti itu mungkin yang kamu alami bukan fobia. Kamu hanya perlu berdamai dengan keadaan," ujar Dinar lagi.

Kemudian Dinar berlalu dari hadapanku. Tapi apa yang dikatakan Dinar tetap tinggal di sini. Berbaur dengan apa yang disampaikan Tante Elma, tentang berpikir dengan sudut pandang orang lain, mencoba memahami keputusan bunda, hingga berdamai dengan keadaan. 

Hari-hari yang kulalui menjadi tak karuan. Sepasang mata dari balik kaca mobil Tante Elma terus hadir membayangiku. Semua hal yang kulewati di hari-hariku seolah terus mengingatkan pada pemilik sepasang mata itu. Bunga mawar putih yang tumbuh mekar di taman asrama, sup iga sapi yang tersaji sangat sering di kantin, juga pada hujan yang kerap datang di bulan ini. Semua hal yang disukai pemilik sepasang mata itu dan juga aku sukai.

Pada saat libur bulanan tiba, aku menyaksikan Dinar yang berkemas. Memasukkan beberapa potong baju dan buku dalam koper berwarna magenta miliknya. Untuk pertama kalinya dalam libur bulanan, aku tak meminjam satu buku pun di perpustakaan. 

"Kamu tidak ke mana-mana, Alina?"

Pertanyaan rutin Dinar sejak berbulan-bulan yang lalu dan selalu kujawab dengan jawaban yang sama. Tapi, tidak untuk kali ini. 

"Kamu mau mengantarku pulang, Dinar?"

Tangan Dinar yang sedang menutup koper miliknya terhenti. Refleks pandangannya menatap ke arahku. Melempar pertanyaan dalam tatapannya. Aku mengangguk. Dinar langsung melompat ke arahku dan memeluk tubuhku dengan erat. 

"Tentu, Alina. Tentu. Aku akan mengantarmu walau ke ujung dunia sekali pun," ujar Dinar di sela pelukannya. Aku tersenyum. Ikut mengemasi beberapa barang yang kuperlukan kemudian menyusul Dinar yang menungguku di depan pintu asrama. 

Miss Mirna tercengang melihat kemunculanku di pintu asrama. Dinar membisikkan sesuatu pada Miss Mirna. Membuat Miss Mirna kemudian menyongsong ke arahku dan merengkuhku dalam pelukan hangat. 

"Selamat pulang, Alina. Selamat pulang."

Miss Mirna menepuk pundakku dengan lembut. Aku tersenyum dan mengangguk padanya. Aku akan pulang. Berdamai dengan kenyataan juga tak lagi berusaha membunuh rindu. Rindu pada pemilik sepasang mata yang menatapku dengan penuh pengharapan di balik kaca mobil Tante Elma sebulan yang lalu. Sepasang mata milik bunda.


*end*

41 komentar:

  1. ih, bagus, merinding aku. selamat ya hairi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.. Makasiiih, Mbak Nafi :*

      Hapus
  2. Mba Yanti, I adore you hahaha keren banget mba idenya ko dapet ceritanya mengalir tembus selalu media *langsung sungkem* :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga selalu tembus, Mbak. Cuma yang enggak tembusnya belum diceritain aja. Hehehe.... Makasih ya, Mbak Herva :D

      Hapus
  3. Keren... saya pengen belajar nulis cerpen, tapi bentrok sama males xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun sering malas, Mbak Ida. Hehehe... Ini satu cerpen juga dari minggu kemarin belum jadi2 :D

      Hapus
  4. Mantap deh Yanti, endingnya bisa ketebak sih tapi so sweet

    BalasHapus
    Balasan
    1. Xixixixi... Ketebak ya, Mbak Naqiy. Alhamdulillah, Makasiih, Mbak :-)

      Hapus
  5. Duuuh, mak nyesss bacanya :)

    bukanbocahbiasa(dot)com

    BalasHapus
  6. Jadi mendadak rindu seseorang :( andai kisahku endingnya gitu.

    Jadi pegen nulis fiksi lagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kangen siapa nih, Mbak? Hehehee.... Ayo mbak. Nulis fiksi lagi :-)

      Hapus
  7. Bagus, mbak cerpennya. Awalnya kupikir karena patah hati, ternyata enggak. Hihihi. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak. Hihihihi... Banyak sebenarnya masalah remaja selain urusan cinta2an ya, Mbak :-)

      Hapus
    2. Terima kasih, Mbak. Hihihihi... Banyak sebenarnya masalah remaja selain urusan cinta2an ya, Mbak :-)

      Hapus
  8. Ya ampun, aku dah lama banget ngga baca percikan Gadis. Padahal dulu paling dinanti2. Makasih ya dah mengingatkan ttg ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Percikan sudah aja sejak zaman dulu ya, Mbak. Saya juga suka baca percikan. Singkat :D

      Hapus
  9. keren mb, saya pernah ngirim beberpa ke media , tapi gak pernah lolos. hehe...

    BalasHapus
  10. Sedih ya bacanya? Keren pula nih cerpen. Tak heran kalau dimuat. :D Dua jempol lah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Makasih, Mbak. Padahal saya ga doyan cerita sedih. Hehehe..

      Hapus
  11. Sudah lama nggak buka-buka majalah gadis. Padahal dulu langganan dan suka baca-baca cerpennya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Iya. Sejak remaja udah baca2 cerpen di Majalah Gadis ya :D

      Hapus
  12. Cerpennya bagus, ya? Twist nya sukses. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Makasiiih, Mbak :-)

      Hapus
  13. Selamat yaaaa Mbak Yanti, emang kece, ajarin donk nulis cerpen :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Makasih, Mbak April. Ayok mbak. Belajar bareng :D

      Hapus
  14. Huaa opening nya keren banget
    Kalau emailnya mental, diulang? Atau gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak Avi. Saya kirim ke editor Gadis juga, Mbak. :D

      Hapus
  15. Wah kakak selamaat ya.. Pingin deh rasanya cerpennya bisa tembus media. Btw aku juga suka nulis kak, cuma belum sempat kirim ke media. Rencana mau kirim, cari referensi dan nyasar deh diblog kakak. Cerpennya keren, semangat lagi kakak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo semnagat ya. Dicoba terus. Terima kasih ya :D

      Hapus
  16. Keren kak, gak monoton juga ceritanya. Pengen bisa nulis tapi sering stuck di tengah jalan dan idenya sering ilang. Bagi tips dong kak hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga sering seperti itu. Banyak2 baca dan teruskan perjuangan menulisnya :D

      Hapus
  17. Salam kenal Mbak, tulisan Mbak bagus-bagus banget. Dan selamatt yaa udah dimuat. Makasih banget udah share alamat email nya yaa.. Mau coba kirim-kirim juga akhh ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga, Mbak Yayang. Terima kasih ya, Mbak. Semangat menulis :-)

      Hapus
  18. Keren sekali ceritanya, Mbak Hairi.
    Gaya khas majalah Gadis sangat terasa.
    Besok, tolong masukin nama Butet atau Lilyana, Mbak.
    Kan doi ratu bulutangkis kita juga hahaha....

    BalasHapus
  19. cerpennya sesuatu bgt yaaa~ ku baru baca nih soalnya. Ohya kak, kalo emailnya terpental terus itu gimana?:( aku udah ngirim 2 kali tapi gagal terus:( itu gimana?

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...