Rabu, 27 Desember 2017

Menikmati Film Ayat-ayat Cinta 2


           Sebuah film yang diadaptasi dari novel tentulah punya tantangan sendiri dalam proses pembuatannya. Ada banyak detail yang ada di dalam novel, yang mungkin tak bisa ‘diterjemahkan’ dalam bentuk visual. Belum lagi dengan alasan durasi, ada bagian-bagian yang tak bisa diadakan. Kalau bicara tentang ekspektasi para pembaca, waaah.. itu lebih rumit lagi untuk berhasil dipuaskan.

Pembaca biasanya saat membaca sebuah cerita punya gambaran masing-masing dalam imajinasinya bagaimana cerita berjalan. Pembaca yang satu berbeda dengan yang pembaca yang lain. Bayangkan aja kalau ada 1000 pembaca, memuaskan imajinasi mereka? Tak mungkin lah ya.


        “Paling filmnya tidak seperti novelnya, Mbak. Mengecewakan seperti Ayat-ayat Cinta yang pertama,” ujar seorang teman kala saya mengunggah trailer dan soundtrack-nya di salah satu akun saya.

       “Nah, kabar baiknya, saya belum baca novel keduanya,” jawab saya santai.
            
   Ketika film Ayat-ayat Cinta 2, sebelum tayang di bioskop, ramai diperbincangkan dan diiklankan, sebenarnya keinginan membaca novelnya meletup-letup. Apalagi kalau mendengar soundtrack-nya yang bikin baper (Favorit saya yang dinyanyikan Isyana). Tapiii… Saya menahan diri untuk tidak membaca novel yang sudah lama saya miliki itu. Agar benar-benar bisa menikmati filmnya tanpa harus membanding-bandingkan dengan novel seperti yang selama ini saya lakukan jika menonton film yang diadaptasi dari novel.
Belum selesai dibaca 

        Ayat-ayat Cinta 2 masih berkisah tentang Fahri. Fahri diceritakan mengajar di salah satu Universitas di Edinburgh, Skotlandia. Kemunculan Fahri sebagai dosen pengganti bisa dibilang mengejutkan para mahasiswa. Fahri yang Muslim, Fahri yang berasal dari negara yang jauh di sana. Apalagi Fahri menyita perhatian karena melaksanakan shalat di depan kelas sebelum kelas berlangsung.

     Beragam komentar pun datang, ada mahasiswa yang terlihat sangat membenci akan sikap Fahri. Ia pun mencoba mendeskreditkan Islam dalam pertanyaannya dan dijawab dengan cerdas oleh Fahri dengan juga dibantu oleh Hulya. Siapa Hulya? Seorang perempuan cantik yang ternyata sepupu Aisha. Hulya mendapat peran yang cukup penting dalam cerita ini.

        Dalam kesehariannya Fahri mempunya asisten bernama Hulusi. Kemudian juga datang seorang teman bernama Misbah yang pernah menjadi sahabat Fahri saat menuntut ilmu di Mesir. Misbah dan Hulusi juga mendapat peran yang cukup penting dalam film ini.

         “Ke mana Aisha?” Tanya Misbah.

Fahri tak seketika menjawab. Namun, ketika cerita terus berjalan maka kita akan tahu ke mana dan karena alasan apa Aisha yang menjadi istri Fahri tak ada di sisinya. Ia menjadi relawan ke perbatasan Palestina dan menghilang.

          Fahri tinggal di lingkungan yang beragam. Tetangga-tetangga yang multi etnis, ras, dan juga agama. Ada Keira dan adiknya Jason yang sangat membenci Fahri. Ada nenek-nenek Yahudi yang juga tak suka padanya. Mungkin hanya Brenda, seorang gadis cantik yang berprofesi sebagai pengacara yang baik pada Fahri. Tapi, Fahri adalah Fahri. Seperti di ayat-ayat cinta 1 ia terus berbuat baik pada tetangganya.

        Fahri juga punya kepedulian besar pada setiap orang malang yang ia temui di jalan. Termasuk Sabina. Seorang perempuan bercadar yang kemudian ia bawa ke rumah dan diperkejakan sebagai asisten rumah tangga. Ingat, di rumahnya Fahri tingga bersama Hulusi dan Misbah. Jadi, kehadiran Sabina memang murni sebagai asisten rumah tangga.

        Kemisteriusan Sabina, kebaikan hati Fahri pada tetangga, kesholehan dan akhlakul karimah Fahri, ketidaksukaan orang-orang terhadap Fahri, serta perasaan masih tertawan pada Aisha hingga sulit membuka hati pada yang baru, akan ada sepanjang cerita hingga kemudian satu per satu terurai.

        “Recommended tidak nih film-nya?” Beberapa teman bertanya pada saya. Dan sebenarnya saya bingung harus menjawab apa. Buat saya pribadi, saya sangat menikmati filmnya. Durasi dua jam lebih terasa tidak membosankan. Kehadiran Pandji Pragiwaksono sebabagi Hulusi dan Arie Untung sebagai Misbah cukup menolong membuat suasana santai dan lucu terbentuk.

Akting Fedi Nuril, Tatjana Saphira, dan juga Chelsea Islan juga bagus kalau menurut saya. Belum lagi hamparan pemandangan indah Eropa di sepanjang cerita. Ditambah lagi soundtrack yang bikin baper dan sudah saya hafal. Penempatan soundtrack di film juga passs sekali seolah mewakili apa isi hati pemainnya. Seperti Bulan dikekang Malam yang mengalun saat Fahri menikah. Baper deh Baper. Hahaha…

Berjuta fatwa cinta yang ada
Mengantarku pada kenyataan
Hatiku memeluk bayang
Ingin denganmu tapi tak bisa

Aku bukan aku yang dulu…
Namun cintaku seperti dulu
Merelakanmu aku merasa
Bagai bulan dikekang malam

Aku ikhlaskan segalanya
Walau cintaku lebam membiru
Sakit namun aku bahagia
Kuterima segala takdir cinta
(Sebagian lirik lagu Bulan dikekang Malam yang dibawakan Rossa)

 Saya pun menonton film ini sambil ketawa-ketawa, baik itu ketawa karena emang lucu, atau ketawa karena hemmm…. Hemmm… hemmm…. . Dan tulisan ini selanjutnya akan mengandung spoiler.

Jadi, buat teman-teman yang belum menonton dan tidak suka spoiler, silakan cukup sampai di sini membacanya ya :D
Nonton berdua. Ahay...

((( SPOILER ALERT)))

            Shalat di depan kelas.

         Fahri melaksanakan shalat di depan kelas, di ruang kuliah sebelum kuliah berlangsung. Dan itu menimbulkan bisik-bisik para mahasiswa yang melihatnya. Alasan Fahri kenapa dia shalat di depan kelas karena jika keluar, dia akan perlu waktu yang lebih lama.

Saya tidak tahu bagaimana kebiasaan para Muslim yang kuliah di negeri minoritas muslim, tapi saat saya kuliah, tidak pernah ada dosen yang shalat di depan kelas saat sebelum mengajar. Mungkin karena mushalla di kampus saya tersedia. Mungkin maksud Fahri untuk berdakwah, tapi, entahlah ya, saya merasa heran saja.

            Fahri Sosok Sempurna

          Fahri adalah tetangga yang sangat baik dan perhatian. Hal ini sebenarnya sudah tergambar di Ayat-ayat Cinta 1 (bukunya). Bagaimana Fahri memberi hadiah pada keluarga Maria sehingga keluarga Maria sangat menyenangi Fahri. Di Ayat-ayat Cinta 2 (filmnya) pun begitu.

            Mobil dicoret-coret tetangga, Fahri tak marah.

            Fahri punya minimarket, tetangga mau snack, boleh ambil gratis.

           Tetangga sebel dan pengin melampiaskan dengan mencoret-coret mobil, silakan coret-coret mobil Fahri sampai hati merasa lega.

            Tetangga punya bakat dan tidak punya biaya buat mengasah bakatnya, tenaaang, ada Fahri yang akan menjadi penyandang dana.

          Rumah tetangga dijual sama anak tiri, Fahri datang dan siap membelinya untuk tetangga.

        Sungguh, benar-benar impian ini punya tetangga macam Fahri. Buahaha….

Seperti di Ayat-ayat Cinta 1, di Ayat-ayat Cinta 2, Fahri juga tetap menjadi pesona untuk wanita-wanita di film tersebut. Ada mahasiswi di Kampus yang senang membawakan kue-kue untuk Fahri. Ada karyawan di minimarket yang juga senang memasakkan makan siang demi mendapat perhatian Fahri. Belum lagi wanita-wanita yang menjadi peran utama.

        Fahri seperti makhluk sempurna yang baik hati, tampan (katanya), cerdas, alim, kaya raya (karena beragam bisnis setelah menikah dengan Aisha), dan tidak bisa marah sekalipun dijahati.

Apakah ada yang seperti Fahri di dunia nyata?

Saya pernah membaca satu ulasan yang kalau tidak salah ditulis oleh Salim A Fillah tentang sosok Fahri di Ayat-ayat Cinta 1. Salim A Fillah menyebut kalau satu-satunya kelemahan novel Ayat-ayat Cinta adalah tokoh utamanya tidak memiliki kelemahan. Kemudian dijawab oleh Kang Abik, sang penulis, “Di Indonesia memang sulit mencari tokoh seperti Fahri, tapi di Mesir banyak.”

      Saya pikir menghadirkan sosok Fahri dalam kesempurnaannya di film adalah agar menjadi inspirasi buat para penonton bahwa seperti itulah duta muslim yang baik (Jadi ingat 99 Cahaya di langit Eropa). Dan seperti itulah seharusnya seorang muslim ber-akhlakul karimah seperti yang diteledankan oleh Rasulullah tercinta.

Saya pun jadi merenung, saya menganggap Fahri begitu sempurna, mungkin karena saya merasa jauuuh sekali dari sosok Fahri dan berasa tak mungkin menjadi baik hati sekali seperti itu. Padahal mungkin memang ada sosok muslim atau muslimah seperti Fahri. Oya, di film ini, Kang Abik juga sepertinya berusaha untuk lebih memanusiakan Fahri, jadi ada adegan di mana Fahri meminta nasehat pada Misbah sahabatnya dan Fahri merasa nasehat itu betul adanya. Jadi, Fahri bukan sosok yang maha benar dengan segala tindakannya.

            Pernyataan yang tidak kekinian

          “Jika dia perempuan, maka akan kujadikan saudara angkat. Jika dia pria, maka aku akan menikah dengannya.”

         Pernah dengar pernyataan tersebut? Saya kira itu pernyataan yang hanya ada di zaman Dayang Sumbi atau di zaman Siti Nurbaya. Tapi, ternyata pernyataan itu keluar juga dari mulut seorang gadis Eropa zaman now. Tidak kekinian sekali pernyataannya tersebut.

Belum lagi, saat pernyataan tersebut didengar, istri dari sang pria justru mengundang gadis zaman now itu ke rumahnya. Mungkin radar cemburu sang istri itu sudah padam, hingga mempertemukan gadis yang menyatakan akan menikah dengan suaminya ke rumah. Atau mungkin sang istri ingin merengkuh jalan surga dengan mempertemukan suaminya dengan gadis zaman now tersebut?

            Buta pada Teman Hidup

     “Apakah hanya wajah yang membuat seseorang mengenali teman hidupnya?”

     Twist yang ada di film ini sebenarnya membuat saya terkejut. Saya tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang suami tak mengenali istrinya sama sekali walau tinggal seatap? Oke, mungkin istrinya wajahnya telah rusak dan bercadar. Tapi, ada sorot mata, gerak dan bahasa tubuh juga kebiasaan-kebiasaan yang harusnya bisa menjadi semacam signal buat sang suami.

       Terlebih jika istrinya memasak, membuatkan minum, membereskan rumah dan hidup seatap. Harusnya sang suami bisa sedikit ‘ngeh’. Misal, kok rasa minumannya sama dengan minuman yang dibuatkan istrinya atau rasa sup yang dimasak juga sama persis. 

      Atau kebiasaan membereskan sesuatu, tiap orang biasanya punya ciri khas meletakkan barang-barang. Seandainya ada satu dua adegan yang menggambarkan sang suami ‘ngeh’ tersebut, mungkin kebolongan cerita di bagian ini bisa ditutupi. Di novel mungkin lebih jelas ya, tapiii… saya tidak membaca novelnya dan baru menonton filmnya. Jadi, ingin memandang film sebagai satu kesatuan utuh.
Masa ga kenal aku sih, Mas?
dari IG filmaac2

           Tadinya saya mau protes kenapa Fahri bisa membiarkan istrinya menjadi relawan tanpa didampingi mahramnya? Tapiii… saya jadi teringat teh Melly Goeslow yang juga ke perbatasan Palestina untuk menyampaikan bantuan ke pengungsi maka protes saya simpan saja. Hihihi…

            Fahri dengan kesholehannya

         Seperti yang tergambar di Ayat-ayat Cinta 1, kita semua tahu kalau Fahri adalah sosok pemuda dengan kesholehan luar biasa. Ia berbuat baik pada siapa saja, tawakal, sholeh, hafal Al-Qur’an, ,menjaga pandangan, dan segala akhlakul karimah lainnya tersemat pada seorang Fahri. Namun, di Ayat-ayat Cinta 2 ini, ada beberapa hal yang membuat saya berkerut kening ketika dilakukan Fahri.

Misal, saat Hulya berfoto selfie bersamanya, Fahri menolak disentuh Hulya, tapi masih mau foto dempetan. Hemm… Saat melamar, dan ini sukses membuat saya terheran-heran. Saya pikir untuk seorang ikhwan seperti Fahri kala melamar, akan ada hijab atau tabir terkembang antara pihak wanita dan pria, ada perantara yang mendampingi, dan hal-hal seperti itu. Nyatanya… Fahri melamar ala-ala film, berlutut di depan sang wanita dan bertanya “Will you marry me?”

Apakah hal-hal itu untuk menunjukkan kalau Fahri tak sempurna seperti yang dibayangkan orang-orang? Yang seperti laki-laki biasa tak bisa menolak diajak selfie bersama seorang gadis secantik Tatjana Saphira?

Tentang kekejaman yang diterima salah satu tokoh wanita di film ini tidak usah dibahas di sini, saya ngiluuu -_-
             
Film Ayat-ayat Cinta 2 ini memang tak sesempurna kebaikhatian tokoh Fahri, tapi seperti yang saya bilang di atas, saya sangat menikmati saat menontonnya. Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil seperti Fahri dengan segala kebaikannya yang tergambar seperti seorang duta Muslim yang seharusnya.

Juga di beberapa adegan ada pelajaran yang bisa kita ambil, misal menegur imam saat khilaf membaca surah Az Zumar ayat 21 kemudian melompat ke Ali Imran ayat 23. Habis nonton langsung buka mushaf digital buat cek 2 ayat itu. Hihihi… Atau bagaimana saat Fahri meminta nasehat pada Misbah. Dan pelajaran lainnya tentang cintaaah bahwa terkadang untuk memenangkan hati seorang pria, yang menjadi sainganmu bukan wanita lain, tapi masa lalu dari pria tersebut. (Ngebaper sambil dengerin Masih Berharap-nya Isyana)



            

22 komentar:

  1. Makasiiih dah bikin catatannya Hai 😍

    BalasHapus
  2. Penasaran sama film ini mbak, pengen nonton tapi ntar krucils Ama siapa ya? Btw makasih spoilernya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tunggu di tv aja kalau gitu, Mbak. Mungkin lebaran nanti tayang. Atau akhir tahun depan :D

      Hapus
  3. saya baca baca review di blog dan medsos, kayaknya banyak yg kurang puas sama film ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memuaskan tiap orang memang hal mustahil. Kalau saya sih menikmati filmnya :D

      Hapus
  4. ya ampun aku jadi terbayang sakitnya hati aisha melihat fahri kawin lagi. kayaknya rata-rata pada protes ya kenapa fahri tidak bisa mengenali aisha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inggih, Ka. Maka pas banar lawan soundtracknya. Kalau di film terlihat janggal Fahri ga mengenali Aisha. Kada tahu kalau di novelnya :D

      Hapus
  5. wah detail banget mba Yanti dan setelah baca ini aku baru tahu dengan ramenya timeline di perjagadan FB yang bilang Fahri bukan manusia karena terlalu sempurna tapi kalau dari yang mba ceritakan bahkan dy ga marah saat mobilnya dicoret2 dan siap menyandang dana buat tetangganya kalau ada pendaftaran jadi tetangga fahri keknya aku ngantri nomer satu wwkwkwkwk duh jauh amat aku ga bisa begitu sbg tetangga :p

    Belum punya novelnya tapi niat beli klo nonton ga tau deh hehehe krn dulu saat aac1 baca n nonton agak gimana gitulah hahhaa *apasih ini*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha... iya, Mbak. Impian banget punya tetangga macam Fahri. Semua beres deh pokoknya. Xixixixi... saya udah lama punya novelnya tapi belum dibaca juga. PR banget ini menyelesaikan tumpukan bacaan 😅😅😅

      Hapus
  6. Cuma ada 2 pemain ya yg main di AAC & AAC2? 🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi wajar Fahri ga ngenalin istrinya ya, Ki. Berubah sih dari Rianti ke Dewi Sandra. Wkwkwk...

      Hapus
  7. Aac2 seruuu ya mbak, baca rivew mbak Yanti seruu banget sepertinya. Aku blm nonton mbak , jadi makin penasaran mau nonton aac2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ditonton, Mbak. Saya menikmati sih nontonnya. Hehehe...

      Hapus
  8. Walaaah itu serius Fahri melamarnya pake berlutut? Kok gak ada yang baru dari adegan-adegannya ya? Maksudnya, mirip dgn film2 lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Saya pun kaget. Kok melamarnya kayak gitu 😅😅😅

      Hapus
  9. tentang Fahri yg buta sama istrinya, di novel dijelaskan mba, banyak kecurigaan2 Fahri seperti pas minum teh dan makan masakan Sabina, dia ngebatin. Tapi di film justru dihilangkan.

    Terus soal Hulya pun, kalau di novel dia berhijab dan fahri sangat menjaga sekali. Banyak banget adegan2 yg dihilangkan, yaiyalah, hehe...

    Tapi saya walaupun sudah baca novelnya tetap menikmati filmnya. Dan berhasil termewek-mewek, haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya ya mbak. Harusnya ada satu atau dua scene gitu kalau Fahri ngeh dengan Sabina. Supaya ga kelihatan buta banget sama istri sendiri. Saya mau baca novelnya jadinya nih. Mau lihat perbedaannya. Hehehe...

      Hapus
  10. Saya belum baca novel dan filmnya. Sekarang tambah jauh tinggalnya dari bioskop hehe. Saya sebenarnya ngarep sekuel ini menghadirkan pemeran lain untuk menggantikan Fedi. Entahlah saya pribadi malah menganggap aktingnya kurang cocok. Dan setuju dengan kritik bahwa Fahri terlalu sempurna, dalam pengertian masak iya sebaik apa pun orang ga pernah marah? Walau di Mesir banyak yang seperti itu, tentu masih ada 'cela' sekecil apa pun.
    Terima kkasih bocorannya Mbak Yanti. Berarti ini masih seputar poligami?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emmm.. tentang poligami ga ya? Ceritanya Aisha menghilang gitu, Mas. Lama Fahri belum bisa move on sampai kemudian dia memutuskan untuk menikah lagi. Akhirnya punya 2 istri juga sih ya. Ya poligami juga. Hehehe...

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...