Rabu, 22 Maret 2017

Curhat si (mantan?) Penimbun Buku

            
Berapa buku yang sudah dibeli di tahun 2017?

        Jika saya yang ditanya, maka, jawabnya adalah empat. Satu buku saya beli di awal tahun dengan menggunakan voucher di salah satu toko buku besar, tiga buku lainnya saya beli online karena penulis favorit saya baru merilis novel terbarunya. Untuk mengefektifkan ongkir, saya membeli novel dari penulis favorit itu bersama dua buku lainnya.

         Buat saya, empat buku dalam kurun waktu nyaris 3 bulan itu bisa dibilang rekor. Satu atau dua tahun sebelumnya, saya bisa membeli empat buku di minggu sekarang, kemudian membeli empat buku lain di minggu selanjutnya. Saya pernah berada pada situasi begitu kalap membeli buku. Ada yang diskon saya buru, ada yang menjual buku bekas tidak akan saya lewatkan, bazar buku saya borong beberapa judul, ada yang bilang satu buku bagus, maka saya penasaran dan akan mencarinya sampai dapat.

          Baca juga : Curhat si Penimbun Buku


       Buku-buku yang saya beli berdatangan, dan tertimbun. Semangat saya membeli buku jauh lebih besar dari semangat saya membaca. Saya tetap membaca, tapi tidak secepat saya membelinya. Lalu, sampailah saya di masa kini di mana saya merasa kekalapan saya akan buku sudah berakhir. Entah untuk sementara atau sampai batas waktu kapan, saya tak bisa menduganya.

mantan penimbun buku
Foto dari Pixabay

      Ada beberapa hal yang membuat saya menjadi (mantan?) penimbun buku. (Mantannya pakai tanda tanya karena tidak tahu mau balikan lagi atau enggak. Hahaha....)

        Pertama, timbunan buku semakin menumpuk.

      Banyak sekali buku-buku yang belum saya baca. Saya bukan tak berniat untuk membacanya. Saya ingin membacanya, tapi entah kapan. Ketika saya melirik lagi buku-buku yang saya punya, sayangnya ternyata ada buku-buku di mana saya ternyata kehilangan niat untuk membacanya. Entah apa yang saya pikirkan saat membelinya. Dari situ, saya pun akan memikirkan serius saat membeli buku, saya ingin membeli buku yang benar-benar ingin dibaca. Dan PR saya sekarang adalah membaca timbunan-timbunan buku itu.

          Kedua, tempat. Rumah saya seperti sesak akan buku.

        Saya kesulitan menaruh buku, semua tempat seperti sudah dipenuhi oleh buku. Bahkan, di laci lemari pakaian paling bawah, saya khususkan untuk buku. Belakangan saya mulai menyortir beberapa buku yang tidak ingin saya baca atau buku-buku yang sudah saya baca dan saya tidak berniat untuk membacanya lagi. Saya pikir, ada beberapa buku yang harus saya relakan untuk kelapangan tempat buat timbunan buku yang lainnya. Suami menawarkan rak buku baru, tapi saya menolaknya karena rak kosong akan membuat saya ingin mengisinya sampai penuh. Sementara buku-buku yang belum saya baca masih menumpuk.

            Ketiga, adanya perpustakaan digital.

       Perpustakaan yang bisa diakses secara online seperti Ijak, Ipusnas, IKaltim, atau pun i i lainnya sangat membantu saya. Seperti saya bilang sebelumnya, saya suka penasaran sama yang namanya buku. Kalau ada yang bilang bagus, saya seperti mengharuskan diri untuk membacanya. Padahal belum tentu buku itu sesuai selera saya. Dengan adanya perpustakaan digital itu, maka saya akan mencari buku tersebut di sana. Meminjam dan membacanya. Beberapa ada, beberapa tidak ada. Yang tidak ada saya lewatkan saja. Menahan diri untuk tidak terlalu penasaran.



             Itulah tiga alasan kenapa saya tak lagi kalap membeli buku. Saya tidak tahu harus sedih atau bersyukur dengan keadaan itu. Sedih jika apa yang alami sekarang sebenarnya bagian dari penurunan minat baca. Saya juga tidak tahu, apa nantinya saya akan kalap lagi dalam membeli buku. Tapi, yang pasti, saya sekarang lega karena bisa ngerem kesenangan saya menimbun buku. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...