Tampilkan posting dengan label kontes. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label kontes. Tampilkan semua posting

Jumat, 28 Oktober 2016

Cinta yang Tak Berujung pada Kebersamaan


"Yanti suka baca. Suka nulis juga enggak? Biasanya orang yang suka membaca juga suka menulis.” Suatu hari senior saya di satu organisasi menanyakan hal tersebut. Saya pun lantas menjawab.

"Suka membaca. Kalau menulis, hanya sebatas di buku harian. Walaupun saya ingin menjadi penulis."

Mendengar jawaban saya, beliau pun bertanya lagi. "Mau gabung di FLP?"

Hati saya membuncah mendengar pertanyaan tersebut. Saya pun langsung menyatakan berminat dan antusias sekali. Mungkin itu adalah jalan agar saya bisa menulis bagus seperti orang-orang hebat yang tergabung di FLP. Dengan bersemangat saya pun mengisi formulir untuk menjadi anggota FLP.

Selasa, 31 Mei 2016

Membangkitkan Semangat Membaca

            Beberapa waktu yang lalu, kita dikejutkan akan kabar betapa rendahnya minat baca orang Indonesia. Berdasarkan 61 negara yang memiliki daftar literatur, kedudukan Indonesia berada di nomor 60. (Republika, 2016) Namun, kita juga bisa melihat betapa tingginya antusias para pemburu buku saat sebuah event yang bernama Big Bad Wolf diadakan di salah satu kota di Indonesia. (Nulis salah satu kota karena ragu, Jakarta atau Tanggerang sih? Tanggerang kali, ya. Xixixi…)
Timbunan Buku Siapa Ini?
            Dari antusias para serigala pemburu buku itu, mengapa minat baca Indonesia masih tergolong rendah? Apakah itu hanya euphoria sesaat atau banyak dari kita yang hanya suka menimbun buku namun berdalih tidak punya waktu untuk membaca buku? Di bagian pertanyaan kedua, saya merasa ngomong sama diri sendiri. Hiks…

Selasa, 05 April 2016

Kado untuk Lelakiku

Sebagai seorang adik dari dua lelaki, seharusnya saya paham betul apa kado yang pas buat cowok. Harusnya, ya. Sayangnya... Saya dan kakak bukan tipe orang yang suka ngasih kado-kado gitu kalau saat momen ultah. Ngucapin pun tidak. Walaupun saya sadar betul ketika tanggal tersebut si kakak ultah.

Paling dulu kebiasaan kami waktu belum pada nikah, jika ada yang ultah cuma keluar makan bertiga. Itu pun tanpa ucapan, tanpa kue ultah, apalagi kado. Hahaha... Kami bertiga memang tidak romantis. Hihihi…

Saat zaman udah bisa masang status, paling lebay sih saya masang status 'Met Milad kakaaa...' Gitu doang. Itu juga tidak dia komen. Blasss... Dicuekin :p

Kamis, 24 Maret 2016

5 Jajanan Kaki Lima Favorit di Balikpapan

Terkadang pertemuan dengan seseorang terjadi karena sesuatu hal yang tak terduga. Begitu pula dengan tempat makan. Ada kalanya tak sengaja mampir ke satu tempat makan, eh, ternyata enak dan ketagihan buat berwisata kuliner ke sana lagi. Tak terkecuali untuk jajanan kaki lima. 

Karena ada giveaway tentang jajanan kaki lima favorit, maka saya pun mencoba menyebutkan lima jajanan kaki lima favorit di Balikpapan. 

1.      Es Cincau Mania

Pertemuan dengan jajanan kaki lima yang satu ini benar-benar tak sengaja. Pada suatu malam, selepas menghadiri acara keluarga, saya terserang kehausan akut. Maka, saya minta ke suami untuk mampir kalau ada orang jualan yang segar-segar. Dengan motor yang berjalan pelan, kemudian ujung mata saya menangkap ada yang jualan yang segar-segar dengan label ‘Es Cincau Mania’.

Minggu, 20 Maret 2016

[Cerita Anak] Cita dan Blog


“Aku sekarang punya blog.” Cita bercerita kepada teman-temannya sepulang sekolah.
            “Blog?” Niken bertanya.
Cita mengangguk membenarkan. Kemarin Cita dibuatkan bunda sebuah blog. Blog seperti punya bunda. Bunda sering menulis banyak hal di sana. Cita juga ingin seperti bunda.
“Blog itu bukan facebook?” Kali ini Anggit yang bertanya. Cita menggeleng.
“Beda. Blog lebih banyak tentang tulisan. Bisa masukin foto juga. Aku mau nulis banyak hal di sana,” seru Cita dengan semangat.
Cita ingin menulis tentang liburan ke pantai minggu lalu, bikin kue cubit bersama bunda, dan banyak lagi.
“Apa harus berteman buat baca tulisan kamu?” Tanya Sekar.
“Tidak perlu. Tinggal ketik alamat dan langsung bisa lihat blog aku. Tidak perlu berteman seperti facebook,” jelas Cita.
“Apa alamat blognya, Cita? Kalau seru, aku juga mau bikin.” Cita memberikan alamat blog pada teman-temannya.

Selasa, 01 Maret 2016

Tentang Impian Menerbitkan Buku

Mengapa betah menunggu satu tahun untuk dimuat di satu majalah?

Mengapa tak mengumpulkan saja cerpen-cerpen yang saya tulis kemudian dibukukan?
Dua pertanyaan itu beberapa waktu yang lalu dilontarkan seorang teman kepada saya, saat saya mengabarkan tentang cerpen saya yang dimuat di majalah dan ketika ada teman yang bertanya berapa lama masa menanti, saya menjawabnya satu tahun. Kedua pertanyaan tersebut memang sudah berlalu, namun untuk beberapa saat saya terus memikirkannya.

Saya bukan tak ingin menerbitkan sebuah buku. Sangat ingin malahan. Jauh sebelum saya mengenal menulis untuk media, saya sudah bermimpi untuk menulis naskah sebuah buku dan diterbitkan di sebuah penerbit mayor. Buku saya tersebar di seluruh toko buku besar di seantero Nusantara. Ah, bahagianya.
Kapan buku kamu ada di rak ini, Yan?

Senin, 29 Februari 2016

Kuliner Sebagai Bagian Budaya Nusantara

                Indonesia adalah negara yang luas, terbentang dari Sabang sampai Marauke. Negara seluas Indonesia tentu punya kekayaan budaya yang melimpah ruah. Jangankan antar pulau, antar kota yang masih dalam satu provinsi saja bisa mempunyai budaya yang berbeda.

                Pada saat Bali ditetapkan sebagai destinasi wisata kuliner, Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika mengatakan kalau salah satu aspek budaya adalah kuliner, di samping seni rupa, tari, dan suara. Kuliner adalah cerminan budaya, adat suatu bangsa yang ditandai bagaimana cara masak, apa bahan makanan, bagaimana cara makannya. (Sumber : Surabayaonline.co , 2016)

                Bicara tentang kuliner sebagai bagian dari budaya bangsa adalah pembicaraan yang tak habis-habis. Indonesia kaya akan beragam macam kuliner Nusantara. Sebut saja salah satunya soto. Soto yang ada di Indonesia tidak hanya satu jenis, tapi beragam jenis sesuai daerah masing-masing. Dari ibukota negara kita mengenal soto Betawi, dari tanah Jawa kita tahu ada soto Lamongan, dari Kalimantan Selatan tentu saja ada soto Banjar yang menjadi andalan kuliner Kalimantan Selatan.
Soto Banjar

Selasa, 09 Februari 2016

Bolos Dhuha Berjamaah



Bicara tentang masa putih abu-abu emang sesuatu ya. Segala kenangan menyeruak. Manis, pahit, asam, asin. Masa itulah di mana kita dengan riang gembira menyebut usia 15, 16, atau 17 tahun tanpa perlu menambahkan dalam hati plus sekian tahun :p

 Konon katanya, tidak afdhol masa itu dilewati kalau tidak nakal-nakal meski sedikit #ups #JanganDitiruAnakMuda. Kenakalan itu tak terkecuali dilakukan oleh saya yang katanya dari tampang tidak bakalan macam-macam #benerinMukena :p

 Shalat Dhuha. Kapan teman-teman mengenal ibadah sunnah itu? Dari SD? Wow.. Alhamdulillah yah. Kalau saya mengenalnya saat masih berseragam putih - abu-abu. Pada saat itulah shalat dhuha menjadi kegiatan di sekolah saya, salah satu Madrasah Aliyah Negeri di kota saya. Tidak setiap hari, bergantian per dua kelas setiap hari tapi itu pun sudah cukup membuat saya merasa terbebani. Ihiks... Ampuni Hamba Ya Allah...

Selasa, 02 Februari 2016

Lima Barang Impian di Awal Tahun

Belanja online sudah merupakan sesuatu hal yang sulit dipisahkan dari kehidupan di era sekarang ini. Kita hanya perlu menengok layar ponsel atau laptop, klik klik, mengambil ponsel atau laptop buat sms atau internet banking, dan kemudian barang sampai ke rumah setelah melalui proses pengiriman.

Salah satu 'mall online' itu bernama Lazada. Saat saya berselancar di akun Facebook, saya kerap melihat item yang dijual di Lazada yang bikin saya berujar dalam hati 'Eh, bagus ya.', 'Wow, cakep.' dan gumaman dalam hati yang lainnya.

Ada banyak item yang saya inginkan di Lazada. Tapi kalau disuruh memilih lima, saya akan memilih lima barang ini :

Senin, 28 Desember 2015

Psikologi, Cinta, dan Obsesi dalam Bulan Nararya

Cover Bulan Nararya


Latar belakang profesi merupakan salah satu hal yang bisa menjadi kekuatan sebuah novel. Apalagi jika profesi tokoh dalam novel tersebut menyatu dalam cerita. Saling dukung antara cerita yang berjalan, karakter tokoh-tokoh di dalamnya, juga profesi yang ditekuninya. Pembaca pun tidak hanya mendapatkan jalinan cerita demi cerita, tapi ilmu pengetahuan baru yang akan menambah wawasan.

Nararya atau yang biasa dipanggil Rara adalah seorang terapis dengan latar belakang pendidikan ilmu psikologi di sebuah mental health center di kota Surabaya. Suatu hari Nararya membuat terkejut pimpinannya di tempat ia bekerja karena ia menghentikan pengobatan agar para pasien tidak akan pernah relapse atau tak akan pernah tergantung pada apa pun.

Jumat, 18 Desember 2015

Menyusuri Jejak Dewi Rengganis dalam Cerita Pendakian

Rengganis - Azzura Dayana

Perjalanan selalu membuahkan banyak cerita. Tentang hal-hal yang ditemui sepanjang jalan atau tentang teman yang menyertai kita dalam perjalanan tersebut. Terlebih jika perjalanan yang ditempuh melalui medan yang tak biasa. Alam yang masih jarang disentuh oleh manusia, tumbuhan yang tumbuh alami di hutan, hewan liar yang masih banyak berkeliaran, juga alam gaib yang tak bisa kita sangkal keberadaannya. Hal itulah yang dialami oleh delapan anak manusia dalam perjalanan mereka menjelajahi Argopuro. Sebuah kawasan yang menyimpan misteri tentang puteri Majapahit bernama Dewi Rengganis. 

Perjalanan lima pemuda (Dimas, Dewo, Fathur, Rafli, dan Acil) dan tiga pemudi (Ajeng, Nisa, dan Sonia) dimulai dari Terminal Bungurasih Surabaya yang menjadi titik pertemuan mereka. Dari situlah mereka bertolak menuju Probolinggu dan kemudian menuju Baderan, titik awal pendakian mereka. Perjalanan awal para pendaki itu sudah penuh dengan tantangan. Mereka dihadang oleh ribuan pacet, cacing dan ulat sebelum pemberhentian pertama di satu tempat yang bernama Mata Air Pertama.

Senin, 30 November 2015

Noaki Neomarica dan Saya

Ketika ditanyakan tokoh siapakah saya dalam karya fiksi di mana karya itu bisa dibeli di toko buku Gramedia, maka saya tak ragu untuk mengatakan kalau saya adalah Noaki Neomarica. Tak masalah jika Noaki sekarang masih berusia 11 tahun. Toh, nantinya dia akan menjadi dewasa juga. Iya kan, Mbak Ary? (Menyapa penulisnya Ary Nilandari).
Bio Noaki. Sumber : https://www.facebook.com/NoaKeo/

Ketika membaca kalau Noaki bisa berubah dari manis menjadi ketus, seketika itulah saya merasa saya punya kemiripan dengan Noaki. Seb, sahabat Noaki, kemudian memberitahu tentang nama sikap Noaki ini. Noa itu moody (bahasa Inggris) atau Lunatique (bahasa Prancis) yang artinya mudah berubah-ubah suasana hati, terutama murung, merajuk, dan marah. Ah... Seperti itulah saya.

Sabtu, 21 November 2015

[Cerpen] Sebuah Keputusan

Sebuah Keputusan
Oleh : Hairi Yanti

“Minggu depan aku kembali ke Balikpapan.” Killa mengamati reaksi Ardi yang duduk di depannya. Ardi terlihat berhenti mengunyah, memandangnya sekilas kemudian kembali melanjutkan makannya. 

 “Kapan resign?” Ardi bertanya tanpa memandang Killa. Sementara piring di depan Killa sudah bersih. Killa sudah menghabiskan makanannya sebelum Ardi datang. Ardi terlambat datang ke tempat mereka berjanji untuk makan siang bersama dengan alasan klasik untuk penduduk kota ini : macet. Itu pun Killa sudah sangat bersyukur, mereka bisa bertemu di tengah kepungan pekerjaan yang padat setiap harinya. 

“Lusa hari terakhirku di kantor.” Killa menjawab. Pemberitahuan resign sudah dia layangkan sebulan yang lalu. Sesuai ketentuan dari tempat perusahaan dia bekerja. Setiap karyawan yang resign harus memberitahu satu bulan sebelumnya. Agar pekerjaan bisa dialihkan ke penggantinya tanpa menganggu deadline pekerjaan yang ada. 

Kamis, 19 November 2015

Go, Keo! No, Noaki! yang Memesona

Kesenangan saya membaca cerita-cerita bergenre anak-anak dimulai baru beberapa waktu belakangan ini. Saat saya ingin mencoba menulis cerita anak. Saya mulai membaca majalah anak-anak, membaca buku-buku anak, dan juga novel anak. Kemudian saya bertemu dengan serial Go, Keo! No, Noaki!. Serial anak-anak yang membuat saya terpesona dan terkesima. Saya yang tak bisa dibilang anak-anak lagi menyukai dengan sangat serial tersebut. 

Go, Keo! No, Noaki! (GKNN) adalah serial yang ditulis oleh Mbak Ary Nilandari dan diterbitkan oleh Penerbit Kiddo di tahun 2015 ini. Sampai saat ini sudah sampai seri keempat. Para penggemarnya berharap serial itu terus berlanjut hingga mereka dewasa sampai akhirnya Keo dan Noaki menikah. Penggemar yang mana? Saya! #tunjukdirisendiri
empat seri Go, Keo! No, Noaki!

Gamis Untuk Resepsi Pernikahan

Semenjak mulai rutin mengenakan gamis sekitar dua atau tiga tahun yang lalu, saya sudah tak melirik pakaian jenis lain (Untuk dipakai di luar rumah. Kalau di dalam rumah bisa apa saja ^^). Sesekali saya memang masih memakai rok dan atasan, tapi tidak pernah lagi membeli yang baru. Setiap ada kesempatan membeli pakaian baru untuk pakaian keluar rumah yang saya pikirkan hanya gamis, gamis, dan gamis. Bukan rok atau atasan lagi seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ketika ada rencana pernikahan anggota keluarga juga begitu. Yang ada dalam pikiran saya adalah saya akan memakai gamis di acara pernikahan tersebut. Beruntunglah sekarang mulai marak penggunaan gamis dalam event apa pun, jadi inspirasi gamis untuk acara seperti resepsi pernikahan sudah semakin banyak.

Rabu, 11 November 2015

Dari November ke November

Beberapa hari yang lalu, saya dan seorang teman bercakap tentang proses menulis yang sering mandek. Ide seolah menyangkut di kolong langit, enggan untuk turun ke bumi. Tapi ranah kepenulisan seolah tak bisa menunggu kita mendapat ide. Mereka akan terus bergulir diisi nama-nama yang bukan kita. Kalau tidak menulis dan mengirimkannya ke media, bagaimana bisa dimuat?

"Ayo, Hai. Mumpung mulai musim hujan. Kita menulis lagi." Begitu kata si teman.

Saya pun berkata. “AHA!”

Benar sekali, musim hujan tiba, ide pun bersileweran. Di tengah deras hujan yang mengetuk jendela, inspirasi menyusup. Menulis di kala hujan seolah ditemani oleh irama paling indah sedunia. Saatnya mencatat beragam ide dan mengeksekusinya menjadi tulisan.

Sabtu, 31 Oktober 2015

Gramedia, Tempat Segala Cerita Berada

Gramedia bagiku adalah tempat banyak cerita berada. Tak hanya ratusan, mungkin ribuan atau jutaan dari buku-buku dan majalah yang silih berganti datang dan tersedia di sana. Cerita-cerita itu menemani, menginspirasi, meningatkan, juga bisa menyentak kenangan. Mengantarkanku pada kecipak kejadian di waktu lampau.

Gramedia bagiku adalah tenpat mereguk pengetahuan. Menemukan buku-buku yang menambah wawasan. Tentang kesehatan, masakan, juga perdagangan. Tempat aku menemukan banyak pelajaran lewat beragam bacaan yang tersedia di sana.

Gramedia bagiku adalah tempat menunggu tanpa membosankan. Jika kau sering mendengar menunggu adalah hal yang paling membosankan, maka tunggulah di Gramedia. Saat kau menunggu di sana, kau akan bisa bercengkrama dengan buku-buku yang tersusun di sana. Satu, dua atau tiga akan kubawa pulang. Melanjutkan cengkrama di rumah tersayang.

Awal yang Baru Mengirim Resensi ke Media

Mengulas sebuah buku adalah kesenangan saya sejak dulu, sejak saya menggandrungi yang namanya membaca. Setelah membaca buku rasanya otak saya ini penuh sekali, ada banyak hal yang ingin saya keluarkan atau ceritakan. Salah satu cara bercerita saya akan buku tersebut dengan menulis ulasan, review, atau resensinya di blog. Blog saya pun penuh dengan cerita tentang buku, buku, dan buku. 

Sekitar tahun 2013, saya mendapati beberapa teman saya mengabarkan tentang resensi mereka yang dimuat di media. Oh... Saya melongo. Takjub sebentar. Ternyata peluang menulis di media tidak hanya selalu berbentuk cerpen atau opini. Ulasan tentang buku juga bisa tampil di media cetak.

Kendala muncul saat membaca resensi teman-teman yang dimuat di media saya merasa... Oh.. Ini bukan saya banget. Kenapa? Saya terbiasa bebas dan lepas saat meresensi. Menuangkan semua yang ada di pikiran saya. Saat itu saya tidak mau tunduk dengan aturan yang harus saya patuhi saat meresensi yang ditujukan untuk media.

Selasa, 23 April 2013

Si Pecinta Pragmatis

"Botol minumnya taruh di sini aja," saya menunjuk ke arah samping tempat tidur rumah sakit yang saya tempati. "Biar gampang diambil. Ga perlu bangunin pian kalau mau minum," kata saya lagi.

Saat itu saya memang sedang terbaring di RS, pasca operasi. HB saya drop di bawah normal, saya butuh ditransfusi untuk mengkondisikan HB saya ke angka normal. Dua kantong darah sudah didapatkan, tapi kondisi badan saya yang demam membuat saya tidak bisa ditransfusi.
Perawat menyibak selimut tebal yang tadi melingkupi tubuh saya. Selimut tebal hanya akan membuat tubuh saya bergumul dengan rasa panas, hingga demam akan semakin betah. Maka saya hanya diizinkan memakai selimut tipis untuk menutupi tubuh saya yang masih berasa tak nyaman. Perawat juga meminta saya banyak-banyak minum air putih, suami yang selalu membantu saya minum.

Tak ingin merepotkan suami, saya lantas meminta agar botol air minumnya ditaruh saja di atas tempat tidur saya. Agar saya bisa meraihnya tanpa perlu membangunkan suami jika ingin minum. Terlebih, saat itu sudah larut malam, saya tau suami saya juga lelah luar biasa menghadapi hari yang tak biasa itu untuk kami. Saya ingin dia bisa beristirahat dan tak terganggu dengan permintaan saya untuk minum.

Jumat, 19 April 2013

Catatan Hati Anggota Baru di BaW

http://bawindonesia.blogspot.com/2013/03/give-away-baw-20-maret-20-april-2013.html


Salah satu hal yang agar kita bisa terus menulis, tetaplah berada dalam atmosfer menulis. Ah, saya lupa kalimat pasnya yang disampaikan mbak Asma Nadia dalam beberapa kali status dan tweet beliau. Tapi begitulah kira-kira ya. Kalau kita mau konsisten menulis, salah satunya kita harus berada dalam atmosfer menulis. Bisa dibilang bagaimana agar lingkungan kita mendukung, apa yang kita temui sehari-hari bisa menjadi salah satu pemicu untuk tetap menulis.

Hal-hal yang kemudian bisa membuat kita selalu dalam atmosfer menulis, menurut pendapat saya adalah berteman dengan teman-teman sehobby, berteman atau follow para penulis yang kerap membicarakan soal kepenulisan atau bincang tentang karya mereka. Cara yang lain bisa juga dengan bergabung di grup kepenulisan di facebook. Saya sendiri bergabung dengan beberapa grup, salah satunya Be a Writer atau yang biasa disingkat BaW.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...