Tampilkan posting dengan label umrah. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label umrah. Tampilkan semua posting

Rabu, 12 September 2012

Dzulhijjah, 4 tahun silam (part 3)

Maghrib menjelang, kami pun melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Setelah selesai shalat, saya mendengar lantunan takbir berkumandang di tenda tetangga di maktab kami. Air mata saya kembali menderas. 

Ini malam Idul Adha, saya tersadar kembali akan hal itu. Kerinduan akan kampong halaman langsung menyusup cepat ke hati, ini Idul Adha pertama saya tak melewatinya beserta keluarga di rumah, tapi ini juga Idul Adha impian saya. Berada di Arafah.

Sabtu, 01 September 2012

Dzulhijjah, 4 tahun silam

Idul Adha, biasanya saya akan melewatinya seperti biasa, shalat ied pagi harinya, silaturrahim sebentar kemudian beranjak ke rumah nenek saya, berkumpul bersama keluarga. Idul Adha di sana meriah.. tak kalah deh dengan Idul Fitri karena keluarga akan berkumpul dan kami masak bareng. Masing-masing mengeluarkan jurus andalannya mengolah daging. Yup, daging korban yang baru dipotong. Masih segar sekali. Dibikin apa aja maknyus punya.

Namun jika ditanya, kapan Idul Adha yang paling berkesan selama hidup saya ini, tentu saja jawabannya adalah Idul Adha 4 tahun yang lalu. Idul Adha yang begitu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Idul Adha di tahun 1429 Hijriah. Idul Adha yang saya lewati hanya dengan kakak dan tante sebagai keluarga saya. Idul Adha yang saya impikan bertahun-tahun untuk berada di tempat itu. 10 Dzulhijjah yang saya lewati di Arafah, Mekkah dan Mina.

Rabu, 02 Mei 2012

[Umrah] Awal bermula


Kakimu menapak di tanah suci, bukan karena kamu hebat, kaya, atau lain2, tetapi semata karena Allah mengundangmu. @asmanadia


Itu twitnya dari mbak Asma Nadia, kutemukan beberapa waktu yang lalu dan aku sujuuuu sekali, eh setuju maksudnya. 


Betapa aku merasakan keajaiban-keajaiban terkait dua kali perjalananku ke Tanah Suci. Dan itu benar-benar Undangan dariNya. Padahal siapa aku? Ah, kalau kujelaskan tentang keadaanku tentu saja orang-orang akan terkaget. Hehehe… Toh selama ini tentang bagaimana aku sebenarnya hanya bisa kuceritakan pada satu orang dan 3/4 cerita pada satu orang yang lain. 

[Catatan Perjalanan] Wiskul di Arab


Buat yang berangkat Haji dengan menggunakan fasilitas Haji Plus atau Umrah yang biasanya menyediakan fasilitas catering tentu saja kita akan disajikan makanan lengkap 3 kali sehari. So, ga mikirin lagi deh gimana maem di sana. Tinggal masuk ke ruang makan dan mengambil makanan yang ada.




Tapi tentu saja akan ada alasan di mana kita ingin sesekali mencicipi makanan di luar, bukan catering dari travel atau hotel. Entah itu karena masakan yang ada tak sesuai selera kita, atau sudah bosan atau emang dia hobby berwisata kuliner seperti saya. 




Sebenarnya yang paling menarik minat saya adalah ayam goreng al-Baik. Itu ayam goreng yang pernah saya nikmati selepas dari Laut Merah lebih dari 3 tahun yang lalu. Rasanya? Humm… mirip2 pisang goreng yang dibikin mama saya untuk tepungnya, dibalut dengan ayam yang super empuk. Hihihi… dan karena waktu itu saya nya laper benar jadi rasanya nikmat sekaliii….

Jumat, 27 April 2012

[Catatan Perjalanan] Bongkar isi koper


Berapa baju or pakaian yang dibawa ketika melakukan perjalanan umrah?


Nah, pasti banyak yang nanya tentang ini. Soalna ini juga menjadi trending topic gitu deh di keluarga kami sebelum keberangkatan. Humm, sepertinya saya belum cerita kalau kemarin pas umrah saya berangkat beserta abah, mama, para sepupu, acil, om dan Nini. So, ada 18 orang di rombongan keluarga kami. Semoga nanti bisa cerita ya asal muasal kenapa bisa rombongan gitu.


Kembali ke soal baju. Saya sadar diri kalau saya termasuk yang boros bener dalam membawa pakaian, entah itu buat perjalanan jauh yang luama dan termasuk juga perjalanan singkat dan dekat. Ke Banjarmasin aja kata kakak saya barang bawaan saya udah kayak mau ke Jawa. Hehehe…

Rabu, 25 April 2012

[Catatan Perjalanan] Bahasa Asing itu penting!




Tau kan kalau saya adalah orang yang parah bener dalam penggunaan bahasa asing. Kemampuan dan penguasaan yang tak memadai ditambah lagi dengan ketidakpedean yang meraja jadi deh aku akan terdiam seribu bahasa kalau diajak ngomong bahasa asing walau pernah mempelajarinya dulu, di sekolah aja sih :p (Inggris dan Arab)

Ketika harus bepergian ke Luar Negeri, ckckck… kayak sering aja ke Luar Negeri, hehehe… sedikit banyak Bahasa Asing ini mesti saya gunakan juga. Yah, walaupun kali ini rada beruntung deh karena naik pesawat Garuda jadi di pesawat masih aman cuap-cuap pakai bahasa Indonesia. Ga seperti dulu waktu naik Emirats saya harus berpikir keras menerjemahkan apa yang disampaikan pramugari dan berpikir tak kalah kerasnya menyampaikan apa yang kuinginkan pada pramugari. Padahal yang disampaikan juga masih dalam percakapan ringan-ringan saja.

[Catatan Perjalanan] Bayar Rupiah Kembali Riyal



"Nanti tukar uangnya di Madinah aja, di Mekkah susah nukarin uang. Lagian di Madinah rupiah di hargai lebih mahal ketimbang di Mekkah."

Itulah saran yang saya dapatkan dari sepupu saya yang baru saja datang dari Tanah Suci. Kedatangannya hanya berselisih hari dari waktu keberangkatan saya. Dari dia jugalah saya mendapatkan simcard mobily buat dipakai di Tanah Suci nantinya. Walaupun minim pulsa tapi simcard itu masih ada paket BB yang masih bisa saya gunakan untuk beberapa hari ke depan, sekitar 11 harian gitu deh dari total 14 hari jadwal perjalanan saya. Lumayan banget kan? Apalagi paket BB di sana lumayan mahal, untuk satu minggu seharga 29 riyal.

Nah, karena punya simcard itu lah, saya langsung bisa berkirim kabar ke Tanah Air setelah pesawat yang membawa saya terbang selama hampir 9 jam menjejak di bandara King Abdul Aziz. Belum turun pesawat saya sudah update status di BBM. Eksis banget deuu….

Kembali ke masalah uang itu. Walau sudah dinasehati demikian tapi tetap saja saya ga nurutin sepenuhnya. Hehehe… Soalna masih rada ragu-ragu gimana kalau tuker uang langsung blek semuanya di tukar (sayang maksudnya :p). Jadinya saya tukarinnya per satu juta rupiah. Agak ribet memang yah. Tapi karena money changernya dekat dengan hotel dan antrinya juga ga terlalu panjang ya sudah, saya cukup nyaman dengan cara itu.

Untuk uang satu juta rupiah, saya dapatnya ga tentu. Pernah dapatnya 396 riyal, pernah juga 398 riyal dan juga pernah dapat 400 riyal. 400 riyal adalah jumlah tertinggi yang saya dapatkan, itu artinya 1 riyal senilai 2500 rupiah. Eh, kesannya saya buanyak banget ya bawa uang? Ga kok, tukerin uang itu bukan uang saya sepenuhnya tapi juga uang anggota keluarga yang lain.

Dari jadwal yang ada, singkat sekali waktu di Madinah ini. Itu pun juga full diisi agenda dari travel. Jadinya waktu buat berbelanja juga minim sekali, walaupun dari beberapa pengalaman yang enak buat belanja oleh-oleh itu di Madinah. Selain harganya lebih terjangkau barang-barangnya juga lebih bervariasi. Kok mikirin belanja sih? Jangan salah, belanja juga bisa bernilai ibadah kan, karena kita niatnya buat ngasih oleh-oleh, menyenangkan hati orang lain. Itu yang dinasehatkan ustadz pembimbing saya dulu. Kalau belanja oleh-oleh niatkan buat menyenangkan hati mereka yang kita kasih oleh-oleh nantinya.

Nah, hari terakhir di Madinah, saya dan mama cari cepat beberapa oleh-oleh yang bisa kami beli. Dan dapat ditebak, persediaan Riyal kami pun akhirnya menipis begitu meninggalkan Madinah, menuju Mekkah.

Di Mekkah, saya jadi sok tau deh, bilang kalau saya tau kok di mana letak money changer di hotel Hilton. Yah, money changernya masih ada, tempatnya masih belum berubah. Tapi antriannya itu loh… ga nahaan. Puanjang bener. Bercabang lagi. Antriannya dari berbagai titik gitu, dari kiri kanan muka belakang. Aiiih… saya langsung mundur teratur deh ga jadi ikut ngantri.

Tapi bagaimana bisa belanja sementara uang Riyal yang ada tinggal satu dua. Di saat itulah salah satu Om saya mengusulkan agar menarik uang di ATM saja. Walau tabungan kita di Tanah Air rupiah, tapi yang keluar Riyal. Jadi qta ga perlu deh berantri-antri ria. Humm, usul yang bagus menurut saya. Karena toh saya juga mengantongi ATM kakak saya yang bisa saya gunakan di Tanah Suci.

Tapi pas saya BBM si kakak dan minta izin menggunakan ATMnya, dia malah bilang "Kalau masih ada rupiah yang bisa ditukar, itu aja dulu digunakan. Tukerin semuanya ke Riyal jadi sekali antri saja. Kalau kepepet banget baru pakai ATM"
Yaah… Gagal deh rencana narik uang dari ATM. Tapi saya rada khawatir juga dengan narik uang di ATM, takut dihargai tinggi nilai Riyalnya. Tapi ternyata ga juga. Sesuai kurs aja setelah dicek setiba di Tanah Air.

Lalu, berantri-antri ria kah saya akhirnya? Jujur malas banget buat masuk ke antrian yang mengular panjangnya itu. Dan di saat-saat genting, seorang Om saya lagi (ada 3 Om yang berangkat bareng saya) mengatakan kalau ga usah deh tuker rupiah ke riyal. Belanja aja pakai rupiah, mereka mau nerima. Lagian, kata Om saya lagi, kalau belanja pakai rupiah, 1 riyal dihargainya 2500 rupiah. Kalau qta tuker di money changer, udah ga dapat 2500 lagi untuk satu riyal.

Saya dan Mama pun akhirnya nyoba belanja tanpa uang Riyal. Ternyata memang berhasil. Pertama nyoba beli sajadah Museum di Hilton. Ketika saya bilang mau bayar dengan rupiah, dia langsung bilang 100 ribu 40 riyal. Walaupun kemudian, ada beberapa penjual yang tidak terima lagi 100 ribu senilai 40 riyal, ada yang 39 riyal, ada yang 38 riyal. Biasanya kami tawar-tawaran di nilai rupiahnya itu, bukan di harga barangnya lagi.

Nah, dari hasil belanja pakai rupiah itu lah maka bisa didapatkan uang riyal dari uang kembalian. Jadi misalkan kita belanja 30 riyal, qta kasih uang 100 ribu rupiah yang senilai 40 riyal, maka si penjual akan memberikan uang kembalian sebanyak 10 riyal. Unik ya, beli dengan uang rupiah, tapi kembaliannya dengan riyal. Tapi kan masih sama-sama uang aja hanya namanya yang beda.

Uang riyal hasil kembalian ini akan digunakan buat belanja yang ga bisa pakai rupiah, biasanya di belanja di kaki lima atau bayar taksi, ongkos transport. Selama masih bisa belanja dengan rupiah, ya dengan rupiah aja.

Oya, hati-hati juga kalau belanja jangan sampai kita gagap kurs. Gagap kurs? Apaan tuh? Misalkan gini, kita ga ngitung dengan harga riyal tapi ngitungnya masih pakai rupiah. Pengalaman nih ya, ada salah satu anggota jamaah kami yang dengan santainya nawar baju seharga 150. Bilang 150 gitu, beliau benar-benar ga nyadar kalau 150 itu 375 ribu. Kirain cuman 150 ribu.

Sama halnya waktu saya beli bakso Mang Oedin di Jeddah, harga baksonya 10 riyal. Ada Ibu di samping saya yang nyerahin uang 20 ribu buat 2 mangkok bakso. Dan langsung ditegur orang di sebelahnya. "Bu, 20 riyal Bu. Bukan 20 ribu, kalau 20 riyal jadinya 50 ribu." Ibu itu baru nyadar deh.

Mahal ya bakso semangkoknya 25 ribu. Kalau di kampung, seharga 15 ribu aja udah muahal bener tuh. Ketika bersiap menyantap tuh bakso, saya pun nyelutuk ke sepupu-sepupu saya.
"Nih bakso harganya 25 ribu loh…" yang langsung diamini oleh Dita.
"Iya kak, mahal bener ya."
Tapi langsung mendapat pelototan dari Icha yang bilang.
"Sesekali kakak, ga setiap hari juga."
Tapi bakso itu lumayan deh buat mamacah liur saya yang ga nafsu makan selama beberapa hari yang lalu.

*postingan ga jelas juntrungannya demi ngejar 1000 kata*

Rabu, 04 April 2012

Duniamu.. pasca menikah.

Di Mekkah, yang menjadi tempat favoritku adalah lantai 2 Masjidil Haram karena ada aturan yang baru kutemui kala umrah ini yang agak longgar waktu Haji kemarin dan menjadi ketat pada umrah ini. Apa itu? Ga boleh lagi menentukan tempat seenaknya buat shalat bagi jamaah perempuan. 


Kalau duluu... aq masih bisa shalat selalu di samping kakak, eh.. ga selalu ding. Pernah sih diusir juga sama askar disuruh nyari shaf wanita. Tapi itu ga sering. Kalau sekarang ini selalu lah.. Para askar bersikap tegas agar jamaah wanita ga nyampur sama jamaah pria. Dan lagi tempat buat jamaah wanita ga seberapa lebar, ga muat menampung jamaah wanita yang jumlahnya lebih besar dari jamaah pria. Karena itu lah kemudian, yang menjadi favoritku adalah lantai 2 masjidil Haram. Dan lagi di lantai 2 bisa melihat Ka'bah. Kalau di lantai 1, tempat buat jamaah wanita kan agak ke dalam, jadi ga mesti bisa lihat Ka'bah.


Nah, di lantai 2 Masjidil Haram inilah kemudian aku banyak menemukan mereka yang sedang ibadah dengan keluarga masing2. Pada bawa anak gitu. Aku pernah memperhatikan satu keluarga asyik tilawah bada ashar, dengan 4 orang anak mereka tilawah sama2. Subhanallah... Pengin deh :) Langsung deh doa.. ya Allah... Semoga nanti juga bisa umrah dengan anak2. Aamiin...


Dan yang menarik perhatianku juga adalah seorang anak yang asyik memanggil ayahnya "Baba.. Baba..." begitu panggilnya. Padahal sang ayah sedang shalat. Dia pun duduk di tempat sujud ayahnya, dan sewaktu sang ayah ingin sujud, si ayah memindahkan dulu putera kecilnya itu. Waktu ayahnya sujud.. si anak naik ke punggung ayahnya. Si ayah melamakan sujud. Jadi teringat dengan cerita Rasulullah beserta cucu beliau, Sayyidina Hasan dan Husein.


Selepas shalat, si ayah mendekati istrinya. Memandang aktifitas keluarga kecil itu aku jadi mikir... kehidupan rumah tangga seperti apa yang mereka jalani di belahan dunia sana? Aiiih... Kepo nih yanti. hihihi.... 


Tentu saja kan ya.. ada beragam hal yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga masing2 pasangan or keluarga. Sama halnya dalam buku terbarunya mbak Ifa Avianty, seri kle 3 dari TRG series yang berjudul Love, affair & the reunion. Di sana sebagian besar dari TRG dan juga wall flowers udah pada nikah. Udah pada punya kehidupan masing2. Dan apa yang disampaikan buku kedua memang benar.. pernikahan bukan menyelesaikan semua masalah kita, ada hal2 yang mungkin akan selesai dengan pernikahan tapi pernikahan juga membuka pintu untuk masalah2 baru muncul. Kira2 begitu lah. Lupa pasnya gimana :p


Antara lain masalah yang timbul di sana adalah kakunya si Didi sama istrinya. Ga ada mesra2nya gitu. Trusss.... si Sonia yang pasrah bener sama kediktatoran suaminya, Harry. Trus lagi.. ada Kang Tino yang kampretnya kumat, malah ada affair gitu sama Tere. Tere yang pernikahannya ga bahagia. Juga Tris dan Rey yang mau cerai. Aiiiih.... macam2 deh ya... Nah, bagaimana mereka mencoba menyelesaikan masalah mereka itu. Bagaimana mereka berlapang dada dalam memaafkan. Bagaimana bersyukur akan pasangan yang diberikan sama Allah. Dan bagaimana menjaga komitmen pernikahan mereka.


Ada satu kutipan di bagian pengantar novel ini yang aku suka banget. 
"... tetaplah mengarifi kehidupan, jangan bosan dan tetaplah menjadi manusia, karena kita bukan malaikat dan tak akan pernah sampai menjadi malaikat. Mari tetap berproses menjadi lebih baik."


Yaah.... Mari berproses menjadi lebih baik.


Eh, ini review atau cerita tentang umrah sih? Nano-nano boleh kan? :p

Senin, 26 Maret 2012

pesawatku terbang ke Jeddah

Hey, ada apa ini? Nafsu makan sy melonjak pesat sejak kedatangan kembali ke tanah air? Gazwaat... Emang sih waktu di Tanah Suci nafsu makan sy turun drastis dan sy juga merasakan ada penurunan berat badan. Hihihi... Senang.. Tapi dengan nafsu makan seperti sekarang? Oh tidaaak... Bertahanlah yanti untuk tidak terus mengunyah :p


Mau ceritaaa.... Apa yaaa.... Oh ya, tentang perjalanan kemarin itu. Saya dan rombongan terbang dengan Garuda Indonesia yang langsung mendarat ke Jeddah setelah lepas landas di Jakarta. Dan itu menjadi penerbangan terlama saya.. Kurang beberapa menit dari 9 jam melayang2 di angkasa. Penerbangan pertama? Emang dulu ga gitu? Gaaa... Dulu kan pakai emirats jadi ada transitnya di Dubai. 


Dan 9 jam perjalanan itu bikin sy bosaaaan.. Rasanya waktu lambaaaat sekali berlalu. Walaupun dalam perjalanan itu diisi dengan jalan2 di pesawat, sempat juga naik ke lantai 2 pesawat Garuda. hihihi... bercengkrama dan bernarsis2 ria dengan adek2 sepupuku. 


Dan belajar dari pengalaman terbang ke Arab Saudi terdahulu, sy menahan diri untuk makan dan minum. Ga biasa aja buang air kecil di pesawat. hihihi...


Dan humm... ini sebenarnya agak gimanaaa gitu ngeceritaannya, tapi ini penting lho sodara2... Kenapa saya menahan diri untuk sekedarnya saja makan dan minum selama di pesawat, karena duluuu.... sy kebelet BAB akibat makan dan minum mulu di pesawat. Ahahaha... Dan itu syusah sekalii... Dan keinginan buang hajat itu dulu semakin menjadi setelah mendarat di Jeddah. Dan waktu itu di Jeddah toiletnya agak susah, airnya kecil dan antriiii, terlebih waktu itu sy sudah dalam kondisi ihram dengan segala pantangannya. Kalau yang sekarang apalagi yang di ruang tunggu nyamaan sekali.


So, pengalaman adalah guru yang paling berharga... Jadinya yaa sy sewajarnya saja.. ada buah2an yang sy doyan dan banyak seratnya, sy masukin tas aja deh buat dimakan ntar. Tapi perjalanan kali ini, ga langsung ke Mekkah tapi ke Madinah. Jadinya, belum dalam kondisi ihram :)


Untuk pulangnya.. perjalanan terasa lebih singkat. Soalna sy tepar, hehehe... sengaja ga minum kopi biar bs tidur di pesawat. Bahkan sy sempat disenggol2 pramugari buat ditawarin makan krn ketiduran mulu. Biasanya sy ga bisa dengar kereta dorong pramugari langsung terjaga aja :p


Bahkan di tengah2 makan juga sempat2nya saya tidur. hihihi......


Sooo... lebih enakan mana yan? Antara transit atau langsung menuju Jeddah? Yaaa tergantung sih.. ada kurang ada lebihnya. Kalau ga transit kan lebih hemat waktu, kalau transit bisa lihat2 bandara orang, apalagi bandara Dubai yang ciamik itu ;)



Selasa, 07 Februari 2012

terkejar-kejar sendirian

Kemarin, saat berkumpul dengan keluarga besar, seorang adik sepupu saya bertanya. 
"Kak, tak sabarkah pian menanti?"
Sy langsung tercenung mendapati pertanyaan tersebut dan kemudian menanyakan pada diri sy sendiri pertanyaan yang sama, "Tak sabarkah saya menanti?"

"Ulun sudah tak sabar kak," lanjut sang adik dengan wajah sumringah.

Saya hanya tersenyum menanggapinya dan kemudian kembali bergelut dengan pikiran sy sendiri tentang satu impian, satu mimpi besar yang insyaAllah tinggal hitungan hari akan terwujud, tentu saja jika Allah mengizinkannya terjadi sesuai dengan rencana. 

Saya bukan tak menanti saat itu tiba. Saya juga bukan tak bahagia karena mimpi itu hampir terwujud. Malahan sy merasa dada sy ingin meledak karena rasa syukur dan bahagia yang memenuhinya. Mimpi itu pernah bertahun2 menjadi mimpi teratas yang ingin sy wujudkan, walaupun di tahun2 belakangan ini, mimpi itu tak lagi menduduki posisi puncak, tapi tetap menjadi salah satu impian terbesar bagi saya.

Tapiii... sy merasa waktu berlalu sedemikian cepat. Rasanya baru kemarin sy menulis status "Jangan pernah membenci hari Senin, karena Rasulullah dilahirkan di hari senin... bla.. bla...".. Sekarang sudah senin kembali.

Sementara itu masih begitu banyak hal2 yang ingin sy lakukan sebelum saat itu tiba. 
Banyak hal yang harus  sy pelajari dan pahami. 
Banyak perbaikan2 yang mesti sy lakukan.
Banyak target2 yang sudah sy list yang sy ingin semuanya sudah selesai sebelum saat itu tiba. 

Dan waktu berlalu begitu cepat... sy merasa terkejar-kejar sendirian*.


07022012
H-32

*ngutip dari bukunya mbak Ifa Avianty, Jejak-jejak Kembara Cinta.

Minggu, 22 Januari 2012

[Persiapan Umrah] berkas-berkas

3 harian ini sibuk mempersiapkan berkas2 tentang rencana umrah, juga peringatan maulid yang insyaAllah diselenggarakan Jum'at depan. Yah, kita sudah masuk bulan rabiul awal hari rabu depan :)

Tentang persiapan umrah, sebenarnya sudah sejak lama tante bilang mesti ada berkas2 yang disiapkan. Selain paspor tentu. Berupa foto2 dan berkas2 lain buat keperluan mengurus visa dan surat mahram gitu.

Tapi yaa... enjoy aja abis diingatkan gitu. Prinsip nanti2 aja jadi kepakai banget.

Sampai siang kamis tante sms dan bilang, "Anti, berkas2nya dikirim hari ini juga ya. Ini sudah ditagih2 travel."

Whuaa.... kalang kabut jadinya. Berkas2 belum siap, foto juga belum. Huff... untungnya keluarga om juga belum. Jadi deh sama2 buat foto. Dan nyari2 berkas2, akte kelahiran, Kartu keluarga, KTP juga buku nikah buat yang sudah nikah. Berhubung sy belum nikah, jadi saya juga menyertakan akte kelahiran :)

Dengan pedenya saya ngirim akte kelahiran yang sy yakini asli. Jadiii... ketika tadi pagi Om telpon dan bilang, "Anti, ini aktenya kok yang dikirim bukan yang asli?" saya keukeuh bilang sama Om kalau itu asli kok. Cuman ga dilaminating aja. Dan om juga minta kirimkan KK yang asli.

Nah, sewaktu sy nyari KK yang asli ini dan ketemunya di laci lemari kamar kakak, sy nemu akte kelahiran sy yang benar2 asli. Huahahaha... Ternyataaa... yang sy kirim kemarin emang bukan yang asli. Hadeh, kok sy jadi pelupa gitu ya wujud akte kelahiran sy sendiri. Soalna akte yang sy kirim itu warna kertasnya juga kuning gitu. Satu arsip dengan surat tanda tamat belajar di TK. Mungkin karena sudah termakan usia jadi kertasnya berubah gitu ya. Dan akte itu saya temukan bersama dengan KK yang asli. Itu sepertinya sehabis mengurus paspor tahun kemarin deh.

Pelajaran moral : Satukan semua berkas2 di satu tempat. Biar ga ribet nyarinya.. Soalna ketika sy telpon tante dan mengkonfirmasi kalau akte sy yang asli masih di sini, Tante juga katanya lagi bongkar2 kamar nyari akte nanda dan rizki yang entah ada di mana.

Oya, untungnya akte kelahiran bisa dikirimkan bareng dengan berkas punya nini yang akhirnyaaa.. memutuskan untuk ikut rombongan kami setelah maju mundur dengan keputusan beliau itu. Dan foto yang diminta adalah foto 3x4 dan 4x6 yang masing2 8 lembar. Waktu mau nyetak foto ini, pihak studio fotonya bilang sebenarnya yang dibutuhkan cuma 6 lembar, itu juga sudah lebih, tapi karena catatan dari Banjarmasin yang bilang 8 ya jadi ngikut aja deh ngirim 8 lembar.

Sementara ini belum ada persiapan berarti terkait umrah. Karena mama bilang siap2 buat umrah selepas acara maulid di rumah saja. Ada rentang waktu satu bulan lebih. Tapi kalau manasik malam tadi udah mulai dan Alhamdulillah semua keluarga yang di Barabai yang berencana umrah bisa ikutan. Termasuk si kecil imut yang bikin aku ga konsen lagi manasiknya. Sibuk memperhatikan tingkahnya :)

Manasik kali ini juga diingatkan lagi tentang persiapan sebelum keberangkatan, membereskan segala amanah, hutang piutang dan pertaubatan. Huff... harus benar2 mempersiapkan diri dengan baik. Aku tak ingin perjalanan kali ini sia-sia. Buku2 tentang Haji dan Umrah juga sudah kusisihkan buat dibaca2 lagi. Rentang waktu 3 tahun juga telah mengikis hafalan2 doa2 ketika berangkat ke sana. Ayo.. menghafal lagi yan... :)

Semangat. Semoga semuanya berjalan dengan lancar. Aamiin....











Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...