Rabu, 18 Juli 2018

Nonton Blibli Indonesia Open di Istora


Sebenarnya memutuskan untuk #NgeIstora tidak sesederhana tulisan tentang Istora, Aku Datang yang saya tulis sebelumnya. Keputusan NgeIstora itu penuh dengan kegalauan. Awalnya saya rasanya tak ingin berangkat, bahkan tak mau ke Jakarta. Saya penginnya ngasuh ponakan saya aja di rumah kakek neneknya alias di rumah abah mama saya sendiri. Banyak hal yang saya pikirkan terkait #NgeIstora itu sendiri. 
Ngeistora

Pertama, saya tidak punya teman. Suami tentunya harus bekerja di hari kerja. Kecuali pada weekend dia bisa menemani saya menonton. 

Kedua, saya tak suka keramaian. Saya ini anak rumahan sekali yang sukanya selimutan di rumah (Hobi : Tidur). Jadi, mungkin yang cocok buat saya adalah nonton di rumah saja lewat layar ponsel. Apalagi saat melihat foto-foto keriuhan Istora, bukan ingin berangkat, malah pengin ngumpet. 

Selasa, 10 Juli 2018

Istora, Aku Datang


Saya bukan atlet, tapi saya mendamba untuk hadir di Istora. Sebagai penonton, sebagai pendukung, sebagai penikmat cabang olahraga yang begitu dicintai di negeri ini : bulutangkis. 

Semenjak menasbihkan diri sebagai Badminton Lover, keinginan untuk nge-Istora memang telah lama ada. Nge-Istora adalah sebutan untuk para pecinta Badminton saat menonton langsung bulutangkis di Istora Senayan walaupun sekarang Namanya berubah menjadi Blibli Arena tapi rasanya lebih menyenangkan menyebutnya Istora atau Istana Olahraga.
Istora Senayan

"Kalau enggak Ramadhan, kita nonton di Istora," kata suami saya setahun kemarin. "Tahun depan saja ya," lanjutnya lagi. 

Saya tidak mengiyakan tapi juga tidak menggelengkan kepala. Di kepala saya justru bermain pikiran berapa budget yang kudu disiapkan jika ke Jakarta hanya untuk menonton bulutangkis. Tiket masuknya aja sudah mahal, belum lagi tiket pesawat, penginapan, dan lain-lain. 

Selasa, 19 Juni 2018

Tempat Wisata Alam di Yogyakarta Yang Tak Banyak Orang Tau



Sesuai Namanya, kota Yogyakarta adalah kota yang benar-benar istimewa. Yogya seperti menempati tempat yang special, bukan hanya buat yang lahir dan besar di sana tapi juga buat para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

Saya masih ingat saat sepupu saya yang kerap dibawa orangtuanya berlibur ke berbagai kota di Indonesia, ketika ditanya ke mana dia ingin kembali? Dia menjawab Yogyakarta. Padahal sepupu saya itu masih kecil. Masih usia tujuh tahun dan Yogya telah memesona hatinya.

Senin, 18 Juni 2018

Menikmati Makanan ala Korea di Mujigae


Sebagai seseorang yang lumayan suka nonton drama Korea dan suka makan juga, tentulah ada keinginan buat makan aneka makanan Korea yang saya saksikan di drakor itu. Tapi, saya bukan tipe orang yang ngejar banget kudu makan karena menyadari kalau lidah saya ini Banjar sekali. Jadi, belum tentu juga makanan Korea itu cocok sama lidah saya. 

Ketika menonton drakor, paling saya sama-samakan aja. Misal saat mereka menyantap mie hitam yang nampak lezat, pikir saya "Ah, paling sama aja dengan indomie dikecapin." Saat Kim Bok Joo menyantap sate apa gitu di tepi jalan, saya mikir "Paling juga kayak kita makan sosis goreng atau pentol goreng yang ditusuk-tusuk." Tapi ada satu makanan yang pengiiiin banget saya coba, yaitu daging panggang. Aneka daging yang dimasak di atas kompor dan panggangan itu. Kok sepertinya seru ya? Sempat terpikir juga beli kompor dan panggangannya itu biar bisa bakar-bakar ala drakor. Tapi enggak jadi juga sih belinya.. Hahaha... 

Kamis, 07 Juni 2018

Berburu Takjil di Pasar Bendungan Hillir / Benhil


Lain padang lain belalang
Lain lubuk lain ikannya

Tulisan kali ini dimulai dengan peribahasa yang mana artinya dah pada hafal dong ya. Ini masuk peribahasa awam yang udah kita dengar sering sekali semenjak di bangku sekolah dasar yang sederhananya artinya itu kalau setiap daerah itu punya ciri khas, kebiasaan, atau budaya masing-masing. Beda satu daerah dengan daerah yang lain tentunya bisa banget. Termasuk saat Ramadhan dan urusan kulinernya. 

Tidak perlu jauh-jauh ngebandingin kita Indonesia dengan Timur Tengah, provinsi tetangga aja bisa beda. Waktu pindah ke Kalimantan Timur, saya aja ngerasain banget perbedaannya. Kalau di Barabai, kota kelahiran saya itu dominan dijual wadai-wadai atau kue-kue khas Banjar, maka saat di Kaltim, kue khas Bugis juga termasuk kuliner yang banyak dijual saat Ramadhan. 
Kue Lam Basah khas Barabai

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...