Berapa buku yang sudah dibeli di tahun 2017?
Jika
saya yang ditanya, maka, jawabnya adalah empat. Satu buku saya beli di awal
tahun dengan menggunakan voucher di salah satu toko buku besar, tiga buku
lainnya saya beli online karena
penulis favorit saya baru merilis novel terbarunya. Untuk mengefektifkan
ongkir, saya membeli novel dari penulis favorit itu bersama dua buku lainnya.
Buat
saya, empat buku dalam kurun waktu nyaris 3 bulan itu bisa dibilang rekor. Satu
atau dua tahun sebelumnya, saya bisa membeli empat buku di minggu sekarang,
kemudian membeli empat buku lain di minggu selanjutnya. Saya pernah berada pada
situasi begitu kalap membeli buku. Ada yang diskon saya buru, ada yang menjual
buku bekas tidak akan saya lewatkan, bazar buku saya borong beberapa judul, ada
yang bilang satu buku bagus, maka saya penasaran dan akan mencarinya sampai
dapat.
Baca
juga : Curhat
si Penimbun Buku
Buku-buku
yang saya beli berdatangan, dan tertimbun. Semangat saya membeli buku jauh
lebih besar dari semangat saya membaca. Saya tetap membaca, tapi tidak secepat
saya membelinya. Lalu, sampailah saya di masa kini di mana saya merasa
kekalapan saya akan buku sudah berakhir. Entah untuk sementara atau sampai
batas waktu kapan, saya tak bisa menduganya.
![]() |
| Foto dari Pixabay |
Ada beberapa hal yang membuat saya menjadi (mantan?)
penimbun buku. (Mantannya pakai tanda
tanya karena tidak tahu mau balikan lagi atau enggak. Hahaha....)
Pertama, timbunan buku semakin menumpuk.
Banyak sekali buku-buku yang belum saya baca. Saya bukan tak
berniat untuk membacanya. Saya ingin membacanya, tapi entah kapan. Ketika saya
melirik lagi buku-buku yang saya punya, sayangnya ternyata ada buku-buku di
mana saya ternyata kehilangan niat untuk membacanya. Entah apa yang saya
pikirkan saat membelinya. Dari situ, saya pun akan memikirkan serius saat
membeli buku, saya ingin membeli buku yang benar-benar ingin dibaca. Dan PR
saya sekarang adalah membaca timbunan-timbunan buku itu.
Kedua, tempat. Rumah saya seperti sesak
akan buku.
Saya kesulitan menaruh buku, semua tempat seperti sudah
dipenuhi oleh buku. Bahkan, di laci lemari pakaian paling bawah, saya khususkan
untuk buku. Belakangan saya mulai menyortir beberapa buku yang tidak ingin saya
baca atau buku-buku yang sudah saya baca dan saya tidak berniat untuk
membacanya lagi. Saya pikir, ada beberapa buku yang harus saya relakan untuk
kelapangan tempat buat timbunan buku yang lainnya. Suami menawarkan rak buku
baru, tapi saya menolaknya karena rak kosong akan membuat saya ingin mengisinya
sampai penuh. Sementara buku-buku yang belum saya baca masih menumpuk.
Ketiga, adanya perpustakaan digital.
Perpustakaan yang bisa diakses secara online seperti Ijak, Ipusnas, IKaltim, atau pun i i lainnya sangat
membantu saya. Seperti saya bilang sebelumnya, saya suka penasaran sama yang
namanya buku. Kalau ada yang bilang bagus, saya seperti mengharuskan diri untuk
membacanya. Padahal belum tentu buku itu sesuai selera saya. Dengan adanya
perpustakaan digital itu, maka saya akan mencari buku tersebut di sana. Meminjam
dan membacanya. Beberapa ada, beberapa tidak ada. Yang tidak ada saya lewatkan
saja. Menahan diri untuk tidak terlalu penasaran.
Baca juga : Ijak,
Perpustakaan Digital
Itulah
tiga alasan kenapa saya tak lagi kalap membeli buku. Saya tidak tahu harus
sedih atau bersyukur dengan keadaan itu. Sedih jika apa yang alami sekarang
sebenarnya bagian dari penurunan minat baca. Saya juga tidak tahu, apa nantinya
saya akan kalap lagi dalam membeli buku. Tapi, yang pasti, saya sekarang lega
karena bisa ngerem kesenangan saya menimbun buku.

Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^