Selasa, 18 Juli 2017

[Cerpen Anak] Misteri Uang Hanum


“Uangku hilang,” bisik Hanum pada Azka. Keterkejutan tidak bisa disembunyikan dari wajah Azka saat mendengar berita dari Hanum.

“Hilang di mana?” Tanya Azka. Azka melirik raut wajah Hanum yang masih terlihat tegang dan gelisah.

“Berapa banyak?” Azka bertanya lagi. Wajah gelisah Hanum membuat ia penasaran.

“Lima puluh ribu,” jawab Hanum. Azka terkejut. Menutup mulutnya dengan tangan.


Hanum kemudian menceritakan tentang uangnya yang hilang. Uang itu ada di tas Hanum. Hanum memang membawa uang karena sepulang sekolah ia berencana membeli buku cerita. Buku cerita itu karya dari penulis favorit Hanum. Hanum sudah lama menyisihkan uang jajannya untuk membeli buku tersebut.

Setelah pelajaran olahraga, Hanum memeriksa kantong tasnya. Sudah tidak ada uang di sana. Hanum panik. Menarik Azka keluar kelas dan bercerita pada Azka. Minggu lalu Azka berhasil menyelidiki misteri pecahan kaca di ruang pameran sekolah. Sebelumnya Azka juga menjawab rasa penasaran teman-temannya waktu taman sekolah rusak. Detektif Azka, begitu teman-teman kemudian menjulukinya.

“Hemm… Kelas kosong saat pelajaran olahraga. Kalau ada yang mencuri uang kamu, saat kelas kosong waktu yang tepat. Waktu pelajaran olahraga ada yang masuk kelas tidak ya?” Tanya Azka pada dirinya dan pada Hanum.

Kening Azka berkerut. Pertanda ia sedang berpikir. Azka sedang mengingat-ingat kejadian waktu pelajaran olahraga tadi.

“Aku melihat Risa ke dalam kelas. Katanya botol minumnya ketinggalan. Kemudian ada Fadhil juga, Aku mendengar Fadhil minta izin ke kelas karena handuknya ketinggalan. Setelah itu…” Kalimat Hanum menggantung kemudian Hanum menggeleng. Azka mengangguk mengerti tanda gelengan kepala Hanum. Hanum pasti tidak melihat lagi siapa yang masuk kelas. Azka pun luput memerhatikan teman-temannya saat pelajaran olahraga.

“Mereka ditemani siapa ke kelas?” Tanya Hanum.

Ia teringat sesuatu. Bu Novia, wali kelas mereka sudah memperingatkan kalau masuk kelas saat pelajaran olahraga harus ada yang menemani.

“Risa sama Diana. Fadhil sama…” Hanum terlihat berpikir. “Mungkin Dino,” lanjut Hanum lagi.

“Aku akan menanyai mereka,” cetus Azka yang disetujui oleh Hanum.

***

Saat istirahat pertama, Hanum mencegat Diana yang mau ke kantin. Mereka berbicara di ujung koridor sekolah.

“Aku tidak masuk ke kelas, Azka. Hanya sampai di depan. Risa masuk ke kelas sendiri. Errr…. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya,” Diana melihat sekeliling. Seperti memastikan kondisi aman. Jantung Azka jadi berdebar lebih cepat melihat reaksi Diana. Diana seperti ingin menyampaikan sesuatu yang rahasia.

“Aku lupa menyiram bunga-bunga di depan kelas. Jadi, aku menamani Risa biar bisa menyiramnya. Tadi aku datang terlambat,” bisik Diana yang membuat Azka melengos kecewa. Informasi Diana bukan yang ia harapkan.

“Jadi, kamu tidak ikut masuk kelas dan tidak melihat apa yang dilakukan Risa?” Tanya Azka lagi.

“Risa mengambil botol minumnya. Memangnya kenapa?” Diana balik bertanya.

“Hanya bertanya,” jawab Hanum cepat sambil mengedipkan matanya. “Makasih ya,” ujar Hanum lagi kemudian berlalu meninggalkan Diana.

***

Sepulang dari kantin, Azka juga mendekati Dino untuk bertanya.

“Bukan aku yang menemani Fadhil. Tapi Ridho,” jawab Dino.

Azka terkikik geli. Rupanya Hanum salah memberikan informasi. Azka jadi ingat kalau Hanum memang sedikit agak pelupa. Beberapa kali Azka melihat Hanum lupa sesuatu. Azka pamit pada Dino dan segera mencari Ridho.

“Kami masuk kelas berdua,” jawab Ridho. “Fadhil mengambil handuknya,” jelas Ridho.

Ketika pelajaran olahraga, Fadhil memang tak bisa lepas dari handuk. Kata Fadhil, keringatnya banyak. Jadi, ia perlu handuk untuk menyeka keringatnya. Seluruh kelas tahu akan hal itu. Baju Fadhil sering basah karena keringat.

“Ada apa, Azka? Kamu menyelidiki apa?” Ridho bertanya dengan tatapan menyelidik. Azka menggeleng dan kemudian berlalu diiringi tatap curiga dari Ridho.

Azka kemudian duduk di tempat duduknya. Ia mencoret-coret sesuatu di kertas. Fadhil bersama Ridho masuk ke kelas. Kemungkinan mereka menjadi tersangka tidak mungkin. Kecuali kalau mereka bekerja sama. Diana tidak ikut masuk ke kelas. Hanya Risa yang masuk ke kelas. Kecondongan tersangka lebih ke Risa.

Azka melihat ke arah tempat duduk Risa dan Hanum. Mereka hanya dipisahkan satu gang kecil. Jadi, bisa dibilang Risa dan Hanum bersebelahan duduk. Jika Risa ke kelas buat mengambil botol minum, itu artinya jarak dari bangkunya ke bangku Risa dekat sekali.

Huff… Azka menarik napas. Saat mendengar nama Risa tadi ia teringat minggu kemarin Risa bilang ia perlu uang. Apa Risa sedang kesulitan uang sehingga mengambil uang Hanum? Ah, belum ada bukti dan saksi mata, kata Azka dalam hati. Ia berusaha tidak terlalu mencurigai Risa.

***

Bel masuk kemudian berbunyi. Teman-teman Azka pun satu per satu masuk ke dalam kelas. Langkah mereka menuju bangku masing-masing.

“Diana, apa kamu sibuk sore ini?” Suara Risa membuat Azka mendongak.

“Emm… Enggak sih, Sa. Memangnya kenapa?” Jawab Diana.

“Temani aku ya? Aku mau beli kado buat kakakku. Sebenarnya mau pulang sekolah sih. Uangnya aku bawa nih. Tapi kalau harinya cerah gini, malas juga. Mending nanti sore saja,” kata Risa panjang lebar.

Risa juga menunjukkan uang yang dikeluarkannya dari dalam saku seragamnya. Satu lembar uang berwarna biru. Sontak Azka dan Hanum berpandangan. Dari ujung matanya, Azka juga melihat Risa melirik ke arah mereka berdua dengan sebuah senyum yang terlihat tak biasa di wajahnya. Azka menoleh curiga pada Risa, namun tak lama kemudian Ustadzah Nurin sudah masuk ke dalam kelas.

***

“Hari ini Ustadzah akan bercerita tentang salah satu istri Rasulullah. Ada yang tau Ustadzah mau bercerita tentang siapa?” Ustadzah Nurin bertanya di depan kelas. Ustadzah Nurin mengajar pelajaran Sejarah Islam.

Teman-teman mencoba menjawab pertanyaan Ustadzah Nurin. Ada yang menjawab Khadijah, ada yang menjawab Aisyah. Ada juga yang menjawab Hafshah, dan jawaban-jawaban lainnya.

“Cerita tentang Shafiyah binti Huyai saja, Ustadzah. Mirip dengan nama Sofia,” kata Sofia yang duduk di depan Hanum. Ibu Guru tersenyum pada Sofia.

“Baiklah. Ibu akan bercerita tentang istri Rasululullah yang bernama Shafiyah binti Huyai. Ada yang tau ceritanya?” Seluruh kelas tidak ada yang menjawab.

“Suatu waktu Rasulullah menggandeng istri beliau yang bernama Shafiyah keluar dari mesjid. Ketika Rasulullah sampai di pintu mesjid, tiba-tiba ada dua orang ansar berjalan dan memberi salam kepada Rasulullah. Kalian tahu apa artinya ansar?” Tanya Ustadzah.

Ansar adalah sebutan untuk kaum yang menerima hijrah Rasulullah dari Makkah menuju Madinah,” Fadhil menjawab. Ustadzah membenarkan.

“Kembali ke cerita Rasulullah bersama istri beliau Shafiyah binti Huyai. Saat bertemu dengan dua orang Ansar itu, Rasulullah memanggil dua orang Ansar tersebut dan berkata kalau yang beliau gandeng itu adalah istri beliau. Mendengar perkataan Rasulullah, kedua orang Ansar itu pun berkata, ‘Wahai, Rasul. Kami tidak mungkin berburuk sangka kepada engkau,’. Tetapi Rasulullah tetap menjelaskan agar tidak ada prasangka dan semuanya jelas. Kalau yang digandeng Rasul adalah istri beliau.

“Jadi, anak-anakku sekalian, kita memang diperintahkan untuk tidak berburuk sangka pada sesama. Tapi, kita juga jangan membuat orang menjadi berburuk sangka kepada kita. Masing-masing harus saling menjaga, agar tidak ada prasangka dalam kehidupan. Paham?” Kata Ustadzah Nurin mengakhiri cerita. Seluruh kelas menyahut paham. Azka mengangguk-angguk mendengarnya. Cerita tentang ini baru saja ia dengar.

Tak sengaja mata Azka melirik Risa. Di saat bersamaan, Risa juga melirik kepada Azka. Gerakan tubuh Risa terlihat gelisah. Azka menghela napas, ingat apa yang disampaikan Ustadzah Nurin, harusnya ia tidak berburuk sangka pada Risa. Tapiii….

***

“Jadi, kamu curiga pada Risa?” Tanya Hanum pada Azka saat istirahat kedua. Azka mengangguk.

“Kamu lihat kan uang yang tadi ia tunjukin ke Diana?” Hanum mengangguk. “Sama persis dengan jumlah uang kamu yang hilang, Num,” lanjut Azka.

“Tapi, Ka,” Hanum nampak ragu. “Semua orang kan bisa punya uang sebesar itu,” sambung Hanum. Azka nampak berpikir. Apa yang dikatakan Hanum betul juga.

“Lagipula… “ Hanum nampak memikirkan sesuatu. Kening Azka berkerut, pertanda ia bertanya pada Hanum. “Lagipula… Kalau Risa yang mengambil, mengapa Risa menunjukkan uang itu di depan kita. Benarkan?” ujar Hanum. Azka mengangguk. Pendapat Risa benar juga.

“Selain Risa, apa ada lagi yang kamu curigai?” Tanya Hanum pada Azka.

“Jadi begini ceritanya, Num. Uang kamu hilang sewaktu pelajaran olahraga. Di saat itu Risa ada masuk kelas bersama dengan Diana. Tapi, Diana tidak masuk kelas. Ia menyiram bunga di depan kelas. Sementara Risa masuk sendiri. Kemudian ada Ridho dan Fadhil yang juga masuk kelas. Kata Ridho, ia masuk bersama Fadhil. Kemungkinannya kecil, kecuali Ridho dan Fadhil bekerjasama. Tapi aku rasa kemungkinannya juga kecil,” Azka membeberkan analisanya. Kening Hanum nampak berkerut.

“Ridho? Bukan Dino?” Tanya Hanum. Azka tertawa.

“Bukan Dino, Num. Tapi Ridho,” jawab Azka. Hanum menepuk keningnya. Kemudian ia tertawa.

“Aku sering lupa,” ujar Hanum sambil nyengir. Melihat cengiran Hanum, Azka jadi terpikir sesuatu.

“Jangan bilang kalau sebenarnya kamu lupa di mana kamu menaruh uangnya. Siapa tahu ternyata kamu tidak membawa uangnya ke sekolah tapi ditinggal di rumah,” kata Azka. Matanya memandang dengan tatapan menyelidik kepada Hanum. Kening Hanum nampak berkerut. Kemudian ia menggeleng.

“Aku ingat persis kalau memasukkan uang itu ke dalam kantong tas, Azka,” tegas Hanum.

“Baguslah. Penyelidikan kita akan terus berlanjut,” cetus Azka.

“Tapi…” Azka menoleh mendengar suara Hanum. Hanum nampak menggigit jarinya. Hanum kemudian memandang Azka dengan pandangan bersalah.

“Tapi apa, Num?” Tanya Azka. Hanum nyengir. Kemudian menarik tangan Azka.

Azka terus bertanya ada apa, tapi Hanum tak juga menjawab. Hanum tetap menarik tangan Azka menuju kelas. Kemudian menuju bangkunya. Azka berhenti bertanya, ia menunggu apa yang dilakukan Hanum.

Hanum kemudian mengeluarkan pakaian olahraga dari laci mejanya. Kemudian ia membuka lipatan celana olahraganya. Merogoh saku celana dan menunjukkan sesuatu pada Azka. Azka menepuk keningnya melihat satu lembar uang lima puluh ribuan yang ditunjukkan Hanum.

“Maaf, Azka. Aku lupa. Sebelum pelajaran olahraga aku sudah menaruhnya di celana olahraga,” ujar Hanum dengan nada bersalah. Azka menepuk keningnya. Mulutnya sudah siap mengeluarkan omelan. Namun, senyum polos Hanum membuat Azka luluh. Azka tersenyum.

“Ya sudahlah, Num. Untung kita masih tahap mencurigai. Bukan menuduh. Tidak terbayang kalau kita sudah menuduh Risa secara langsung,” kata Azka. Hanum mengangguk. Menyetujui apa yang dikatakan Hanum.

“Hanum… Azka…” Sebuah suara yang memanggil nama mereka membuat Hanum dan Azka menoleh. Ada Risa dan Diana yang mendekat ke arah mereka.

“Aku mau minta maaf,” kata Risa pelan. “Sebenarnya aku mendengar saat Hanum bilang uangnya hilang. Kemudian Diana juga memberitahu kalau kamu menanyai dia tentang aku masuk kelas saat olahraga. Jadi, aku tahu kalau kamu mencurigai aku, Ka,” sambung Risa. Azka terbelalak mendengarnya.

“MasyaAllah, Risa. Seharusnya kan aku yang minta maaf karena sudah curiga. Bukan kamu. Ternyata uang Hanum tidak hilang. Ia hanya lupa menaruhnya. Mengapa kamu yang minta maaf?” Tanya Azka tak mengerti. Ia justru yang merasa bersalah pada Risa.

“Ingat tidak cerita Ustadzah Nurin tadi? Harusnya kita kan tidak boleh membuat orang lain berburuk sangka pada kita. Aku tahu kalau uang Hanum hilang dan kamu curiga sama aku. Jadi, aku sengaja membuat kamu tambah curiga dengan menunjukkan uang yang kupunya sejumlah uang Hanum yang hilang. Salahku di situ. Maaf ya,” ujar Risa lagi. Azka kemudian paham maksud pembicaraan Risa. Azka kemudian merangkul Risa.

“Aku juga minta maaf ya, Risa,” bisik Azka. Risa tersenyum. Kemudian Diana dan Hanum ikut merangkul mereka berdua. Semuanya kemudian tertawa.

“Senang ya belajar sejarah Islam. Rasulullah memang keren sekali,” ujar Diana. Azka dan yang lain setuju.

“Rasulullah idolaku,” ujar Azka.

“Idolaku juga,” cetus Hanum.

“Aku juga mengidolakan Rasulullah.” Risa tak mau kalah. Mereka tertawa bersama. Azka menarik napas lega. Hari ini ia banyak mendapat pelajaran dan lega karena uang Hanum tidak hilang.

*end*


Cerpen ini sebenarnya merupakan cerpen awal yang saya ingin ikutkan di sebuah lomba menulis cerpen anak. Tapi setelah selesai menulis, saya merasa banyak kemiripan dengan cerpen saya yang lainnya yang dimuat di Majalah Girls yang berjudul Misteri Uang Niken. Setelah meminta pendapat dari Mbak Shabrina WS, akhirnya saya batal mengirimkan cerpen ini dan menulis cerpen baru dengan ide yang sama. Maka kemudian jadilah cerpen Rahasia Shafiya yang saya posting sebelum ini.

            Seperti yang saya bilang sebelumnya, Rahasia Shafiya gagal menang di lomba tersebut. Jadi unggulan pun tidak. Hahaha…. Apakah saya merasa perjuangan saya menulis sia-sia? Enggak juga sih. Karena saya selalu percaya bahwa tulisan itu akan semakin terasah jika kita terus mengasahnya. Mengasahnya ya salah satunya dengan banyak-banyak menulis.


            Cerpen saya memang kalah lomba, tapi proses menulisnya akan menambah ‘jam terbang’ saya dalam menulis. Walaupun tulisan saya ya masih gitu-gitu  aja. Buahahaha…. Terima kasih yang sudah sudi membaca. Menyelipkan info sedikit, ada cerpen saya yang berjudul Titipan Tante Arin yang dimuat di Majalah Bobo terbaru edisi nomor 15 yang terbit Kamis tanggal 20 Juli 2017. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...