Tampilkan posting dengan label resensi. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label resensi. Tampilkan semua posting

Selasa, 03 Januari 2017

Karya Pertama di 2017

            Alhamdulillah, tepat di tanggal 1 Januari 2017 kemarin, ada resensi saya yang dimuat di Tribun Kaltim. Resensi untuk buku Teman Baru Jung Yun yang ditulis oleh Ungu Lianza dan diterbitkan oleh Lintang Indiva. Ini karya pembuka di 2017, semoga diiringi karya-karya lainnya. Aamiin…

            Sebenarnya selepas membaca Teman Baru Jung Yun ini saya agak ngedumel dengan tokohnya yang Fahri banget. Itu loh Fahri di Ayat-ayat Cinta yang sempurna sekali. Alim iya, pintar iya, baik hati juga. Intinya segala kesempurnaan ada padanya. Hal ini kemudian saya sampaikan ke teman-teman. Dan tanggapan teman-teman cukup membuat saya terpana.
Teman Baru Jung Yun

Jumat, 30 Desember 2016

Menelusuri Sungai Kehidupan Sri Ningsih dalam Novel Tentang Kamu

Resensi Novel Tentang Kamu

“Ada banyak hal-hal hebat yang tampil sederhana. Bahkan sejatinya, banyak momen berharga dalam hidup datang dari hal-hal kecil yang luput kita perhatikan, karena kita terlalu sibuk mengurus sebaliknya.” (Hal 257)

Di balik pribadi seseorang yang sederhana dan bersahaja, bisa jadi tersimpan kisah hidup yang luar biasa juga kekayaan yang mencengangkan. Seperti yang ada pada seorang wanita penghuni panti Jompo di Paris yang bernama Sri Ningsih, tokoh dalam novel Tentang Kamu karya Tere Liye. Saat Sri Ningsih wafat, sebuah kantor firma hukum di Inggris mendapatkan tugas baru untuk menyelesaikan amanat Sri Ningsih yaitu mengurus harta warisannya.

Ada satu hal yang membuat karyawan di firma hukum yang mengurus tentang harta warisan tercengang yaitu kekayaan yang diwariskan Sri Ningsih bukan hanya seratus atau dua ratus juta. Tapi mencapai angka 19 triliun rupiah. Sebuah tanda tanya besar pun muncul, mengapa seorang penghuni panti jompo bisa memiliki kekayaan sebesar itu? Dan siapa ahli warisnya? Karena tak ada catatan sama sekali ia memiliki keluarga.

Minggu, 25 Desember 2016

Resensi Sabtu Bersama Bapak

Hai… hai…. Akhir tahun banyak film baru diputar di TV. Sekarang saya sedang menyaksikan film Sabtu Bersama Bapak. Kemudian ada teman nanya tentang ceritanya dan saya lupa. Hahaha…. Ingatnya sih garis besar cerita saja. Untunglah ada resensi yang membuat apa yang terlupa bisa teringat lagi.

            Novel Sabtu Bersama Bapak sudah saya baca pada tahun 2014. Resensinya saya kirim ke Tribun Kaltim dan dimuat di sana pada tanggal 12 Oktober 2014. Ternyata resensinya belum saya posting di blog ini. Ya udah deh, mumpung lagi ingat saya posting saja. Happy Reading ^_^
Resensi Sabtu Bersama Bapak di Tribun Kaltim
Judul diubah redaksi dari yang saya kirim

***

Rabu, 21 Desember 2016

Keo & Noaki 6 : Layang-layang Hati

            Di mana kesabaran saat kamu sedang membutuhkannya?

            Kalimat pembuka di bab awal buku keenam Keo & Noaki 6. FYI, Keo dan Noaki adalah serial yang saya sukanya kebangetan. Sampai ada label khusus di blog ini untuk postingan-postingan tentang serial yang ditulis Mbak Ary Nilandari itu. Bisa di klik di sini.

            Seperti biasa, pada buku keenam bercerita dari sudut pandang Noaki. Buku seri genap selalu menjadi favorit saya karena saya merasa Noaki itu saya banget. Antara saya dan Noaki banyak sekali kemiripannya. *ngaku-ngaku. Hihihi….
            (Baca juga : NoakiNeomarica dan Saya)

            Noaki bimbang dan galau. Ia harus menyelesaikan lukisan yang dipesan Kak Rumi, juga bimbang karena belum meminta izin orangtuanya untuk ikut perkemahan RBR (Remaja Bina Remaja). Buat sebagian anak lain, mungkin mudah saja meminta izin untuk ikut kegiatan, tapi Noaki berbeda. Ia pun selalu menunda untuk berbicara dengan kedua orangtuanya. Masalah tambah rumit saat lukisan yang tengah ia kerjakan ternoda oleh tumpahan air. Arrrghhh… Noaki blingsatan…

Selasa, 08 November 2016

Cinta dalam Segala Musim



            Minggu, 6 November 2016 kemarin ada satu resensi saya yang dimuat di Tribun Kaltim. Berbeda dengan beberapa resensi sebelumnya yang dimuat dalam waktu singkat, untuk resensi kali ini saya menanti cukup lama. Sekitar tiga pekan. Padahal biasanya, langsung dimuat. Malahan pernah saya kirim hari Sabtu, esok harinya di hari minggu sudah dimuat. 
Resensi Cinta Segala Musim
            Sempat berpikir kalau resensi ini belum layak muat. Ketika curhat ke suami, seperti biasa dia akan bilang “Nulis lagi.” Hehehe…. Oya, ini resensi untuk novel Cinta Segala Musim. Judul diubah oleh redaksi yang awalnya ‘Menyingkap Makna dalam Ujian’ menjadi ‘Cinta dalam Segala Musim’. Secara garis besar, novel ini bercerita tentang kehidupan suami istri, Rae dan Rampak. 

Kamis, 20 Oktober 2016

Cerita Putri Mahkota dari Tanah Sunda

            Saya menonton drama Korea berlatar sejarah yang lagi nge-hits itu. Akibatnya saya jadi mencari tahu tentang Sejarah Kerajaan Goryeo di Korea sana. Kemudian ngebayangin,  coba gitu ya kalau sejarah negeri sendiri dikemas dengan apik layaknya drama Korea. Jadi, kita bisa mengetahui plus mempelajari sejarah dengan cara yang menyenangkan.

            Ngomong-ngomong tentang sejarah, saya memang penyuka yang namanya sejarah. Jadi, ingat dengan salah satu novel yang juga dikemas dengan apik dan mengambil tema sejarah yaitu Perang Bubat. Perang Bubat terjadi saat sekeluarga penguasa Tanah Sunda dibantai pasukan Gajah Mada.

            Judul novelnya Citra Rashmi karya Tasaro GK. Novelnya sih dibilang dwilogi, tapi baru satu buku yang terbit. Buku keduanya kapan terbit? Entahlah, saya sampai menyerah untuk bertanya. Hehehe… Resensi saya untuk buku ini pernah dimuat di Koran Jakarta pada bulan Februari 2014. Baru ingat kalau resensinya belum saya taruh di blog ini. Berikut resensi Citra Rashmi.

Selasa, 09 Agustus 2016

[Resensi] One Little Thing Called Hope - Winna Efendi

Sebenarnya di bulan Agustus ini, saya ikutan program #31HariBerbagiBacaan. Maksudnya sih untuk kembali menghidupkan blog dengan review atau resensi buku. Tapiii... Malasnya membaca buku dan nge-review-nya itu loh yang bikin saya belom setoran juga dari hari pertama.

Saya sebenarnya tipe pembaca yang malas-malas rajin. Kadang kalau udah kumat malasnya membaca buku, buku tidak selesai-selesai dibaca. Kalau lagi rajin, biasanya kalau ketemu buku menarik, saya bisa baca hanya dalam beberapa jam.

Begitu pula novel terbaru dari Winna Efendi ini. Saya baca sampai pukul 1 malam, kemudian tidur, dan kebawa mimpi pulak. Hahaha... Dilanjut lagi saat pagi harinya lalu selesai membacanya.

Senin, 27 Juni 2016

[Resensi] Malam-malam Terang

Resensi buku Malam-malam Terang ini dimuat di Tribun Kaltim kemarin, Minggu, 26 Juni 2016. Akar konflik dari novel ini adalah ketika Tasniem tidak mendapatkan hasil NEM seperti yang ia harapkan. Ia berharap meraih NEM minimal 48 agar bisa meneruskan pendidikan ke SMA favorit, tapi NEM yang ia peroleh hanya 44,73.

Gara-gara resensi ini, saya kemudian cerita-cerita ke suami tentang kisah di dalamnya. Perbincangan kami berlanjut tentang NEM masing-masing yang diperoleh pada zaman sekolah dulu. Dan saya langsung baper plus minder karena NEM saya jauuuuh lebih rendah dari NEM suami. Wakakaka…. Ngapain juga bapernya sekarang yak? :p

Oya, ini resensi yang saya kirim ke Tribun Kaltim. Judul diedit sama redaksi, ‘Meraih Keberhasilan’nya dihilangkan. Happy Reading ^_^

Perjuangan Meraih Keberhasilan Setelah Kegagalan
Oleh : Hairi Yanti

Selasa, 24 Mei 2016

Kata 'Cerlang' dan Resensi Sang Penakluk Kutukan di Tribun Kaltim

Membaca adalah sarana menemukan kosakata baru, begitu yang pernah saya ceritakan di sini, dalam sebuah postingan yang berjudul Menemukan Kata-kata. Beberapa waktu yang lalu saat membaca, saya menemukan kata baru yaitu cerlang. Penasaran dengan kata tersebut, saya pun mencari di KBBI apa artinya.
Cerlang

Cerlang artinya cahaya terang, mencerlang artinya bercahaya atau berkilau, kecerlangan artinya keindahan atau keelokan. Seperti biasa agar saya bisa mengingat kata tersebut, maka saya akan menggunakannya. Saya gunakanlah kata tersebut dalam sebuah resensi untuk buku Sang Penakluk Kutukan karya Arul Chandrana pada kalimat “Tentang kebencian yang membutakan yang menutupi kebenaran walaupun kebenaran itu begitu cerlang di depan mata.” (Idih, boros kata ‘yang’)

Senin, 16 Mei 2016

Apa Pun Selain Hujan

Rasanya saya tidak bisa menunda menuliskan ini. Menulis tentang kesan-kesan saya terhadap sebuah novel dari karya salah satu penulis favorit saya, Orizuka. Judulnya Apa Pun Selain Hujan, terbitan Gagas Media di tahun 2016. Baru banget terbitnya. Orizuka nyaris tidak pernah mengecewakan saya, setiap karyanya nyaris selalu saya suka. Memakai kata nyaris karena ada satu, dua atau lebih karyanya yang saya rasa biasa saja. Tapi, sebagian besar dari karya Orizuka yang saya baca, selalu menyedot perhatian saya dan menarik.
Apa Pun Selain Hujan
Seperti yang saya bilang dulu dan yang sudah-sudah, tingkat kebaperan saya saat membaca karya fiksi berbanding lurus dengan tingkat kesukaan saya pada karya fiI ksi tersebut. Dan saya baper, baper sebaper-bapernya semenjak prolog yang membuat emosi tersedot dalam ceritanya sampai epilog yang membuat saya enggan berpisah dengan ceritanya. Novel ini tipe novel yang bikin penasaran sama ceritanya hingga ingin segera menuju ending tapi setelah ending juga merasa tak ingin berpisah dengan ceritanya. Jadi, gimana dong?

Senin, 09 Mei 2016

Madura dalam Cerita

Saya jarang sekali jalan-jalan ke luar daerah. Di antara yang jarang itu, Pulau Madura pernah dua kali saya singgahi. Pertama pada tahun 1992, tahun di mana saya pertama kalinya menjejak Pulau Jawa. Saat itu di Surabaya, menginap di rumah salah satu anggota keluarga. Sepupu mama saya ada yang tinggal di Bangkalan, Madura. Beliau pun menjemput saya dan keluarga untuk menginap di Madura. Maka berangkatlah kami sekeluarga saat itu dan menyebrang ke Madura memakai ferry.

Tahun demi tahun berlalu, saya kembali ke Surabaya di tahun 2010. Saat itu, Madura juga menjadi tujuan kami. Ingin mencoba melewati jembatan Suramadu dan mengunjungi sepupu mama saya yang masih bermukim di Bangkalan adalah 2 dari beberapa alasan ke Madura. Setelah tahun 92 menyebrang dengan ferry, di kunjungan berikutnya saya dan keluarga menyebrang melintasi jembatan terpanjanh di Indonesia itu.

Rabu, 06 April 2016

[Review Buku] Sekaca Cempaka


Sepekan belakangan, pembicaraan tentang Sekaca Cempaka muncul ke permukaan. Tentu saja hal itu membuat penasaran dengan novel karya Urang Banua itu. Untunglah waktu dicari di Ijak, Si Perpustakaan Digital bukunya ada. Horee... Mari kita pinjam dan baca.

Sekaca Cempaka adalah sebutan dari Nurul dan Iful untuk karangan bunga cempaka yang ada dalam kaca. Herannya, bunga cempaka dalam kaca itu tak layu meski berpuluh tahun kemudian dan hanya satu pengarang bunga yang bisa membuat bunga itu tak layu dimakan usia. Keluarga Iful punya sepasang sekaca cempaka, diserahkan Iful satu sekaca cempaka kepada Nurul saat bilang ingin menikahi gadis tersebut ketika sudah mendapatkan kerja.

Sabtu, 02 April 2016

[Resensi Koran Jakarta] Meet the Sennas

Ini adalah salah satu resensi saya yang dimuat di Koran Jakarta. Dimuat pada saat hari-hari pelaksanaan Ujian Nasional dua tahun yang lalu yaitu tahun 2014. Maka, benarlah apa yang dikatakan orang-orang, salah satu pendukung agar suatu karya dimuat adalah momennya pas. Seperti resensi ini. Tentang UN dan dikirim saat UN berlangsung.

            Buku yang saya resensi adalah buku karya Orizuka. Salah satu penulis favorit saya. Rasanya lama sekali tidak membaca karya Orizuka #kode. Orizuka penulis Indonesia, loh. Bukan penulis luar negeri. Saya menyukai karya-karyanya.

            Dan sebagai penutup pengantar kali ini, cuma mau bilang Happy Reading ^_^
Meet The Sennas
Usaha Anak SMA Menaklukkan Matematika dalam Ujian Nasional
Oleh : Hairi Yanti

Senin, 28 Maret 2016

Cerpen di Bobo dan Resensi di Tribun Kaltim

Hari minggu kemarin saya dapat dua kabar gembira. Pertama dari Uni Dian Onasis yang mengabarkan kalau ada cerpen saya di Majalah Bobo. Alhamdulillah... Senang banget. Cerpen saya itu berjudul Krayon Apri. Cerpen satu halaman. Saya kirim pada bulan Januari 2015. Jadi, ada sekitar 14 bulan masa tunggu hingga dimuat. Tapi tidak mengurangi kesyukuran saya. Cerpennya bisa dibaca di majalah Bobo yang terbit kamis ini :D
 
Cerpen Krayon Apri di Majalah Bobo
 Sore harinya saya dapat kabar gembira lagi. Kali ini dari Mbak Tri Wahyuni Zuhri yang mengabarkan ada resensi saya di Tribun Kaltim. Asyiiik.. Alhamdulillah... Rasanya lama sekali resensi saya tidak dimuat di media. Kangen banget ngeresensi lagi. Tapi sering dikalahkan sama rasa malas. Huhuhu...

Selasa, 08 Maret 2016

Keo & Noaki 5

                Setelah empat seri Go, Keo! No, Noaki! terbit, mulai buku kelima serial Keo & Noaki tidak lagi diterbitkan oleh penerbit sebelumnya. Namanya pun berubah menjadi Keo & Noaki 5, tanpa ‘Go’ dan ‘No’ lagi pada judulnya. Tapi, tetap merupakan sambungan dari cerita-cerita di empat seri sebelumnya.
Keo & Noaki 5
                Cerita Keo & Noaki memasuki cerita pra remaja. Dalam buku I Will Survive yang baru saya baca, rentang waktu yang dilalui seorang remaja terbagi dalam tiga tahap, yaitu : Masa remaja awal (10-12 tahun), masa remaja tengah (13-15 tahun), dan masa remaja akhir (16-19 tahun).  Keo dan tujuh sahabatnya memasuki rentang masa remaja awal menuju masa remaja tengah. Tentu saja ada banyak perubahan dalam kehidupan mereka, termasuk saat hormon pertumbuhan mulai berubah.

Jumat, 04 Maret 2016

I Will Survive

Sebuah novel tanpa konflik akan terasa hambar, maka dari itu, konflik adalah satu hal yang menjadi unsur pembangun dalam sebuah novel. Begitu pun dalam kehidupan, konflik atau masalah adalah sesuatu yang mutlak terjadi. Kehidupan tidak berjalan selalu mulus, ada kerikil hingga batu besar  yang harus dilewati.

Dalam buku I Will Survive yang ditulis oleh Riawani Elyta dan Oci YM, kita diajak untuk lebih mengenal masalah dan tentu saja bagaimana mengatasi masalah tersebut. Kerikil hingga batu besar yang kita temui dalam perjalanan kehidupan apakah harus kita lewati atau mengambil jalan lain agar dapat sampai ke tujuan?

Pada bab 1 yang berjudul Inilah realita hidup, pembaca akan diajak mengenal yang namanya masalah dan stress. Apakah setiap permasalahan yang tak kunjung selesai akan berujung stress?

Senin, 11 Januari 2016

Tulisan Pertama di 2016

          Saat teman-teman menyusun resolusi untuk tahun ini, saya pun begitu. Namun, semua tak saya paparkan di depan umum. Ada sih beberapa yang saya sebut ke suami atau teman-teman terdekat. Tapi  tercetus begitu saja. Semisal saya berkata, ‘Tahun depan mau bla bla bla…’ atau ‘Resolusi 2016 mau bla bla bla…’ udah sih gitu aja. Paling yang diumumkan cuma resolusi baca buku aja.

           Walaupun begitu ada kok resolusi yang hanya ada di hati seperti tidak masang status atau upload foto di FB di 2016 sebelum ada tulisan yang dimuat atau menang lomba apa gitu. Plus juga saya sempat bilang kalau 2016 mau adem ayem kalau ada tulisan dimuat. Tidak langsung hora hore bergembira gitu. Et dah, setelah dipikir-pikir resolusinya agak bertolak belakang ya? Satu sisi mau pasang status kalau tulisan dimuat, eh resolusi lain malah pengin adem ayem. Ya gitu deh… Namanya juga orang gamang :p

            Kenyataannya bagaimana?

Jumat, 08 Januari 2016

Zia Anak Hebat


Kemarin saat saya posting tentang 2016 Reading Challenge saya terkaget sendiri karena 2016 sudah berjalan hampir satu minggu sementara saya nyaris tak mengkhatamkan satu buku pun. Merasa terkejar-kejar dengan target yang dibuat sendiri, akhirnya menarik satu buku. Yang tipis saja biar cepat selesai. Hihihi… Jadilah saya melahap Zia Anak Hebat karya Mbak Linda Satibi.

Apa yang membuat seorang anak dikatakan hebat? Juara kelas? Punya keahlian tertentu? Atau yang bagaimana? Seperti itukah Zia jadi di judul dikatakan hebat?

Jawabannya adalah baca saja bukunya.

Review selesai.

Sabtu, 02 Januari 2016

Cinta Beda Keyakinan, Apakah Memiliki Masa Depan?


Sebuah novel yang jika saya bisa merasakan apa yang dirasakan tokoh di dalamnya buat saya itu adalah sebuah karya yang bagus. Bisa dapat 'feel'nya. Sekarang sih nyebutnya lebih mudah. Saya baper saat membacanya. Heu... Baper oh Beper.

Kamila adalah seorang asisten dosen untuk satu mata kuliah. Sementara Piter adalah seorang adik tingkat Kamila. Mereka bertemu pada satu kejadian tak terduga. Saat itu, Kamila terasa memesona buat Piter. Piter ingin meminta nomor telpon Kamila. Kamila mengajukan syarat, singkat cerita Piter akhirnya mendapatkan nomor telpon Kamila.

Senin, 28 Desember 2015

Psikologi, Cinta, dan Obsesi dalam Bulan Nararya

Cover Bulan Nararya


Latar belakang profesi merupakan salah satu hal yang bisa menjadi kekuatan sebuah novel. Apalagi jika profesi tokoh dalam novel tersebut menyatu dalam cerita. Saling dukung antara cerita yang berjalan, karakter tokoh-tokoh di dalamnya, juga profesi yang ditekuninya. Pembaca pun tidak hanya mendapatkan jalinan cerita demi cerita, tapi ilmu pengetahuan baru yang akan menambah wawasan.

Nararya atau yang biasa dipanggil Rara adalah seorang terapis dengan latar belakang pendidikan ilmu psikologi di sebuah mental health center di kota Surabaya. Suatu hari Nararya membuat terkejut pimpinannya di tempat ia bekerja karena ia menghentikan pengobatan agar para pasien tidak akan pernah relapse atau tak akan pernah tergantung pada apa pun.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...