Kamis, 21 September 2017

Pelajaran dari Korea Superseries

            Korea Superseries, salah satu turnamen bergengsi bulutangkis dunia berakhir akhir pekan kemarin. Indonesia mencatatkan sejarah pada turnamen tersebut. Berjayanya kembali tunggal putra Indonesia membuat harapan akan kembalinya Piala Thomas kembali bertunas. Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie di luar dugaan berhasil melaju ke babak puncak, final tunggal putra Korea Superseries.

            Indonesia sendiri menempatkan lima wakilnya di perempat final. Saat itu hanya Greysia Polii dan Apriani Rahayu yang gagal mengemas kemenangan. Mereka kalah melawan ganda putri Jepang yang masih menduduki rangking 1 dunia : Misaki dan Ayaka. Empat wakil lainnya yaitu Kevin dan Marcus, Praveen Jordan dan Debby Susanto, Anthony Sinisuka Ginting serta Jonatan Christie menang menghadapi lawan masing-masing.


            Semifinal digelar di hari sabtu dan sabtu itu menjadi sabtu manis buat para Badminton Lovers (BL) tanah air karena empat wakil yang bertanding semuanya melaju ke final. Satu galar juga sudah dipastikan milik Indonesia setelah tercipta All Indonesian Final di tunggal putra. Sinisuka Ginting dan Jonatan akan berebut gelar yang sekaligus akan menjadi gelar pertama bagi keduanya, siapa pun yang berhasil memenangkannya.

            Minggu subuh, hujan membungkus daerah tempat saya tinggal. Ketika hari sudah gelap, saya sudah menuju Balikpapan karena ada acara keluarga. Beragam rencana sudah kami buat diantaranya di mana menonton bulutangkis. Hehehe… Rasanya sayang untuk dilewatkan karena Indonesia menempatkan empat wakil di final.

Sepanjang Superseries digelar di tahun ini, itu adalah prestasi terbaik. Biasanya kita cukup berpuas dengan satu atau dua wakil, malah ada yang hanya satu-satunya wakil yang dipunya. Itu pun sudah sangat bersyukur, daripada tidak ada wakil sama sekali. Dan kali ini ada empat, oh, jangan lewatkan pertandingannya, Dear.

Ganda Campuran adalah pertandingan pertama. Praveen Jordan dan Debby Susanto berhasil mengemas kemenangan dengan dua set langsung. Paceklik gelar setelah All England tahun 2016 akhirnya berakhir. Mereka berhasil meraih podium tertinggi setelah di Hongkong Superseris dan Australia Superseries harus puas di posisi runner up.
Foto dari @INABadminton

Pertandingan sengit pun terjadi di nomor tunggal putra. Walau sesama Indonesia, tapi keduanya tampil sama-sama ngotot. Siapa sih yang tidak ingin jadi juara superseries? Iya, kan, Jo, Nting? Pertandingan berlangsung rubber, tiga set. Itu pun di game ketiga, poin 20-20. Dan kemenangan diraih oleh Anthony Sinisuka Ginting.

Saya senang dan memang menjagokan Ginting. Menurut saya, Ginting memang layak menjadi juara. Tanpa menafikan perjuangan Jojo, tapi Ginting memang lebih… hemm… pantas. Masuk semifinal superseries sebanyak 5 kali, sayang sekali, kan, kalau kali ini tidak berujung juara. You deserve it, Nting.
Foto dari @INABadminton

Di tunggal putri Korea Superseries kembali mempertemukan Nozomi Okuhara dan Pusarla V Shindu. Seperti tulisan saya sebelumnya tentang mereka, every point is a fight. Mereka kembali menunjukkan laga kelas dunia walau tidak sesengit saat Kejuaraan Dunia. Dan kali itu, kemenangan dikemas dengan manis oleh atlet India, Pusarla V Shindu.

Pertandingan terakhir adalah pertandingan yang ditunggu-tunggu oleh para BL Indonesia. Final ganda putra yang mempertemukan Kevin Sanjaya Sukamuljo/ Marcus Fernaldi Gideon dengan Mathias Boe / Carsten Mogensen. Laga klasik dan bikin greget. Bagaimana tidak, pasangan senior Denmark itu yang menghentikan kemenangan demi kemenangan Kevin dan Gideon semenjak All England, India Superseries, kemudian Malaysia Superseries Premier. Mereka kalah pada pertandingan semifinal di Singapore Superseries.

Pasangan senior Denmark pun sok memberikan tips bagaimana mengalahkan pasangan ganda putra Indonesia itu yang membuat para BL gregetan… Belum lagi saat Piala Sudirman, lagi-lagi Kevin dan Gideon kalah dan Indonesia gagal melaju ke perempatfinal. Hasil terburuk Indonesia di Piala Sudirman sepanjang Piala Sudirman digelar.

Jadiii… pertandingan ituu sangat ditunggu oleh para BL dan mereka sangat berharap Kevin dan Gideon bisa menang. Melengkapi dua gelar yang diraih sebelumnya. Tapi, nyatanya…. Pasangan Denmark senior itu bermain sangat bagus. Defence mereka mantap dan kematangan mereka di lapangan membuat mereka memenangkan pertandingan.

Sore itu menjadi sendu. Hasil yang didapat oleh Kevin Gideon seolah seperti sebuah mimpi buruk. Seakan-akan ada kebahagiaan tercerabut.

Padahal kurang apa coba? Dua gelar sudah diraih Indonesia, haruskah bermuram durja karena satu kemenangan yang lepas? Tapi itulah manusia. Dikasih A pengin AB, dikasih AB pengin ABC. Padahal di turnamen-turnamen sebelumnya Indonesia kerap kali hanya memiliki wakil 1-2 di final. Itu pun sudah sangat bersyukur kalau bisa satuuu aja yang juara. Setidaknya tidak pulang dengan tangan hampa dan para fanpage badminton tanah air bisa ganti foto cover.

Kekalahan Kevin dan Gideon tentunya juga merupakan pelajaran penting buat mereka. Pasca Kevin cedera dan mereka harus kalah di R1 kemudian hanya berhasil sampai ke perempatfinal di Kejuaraan Dunia, hasil Korea Superseries yang sampai final sudah merupakan hasil bagus buat mereka. Second place is not too bad. We back on the track and we will learn more, tulis Kevin di instagramnya.
Kata Kevin Sanjaya di IGnya

Sometimes you win, sometimes you learn. Kevin dan Gideon kalau dilihat dari segi usia memang sangat jauh dengan Boe dan Mogensen. Perbedaan usia Kevin dan Boe adalah 14 tahun. Bisa jadi saat Boe sudah ikut kejuaraan junior, Kevin masih oek oek meminta ASI pada Ibu Nia di Banyuwangi. Kevin dan Gideon pada saatnya akan menemukan racikan yang pas yang didukung dengan ketenangan dan kematangan permainan mereka untuk mengalahkan Boe dan Mogensen. Para BL Indonesia menunggu saat itu tiba.


2 komentar:

  1. mb Yaanti update banget bultang aku yang ga tau ada superseties baca ini jadi tahu hehehe

    BalasHapus
  2. Wah, aku suka banget baca postingan ini, aku juga liat pas di partai Final Jojo sama Anthony bertanding dan emang lebih menjagokan Anthony ketimbang Jojo, lalu di Final Korea Open lagi-lagi minions bertemu Pasangan Mathias Boe-MOrgensen dan lagi-lagi dikalahkan tapi puas pas di SF Japan Open akhirnya mereka berhasil mengalahkan Mathias Boe dan Morgensen....

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...