Tampilkan posting dengan label curhat. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label curhat. Tampilkan semua posting

Jumat, 07 April 2017

Telepon Tengah Malam

            Pernahkah menerima telepon tengah malam? Atau menelepon di tengah malam?

Tengah malam adalah waktu orang-orang berisitirahat. Tidur dan melepaskan segala kepenatan. Hanya orang-orang tertentu dengan keperluan dan kondisi tertentu yang tetap berjaga di tengah malam. Karena itulah telepon tengah malam bisa dibilang tidak wajar dilakukan.

Walaupun begitu, ada hal-hal yang mungkin membuat kemungkinan menelepon tengah malam itu terjadi. Semisal sama-sama begadang setelah menonton pertandingan olahraga, atau sama-sama dinas malam. Bisa juga kala melakukan perjalanan, dan orang rumah minta dikabarin kapan pun kita sampai walaupun tengah malam.

Senin, 03 April 2017

Sakit Gigi dan Terjebak Banjir

         Mengapa ada lirik lagu ‘lebih baik sakit gigi daripada sakit hati’? Mengapa sakit gigi? Mengapa bukan sakit perut atau sakit kepala atau sakit jempol sekalian? Jawabannya mungkin karena sakit gigi itu sakitnya banget nget nget. Ibaratnya kastanya sama, seperti All England dan Kejuaraan Dunia, jadi layak untuk disandingkan.

            Kalau disuruh milih, milih mana? Sakit gigi atau sakit hati? Kalau saya sih jelas. Bakalan golput. Enggak milih keduanya. Hahaha… Lagian siapa juga yang mau sakit kan ya? Tapiii… Kadang sakit itu datang. Semoga menjadi penggugur dosa. Seperti saya kemarin yang mengalami namanya sakit gigi.

Rabu, 22 Maret 2017

Curhat si (mantan?) Penimbun Buku

            
Berapa buku yang sudah dibeli di tahun 2017?

        Jika saya yang ditanya, maka, jawabnya adalah empat. Satu buku saya beli di awal tahun dengan menggunakan voucher di salah satu toko buku besar, tiga buku lainnya saya beli online karena penulis favorit saya baru merilis novel terbarunya. Untuk mengefektifkan ongkir, saya membeli novel dari penulis favorit itu bersama dua buku lainnya.

         Buat saya, empat buku dalam kurun waktu nyaris 3 bulan itu bisa dibilang rekor. Satu atau dua tahun sebelumnya, saya bisa membeli empat buku di minggu sekarang, kemudian membeli empat buku lain di minggu selanjutnya. Saya pernah berada pada situasi begitu kalap membeli buku. Ada yang diskon saya buru, ada yang menjual buku bekas tidak akan saya lewatkan, bazar buku saya borong beberapa judul, ada yang bilang satu buku bagus, maka saya penasaran dan akan mencarinya sampai dapat.

          Baca juga : Curhat si Penimbun Buku

Jumat, 17 Maret 2017

Suka Duka Tinggal di Rumah Toko (RuKo)


Pernah merasakan tinggal di rumah toko alias ruko? Saya, tentu saja pernah. Sebagian besar kehidupan yang saya lewati adalah tinggal di ruko. Sampai sekarang pun orangtua saya masih menetap di ruko.

           Ada banyak alasan mengapa sebuah keluarga tinggal di ruko. Mas Anang dan anak-anaknya dulu pernah tinggal di ruko selepas Mimi KD dan Pipi Anang berpisah. Kalau untuk saya, alasannya berbeda dengan alasan Aurel dan Azriel. Saya tinggal di ruko semenjak abah beralih profesi. Yang semula sopir angkot menjadi pedagang.
Gambar dari Pixabay

Selasa, 28 Februari 2017

Password Email yang Terlupa

            Tadinya saya mengira, tidak masalah jika saya tak bisa lagi mengakses salah satu email yang saya miliki. Tapi ternyata saya salah. Ada satu kejadian yang meruntuhkan perkiraan saya.

         Saya memiliki beberapa email, salah satunya adalah email yang termasuk paling awal saya miliki. Dengan email itu pulalah saya mendaftarkan diri ke beberapa media sosial. Akibatnya kotak masuk email itu penuh dengan notifikasi dari akun-akun media sosial saya. Sebenarnya bisa disaring agar notifikasi itu tidak masuk ke email, tapi itulah saya terlalu malas untuk menyaringnya.

Sabtu, 04 Februari 2017

Rupa-rupa Belanja Online

        Belanja online sudah menjadi tren di zaman serba digital seperti sekarang. Ada banyak alasan kenapa seseorang belanja secara daring. Tidak suka berjejalan di pasar, barang yang diinginkan tidak dijual di pasaran, atau bisa jadi karena barang yang kita butuhkan lebih murah jika dibeli secara online walaupun harus ditambahkan dengan ongkos kirim (ongkir)

     Pengalaman berbelanja tentunya akan membuat kita harus berani mengambil risiko, sedapat mungkin kita juga harus meminilasir risiko tersebut. Seperti belanja di Online Shop yang terpercaya untuk mencegah terjadinya penipuan.

Sabtu, 21 Januari 2017

Cerita Hijab dan Cara Order Produk Atelier Angelina

            Jilbab selalu menjadi cerita tersendiri buat pemakainya. Tidak hanya sejarah tentang mulai berhijab, tapi juga jenis hijab yang digunakan. Untuk sejarah, saya pernah menuliskannya di sini. Sekarang saya ingin bercerita tentang hijab yang saya gunakan.

            Saya merasa, saya ini lumayan rempong urusan hijab. Masalah cocok atau tidaknya itu kerap menguras tenaga juga dompet. Kepala saya ini mungkin agak sedikit unik, jadi, tidak semua jilbab yang saya pakai cocok saya gunakan. Kalau bahan yang licin atau yang tidak pas di kepala saya, bisa dipastikan jilbab akan mencong dan ketarik ke sana ke mari hingga bentuknya berantakan.

Jumat, 13 Januari 2017

Resolusi Belanja 2017

            Bulan pertama di 2017 sudah melampaui sepertiga bagian, dan saya baru menyusun resolusi untuk tahun ini. ‘Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali’, kan?

            Kali ini saya akan menulis tentang hal-hal yang ingin saya lakukan di 2017 terkait belanja. Kenapa belanja? Bukan mengatur keuangan? Karena saya doyannya belanja, dan belanja tentu saja sangat mempengaruhi pengaturan keuangan karena sebagian besar uang bisa habis karena dibelanjakan. Jadi, perlu diatur sedemikian rupa. Jika uang belanja berlebih, sisanya bisa buat ditabung.

Rabu, 11 Januari 2017

Menaklukkan Kepiting


          Tinggal di daerah pesisir laut menjadikan pasar bergelimang dengan hasil laut. Udang, cumi, aneka ikan laut, dan juga kepiting. Saya pun jadi tahu aneka ikan laut dari kakap, trakulu, kerapu, dan masih banyak lagi. Walau tak mengenali satu-satu dan harus bertanya dulu ikan apa itu. Karena pernah kejadian ada ikan dibilang kakap hitam ternyata mujair. Wkwkwk….

            Kondisi ikan yang penuh dengan hasil laut itu tentu berbeda dengan saya yang dulunya tinggal di kaki pegunungan Meratus dan ada sungai yang mengalir membelah kota. Di kawasan saya tinggal dulu, ikan haruan (gabus) yang menguasai pasar. Begitu juga dengan lauk pendamping nasi kuning. Di mana-mana ada haruan… Kalau di tempat sekarang saya tinggal, maka ikan seperti kakap, tongkol, trakulu yang menjadi primadona.

Kamis, 29 Desember 2016

Jejak Pena di 2016

            2016 menyisakan beberapa hari lagi. Seperti yang lazim dilakukan orang-orang untuk mengumpulkan jejak-jejak kejadian selama satu tahun di akhir tahun, saya pun tak ingin ketinggalan :p Mencoba mengumpulkan jejak-jejak pena di tahun ini. Sebagai evaluasi, juga motivasi untuk tahun yang akan datang.

            Layaknya dua tahun yang lalu, cerita anak dan resensi masih mendominasi dalam tulisan-tulisan saya yang diterbitkan media. Tahun sekarang pun begitu. Tercatat ada tujuh cerpen saya yang dimuat di Majalah Bobo.  Tadinya saya pikir jumlahnya hanya lima, begitu saya hitung lagi ternyata ada tujuh. Saya sendiri merasa kaget dengan jumlah tersebut karena merasa tahun ini mengalami paceklik karya di Bobo. Mungkin karena disebabkan karya saya yang terbit kebanyakan di awal tahun dan ada jeda yang lumayan panjang sampai karya penutup di tahun ini yaitu Wangidi Kamar Aggi.
Cerpen di Bobo di 2016

Jumat, 23 Desember 2016

Berapa Harga Payung?

           
            Beberapa hari silam, masalah payung cukup membuat saya berpikir tentangnya. Rasanya payung sepakat merebut perhatian saya di mana sebelumnya terabaikan begitu saja. Dari novel yang saya baca bercerita tentang payung merah yang katanya bisa menyatukan jalan cinta dua insan yang bernaung di bawahnya. Juga drama Korea yang kisah asmaranya berawal dari sepayung berdua tanpa sengaja. Kemudian suami yang bilang kalau ia butuh payung baru. Hujan bulan Desember pun tetap rajin mendatangi hari-hari yang seketika mengingatkan pada payung. Payung dan hujan seperti sesuatu yang lekat dan agak susah buat dipisahkan.
Scene Payung di Drama Korea

            Berapa harga payung?

Sabtu, 17 Desember 2016

Hari-hari Pasca Kebakaran

            Menyambung cerita di sini. Cerita pasca musibah kebakaran yang dialami keluarga saya.

            Usia saya masih 13 tahun saat itu dan yang saya pikirkan adalah bagaimana saya tidak menjadi beban keluarga karena saya tau keluarga saya tengah diuji. Makanya, saya merasa bersyukur sekali baju-baju seragam saya selamat dan baju-baju harian yang biasa saya pakai juga selamat. Dengan begitu, saya tidak perlu membuat orangtua saya mengeluarkan uang untuk membeli baju-baju yang saya pakai sehari-hari.

Memang baju-baju bagus yang biasa saya gunakan untuk jalan-jalan ludes tak bersisa, tapi belakangan saya juga mensyukuri hal itu karena niat saya untuk berjilbab menjadi tak setengah-setengah lagi. Sebelumnya, untuk jalan-jalan saya selalu melepas jilbab karena baju-baju saya kebanyakan adalah baju yang tidak cocok untuk mengenakan jilbab.

Sabtu, 26 November 2016

Amukan si Jago Merah

            Tidak ada yang menginginkan rumahnya terbakar. Tidak ada. Tapi, ada hal yang tak bisa kita tolak kehadirannya termasuk musibah rumah terbakar. Saya mengalaminya. Dulu. Saat masih berseragam putih biru. Di suatu malam yang tiba-tiba berubah menjadi sendu.

          Malam itu biasa, seperti malam-malam sebelumnya. Yang menjadikannya tak biasa hanyalah saya ingin bersantai dengan menonton TV sepuasnya di malam itu. Malam itu malam liburan sehabis pembagian raport. Saya tentu saja bebas dari yang namanya belajar. Maka, selepas makan malam saya secepat kilat melaksanakan tugas mencuci piring agar niatan untuk santai menonton TV segera terlaksana.

Rabu, 23 November 2016

Cobek dan Plastik Kemasan

            Seberapa penting sih cobek ada dalam alat perdapuran kita? Buat saya sih penting banget. Sama pentingnya dengan keberadaan wajan. Hehehe… Setelah menikah dan hidup mandiri dengan suami, saya hanya punya cobek kayu. Cobek kayu yang saya beli setelah pindah rumah. Seberapa berdayanya sih cobek kayu dalam menghaluskan bumbu dapur? Tentu saja tidak seberdaya cobek batu. Paling yang bisa mulus saat menghaluskan tahu. Bisa halus asal didukung dengan kekuatan tangan dan dengan waktu yang lebih lama dari biasa. Itu sepengalaman saya.
Ada cobek di dapurmu?

            Untuk itulah, saya lebih sering memberdayakan blender untuk menghaluskan bumbu. Blender yang kecilnya itu, loh. Jadi, tidak perlu pakai air. Memakai blender juga tak sepuas memakai cobek, apalagi untuk menghaluskan sambal. Sambalnya jadi halusss banget. Jadi, berasa kurang greget.

Senin, 14 November 2016

Blog adalah Jawaban

Menjadi penulis, menerbitkan buku itulah yang menjadi impian, mimpi, obsesi , cita-cita dan kata sejenis yang menggambarkan kalau saya pengin banget hal itu mewujud menjadi nyata. Pengin banget bisa menggenggam sebuah buku yang nama saya tercetak di cover depannya. Bukan.. Bukan sebegai endorser, karena untuk itu saya sudah pernah, tapi sebagai penulis buku tersebut.

Hal ini juga bukan karena saya pengin eksis, pengin dikenal atau terkenal tapi lebih kepada saya ingin membikin sebuah karya, sesuatu yang tetap ada walau saya tiada. Sesuatu yang bisa memberikan manfaat ke banyak orang sesuai dengan petuah yang disampaikan Nabi, manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat. Saya pengin menebarkan manfaat lewat buku yang saya tulis.

Minggu, 30 Oktober 2016

Gadis dan Kacamata

            “Kacamata sudah tidak nyaman,” kata saya ketika bersama suami berjalan-jalan di mall di Banjarbaru. Ujung mata saya melirik ke arah optik yang ada di mall tersebut.

            “Ayo bikin kacamata baru.” Suami menawarkan. Namun, saya balas dengan gelengan kepala.

            “Nanti saja kalau cerpen ke-20 dimuat di Bobo atau ada satu cerpen yang dimuat di Gadis,” ujar saya ke suami. Saat itu cerpen yang dimuat di Bobo ada 14, sementara di Gadis memang belum satu pun cerpen saya dimuat di sana. Tapi, ada satu cerpen yang tengah berjuang di meja redaksi Majalah Gadis.

Minggu, 26 Juni 2016

Proyek Menulis Setiap Hari

Akhir tahun 2014, saya dibuat ternganga oleh prestasi Mas Bambang Irwanto. Saat itu, di setiap edisi Bobo selalu ada nama beliau. Duh, saya juga kepengin. Apakah ini bentuk iri yang positif? :D

Tapi saya yakin, kalau untuk menjadi seperti Mas Bambang ada yang perlu diusahakan dan diperjuangkan. Bagaimana bisa saya tidak menulis apa-apa dan berharap dimuat di Majalah Bobo? Mimpi kali yee... Karena itulah saya kemudian mencanangkan satu proyek yaitu proyek 40 hari menulis cernak.

Alasan lainnya kenapa program itu saya canangkan adalah BaW, komunitas yang saya ikuti sedang mengadakan audisi naskah buat cernak, salah satu temanya adalah tema misteri. Tema yang sangat sulit buat saya. Saya berpikir, siapa tahu dengan menulis setiap hari bisa membuat saya mendapatkan ide untuk menulis cerpen misteri tersebut.

Jumat, 17 Juni 2016

Gamis dan Sebuah Perjalanan Berhijab

Ramai tentang gamis beberapa waktu yang lalu membuat saya juga jadi ingin bercerita tentang gamis dalam hidup saya. Setiap muslimah selalu punya cerita tentang proses berhijab mereka, dan tentu saja saya juga punya cerita tersendiri.
Gamis di Pantai
Saya selalu bilang kalau proses awal berhijab saya itu adalah sesuatu yang biasa. Tidak ada pertentangan batin, tidak ada larangan orangtua, dan lain sebagainya. Selepas menamatkan bangku sekolah dasar, saya melanjutkan sekolah ke Madrasah Tsanawiyah. Otomatis di sana lah saya mulai menggunakan jilbab, paling tidak di waktu jam sekolah. Walaupun awal yang biasa,  tapi tetap saja buat saya proses berhijab adalah sesuatu yang terus berproses sepanjang masa.

Rabu, 15 Juni 2016

Perlukah Memakai Watermark Pada Foto?


Dalam urusan foto, saya akui saya memang agak ketinggalan. Sewaktu awal-awal ngeblog, setiap postingan yang saya buat, nyaris selalu tanpa foto. Postingan tentang jalan-jalan tanpa foto, tentang makanan juga tanpa foto. Alasannya sih kadang malas, tapi lebih sering karena ngerasa foto yang saya ambil tidak layak untuk dipasang di blog. Minder tiada terperi.

Saya juga orangnya malas dalam belajar. Sempat terpesona dengan foto-foto sepupu saya di Instagram yang kece-kece. Bilang sama dia kalau saya mau belajar. Dia sih ngasih tipsnya sederhana aja, katanya selalu pakai background putih untuk setiap foto. Lah, foto dia kece-kece, foto saya teteup biasa aja walau sudah mengikuti sarannya.

Minggu, 13 Maret 2016

Curhat si Penimbun Buku

Akhir tahun banyak diskon bertaburan di mana-mana termasuk di toko buku. Gebyar diskon akhir tahun pun menggoyahkan tekad para penimbun buku yang katanya mau puasa beli buku dan pada kenyataannya tetap belanja buku, termasuk si penimbun buku. Memilah milih buku diskon di salah satu tobuk daring, menyambar dengan kata 'Mau' di lapak buku yang bersileweran di FB, dan akhirnya terjadilah transaksi belanja buku. 

Walaupun begitu, masih ada pembelaan terhadap apa yang dilakukannya. "Mumpung diskon, lho", "Bukunya langka, di toko buku udah enggak ada yang jual", "Udah lama pengin punya", dan beragam pembelaan lainnya yang membuat perasaan bersalah karena menambah timbunan buku menjadi pelan-pelan sirna. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...