Tampilkan posting dengan label Cerpen Anak. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Cerpen Anak. Tampilkan semua posting

Selasa, 27 Desember 2016

Cerpen 'Wangi di Kamar Aggi' di Majalah Bobo

         24 Desember setahun kemarin, memories facebook saya memberitahukan kalau pada tanggal tersebut saya membuat satu album yang berisi tulisan-tulisan saya yang dimuat di media atau pun memenangkan lomba selama tahun 2015. Melihat hal tersebut, saya pun jadi tergerak ingin membuat hal serupa. Membikin semacam kaleideskop di tahun 2016. Tapiii… Seperti ada yang menahan saya melakukan hal tersebut. Entah firasat atau ngarep, saya tak piawai untuk mengidentifikasinya.

            Dalam pikiran saya, mungkin resensi yang saya kirim ke Tribun Kaltim dimuat minggu kemarin atau…. Ada cover buku yang dikirimkan oleh editor cantik saya. Lumayan kan bisa nambah-nambah foto di sejenis kaleideskop tersebut :p

Kamis, 12 Mei 2016

[Cerpen Bobo] Adik Selalu Bertanya

Cerpen Bobo
Dimuat di Majalah Bobo No. 45 Tahun XLIII Terbit 11 Februari 2016
Cerita di balik layar cerpen ini ada di sini

Adik Selalu Bertanya
Oleh : Hairi Yanti

Adik selalu ingin tahu. Setiap hari Nala selalu mendengar pertanyaan adik. Ada saja yang adik tanyakan pada Nala, mama atau papa.

            Mama pulang dari pasar membawa sebuah semangka yang besar sekali. Mereka senang melihat semangka besar yang dibawa mama. Adik mencoba mengangkat semangka, tapi tidak bisa. Semangkanya berat sekali.

            “Pohon semangka itu pasti besar sekali ya, Ma?” Adik berkata lalu mengigit semangka yang sudah dipotong-potong.

Rabu, 20 April 2016

[Cerpen Kompas Anak] Lari, Rheina!

            Memilih nama tokoh dalam cerita kadang memang bikin mumet. Walau mengaku tidak terlalu memikirkan nama dengan begitu detail, tapi kerap saya kehabisan ide juga memberi nama untuk tokoh dalam cerita. Beberapa kali nama yang saya gunakan berulang sehingga nama yang saya pakai itu-itu saja.

            Salah satu sumber ide nama saya adalah dari film yang saya tonton. Saya pernah menulis cerpen remaja dengan tokohnya bernama Kai. Ketika ada seorang teman yang membacanya, dia bilang nama yang saya pakai sama dengan nama tokoh pada novel karya Windry Ramadhina. Padahal, saya memakai nama Kai karena merujuk pada film yang baru saya tonton saat itu yaitu 47 Ronin. Tokohnya juga bernama Kai, kan?

            Pada satu-satunya cerpen yang dimuat di Kompas Anak ini juga saya memilih nama tokohnya berasal dari film yang baru saya tonton yaitu Rush. Niki, kakak dari Rheina di cerpen ini, ide namanya dari Niki Lauda. Cerpen ini dimuat di Kompas Anak pada tanggal 29 Juni 2014 dan sampai Kompas Anak berhenti terbit cuma satu cerpen ini yang berhasil dimuat. Hiks. Sekarang Kompas Anak sudah berhenti terbit. T_T
            

Senin, 28 Maret 2016

Cerpen di Bobo dan Resensi di Tribun Kaltim

Hari minggu kemarin saya dapat dua kabar gembira. Pertama dari Uni Dian Onasis yang mengabarkan kalau ada cerpen saya di Majalah Bobo. Alhamdulillah... Senang banget. Cerpen saya itu berjudul Krayon Apri. Cerpen satu halaman. Saya kirim pada bulan Januari 2015. Jadi, ada sekitar 14 bulan masa tunggu hingga dimuat. Tapi tidak mengurangi kesyukuran saya. Cerpennya bisa dibaca di majalah Bobo yang terbit kamis ini :D
 
Cerpen Krayon Apri di Majalah Bobo
 Sore harinya saya dapat kabar gembira lagi. Kali ini dari Mbak Tri Wahyuni Zuhri yang mengabarkan ada resensi saya di Tribun Kaltim. Asyiiik.. Alhamdulillah... Rasanya lama sekali resensi saya tidak dimuat di media. Kangen banget ngeresensi lagi. Tapi sering dikalahkan sama rasa malas. Huhuhu...

Minggu, 27 Maret 2016

[Cerpen Bobo] Mandai, si Kulit Cempedak

Cerpen ‘Mandai, si Kulit Cempedak’ saya tulis sekitar bulan Januari atau Februari tahun kemarin. Saat itu, di daerah saya sedang musim cempedak. Kemudian cerpen ini dimuat setahun kemudian pada bulan Februari juga. Tepat di saat musim buah cempedak kembali hadir ke bumi.
Mandai, si Kulit Cempedak
            Cerpen ini sendiri hadir karena membaca tips di Klinik Cerita di Majalah Bobo. Tipsnya berbunyi : "Untuk membuat cerita yang tak biasa, cobalah untuk berpikir sebagai seorang pembaca. Jangan hanya berperan sebagai penulis saja. Cerita tentang lingkunganmu mungkin akan kau anggap biasa-biasa saja. Misalnya, kalau kamu tinggal di Jakarta, cerita tentang kerak telor mungkin tidak menarik lagi. Tetapi, bagi pembacamu yang berasal dari luar Jakarta, cerita kerak telor bisa menjadi hal yang baru dan menarik. Selain cerita yang bertema kedaerahan, cerita tentang kebiasaan-kebiasaan unikmu bersama teman-teman dan keluarga juga bisa menjadi unik dan menarik."

            Dari tips itu saya kemudian mencari hal-hal yang unik di daerah saya sendiri. Salah satunya ya mandai. Cerita tentang mandai pernah saya ceritakan di sini.

Rabu, 23 Maret 2016

[Cerpen Bobo] Pisang Gapit

Saya penyuka ayam penyet. Ayam yang dipenyet kemudian ada sambal bawang putih yang melumuri ayam. Wuiih… Itu enak sekali. Ayam penyet favorit saya itu ayam penyet  Wong Solo. Wakakakaka… Sebut merek :p

Ayam penyet WS itu enaaak banget. Bumbunya meresap, ada bagian krispinya juga dan sambal bawang putihnya itu, lho. Nendang banget. Jadi, saat menulis cerpen dan menyebut ayam penyet, saya ngebayangin ayam penyet WS.

Cerita dibalik layar cerpen Pisang Gapit ada di sini. Cerpen ini dimuat di Majalah Bobo No. 41 Tahun XLIII Terbit 14 Januari 2016. Happy Reading ^_^

Senin, 07 Maret 2016

[Cerpen Bobo] Rani Ditangkap Polisi

            Ngobrol tentang hoax di status seorang teman, saya jadi ingat sama cerpen Rani Ditangkap Polisi. Cerpen yang saya tulis pada saat gemes banget sama orang yang dengan mudahnya menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya. Cerita dibalik layarnya pernah saya ceritakan di sini.

            Ada beberapa perubahan dari cerpen yang saya kirimkan ini dengan yang tayang di majalah. Di cerpen yang saya kirimkan, Rani ‘diangkut’ memakai mobil patroli polisi dengan bak terbuka. Sementara di majalah, mobil patroli semacam sedan gitu kalau dari ilustrasinya. Cerpen yang diedit oleh Kakak redaksi Bobo, membuat cerpen saya lebih bagus dari aslinya. Ini naskah asli yang saya kirimkan. Happy reading ^_^
            Cerpen ini dimuat di Majalah Bobo Edisi 43, Terbit 28 Januari 2016. 
Cerpen Rani Ditangkap Polisi

Rabu, 02 Maret 2016

Menyusun Pointer untuk Menulis Cerpen Anak

Setiap penulis tentu punya gaya sendiri dalam menulis ceritanya. Ada yang bisa menulis sembari mendengarkan musik, ada juga yang harus sunyi senyap. Ada yang menulis hanya mengandalkan plot dan alur yang bermain dalam pikiran, ada juga yang perlu membuat kerangka karangan.

Saat mengikuti kelas menulis cerita anak bersama Kang Ali Muakhir, saya mendapatkan ilmu tentang pointer. Jalan cerita dijabarkan dalam bentuk poin-poin sebelum dituliskan menjadi cerita yang utuh. Cara itu saya praktikkan berkali-kali, walau ada juga cerpen yang saya tulis tanpa pointer. Ketika tulisan dimuat di media, dan mendapati kembali pointer yang saya tulis sebelum menulis cerpen tersebut, rasanya bahagia dan terharu. Senang aja gitu :D

Jumat, 12 Februari 2016

Di Balik Layar Cerpen ‘Adik Selalu Bertanya’


           Sudah hari Jum’at, kemarin hari Kamis. Hari Kamis adalah jadwal terbit Majalah Bobo. Alhamdulillah di Majalah Bobo minggu ini ada cerpen saya yang berjudul ‘Adik Selalu Bertanya’.
Foto dari Mbak  Yayan Rika Harari smile emoticon
         Cerpen tersebut saya kirimkan pada bulan Februari tahun kemarin (2015) dan dimuat di Februari 2016. Butuh satu tahun waktu penantian. Tak apa. Saya sabar menanti. Hahaha…. Cerpen ini saya kirimkan satu surel dengan cerpen Pisang Gapit yang sudah dimuat sebelumnya. 

                Pernah saya membaca ada penulis yang lebih dulu menemukan judul ketika ingin menulis sebuah karya. Untuk cerpen ini pun begitu. Saya punya keinginan atau ide menuliskan cerpen berjudul ‘Adik Selalu Bertanya’. Sesuai judulnya, cerpen itu akan berkisah tentang seorang adik yang selalu bertanya. Ada kalanya anak-anak kritis dan suka bertanya macam-macam kan?

Rabu, 10 Februari 2016

Menulis Cerita Misteri


Beberapa waktu yang lalu ada pengumuman di grup BaW Community. Pengumuman tentang audisi naskah buat kumpulan cerpen anak (kumcernak). Membaca pengumuman tersebut, tentu saja saya bersemangat buat ikutan. Tapi begitu melihat temanya, oh tidaaaak...

Salah satu tema yang diusung dalam audisi itu adalah misteri. Menulis tentang misteri seperti jauuuh di luar kemampuan saya. Misteri di sini bukan misteri yang melibatkan hantu-hantuan. Tapi semacam pencarian informasi yang logis atas suatu kejadian yang misterius.

Saya bukan orang yang suka terhadap hal-hal berbau misteri itu. Cerpen-cerpen yang saya tulis pun nyaris semua hanya berkutat di kehidupan sehari-hari. Bukan misteri. Namun, saya sangat ingin ikut audisi tersebut.

Sabtu, 06 Februari 2016

[Cerpen Bobo] Gara-gara Papa

            Pertengahan minggu kemarin, saya mendapatkan sebuah kabar lara. Sebuah kabar yang membuat semua rencana berubah. Sehingga saya harus menempuh sebuah perjalanan dadakan dan sendirian. Itulah pertama kalinya saya menginap di sebuah hotel sendirian, pun pergi ke bandara sendirian.

Selama ini naik pesawat sendiri sih udah sering, tapi ke bandaranya selalu diantar. Bagi orang lain mungkin hal itu sudah biasa di usia seperti saya. Tapi, bagi saya itu adalah pengalaman pertama. Hehehe….
Suka ilustrasinya ^^
            Segala rencana yang berubah itu mengingatkan saya pada cerpen saya yang judulnya Gara-gara Papa. Cerpen tersebut sudah dimuat di Majalah Bobo. Di sana saya juga menyelipkan pesan tentang sesuatu yang kita inginkan terjadi tapi tidak terjadi bisa jadi itu adalah kondisi terbaik untuk kita. Seperti yang difirmankan olehNya :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Sabtu, 30 Januari 2016

[Dibalik Layar] Cerpen 'Rani Ditangkap Polisi' di Majalah Bobo

Semenjak suka menulis cerpen anak, saya kerap mengubek memori masa kecil untuk mendapatkan ide. Kenangan-kenangan akan masa lalu kemudian timbul di permukaan. Salah satunya pengalaman saya naik mobil polisi saat masih SD dulu.

Saya ingin menjadikan pengalaman tersebut sebuah cerpen. Tapi cerpen seperti apa? Saya belum tahu. Ibaratnya saya sudah punya bahan untuk memasak. Namun, mau dibikin apa bahan tersebut? Saya masih belum tahu. Sampai kemudian saya mendapatkan bahan baru untuk dimasak bersama bahan tersebut.

Bahan baru itu berupa perasaan gemes. Gemes melihat orang begitu mudahnya menyebarkan informasi tanpa cek dan ricek. Hanya sekali lihat atau baca, kemudian menyebarkan. Padahal belum tentu apa yang terlihat seperti kelihatannya atau bisa juga semuanya sudah basi.

Selasa, 19 Januari 2016

[Cerpen Bobo] Kue Lempeng Nenek

            Seperti yang saya ceritakan di sini, kalau ide cerpen ini berawal dari saya yang suka lupa sama resep masakan. Jadi, untuk memudahkan kadang saya tulis di blog. Kalau mau nyari tinggal ‘search’ di blog sendiri.

            Awalnya sempat galau juga sih mau resep apa yang ditulis. Mau rendang, ribet kali ya apalagi saya belum pernah berhasil masak rendang. Wkwkwk.. Mau risoles, aih… sama ribetnya. Kemudian dipilihlah kue limping alias lempeng. Mungkin juga saat itu suami lagi senang dibikinin kue lempeng ini, atau karena saya ingin memasukkan unsur lokalitas dalam cerpen tersebut atau perpaduan semuanya. Entahlah saya tak ingat persis.
Kue Lempeng atau Wadai Limping
Oya, saya juga ingat kalau pernah membaca tips di klinik cerita di Majalah Bobo. Isinya begini : 
"Untuk membuat cerita yang tak biasa, cobalah untuk berpikir sebagai seorang pembaca. Jangan hanya berperan sebagai penulis saja. Cerita tentang lingkunganmu mungkin akan kau anggap biasa-biasa saja. Misalnya, kalau kamu tinggal di Jakarta, cerita tentang kerak telor mungkin tidak menarik lagi. Tetapi, bagi pembacamu yang berasal dari luar Jakarta, cerita kerak telor bisa menjadi hal yang baru dan menarik. Selain cerita yang bertema kedaerahan, cerita tentang kebiasaan-kebiasaan unikmu bersama teman-teman dan keluarga juga bisa menjadi unik dan menarik."
 Mungkin berdasarkan itu juga kemudian saya menulis beragam kuliner daerah saya dalam bentuk cerpen. Selain kue lempeng, saya juga menulis tentang pisang gapit

 Cerpen Kue Lempeng Nenek ini dimuat di Majalah Bobo Edisi 34, Terbit 26 November 2015.

Happy Reading ^_^
           

Rabu, 06 Januari 2016

Menghadirkan Ide

Kalau kata Fatin dalam lagunya ada banyak cara Tuhan menghadirkan cinta. Kalau kata penulis ada banyak cara Tuhan menghadirkan ide. Saya setuju sekali. Terkadang ide muncul dari mana saja.

Jadi, saya mau cerita bagaimana ide-ide datang ke saya. Karena saya sering sih merasa tidak punya ide. Huhuhu.... Dan jadilah saya terkenang-kenang pada cerpen-cerpen anak yang berhasil saya tulis dan kemudian berhasil dimuat. Mengenang sembari berpikir, kok bisa kemarin dapat ide nulis gituan? Hihihihi...

Ide menulis cerita anak itu bisa dari :
1. Kejadian saat kita masih kecil.
2. Hasil mengamati apa yang dialami oleh anak-anak di sekitar kita.
3. Pengalaman kita saat dewasa kemudian dieksekusi menjadi cerita anak-anak dengan tokoh anak-anak.
4. Sebuah pesan atau quote yang membekas dalam ingatan kita.
5. Perenungan.
6. Mengikuti Kelas Menulis.
7. Perpaduan dari semuanya.

Senin, 14 Desember 2015

[Cerpen Girls] Misteri Uang Niken

            Salah satu sumber datangnya ide adalah dari pengalaman. Malahan kalau pengalaman ini ide yang datang adalah paket komplit. Sudah satu paket dengan penyelesaian dan kita tinggal memodifikasinya saja sesuai dengan media yang dituju. Cerpen yang berjudul Misteri Uang Niken ini contohnya.

Ide cerpen ini dari pengalaman saya sendiri. Suatu hari Mama saya menemukan dompet beliau tergeletak di ruang tamu dengan kondisi terbuka dan uang di dalamnya raib. Beliau kemudian bercerita kepada saya, juga bercerita bahwa sebelumnya ada dua orang yang masuk ke ruang tamu. Saya bilang ke Mama buat menanyakan dulu ke penghuni rumah yang lain, siapa tahu abah atau kakak saya yang mengambil uang di dompet Mama. Mama akhirnya bertanya pada abah dan ternyata memang abah ‘tersangka’nya. Hehehe…. Abah mengambil uang di dompet mama untuk membeli sesuatu. Tidak masalah tentunya karena itu adalah uang bersama. Masalah selesai dan saya terpikir mendapatkan ide untuk menjadikannya cerpen anak, dengan modifikasi tentunya.

Cerpen ini dimuat di Majalah Girls No. 24 / Tahun X  yang beredar 1-15 Juli 2015.  Oleh redaksi Girls, cerpen ini diganti judulnya menjadi Uang Niken Hilang.

Rabu, 02 Desember 2015

[BtS] Kue Lempeng Nenek

Alhamdulillah, minggu kemarin ada cerpen saya yang berjudul Kue Lempeng Nenek dimuat di Majalah Bobo. Saya mau cerita tentang cerpen tersebut. Oya, saya kok enggak bisa enggak norak ya kalau ada tulisan dimuat di media? Enggak bisa cool gitu seperti teman-teman. Begitu dapat kabar langsung deh upload foto ke grup, upload foto ke FB, twitter, dll termasuk cerita di blog ini. Gpp yaa… Maklumin yaa…

Jadi, Kue Lempeng Nenek itu idenya dari diri saya sendiri. Saya itu suka lupa. Termasuk lupa tata cara memasak. Walaupun saya pernah praktik masak sama mama, tapi ada aja yang lupa ketika praktik sendiri. Kecuali kalau praktiknya berkali-kali, baru deh ingat. Tapi kalau dah lama ya lupa juga. Karena itulah saya suka menuliskannya di blog. Biar saya ingat.
foto dari Mbak Irma Irawati

Minggu, 29 November 2015

[Cerpen Bobo] Tarian Aya

Salah satu cara mendapatkan ide untuk menulis cerpen anak adalah dari anak-anak di sekeliling kita. Sering malah sudah satu paket ya. Lengkap dengan penyelesaiannya. Hehehe…

Ini adalah salah satu cerpen yang saya tulis yang idenya dari adek sepupu saya yang cantik. Suatu hari ayahnya bercerita kalau adek sepupu saya itu enggak mau lagi latihan menari. Alasannya capek, bosan, jenuh. Karena latihan menari itu lama. Tapi endingnya si Aya sih tetap enggak mau latihan nari. Gurunya pun memaklumi. Sementara di ending cerpen saya, Aya mau latihan nari lagi. Saya ingin menulis cerita dengan pesan bahwa hidup itu perlu proses. Proses yang harus dengan sabar kita lewati.

Happy Reading ^_^

Sabtu, 28 November 2015

[Cerpen Bobo] Kue Istimewa

Dari cerita-cerita yang saya baca dan saya dengar, sepertinya saya paling suka cerita tentang meraih mimpi dan tentang manajemen waktu. Termasuk juga tentang bagaimana kita harus gigih meraih sesuatu. Mungkin karena …. Errr… saya pemalas! Ihiks.

Ini salah satu cerpen favorit saya karena isinya nonjok saya sendiri. Bahwa keahlian itu harus terus dilatih. Seseorang yang ahli tapi malas akan dikalahkan oleh mereka yang belum ahli tapi rajin. Seperti cerita Caca di bawah ini.

Happy Reading ^_^
Kue Istimewa
Oleh : Hairi Yanti
 Dimuat di Majalah Bobo Edisi 37, 18 Desember 2014

Jumat, 27 November 2015

[Cerpen Bobo] Protes si Gula Manis

Konon katanya apa yang kita perjuangkan dengan susah payah kemudian berbuah akan terasa manis lebih dari yang lainnya. Dalam menulis cernak saya lebih suka menulis cerpen realis, yang bisa dikatakan cerpen dengan tokoh manusia. Jadiii… konfliknya bisa dilihat di sekeliling kita atau mengamati anak kecil atau konflik kita sendiri.

Kalau dongeng? Aduhaii… Itu susah. Makanya saat dapat tugas di grup PT untuk membuat dongeng saya pusiiiiing mikirin idenya. Salah satu clue yang diberikan para mentor kemarin adalah Gula. Maka kemudian sambil berpikir saya memandang toples gula di dapur seolah berkata pada gula, “Apa yang bisa aku tulis darimu, Gula?”

Setelah beberapa saat saya mendapat ide. Menjadikan gula dan teman-temannya bisa berbicara. Tentang gula yang merasa tak dianggap. Dan senang ketika mbak Eni (Shabrina WS) bilang suka dongeng saya ini. Hihihi… Tersipu dipuji penulis keren.

Happy Reading ^_^

Rabu, 25 November 2015

[Cerpen Bobo] Kacamata Pak Rusdi

Selamat Hari Guru Nasional.

Dalam kehidupan saya banyaak sekali guru-guru yang memberi saya ilmu, pelajaran, hikmah, dan banyaaak lagi. Mereka patriot pahlawa n bangsa tanpa tanda jasa.

Salah satu guru yang berkesan buat saya adalah wali kelas saya saat kelas 5 SD. Nama beliau Pak Sukri. Beliau sabaaar luar biasa. Saat saya dan teman-teman berolah nakal, beliau tak pernah marah. Selalu sabar dan tersenyum.

Kenangan tentang guru saya itulah yang menjadi ide dari sebuah cerpen berjudul Kacamata Pak Rusdi. Ini cerpen pertama saya di Majalah Bobo setahun yang lalu. Alhamdulillah. Sedangkan Pak Rusdi adalah salah satu Guru atau Dosen favorit saya saat kuliah :D

Happy Reading ^_^
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...