Tampilkan posting dengan label kuliner banjar. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label kuliner banjar. Tampilkan semua posting

Jumat, 11 November 2016

Mengenal Kuliner Banjar dalam Acara Kelana Rasa

   
Apa yang menjadi makanan favorit kita? Sebagian mungkin akan menjawab makanan dari kampung halaman. Hal itu bisa disebabkan karena lidah kita terbiasa dengan masakan tersebut atau merupakan masakan ibu yang dimasak dengan penuh cinta.

            Jum’at, minggu kemarin suami mengirimkan pesan ke saya. Beliau mengabarkan kalau di Trans TV dalam acara Kelana Rasa menayangkan tentang kuliner di Banjarmasin.

            “Ada mie bancir,” kata suami lagi lewat BBM.

Jumat, 21 Oktober 2016

Pakasam, Kelezatan yang Tak Pernah Usang


            Beberapa waktu ini, entah mengapa saya merasa kalau pakasam sedang naik daun. Beberapa orang mem-posting olahannya di media sosial, beberapa yang lain menjualnya dan laris diserbu para pembeli.

Layaknya makanan kampung lainnya, pakasam adalah kelezatan yang tak pernah usang. Mereka yang lama tak menyantap merindukannya, mereka yang bisa dengan mudah menikmati tak pernah bosan untuk menyajikannya di meja makan.
pakasam Barabai

Sabtu, 03 September 2016

Kuliner yang Dirindukan di Banjarbaru

            Terkadang ada hal-hal kecil yang terjadi atau yang kita rasakan kemudian membangkitkan kenangan. Seperti kejadian tadi pagi, saya menikmati sarapan dengan seporsi nasi campur. Nasi campur berupa nasi dengan ayam goreng tepung, mie goreng, dan oseng-oseng tempe dan tahu. Saya pun berujar ke suami, “Jadi ingat makan siang yang biasa saya nikmati waktu kuliah dulu.”

            Yup, yang namanya nasi campur identik dengan anak kost yee. Tinggal beli ke warung dan menikmatinya buat mengganjal perut. Dulu, langganan saya ada di dekat kost dengan variasi menu yang sama dengan yang saya nikmati tadi pagi. Ayam goreng tepung, mie goreng plus oseng-oseng tahu tempe. Ditambahin sambal pedas dan kecap yang dibaluri di ayam goreng, wuuuiiiih… nikmat deh. Biasanya menu itu saya nikmati saat makan siang, beli makan siang sepulang dari kampus dan memakannya di tempat atau dibungkus kalau masih merasa agak kenyang.

Kamis, 04 Agustus 2016

7 Bahan Makanan yang Dibawa ke Perantauan

         
Kampung halaman biasanya punya arti special buat kita. Jika merantau, apa yang di kampung halaman kerap dirindukan. Saya pun begitu, walaupun merantaunya hanya melompat dikit ke provinsi tetangga. Saya berasal dari Kalimantan Selatan, setelah menikah mengikuti suami ke Kalimantan Timur.

            Walau hanya dari Selatan ke Timur dan masih di pulau yang sama, namun, ada beberapa hal yang sangat saya sukai di kampung halaman saya tapi tidak saya temukan di perantauan. Karena itulah kesempatan mudik biasanya saya sempatkan untuk mencicipi hal-hal yang tidak saya temui itu. Dan tak lupa, ketika pulang balik ke Kaltim membawa serta segala hal-hal itu ke Kaltim.

            Berikut adalah beberapa bahan makanan yang sering saya bawa pulang ke Kaltim. Bukan buat oleh-oleh juga, tapi buat simpanan dan makanan sendiri aja.

Kamis, 14 Juli 2016

Soto Banjar Favorit


Ada beragam jenis soto di Indonesia, namun sebagai urang Banjar maka favorit saya adalah soto Banjar. Buat saya, soto Banjar adalah soto terenak dibanding soto-soto lainnya di Indonesia. Ada syarat-syarat tertentu sebuah soto Banjar menjadi sempurna di lidah saya. Seperti :

1.      Kuahnya  terbuat dari ayam kampung.

Yup. Bahan dari soto Banjar adalah kuah kaldu ayam atau yang biasa dibilang sup ayam. Maka, ayam kampung adalah pilihan yang paling tepat untuk kelezatan sepiring soto Banjar. Saya enggak bisa menjabarkan perbedaan rasanya di mana, tapi ayam kampung lebih lezat daripada ayam broiler atau ayam pedaging.

Di Barabai, kampung halaman saya ada yang menjual ayam kampung sudah dipotong dan sudah bersih. Sementara di perantauan ini tidak ada yang jual ayam kampung seperti itu. Ada yang jual ayam kampung tapi sembelih sendiri dan bersihin sendiri. Mikirin aja udah malas, apalagi ngerjainnya.

Sabtu, 09 Juli 2016

Kue Lam, Sajian Manis di Hari nan Fitri


Masih dalam suasana lebaran, dengan ini saya mengucapkan :

Selamat Idul Fitri 1437 H.
Taqabbalallahu Minna wa Minkum Shiyamana wa Shiyamakum.

Mohon maaf lahir dan batin untuk segala kesalahan yang disengaja atau pun tidak.
Untuk postingan atau komentar yang tak berkenan di hati. Untuk komentar yang belum terbalas. Untuk yang kasih komen tapi belum sempat di BW balik. Untuk komentar yang mengandung link hidup namun tak saya moderasi. Maaf lahir batin yaaa….

Lebaran memang identik dengan banyak hal. Selain ucapan selamat dan maaf-maafan, juga mudik dan nyekar ke makam, lebaran juga biasanya penuh dengan aneka hidangan. Baik itu kue kering, ketupat dan opor ayam, atau aneka kue basah yang menjadi suguhan sajian di hari raya.

Rabu, 08 Juni 2016

[Kuliner Banjar] Masak Asam Talang atau Telang Asam Manis

            Masak Asam Talang atau Telang Asam Manis adalah jenis makanan yang popular di Kalimantan Selatan. Makanan ini juga termasuk makanan penggagal diet buat para penggemarnya.

            Minggu kemarin, saat kakak ipar menelpon saya dan saya memberitahu kalau akan pulang ke Kalimantan Timur di hari pertama Ramadan, beliau bertanya, apa yang ingin saya bawa buat pulang? Saya langsung menjawab, tidak ingin apa-apa, pada dasarnya karena tidak ingin merepotkan.

            “Tidak ingin bawa Masak Asam Talang?” Tanya kakak ipar lagi memastikan. Mendengarnya langsung saja lidah saya berkata “Ya. Mauuu…” Mendengar masakan favorit saya yang saya itu, kontan saja lidah saya mengkhianati niatan tulus tidak ingin merepotkan yang tadinya meraja dalam pikiran saya.
Masak Asam Talang / Telang Asam Manis
            Seperti namanya, Masak Asam Talang atau Telang Asam Manis terbuat dari ikan asin telang. Ada yang menyebut ikan asin talang adalah nama lain dari tenggiri, walaupun saya tidak yakin mereka berdua berasal dari jenis yang sama.

Kamis, 02 Juni 2016

[Kuliner Banjar] Gangan Daun Labu

Saya menyebut gangan, pada setiap sayur berkuah di daerah saya. Bahkan, pada makanan apa saja yang berkuah, mama saya juga menyebut gangan. Gangan sup ketika menyebut sup ayam. Sayur bening disebut gangan sayur bening.

Ada banyak sekali jenis gangan yang menjadi kekayaan kuliner Kalimantan Selatan. Ada gangan pisang, gangan humbut, gangan keladi, gangan nangka, bahkan mandai pun bisa dibikin gangan. Gangan adalah menu pelengkap masakan Banjar, bisa disajikan dengan iwak babanam (ikan bakar) atau iwak basanga (ikan goreng). Bagaimana dengan iwak bapais (ikan yang dipepes)? Tentu saja juga bisa.
Paisan Patin, enak disantap dengan gangan

Minggu, 22 Mei 2016

Menjodohkan Dua Makanan


Pernah tidak makan dua jenis makanan yang berbeda dan mereka cocok jika disatukan? Misalkan makan nasi goreng dengan bakso kuah. Atau rendang dengan rawon? Hihihihi... Kali ini saya mau cerita tentang sup ayam dan ayam masak habang.

Sup ayam adalah ayam yang dididihkan dalam air, kemudian muncul kaldu ayam. Dikasih bumbu-bumbu untuk mempercetarkan rasa. Bisa dikasih sayuran juga seperti wortel dan kentang di dalamnya. Jangan lupa dengan taburan bawang merah dan putih goreng, seledri juga daun bawang.

Kamis, 05 Mei 2016

[Wiskul Banjarbaru] Sruput on de Road

            Sewaktu Cinta dan Rangga melanjutkan ‘petualangan bersama mantan’ di satu tempat bernama Klinik Kopi, saya langsung ingat dengan Sruput on de Road, tempat nongkrong kekinian yang pernah saya dan suami datangi di Banjarbaru. Mungkin deretan toples kopi dan penjelasan owner-nya tentang kopi yang membuat saya langsung teringat pada Sruput on de Road.

            Sruput on de Road terletak di Banjarbaru, di jalanan depan kampus UNLAM, eh, sekarang namanya ULM ya? Universitas Lambung Mangkurat buat yang belum tahu apa itu UNLAM atau ULM. Jadi, dekat pintu gerbang pertama atau pintu gerbang ke Fakultas Pertanian gitu, ada deretan penjual makanan, salah satunya Sruput on de Road ini.

            Rombong tempat deretan toples kopi dipajang ada di depannya. Buat menikmati makanan kita bisa memilih duduk di lesehan atau duduk di rombong itu. Saya memilih duduk di depan rombong jadi bisa melihat aktifitas penyajian kopi.

Minggu, 27 Maret 2016

[Cerpen Bobo] Mandai, si Kulit Cempedak

Cerpen ‘Mandai, si Kulit Cempedak’ saya tulis sekitar bulan Januari atau Februari tahun kemarin. Saat itu, di daerah saya sedang musim cempedak. Kemudian cerpen ini dimuat setahun kemudian pada bulan Februari juga. Tepat di saat musim buah cempedak kembali hadir ke bumi.
Mandai, si Kulit Cempedak
            Cerpen ini sendiri hadir karena membaca tips di Klinik Cerita di Majalah Bobo. Tipsnya berbunyi : "Untuk membuat cerita yang tak biasa, cobalah untuk berpikir sebagai seorang pembaca. Jangan hanya berperan sebagai penulis saja. Cerita tentang lingkunganmu mungkin akan kau anggap biasa-biasa saja. Misalnya, kalau kamu tinggal di Jakarta, cerita tentang kerak telor mungkin tidak menarik lagi. Tetapi, bagi pembacamu yang berasal dari luar Jakarta, cerita kerak telor bisa menjadi hal yang baru dan menarik. Selain cerita yang bertema kedaerahan, cerita tentang kebiasaan-kebiasaan unikmu bersama teman-teman dan keluarga juga bisa menjadi unik dan menarik."

            Dari tips itu saya kemudian mencari hal-hal yang unik di daerah saya sendiri. Salah satunya ya mandai. Cerita tentang mandai pernah saya ceritakan di sini.

Kamis, 17 Maret 2016

Menikmati Pagi di Pasar Terapung Lok Baintan

Pasar Terapung
Pasar terapung merupakan objek wisata yang terkenal dari Kalimantan Selatan. Banyaknya sungai yang mengalir di wilayah itu menjadikan sungai merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakatnya. Karena itulah aktivitas jual beli pun dilakukan dari atas sungai, dengan mendayung jukung (sampan kecil) mereka menjajakan dagangannya. Keunikan pasar terapung ini pun kemudian menarik banyak minat para wisatawan untuk melihat secara langsung pasar yang berada di atas air alias terapung.

            Perjalanan ke pasar terapung di mulai ketika adzan subuh belum berkumandang. Mobil yang saya tumpangi sudah melaju membelah jalanan Banjarbaru menuju Banjarmasin. Ketika adzan menggema, saya dan rombongan pun mampir ke mesjid terdekat untuk shalat subuh. Setelah menunaikan kewajiban, perjalanan kembali dilanjutkan.

Senin, 29 Februari 2016

Kuliner Sebagai Bagian Budaya Nusantara

                Indonesia adalah negara yang luas, terbentang dari Sabang sampai Marauke. Negara seluas Indonesia tentu punya kekayaan budaya yang melimpah ruah. Jangankan antar pulau, antar kota yang masih dalam satu provinsi saja bisa mempunyai budaya yang berbeda.

                Pada saat Bali ditetapkan sebagai destinasi wisata kuliner, Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika mengatakan kalau salah satu aspek budaya adalah kuliner, di samping seni rupa, tari, dan suara. Kuliner adalah cerminan budaya, adat suatu bangsa yang ditandai bagaimana cara masak, apa bahan makanan, bagaimana cara makannya. (Sumber : Surabayaonline.co , 2016)

                Bicara tentang kuliner sebagai bagian dari budaya bangsa adalah pembicaraan yang tak habis-habis. Indonesia kaya akan beragam macam kuliner Nusantara. Sebut saja salah satunya soto. Soto yang ada di Indonesia tidak hanya satu jenis, tapi beragam jenis sesuai daerah masing-masing. Dari ibukota negara kita mengenal soto Betawi, dari tanah Jawa kita tahu ada soto Lamongan, dari Kalimantan Selatan tentu saja ada soto Banjar yang menjadi andalan kuliner Kalimantan Selatan.
Soto Banjar

Kamis, 25 Februari 2016

Tentang Mandai, si Kulit Cempedak

Ada yang belum tahu buah cempedak? Buah cempedak ini bukan buah nangka. Tapi dari segi kekerabatan tentu saja cempedak lebih dekat dengan nangka dibanding dengan mangga. Dari berbalas pantun eh komen dengan Mbak Maharani Aulia, saya menemukan fakta kalau cempedak ini satu genus dengan nangka. Genus (jamak genera) atau marga adalah salah satu bentuk pengelompokan dalam klasifikasi makhluk hidup yang lebih rendah dari familia (Sumber Wikipedia).
cempedak atau tiwadak
Saya pun perlu googling dulu buat mengingat pelajaran zaman biologi dulu. Hahaha... Cempedak dan Nangka sama-sama genus Artocarpus. Cempedak punya nama Artocarpus integer, sedangkan nangka punya nama Artocarpus heterophyllus.

Jumat, 19 Februari 2016

[Kuliner Banjar] Iwakaring by Agus Sasirangan


Makanan ala rumahan memang kerap dirindukan karena rumah emang ngenganin, kan? Saya masih ingat saat menemani suami dinas di ibukota selama 10 hari lebih. Menginap di hotel dan makan ala makanan hotel setiap hari. Rasanya bosan sekali.

Saya kangen masakan rumahan. Untunglah tak jauh dari hotel tempat saya menginap ada warung tegal. Jadi, saya beli makan di sana untuk sedikit mengobati kangen terhadap masakan rumahan. Menikmati oseng-oseng tempe dan perkedel jagung rasanya nikmat sekali.

Pesona masakan rumahan itulah yang dibaca peluangnya oleh Agus Sasirangan. Ia menjadikan bisnis tempat makan miliknya sensasi seperti makan di rumah. Oleh karena itu, tampilan makannya pun ala-ala kita makan di rumah. Tidak ada penyajian atau penataan hidangan ala hotel atau resto mewah, semuanya sederhana dan bersahaja seperti makan di rumah. Tagline tempat makan ini pun berbunyi : Rasakan Sensasi Seperti Makan di Rumah dengan menu Aneka Macam Masakan Khas Banjar.

Jumat, 15 Januari 2016

Malam Minggu di Kota Kandangan

Kandangan adalah salah satu kota di Provinsi Kalimantan Selatan. Bertetangga dengan kota Barabai tempat saya tinggal. Jaraknya hanya sekitar 30 km. Waktu tempuh kira-kira 30 menit dengan kecepatan sedang. Walau jaraknya dekat, saya baru menyadari kalau saya nyaris tak pernah ke Kandangan hanya sekadar jalan-jalan. 

Mengunjungi kota Kandangan tentu pernah. Ada adik dan kakak mama saya yang berdomisili di sana. Setiap ke Banjarbaru atau Banjarmasin pun akan selalu melewati kota tersebut. Namun hanya sekadar lewat. Kalau pun ke Kandangan selalu ada acara yang ingin dihadiri. Sekadar jalan-jalan? Oh itu jarang terjadi. Tapi kemudian terjadi di malam minggu kemarin. 

Awalnya saya, kakak ipar, dan tante yang berencana ingin pergi ke Kandangan. Tapi tak mendapatkan izin dari om saya. Akhirnya pergilah kami bersama om dan kakak di malam minggu. 

Selasa, 17 November 2015

[Kuliner Banjar] Ipau Siram

Sebelumnya saya sudah pernah menulis tentang kuliner khas Banjar yang bernama Ipau di blog saya yang satunya. Penganan yang disebut pizza di daerah saya tapi lebih mirip lasagna bentuknya. 

Berlapis-lapis

Disebut pizza mungkin karena bentuknya yang bundar dan ada taburan daging di atasnya atau memakai toping. Disebut mirip lasagna karena berlapis-lapis dan ada taburan daging di tiap lapisnya. 

Ipau yang disebut Pizza

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...