Tampilkan posting dengan label writing. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label writing. Tampilkan semua posting

Kamis, 25 Februari 2016

Tentang Mandai, si Kulit Cempedak

Ada yang belum tahu buah cempedak? Buah cempedak ini bukan buah nangka. Tapi dari segi kekerabatan tentu saja cempedak lebih dekat dengan nangka dibanding dengan mangga. Dari berbalas pantun eh komen dengan Mbak Maharani Aulia, saya menemukan fakta kalau cempedak ini satu genus dengan nangka. Genus (jamak genera) atau marga adalah salah satu bentuk pengelompokan dalam klasifikasi makhluk hidup yang lebih rendah dari familia (Sumber Wikipedia).
cempedak atau tiwadak
Saya pun perlu googling dulu buat mengingat pelajaran zaman biologi dulu. Hahaha... Cempedak dan Nangka sama-sama genus Artocarpus. Cempedak punya nama Artocarpus integer, sedangkan nangka punya nama Artocarpus heterophyllus.

Rabu, 11 November 2015

Cerpen Gara-gara Papa di Bobo

Kemarin saya dapat kabar kalau cerpen saya yang berjudul Gara-gara Papa dimuat di Majalah Bobo nomor 32 tahun ini. Senaaang (Kapan loe enggak senang kalau tulisan dimuat, Yan?) :p

 Jadi, saya bilang ke teman-teman kalau itu naskah unggulan saya. Walaupun tetap menuai kritik dari teman-teman. Wkwkwk... Gapapa... Itu buat perbaikan ke depan dan saya tetap senang #mukatembok :p
Cerpen Gara-gara Papa di Majalah Bobo
 Sekarang mau cerita tentang cerpen 'Gara-gara Papa'. Ide cerpen ini berdasarkan pengalaman saya sendiri. Duluuu... Saya dan sepupu pernah berencana buat liburan ke Banjarmasin. Kemudian untuk alasan yang saya tidak ingat lagi rencana itu batal. Reaksi saya ketika mendengar rencana itu batal persis sama dengan reaksi Maya di cerpen yang saya tulis. Balik ke kamar dan menangis. Wkwkwk... Anak bungsu, Bo. Di mana-mana cengeng. #kemudian ditimpuk anak bungsu di seluruh dunia

Senin, 25 Februari 2013

[Fiksi] Usai

Aku membuka halaman goodreads, mengetik satu nama di kolom 'search'. Satu nama yang kucari muncul di sana, gegas kuklik nama itu yang sekejap saja menggantikan halaman yang tadi terpampang dengan halaman profilnya. Huh, aku mendengus. Tidak ada review baru darinya. Aku menutup goodreads.

Jemariku mengetik lagi satu alamat, sebuah blog dengan template berwarna ungu lembut tersaji di depanku. Aku menghela nafas, tak ada yang berubah di sana. Semuanya tetap sama dengan terakhir aku berkunjung ke sini, tak ada postingan baru.

Aku masuk ke twitterku, mengarahkan kursor pada gambar kaca pembesar, mengetik 7 huruf ID twitternya yang sudah kuhafal betul. Aku bernafas lega, ada beberapa tweet baru darinya, tapi semuanya hanya RT dari tweet-tweet yang lain. Aku gelisah dengan semua kenyataan ini.

Sabtu, 16 Februari 2013

[BeraniCerita #1] Keputusan Hati

    "Tak terganti?" Naina menatapku dengan pandangan heran. Aku mengangguk, kemudian dari lisanku mengalir sebuah cerita. Saat berusia 18 tahun aku dikenalkan dengan seseorang yang orang tuaku bilang dengannya aku akan menjalani biduk rumah tangga.

    Perjodohan memang bukan hal baru bagi keluarga kami. Tiga dari empat kakakku menikah karena perjodohan. Maka sebagai bungsu aku sudah siap akan hal itu. Menentang tidak ada dalam kamusku. Aku yakin setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.


    Tahun-tahun setelah itu aku mencoba mengenalnya dan aku sadar sepenuhnya kalau aku mulai jatuh hati padanya. Namanya tertanam dalam hatiku dan aku terus memupuknya karena satu hal yang kuyakini, pernikahan kami tinggal menunggu waktu.

Sabtu, 29 Desember 2012

#PostcardFiction : Tak Terganti

    "Jemput aja Fa," Tia, sahabatku memberikan usul. Tia tahu apa yang kupikirkan. Aku hanya menanggapi dengan diam dan memandang benda persegi dalam genggamanku, hanya dengan menekan beberapa tombol di sana aku sudah bisa terhubung dengannya.

    "Ayo dong Fa, jangan ragu gitu," Tia berujar lagi. Ada nada gemes dalam suaranya. Aku menimbang, gelengan di kepalaku kemudian yang menjadi jawaban. Entah gengsi atau mungkin aku terlalu egois sehingga aku tak melakukan apa yang disarankan Tia.

    "Begini deh, kalau kamu tidak menjemput, minimal kasih tahu. Dan bilang kalau kamu ingin dia datang. Sudah dikasih tahu kan?" Tanya Tia lagi bersamaan dengan sebuah lagu mengalun dari laptopku, Semoga kau datang-nya Sherina seakan menyuarakan isi hatiku.

Sabtu, 15 Desember 2012

tentang Passion

Tahun 2012 hampir berakhir dan aku belum punya kalender 2013. Hahahahaha.... Kalender yang tergantung di dinding itu loh, kalau digital yang ada di hape atau di leppie ya ada aja insyaAllah.

2012 membawa banyak hal-hal baru dalam hidupku. Dan aku juga menemukan hal-hal yang dulunya tidak kuketahui menjadi tahu sekarang, walaupun ya tentunya masih banyak juga yang aku nggak tahu.

Semisal nih ya kata blurb. Aku baru aja tau tentang blurb sewaktu ka Fitri sering sharing tentang audisi editor itu. Trus kata Premis yang ternyata penting banget buat nulis fiksi baru juga kutemui baru-baru ini. Saat ikutan audisi menulis sebuah penerbit yang entah bagaimana kabarnya sekarang. Istilah premis juga kemudian semakin menjadi-jadi hadir di hidupku saat ikutan workshop menulis Tulis Nusantara.

Selasa, 27 November 2012

[Fiksi] Tamu Kejutan

 “Errrrgggghhhh….” Aku mengerang kesal mendengar ada suara ketukan di pintu sepagi ini di hari minggu. Oh tidak, ini hari minggu dan aku yang setiap harinya diharuskan untuk bangun pagi tentu saja hari minggu adalah hari di mana aku bebas untuk berada di tempat tidur sepuasku. Tapi kenapa harus ada ketukan di pintu? Ini sungguh sangat mengganggu, aku merutuk kesal.

    Ketukan di pintu masih saja terdengar. Apa orang itu tak menyerah saja untuk berhenti mengetuk pintu? Kemudian kembali lagi nanti siang atau nanti sore sekalian? Pikirku. Tapi entah kekuatan darimana aku justru tetap bangun dan dengan kesadaran yang belum penuh menyeret langkahku menuju pintu.

Selasa, 20 November 2012

[Short Story] Kemiri

“Ra, ada punya kemiri ga?” Kak Arya tiba-tiba muncul di pintu kamarku. Aku menoleh. Sebal. Ga suka keasyikanku diganggu.

“Kemiri? Buat apaan?” Aneh kan, dia yang ogah banget ke dapur tiba-tiba nanya kemiri. Bikin mie instant rebus aja suka teriak-teriak minta tolong ke aku.

“Buat rambut nih, katanya teman kemiri bagus buat menguatkan dan menyuburkan rambut.”

“Ya ampyun kak.. Perawatan rambutnya ngalahin aku yang cewek aja.” Kak Arya emang perhatian banget sama rambutnya, untuk urusan ini aku kalah jauh deh dari dia.

“Bawel ah, kemirinya di mana?”

“Ada di kulkas.” Aku menjawab dan langsung berpaling ke layar laptopku. Kak Arya pun segera berlalu dari hadapanku.

“Ra, di kulkasnya di mana?” Tak berapa lama kak Arya muncul lagi.

“Di rak di pintunya itu kak. Dibungkus plastik.” Jawabku tanpa mengalihkan pandang dari layar laptop. Tak ingin obrolanku dengan beberapa teman di YM terhenti.

“Ra….” Suara kak Arya lagi. Aku menoleh sebal.

“Apaan lagi sih ka? Kemirinya ada kok, di rak di pintu kulkas. Nyarinya lebih teliti dong.” Kataku. Mendengar kata-kataku kak Arya langsung menjawab, membela diri.

“Masalahnya aku ga tau yang namanya kemiri itu yang mana.”

[Short Story] Memerdekakan Diri

"Mana FFnya? Katanya mau ikutan?," tanya Dina padaku.

"Batal!"

"Batal?," dari nada bertanya Dina, dia seperti tak percaya.

"Saingannya berat banget Na. Aku udah baca hampir semua FF yang ikut, keren dan bagus," aku beralasan, "jagoan bikin FF juga ikutan. Baca aja FFnya punya mbak Nita, mbak Wik, mbak Yudith, bagus semua. Yang menang juga cuma tiga orang, yang ikut sepertinya 300, jadi peluang buat menangnya kecil banget. Paling juga kalah, mending ga ikutan," tambahku lagi.

"Eh, Non, dengerin ya," Dina menatapku tajam, "Orang yang seperti kamu ini yang ga bisa bikin Indonesia merdeka. Yang ga bisa bikin Umat Islam Berjaya. Ingat perang Badar, pasukan kaum Kafir lebih banyak dari pasukan Muslimin, tapi pantang mundur, maju terus, berjuang," Dina berapi-api menjelaskan.

[Short Story] Cari Jodoh

Cari Jodoh

Langkah pertama kuberkaca diri
Apa aku layak untuk engkau

Langkah kedua kuberdoa
Semoga kau juga mau kepadaku

Langkah ketiga kumencoba
Beranikan diri mendekati engkau

Langkah terakhir kuberserah diri
Pada Dia Maha Menentukan

Raffi mengulum senyum mendengar lagu dari film Ketika Cinta Bertasbih yang sedang dia dan keluarga tonton.
"Eh, bang Raffi senyum-senyum," Raisa, si bungsu yang cerewet mulai mengoceh.
"Pengin punya istri kayak Anna tuh," kali ini celoteh Raisa disambut Raihan, si tengah.
"Abang kalian memang sudah waktunya menikah," Ibu tak ketinggalan bersuara.
"Bukan sudah waktunya Bu. Tapi sudah telat, udah 36 usianya," Raisa lagi

[Short Story] Bukan FF Poligami

"Apa kabar dek?"
Kakak kelas sewaktu SMA menyapaku lewat YM.

"Kabar baik mbak."

"Lama ga kelihatan nih, ke mana aja?"

"Lagi sibuk mbak."

"Hayoo, sibuk apa nih? Persiapan nikah ya?"
Astagaaa… persiapan nikah? Heran deh, aku lama ga nongol di jejaring sosial dibilang mau nikah. Kemarin aku ketemu teman di toko buku dan aku lagi asyik baca buku resep juga dibilang mau nikah. Minggu lalu, aku beli baju baru dan ketemu tetangga, dia bilang aku mau nikah. Apa segala hal yang kulakukan selalu berhubungan dengan persiapan menikah? Apa karena aku berada di usia yang sudah sangat pantas untuk menikah? Sabar Ra, aku membelai hati sebelum menanggapi.

[Short Story] Cita-cita Ghaza

"Mama..." teriakan Ghaza mengehentikan tarian jemariku di atas keyboard.

"ada apa sayang?"

"apa kain kafan itu mahal?" keningku berkerut. Apa maksud pangeran kecilku ini? bertanya kain kafan?

"ga mahal kok sayang. Memangnya kenapa Ghaza nanya seperti itu?"

"tadi dengar cerita Sahabat Nabi Mushab bin Umair.. katanya pak ustadz.. kainnya ga bisa menutupi seluruh badan. Jika ditarik kepala supaya tertutup, kakinya terbuka.. kalau ditarik menutupi kaki.. kepalanya yang kelihatan."

aku tertegun sejenak. Kemudian menceritakan ulang pada Ghaza tentang sirah Sahabat Nabi Mushab bin Umair. Tentang kesederhanaan seorang Mushab setelah hijrah, tentang mereka yang syahid tanpa perlu dikafani, dimakamkan dengan pakaian yang dikenakan.

sedetik.. dua detik.. aku menunggu Ghaza bereaksi.
"Ma, mereka yang syahid masuk surga dan disayang Allah kan?"

"iya dong sayang.." jawabku.

"Ma.. aku ingin mati syahid." Deg! hatiku terasa tercubit. Sanggupkan aku menjadi seperti al-Khansa?


***

[Short Story] Tanya Dina

"ka, waktu kakak ta'aruf dulu yang ditanyakan apa aja sih?" aku menghentikan bacaanku, menoleh ke arah Dina, adik semata wayangku.

"kenapa nanya? udah mau nikah? lulus SMU aja belum." aku menatap Dina dengan tatapan menyelidik.

"yee.. kakak.. Dina kan cuman nanya."

"kirain kamu udah mau nikah." kataku lega. Dina baru saja duduk di kelas XII.

[Short Story] Perang-perangan ala Ghaza

"Ghaza...!!! Ayo cepat mandi.." pekikku begitu melihat Ghaza masuk rumah dengan pakaian kotor berlumur lumpur. Aku mengikuti langkah kecil Ghaza.

Selang 15 menit kemudian setelah Ghaza selesai mandi, berganti baju dan meminum susu hangatnya aku duduk di sampingnya, menunggu Ghaza bercerita.

"Tadi main perang-perangan bunda." Ghaza meneguk bagian terakhir susu coklatnya.

"Seperti cerita bunda tadi malam, Ghaza jadinya terjun ke parit buat main perang-perangan. Makanya baju Ghaza jadi kotor. Paritnya ga ada airnya kok bunda, tapi penuh lumpur." Ghaza menyelesaikan ceritanya. Aku menghela nafas, tadi malam aku memang menceritakan sejarah Perang Khandaq pada Ghaza. Aku urung memarahi Ghaza.

[Short Story] Cemburu

"aku cemburu sama dia, Nay.." ketawaku hampir meledak begitu Arina selesai bercerita. Tapi melihat wajah seriusnya, kucoba sekuat tenaga menahan. Coba pikir bagaimana mungkin aku ga ketawa, Arina cemburu dengan mantan pacar suaminya dulu yang sekarang juga udah berkeluarga. Punya suami dan dua anak.

"emang wanita itu lagi rusuh ya rumah tangganya?" tanyaku.

"ga sih Nay.. sepertinya baik-baik saja."

"loh.. kenapa kamu cemburu?" aku menyatakan keherananku. Arina cemburu karena beberapa kali suaminya ngasih jempol di status wanita itu, dan wanita itu juga beberapa kali ngasih comment di status fb suaminya. Aneh kan? tak taulah.. aku kan belum menikah. Jadi belum merasakan lah bagaimana seorang istri cemburu.

[Short Story] 10 Sahabat

Aku mendekati Shidqi yang entah sedang sibuk dengan jemarinya, seperti menghitung sesuatu.
"Shidqi sedang apa?"

"ini kak.. Shidqi lagi ngitung yang 10 itu, tapi Shidqi lupa 3." jawabnya dengan wajah bingung.

"Apa? nama-nama Malaikat ya?" tebakku.

"bukan kak. Kalau itu Shidqi sudah hafal. Tapi nama-nama 10 Sahabat Nabi yang dijamin masuk surga." aku tersenyum mendengar jawaban Shidqi.

"kakak bantu mengingatnya ya.. Shidqi yang ingat siapa aja?"

[Short Story] Praduga

“Ra, PP kamu sama siapa tuh?” aku bertanya pada Lira lewat chat saat tadi masuk fb dan menemukan PPnya ganti, foto dirinya sama seorang cowok. Padahal jelas-jelas Lira belum nikah dan ga punya sodara cowok.

“Hahaha.. husnudzan aja bu. Ga bagus berprasangka, kan sebagian dari dosa tuh.” Jawabannya sama aja dengan jawabannya buat teman-teman yang pada nanya di kolom comment.

“Masih ingat dengan yang namanya tabayyun kan Ra?”

“hemm.. apaan tuh Fi?”

“Tabayyun itu me-ricek kejelasannya, aturannya jelas ada di dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 6, cek gih apa terjemahnya.”

[Short Story] Persamaan

"Kak, kalau Umar bin Khatab dan Umar bin Abdul Aziz itu ada hubungan keluarga ga sih?" Aku menoleh ke Fira, dia sedang memegang buku SKI (Sejarah Kebudayaan Islam)

"Iya Ra, Umar bin Abdul Aziz keturunan Umar bin Khatab." Aku menjawab.

"Beneran nih ka? Bukan omdo kan?" Tanya Fira, ragu.

"Nih anak dibilangin ga percaya. Jadi begini Ra, pernah dengar kan kalau Umar bin Khatab waktu jadi khalifah sering jalan kalau malam-malam nengok rakyatnya, trus suatu malam Umar dengar ada ibu yang nyuruh anaknya mencampur susu dengan air, tapi anaknya ga mau katanya khalifah melarang mencampur susu dengan air, mendengar anaknya bilang gitu, si Ibu menjawab, 'Umar tidak akan tau kalau kamu mencampurnya dengan air', tau ga puterinya menjawab apa?" aku bertanya pada Fira sekalian memberi jeda akan ceritaku yang kurasa terlalu panjang.

[Short Story] Hafalan Riana

"Kak, Riana sudah hafal nama-nama istri Rasulullah." Riana berujar seraya duduk di depanku. Beberapa hari yang lalu dia bilang disuruh ustadzahnya menghafal nama-nama istri Rasulullah.

"Oya? Siapa aja Na? Coba sebutkan satu-satu." Pintaku.

"Yang pertama Khadijah binti Khuwailid, trus Saudah binti Zam'ah. Kemudian ada Aisyah dan Hafsah, keduanya puteri sahabat Rasul juga."

"Puteri siapa Na?" tanyaku yang langsung dijawab Riana. "Kalau Aisyah puteri dari Abu Bakar, Hafsah puteri dari Umar bin Khatab."

[Short Story] Jabal

"Kak, bantuin Sidqi bikin PR ya." Shidqi mendekatiku. Aku langsung meraih remote TV dan merendahkan volumenya.

"PR apa Qi?"

"ini kak, disuruh nyari tau tentang gunung-gunung dalam sejarah Islam. Kalau Gunung Jabal Nur itu apa kak?" Aku tersenyum mendengar pertanyaan Shidqi.

"Qi, Gunung itu bahasa Arabnya Jabal. Jadi kalau udah nyebut Jabal ga perlu lagi deh nyebut gunung. Ntar malah dua kali nyebut gunungnya." Shidqi mengangguk-angguk sambil nyengir mendengar penjelasanku.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...