[Berhenti sejenak menatap sekitar. Itu selalu memberikan kita : INSPIRASI!]
Pernahkah merasa berjodoh dengan sebuah buku? Saat begitu ingin memilikinya dan ketika berada di toko buku menemukan buku itu tanpa keraguan sedikitpun langsung mengambil buku itu dan membawanya ke kasir. Setidaknya itulah yang sy rasakan pada buku ini, merasa sangat ingin memilikinya, padahal judul2 sebelumnya dengan penulis yang sama gagal merebut perhatian sy. Karena itulah ketika suatu siang menjelang sore sy menerima sebuah telepon dan suara di seberang mengatakan : “Ti, aku lagi ada di Gramed nih. Mau buku apa?” Seketika ada taman bunga yang bersemi di hati saya. siapa sih yang ga berbunga2 ditawarin buku? Hehe.. Maka buku pertama yang sy sebut adalah buku ini : “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin” karya terbaru dari Tere Liye. Thanks ya ka buat 2 bukunya. Benar2 nyesal Cuma nyebutin 2 buku. Hihihi…
Membujuk hati berdamai dengan harapan..
Tak perlu waktu lama buat menyelesaikan buku ini. Sy hanyut dalam ceritanya. Atau bisa dibilang terjerumus. Cara Tere Liye mengupas sebuah cerita sungguh menarik. Sy bahkan sempat berpikir, kok bisa ya penulis cowok sebegitu mengerti tentang sebuah rasa yang sy rasa hanya bisa dirasakan oleh wanita yang memang lebih perasa ketimbang cowok. Yah, novel ini tokoh utamanya adalah seorang wanita bernama Tania.
Yakinlah, mengenang semua perasaan itu tidak sesulit yang dibayangkan
Seorang wanita yang bersama adik dan ibunya pernah menjalani masa-masa sulit sepeninggal ayah mereka. Masa-masa harus meninggalkan sekolah, tinggal di rumah kardus, mengamen dan makan tak teratur. Sampai ada satu malaikat yang muncul di tengah kehidupan mereka. Seorang malaikat yang Tania bersumpah akan menuruti semua kata-katanya, keinginannya dan sumpahnya pada ibunya, Tania hanya akan menangis karena seseorang itu.
Kebaikan itu memang tak selalu harus berbentuk sesuatu yang terlihat. Tak selalu dalam bentuk uang dan materi.
Karena itulah saat sang ibu tiada, Tania menahan jutaan sesak di dadanya dan menahan agar air matanya tak tumpah. Semakin keras Tania berusaha, semakin sy larut dalam haru dan terisak sendiri. Tuhan, semua takdirMu baik.. semua kehendakMu adalah yang terbaik..
Hari terus berlalu dan tumbuhlah Tania dengan kecemerlangannya. Menjadi gadis yang cerdas dan cantik. Tapi di hatinya telah tumbuh sebuah perasaan yang tak bisa dia kendalikan. Sebuah rasa untuk seseorang yang telah menjadi malaikat penolong keluarganya. Tapi, Tania tak pernah bisa mengungkapkannya dalam kata-kata tentang perasaannya. Walau dalam tingkahnya rasa itu sangat jelas tergambar.
Dalam urusan perasaan, di mana-mana orang jauh lebih pandai “menulis” dan “bercerita” dibandingkan saat praktik sendiri di lapangan.
Orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.
Dan seseorang itu selalu menghindar ketika Tania mencoba meraba perasaannya. Sy sampai menyimpulkan seperti ini : ketika seorang pria selalu menghindar untuk membicarakan perasaannya maka waspadalah.. dia tak punya perasaan apa2 terhadap kita. Benar begitukah? Entah.
Pria selalu punya ruang tersembunyi di hatinya. Tak ada yang tahu, bahkan percayakah kau, ruang sekecil itu jauh lebih absurd daripada seorang wanita terabsurd sekalipun.
Puncaknya adalah ketika pria itu memutuskan menikah dan Tania kembali terjatuh dalam masa-masa sulit kehidupannya yang kali ini bukan karena kehidupan ekonomi mereka tapi karena PERASAAN.
Otakku sedang benci, maka aku selalu berpikiran negatif sepanjang hari..
Kesibukan-kesibukan itu akan membuatku lelah berpikir. Dan jika aku sudah lelah berpikir, pelan-pelan semuanya akan berlalu. Kalau aku sedikit beruntung, mungkin bisa melupakannya.
Terakhir, benar kata Ibu lewat komen beliau di MP. Sy suka endingnya bu.. duuuh.. ibu sama anak kompakan terus. Hehe.. intinya.. Jangan pernah menyerah. Hidup akan terus berjalan. Dan tidak semua perasaan harus diperjuangkan. (kesimpulan sendiri)
Menikah tidak selalu harus dengan seseorang yang kita cintai. Menikah adalah pilihan rasional. Ketika sudah menjalaninya, masalah terbesarnya bukan cinta atau tidak cinta lagi. Masalahnya adalah KOMITMEN.
Minggu, 20 Maret 2011
Long and Lasting Love
Masih bercerita tentang Ibu, mumpung hari Ibu. Dan cerita yang rada beda karena ini adalah cerita tentang perjuangan mencapai sebuah karier dalam hidup seorang wanita : menjadi IBU. Yah, cerita tentang kerinduang seorang wanita untuk hamil, melahirkan dan mempunyai anak.
Mengetahui tema novel ini membuat banyak tanya melayang-layang dalam benak saya. Sebenarnya apa sih pentingnya kehadiran seorang anak bagi sebuah pernikahan? Apakah sama pentingnya dengan adanya harum pada melati?
Tapi bagaimana jika anak yang dinanti tak kunjung tiba hingga usia pernikahan yang semakin menua? Apakah rumah tangga masih bisa tetap utuh tak terpengaruh? Atau harus ada kerelaan berbagi? Atau malah pengakhiran sebuah hubungan?
Novel ini dibuka dengan setting sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak. Tiga wanita bertemu dengan keperluan yang sama, ingin berbagi dengan sang dokter kandungan. Tapi berbeda dengan wanita-wanita yang datang dengan perut membuncit di sekitar mereka, tiga wanita itu datang ke ruang konsul obsgyn itu bukan untuk periksa sejauh mana perkembangan janin yang ada dalam rahim mereka, tapi untuk cek rahim.
Dengan permasalahan yang berbeda antara ketiganya :.
Sisy, kondisi seusai blighted dengan mioma dan kista di rahim.
Tya, selama usia pernikahan dia dan suami tak pernah menemukan strip dua di test pack.
Anna, pengidap tekanan darah rendah, rahimnya sehat, suaminya juga sehat, tapi dia belum hamil juga.
Yah, tiga wanita yang menjadi tokoh utama dari novel ini bernama Sisy, Tya dan Anna. Kalau banyak orang bilang bahwa wanita gampang sekali merasa dekat dengan sesama wanita yang senasib mungkin memang benar adanya, begitupun dengan tiga wanita itu, mereka cepat sekali merasa nyaman dengan obrolan-obrolan yang memihak kepada apa yang mereka alami sekarang walaupun dengan jarak perkenalan yang singkat tapi mampu membawa ke sebuah ikatan persahabatan yang kuat.
Tiga wanita dengan latar belakang rumah tangga yang berbeda, Tiga wanita dengan konflik rumah tangga masing-masing seiring sejalan dengan problema anak yang mereka tunggu-tunggu tak kunjung tiba.
Anna yang naluri keibuannya tak bisa ditahan lagi sehingga keinginannya buat mengadopsi seorang bayi yang lucu menghentak begitu kuat, tapi tak kunjung mendapoat izin sang suami. Apalagi keluarga suaminya adalah keluarga yang sangat memperhatikan bibit, bebet dan bobot sehingga tak gampang membawa masuk anak adopsi dalam keluarga besar.
Tya yang merasa seakan dunianya hancur lebur setelah mengetahui bahwa dia baik-baik saja. Tak ada masalah dengan alat reproduksinya, tapi yang bermasalah ternyata adalah suaminya.
Dan yang paling tegar serta yang paling rumit konfliknya adalah Sisy. Sisy yang baru saja mendapat pengakuan bahwa tak pernah ada cinta dari sang suami yang jauh sebelum menikah sudah sebegitu dikaguminya. Sisy yang harus bertahan ditengah perasaan perihnya dilukai dan nyerinya diabaikan. Ketika dia divonis mengidap kanker rahim justru disaat itu dia merasa terbuang dan tersia-sia.
Bagaimana kemudian tiga sahabat itu menjalani hidup mereka?
Saat mengetahui tema novel ini saya lantas langsung teringat pada Test Pack-nya Ninit Yunita. Tema yang sama tapi dengan adanya tiga tokoh utama dalam novel ini membuat novel ini terasa lebih 'kaya'. Di dalam novel ini juga bertabur penjelasan medis. Satu hal yang saya sukai karena dengan begitu sukses membuat saya melahap hal-hal seputar medis yang mengingatkan saya akan pelajaran biologi semasa putih abu-abu masih menjadi seragam kebanggaan. Info-info terkait tentang reproduksi disajikan lengkap dengan gejala, penyebab, pencegahan hadir di novel ini.
Di novel ini juga terselip cerita-cerita nyata dan inspiratif tentang pasangan-pasangan yang mereka butuh perjuangan dan penantian yang panjang demi kehadiran seorang anak. Cerita-cerita ini membuat novel ini semakin 'kaya'. Dalam cerita-cerita itu kita.. eh.. saya kembali diingatkan Allah Maha Kuasa, apa yang kita rasa tidak mungkin terjadi tapi jika dia berkata Jadi maka Jadilah. So, jangan pernah putus asa :)
Tak ada gading yang tak retak, begitupun sebuah novel. Saya tidak tahu bagaimana cara menulis mbak Ifa, apakah runtut dari awal sampai akhir, atau menuliskan satu per satu per tokoh kemudian 'dijahit'? Sehingga ada bagian yang seharusnya menjadi kejutan tapi sudah tersampaikan di chapter sebelumnya sehingga mengurangi unsur kejutan itu. Hal ini saya dapatkan di bagian cerita Tya yang sekilas menceritakan kisah tentang Sisy. Padahal cerita tentang Sisy baru dimulai di chapter berikutnya..
Dan novel ini hadir tetap dengan gaya menulis khas mbak Ifa.. Segar, menarik dan asyik, ga ngebosanin. Paling yang bikin bosan ada pada penjelasan-penjelasan medisnya. Ahaha… teteup.. ga suka Biologi :p
Jujur membaca novel ini sangat menguras emosi saya. Saya rasa buku ini punya nilai yang sangat positif. Buat mereka yang sedang dalam penantian menanti buah hati novel ini memberi energi positif untuk terus berprasangka baik padaNya dan tidak putus asa. Buat yang sudah atau akan mendapatkan buah hati, novel ini juga memberi nilai bahwa syukurilah dengan apa yang telah diamanahkanNya.
Tak banyak quote yang saya temukan di buku ini, tapi yang paling membuat saya tertarik dan seolah punya kekuatan bagi saya adalah kalimat yang dilontarkan Sisy di hatinya : "Tuhan, peluk aku sekarang. Jangan lepaskan aku."
Entah kenapa saat membacanya dan mengulanginya kembali dalam hati, saya benar-benar ingin berlari padaNya dan memohon padaNya untuk dipeluk.
Semoga Allah memberikan kepada kita keturunan yang sholeh dan sholehah. Aamiiiin….
Judul : Long and Lasting Love
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Jendela
Tebal : 352 Halaman
Terbit : Juni 2010
ISBN : 978-979-063-594-4
Mengetahui tema novel ini membuat banyak tanya melayang-layang dalam benak saya. Sebenarnya apa sih pentingnya kehadiran seorang anak bagi sebuah pernikahan? Apakah sama pentingnya dengan adanya harum pada melati?
Tapi bagaimana jika anak yang dinanti tak kunjung tiba hingga usia pernikahan yang semakin menua? Apakah rumah tangga masih bisa tetap utuh tak terpengaruh? Atau harus ada kerelaan berbagi? Atau malah pengakhiran sebuah hubungan?
Novel ini dibuka dengan setting sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak. Tiga wanita bertemu dengan keperluan yang sama, ingin berbagi dengan sang dokter kandungan. Tapi berbeda dengan wanita-wanita yang datang dengan perut membuncit di sekitar mereka, tiga wanita itu datang ke ruang konsul obsgyn itu bukan untuk periksa sejauh mana perkembangan janin yang ada dalam rahim mereka, tapi untuk cek rahim.
Dengan permasalahan yang berbeda antara ketiganya :.
Sisy, kondisi seusai blighted dengan mioma dan kista di rahim.
Tya, selama usia pernikahan dia dan suami tak pernah menemukan strip dua di test pack.
Anna, pengidap tekanan darah rendah, rahimnya sehat, suaminya juga sehat, tapi dia belum hamil juga.
Yah, tiga wanita yang menjadi tokoh utama dari novel ini bernama Sisy, Tya dan Anna. Kalau banyak orang bilang bahwa wanita gampang sekali merasa dekat dengan sesama wanita yang senasib mungkin memang benar adanya, begitupun dengan tiga wanita itu, mereka cepat sekali merasa nyaman dengan obrolan-obrolan yang memihak kepada apa yang mereka alami sekarang walaupun dengan jarak perkenalan yang singkat tapi mampu membawa ke sebuah ikatan persahabatan yang kuat.
Tiga wanita dengan latar belakang rumah tangga yang berbeda, Tiga wanita dengan konflik rumah tangga masing-masing seiring sejalan dengan problema anak yang mereka tunggu-tunggu tak kunjung tiba.
Anna yang naluri keibuannya tak bisa ditahan lagi sehingga keinginannya buat mengadopsi seorang bayi yang lucu menghentak begitu kuat, tapi tak kunjung mendapoat izin sang suami. Apalagi keluarga suaminya adalah keluarga yang sangat memperhatikan bibit, bebet dan bobot sehingga tak gampang membawa masuk anak adopsi dalam keluarga besar.
Tya yang merasa seakan dunianya hancur lebur setelah mengetahui bahwa dia baik-baik saja. Tak ada masalah dengan alat reproduksinya, tapi yang bermasalah ternyata adalah suaminya.
Dan yang paling tegar serta yang paling rumit konfliknya adalah Sisy. Sisy yang baru saja mendapat pengakuan bahwa tak pernah ada cinta dari sang suami yang jauh sebelum menikah sudah sebegitu dikaguminya. Sisy yang harus bertahan ditengah perasaan perihnya dilukai dan nyerinya diabaikan. Ketika dia divonis mengidap kanker rahim justru disaat itu dia merasa terbuang dan tersia-sia.
Bagaimana kemudian tiga sahabat itu menjalani hidup mereka?
Saat mengetahui tema novel ini saya lantas langsung teringat pada Test Pack-nya Ninit Yunita. Tema yang sama tapi dengan adanya tiga tokoh utama dalam novel ini membuat novel ini terasa lebih 'kaya'. Di dalam novel ini juga bertabur penjelasan medis. Satu hal yang saya sukai karena dengan begitu sukses membuat saya melahap hal-hal seputar medis yang mengingatkan saya akan pelajaran biologi semasa putih abu-abu masih menjadi seragam kebanggaan. Info-info terkait tentang reproduksi disajikan lengkap dengan gejala, penyebab, pencegahan hadir di novel ini.
Di novel ini juga terselip cerita-cerita nyata dan inspiratif tentang pasangan-pasangan yang mereka butuh perjuangan dan penantian yang panjang demi kehadiran seorang anak. Cerita-cerita ini membuat novel ini semakin 'kaya'. Dalam cerita-cerita itu kita.. eh.. saya kembali diingatkan Allah Maha Kuasa, apa yang kita rasa tidak mungkin terjadi tapi jika dia berkata Jadi maka Jadilah. So, jangan pernah putus asa :)
Tak ada gading yang tak retak, begitupun sebuah novel. Saya tidak tahu bagaimana cara menulis mbak Ifa, apakah runtut dari awal sampai akhir, atau menuliskan satu per satu per tokoh kemudian 'dijahit'? Sehingga ada bagian yang seharusnya menjadi kejutan tapi sudah tersampaikan di chapter sebelumnya sehingga mengurangi unsur kejutan itu. Hal ini saya dapatkan di bagian cerita Tya yang sekilas menceritakan kisah tentang Sisy. Padahal cerita tentang Sisy baru dimulai di chapter berikutnya..
Dan novel ini hadir tetap dengan gaya menulis khas mbak Ifa.. Segar, menarik dan asyik, ga ngebosanin. Paling yang bikin bosan ada pada penjelasan-penjelasan medisnya. Ahaha… teteup.. ga suka Biologi :p
Jujur membaca novel ini sangat menguras emosi saya. Saya rasa buku ini punya nilai yang sangat positif. Buat mereka yang sedang dalam penantian menanti buah hati novel ini memberi energi positif untuk terus berprasangka baik padaNya dan tidak putus asa. Buat yang sudah atau akan mendapatkan buah hati, novel ini juga memberi nilai bahwa syukurilah dengan apa yang telah diamanahkanNya.
Tak banyak quote yang saya temukan di buku ini, tapi yang paling membuat saya tertarik dan seolah punya kekuatan bagi saya adalah kalimat yang dilontarkan Sisy di hatinya : "Tuhan, peluk aku sekarang. Jangan lepaskan aku."
Entah kenapa saat membacanya dan mengulanginya kembali dalam hati, saya benar-benar ingin berlari padaNya dan memohon padaNya untuk dipeluk.
Semoga Allah memberikan kepada kita keturunan yang sholeh dan sholehah. Aamiiiin….
Judul : Long and Lasting Love
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Jendela
Tebal : 352 Halaman
Terbit : Juni 2010
ISBN : 978-979-063-594-4
Love in Rainy Days
Awalnya saya pikir novel ini hanya bercerita tentang sebuah rumah tangga yang belum mendapatkan anak dalam 10 tahun pernikahan mereka. Mereka terusss didesak keluarga besar terutama sang mertua, orangtua dari pihak laki-laki. Dan mereka mencoba bertahan dengan pernikahan itu.
Tapi ternyata.. banyak konflik dan kejutan yang mewarnai sepanjang cerita.
Novel ini bercerita tentang Zita dan Indra, dua manusia berlawanan jenis yang bersahabat karib sejak mereka masih TK. Zita adalah sosok orang yang mebuat arca hidup seperti Indra bisa lebih hidup. Zita dan Indra pun memiliki banyak kesamaan (walaupun bedanya juga banyak), salah satunya mereka sama-sama tergila-gila pada Hujan. Sampai pada akhirnyaa.. perasaan mereka berkembang, lebih dari sekedar sahabat, tapi untuk menempuh hidup baru lewat perniakahan banyak rintangan yang harus mereka hadapi, ada perbedaan2 yang bisa ditolerir ketika mereka bersahabat, tapi menjadi sulit sulit disatukan dalam sebuah wadah bernama pernikahan. Dari perbedaan status social yang selalu dipermasalahkan Ayahnya Indra.. hingga perbedaan IMAN.
Sampai pada akhirnya mereka Menikah juga. Selesaikah sampai di situ? Ohoho… tidaaak.. setelah mereka menikah permasalahan muncul karena Zita tak kunjung memberikan anak terhadap Indra. Dan satu lagi kenyataan yang terlambat diketahui Zita yang merajam hatinya begitu perih.. Ternyata Mama Asti, mama tiri Indra menyimpan perasaan lebih kepada Indra, anak tirinya sendiri. Bukan lagi perasaan seorang Ibu terhadap anaknya tapi sebagai perasaan seorang wanita kepada pria yang sama-sama dewasa. Parahnyaa… Indra juga terpancing dengan dengan 'pesona' sang Mama tiri. Aaaaa…. Indra tipikal cowok yang ga bisa tegas. Nyebelin banget…!!! Hihihi… esmosi sy jadinya… :p
Trus, bagaimana dengan rumah tangga Indra dan Zita selanjutnya? Mampukah bertahan? Silakan baca sendiri.. hehe.. udah merasa spoiler banget nich.. ;)
Berbagai konflik di novel ini dikemas secara renyah dan gurih ala mbak Ifa. Membacanya membuat sy penasaraaan dan bertanya-tanya.. ada kejutan apa lagi yang terhidang di halaman berikutnya? Hehehe.. dan sy lagi2 jatuh cinta dengan karya mbak Ifa yang satu ini. Terlebih… ada cerita2 hujannya itu loh. ^^
"Coba dengarkan bunyi hujan dengan hatimu. Bukan hanya dengan telingamu. Dengarlah, ia sungguh berirama. Lalu coba cium ada aroma apa yang tertangkap oleh hati dan hidungmu. Bukankah hujan selalu menguarkan aroma tanah basah yang wanginya mampu menggelitik syaraf-syaraf hidungmu?"
Mau komen2 ah tentang novelnya..
pertama.. ini cerita mengupas tentang hubungan anak dan Ibu tiri. Tapi beda dari biasaa… maksudnya beda dari cerita Cinderella atau bawang merah bawang putih di mana ada Ibu tiri kejams dan tak sayang sama sekali dengan anak tirinya.. dari situ konflik terjadi. Eh.. ternyataa kalau Ibu tiri terlalu sayang juga bisa jadi masalah, sayang yang bukan sewajarnya tentunya. Ohoho….
Kedua, apa yang terpikir jika ada seorang wanita menjadi mualaf dan beberapa waktu kemudian dia menikah dengan seorang Muslim? Apakah terpikir begini.. Dia masuk Islam untuk memuluskan jalannya menikah? Ahhh… qta tidak pernah tahu niat seseorang. Bisa jadi dia masuk Islam atas "pencarian" dan benar2 menginginkan Islam menjadi agamanya bukan hanya karena masalah menikah. Tentunyaa… karena Allah memberikan hidayah padaNya. Setidaknya saya tersadarkan akan hal tersebut, ketika membaca novel ini. Jangan pernah merasa paling sok tahu dengan ketulusan atau niat seseorang.
Ketiga, Aaaa…. Covernya kereeen. Tapiiii… kenapa gambar wanita di cover depan tidak sesuai dengan Zita dalam imaji sy. Hehe.. soalna di cerita itu digambarkan Zita adalah seorang wanita yang punya rambut ikal bergulung-gulung. Itu beberapa kali disebutkan. Dan di covernya yang sy lihat adalah wanita berambut lurus. Kalaupun bergelombang itu kan karena angin, sama halnya dengan gaun wanita itu yang bergelombang.
Terakhir… Sy suka endingnya. Pernah nonton Bread, Love and dreams, serial Korea yang tayang tiap sore di Indosiar (udah habis sih sekarang).. Nah, sama dengan serial Korea itu.. endingnya sama-sama memukau.. ^^
Btw, ada beberapa persamaan dari Love in Rainy days dan Bread, Love and Dreams… ntar deh kalau ada kesempatan dan lagi rajin mau cerita2 lagi.. ^^
Beberapa quotes dari Love in Rainy Days :
Bagiku, perasaan adalah satu hal yang amat pribadi dan sama sekali tak layak jadi konsumsi umum
Bagaimana bisa, orang berharap pada sebuah kebahagiaan di luar sana, sementara ia masih menggenggam kebahagiaan yang begitu berharga di dalam rumahnya sendiri?
Jangan pernah melihat masa lalu, jika itu menghalangi kita untuk jaid lebih baik
Judul : Love in Rainy Days
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Lingkar Pena
Tahun : 2011
Tebal : 357 Halaman
Tapi ternyata.. banyak konflik dan kejutan yang mewarnai sepanjang cerita.
Novel ini bercerita tentang Zita dan Indra, dua manusia berlawanan jenis yang bersahabat karib sejak mereka masih TK. Zita adalah sosok orang yang mebuat arca hidup seperti Indra bisa lebih hidup. Zita dan Indra pun memiliki banyak kesamaan (walaupun bedanya juga banyak), salah satunya mereka sama-sama tergila-gila pada Hujan. Sampai pada akhirnyaa.. perasaan mereka berkembang, lebih dari sekedar sahabat, tapi untuk menempuh hidup baru lewat perniakahan banyak rintangan yang harus mereka hadapi, ada perbedaan2 yang bisa ditolerir ketika mereka bersahabat, tapi menjadi sulit sulit disatukan dalam sebuah wadah bernama pernikahan. Dari perbedaan status social yang selalu dipermasalahkan Ayahnya Indra.. hingga perbedaan IMAN.
Sampai pada akhirnya mereka Menikah juga. Selesaikah sampai di situ? Ohoho… tidaaak.. setelah mereka menikah permasalahan muncul karena Zita tak kunjung memberikan anak terhadap Indra. Dan satu lagi kenyataan yang terlambat diketahui Zita yang merajam hatinya begitu perih.. Ternyata Mama Asti, mama tiri Indra menyimpan perasaan lebih kepada Indra, anak tirinya sendiri. Bukan lagi perasaan seorang Ibu terhadap anaknya tapi sebagai perasaan seorang wanita kepada pria yang sama-sama dewasa. Parahnyaa… Indra juga terpancing dengan dengan 'pesona' sang Mama tiri. Aaaaa…. Indra tipikal cowok yang ga bisa tegas. Nyebelin banget…!!! Hihihi… esmosi sy jadinya… :p
Trus, bagaimana dengan rumah tangga Indra dan Zita selanjutnya? Mampukah bertahan? Silakan baca sendiri.. hehe.. udah merasa spoiler banget nich.. ;)
Berbagai konflik di novel ini dikemas secara renyah dan gurih ala mbak Ifa. Membacanya membuat sy penasaraaan dan bertanya-tanya.. ada kejutan apa lagi yang terhidang di halaman berikutnya? Hehehe.. dan sy lagi2 jatuh cinta dengan karya mbak Ifa yang satu ini. Terlebih… ada cerita2 hujannya itu loh. ^^
"Coba dengarkan bunyi hujan dengan hatimu. Bukan hanya dengan telingamu. Dengarlah, ia sungguh berirama. Lalu coba cium ada aroma apa yang tertangkap oleh hati dan hidungmu. Bukankah hujan selalu menguarkan aroma tanah basah yang wanginya mampu menggelitik syaraf-syaraf hidungmu?"
Mau komen2 ah tentang novelnya..
pertama.. ini cerita mengupas tentang hubungan anak dan Ibu tiri. Tapi beda dari biasaa… maksudnya beda dari cerita Cinderella atau bawang merah bawang putih di mana ada Ibu tiri kejams dan tak sayang sama sekali dengan anak tirinya.. dari situ konflik terjadi. Eh.. ternyataa kalau Ibu tiri terlalu sayang juga bisa jadi masalah, sayang yang bukan sewajarnya tentunya. Ohoho….
Kedua, apa yang terpikir jika ada seorang wanita menjadi mualaf dan beberapa waktu kemudian dia menikah dengan seorang Muslim? Apakah terpikir begini.. Dia masuk Islam untuk memuluskan jalannya menikah? Ahhh… qta tidak pernah tahu niat seseorang. Bisa jadi dia masuk Islam atas "pencarian" dan benar2 menginginkan Islam menjadi agamanya bukan hanya karena masalah menikah. Tentunyaa… karena Allah memberikan hidayah padaNya. Setidaknya saya tersadarkan akan hal tersebut, ketika membaca novel ini. Jangan pernah merasa paling sok tahu dengan ketulusan atau niat seseorang.
Ketiga, Aaaa…. Covernya kereeen. Tapiiii… kenapa gambar wanita di cover depan tidak sesuai dengan Zita dalam imaji sy. Hehe.. soalna di cerita itu digambarkan Zita adalah seorang wanita yang punya rambut ikal bergulung-gulung. Itu beberapa kali disebutkan. Dan di covernya yang sy lihat adalah wanita berambut lurus. Kalaupun bergelombang itu kan karena angin, sama halnya dengan gaun wanita itu yang bergelombang.
Terakhir… Sy suka endingnya. Pernah nonton Bread, Love and dreams, serial Korea yang tayang tiap sore di Indosiar (udah habis sih sekarang).. Nah, sama dengan serial Korea itu.. endingnya sama-sama memukau.. ^^
Btw, ada beberapa persamaan dari Love in Rainy days dan Bread, Love and Dreams… ntar deh kalau ada kesempatan dan lagi rajin mau cerita2 lagi.. ^^
Beberapa quotes dari Love in Rainy Days :
Bagiku, perasaan adalah satu hal yang amat pribadi dan sama sekali tak layak jadi konsumsi umum
Bagaimana bisa, orang berharap pada sebuah kebahagiaan di luar sana, sementara ia masih menggenggam kebahagiaan yang begitu berharga di dalam rumahnya sendiri?
Jangan pernah melihat masa lalu, jika itu menghalangi kita untuk jaid lebih baik
Judul : Love in Rainy Days
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Lingkar Pena
Tahun : 2011
Tebal : 357 Halaman
Ranah 3 Warna
Kalau kita kondisikan sedemikian rupa, impian itu lambat laun akan menjadi nyata. Pada waktu yang tidak pernah kita sangka-sangka.
[Ranah 3 Warna]
Satu hal yang tidak bisa saya lepaskan ketika awal membaca buku ini adalah pulpen. Ahaha… Sy kan punya kebiasaan menggarisbawahi kata2 bagus atau menarik yang ada di buku. Dan di Ranah 3 Warna yang sy garis bawahi banyak banget. Yang mampu menyaingi kayakna cuman bukunya Andrea Hirata aja yang dwilogi itu :)
[Antara bersungguh-sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu centimeter, tapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi bisa juga puluhan tahun. Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi dengan sabar.]
Buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara ini masih bercerita tentang Alif Fikri setelah menyelesaikan pendidikannya di PM. Dia kembali ke kampung halaman dan menorehkan impian ingin sekolah di Teknik Penerbangan. Menjadi seperti pak Habibie. Tapii.. sayangnya dia tidak punya ijazah SMA sehingga harus ikut ujian penyetaraan dan Alif hanya punya waktu sedikit untuk belajar mata pelajaran SMU yang tidak dia pelajari di PM. Setelah ijazah SMU dia pegang, masalah tidak selesai.. dia harus melewati UMPTN untuk masuk jurusan yang dia inginkan. Bla… bla.. gitu deh… perjuangan meraih impian, berbagai halangan yang tak menggoyahkan Alif dan mantera2 sakti yang coba Alif dengungkan untuk menyemangatinya. Man Jadda Wajadda dan Man Shabara Zhafira
Baguss Banget… Terlebih saat berbagai nestapa yang menghadang kehidupan Alif. Huwaaaa…. Bikin menangis semalam (soalna bacanya malam2). Sy akui penulisnya pintaaaar sekaliii menguras emosi pas bagian itu. Tapi itulah… semakin pekat malam itu pertanda akan semakin dekat dengan fajar
Tapi setelah sang fajar datang.. sy kok merasa konflik berjalan seadanya.. Mungkin karena di awal udah disuguhin yang "BLAARR!!!" Seperti petir menyambar hingga kemudian pas di tengah, sy merasa yang ada Cuma riak-riak kecil. Walaupun begitu si penulis tetap membeberkan beberapa cerita tentang usaha dan kerja keras untuk meraih impian. Apapun itu lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan kesabaran..
[Sabar itu awalnya terasa pahit, tetapi akhirnya lebih manis daripada madu.]
Dan tak ketinggalan adalah bumbu cerita cintanya. Ahaha… jika di negeri 5 menara ada cerita tentang Nama yang bersenandung, kali ini love-love itu memakan porsi yang lebih banyak.. Tapiii… sy rasa penulisnya lebih berbakat nulis cerita motivasi ketimbang cerita roman :p
[Diperlukan waktu untuk merawat hati dan mengikis seseorang dari ingatan.]
Trus.. ada juga tips2 menulis diselipkan. Huwaaa… cara Bang Togar ngajarin Alif menulis keren banget. Salut juga terhadap semangat Alif dalam pantang menyerah. Keren deh. Juga kebiasaan Alif menulis diary. *ingat kebiasaan lama dulu :p*
Cerita tentang persahabatan Alif dan Randai juga membuat buku ini semakin berwarna dan bermakna. ^^
[Teman tidak harus selalu bersama. Teman juga tidak harus selalu berdamai. Mungkin kadang-kadang kami perlu berpisah untuk lebih menghargai pertemanan ini. Sekali-sekali kita bisa saja bertengkar untuk menguji seberapa kokoh inti persahabatan itu.]
Sy akui Ranah 3 Warna memang lebih.. apa yaa.. lebih menyentuh ketimbang buku pertamanya Negeri 5 Menara. Trus.. full spirit jugaa… Jika di buku pertama Negeri 5 Menara bertaburan endors dari nama2 bintang di negeri ini, di R3W malah tak ada satu pun endors yang sy temukan. Iiih… kenapa ga minta sy aja gitu yang jadi endorser? Hihihi…. (catatan : untuk penulis pemula emang dibutuhkan endors2 dari mereka yang namanya terkenal.. tapi kalau udah penulis yang namanya menasional baru deh bisa ditampilkan nama2 yang ga terkenal semisal sy :p)
Di sini sy ga protes2 deh tentang si Rusdi. Ehehe… cuman namanya aja yang maksa.. untuk menyiratkan dia urang Banjar kok maksa banget nama lengkapnya pakai Banjari di ujung :p
[Sedekat apapun "hampir" itu dengan kenyataan, dia tetap saja sesuatu yang tidak pernah terjadi.]
Judul : Ranah 3 Warna
Penulis : A Fuadi
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2011
Tebal : 473 Halaman
*catatan : yang dalam tanda […] diambil dari Ranah 3 Warna.
[Ranah 3 Warna]
Satu hal yang tidak bisa saya lepaskan ketika awal membaca buku ini adalah pulpen. Ahaha… Sy kan punya kebiasaan menggarisbawahi kata2 bagus atau menarik yang ada di buku. Dan di Ranah 3 Warna yang sy garis bawahi banyak banget. Yang mampu menyaingi kayakna cuman bukunya Andrea Hirata aja yang dwilogi itu :)
[Antara bersungguh-sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu centimeter, tapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi bisa juga puluhan tahun. Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi dengan sabar.]
Buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara ini masih bercerita tentang Alif Fikri setelah menyelesaikan pendidikannya di PM. Dia kembali ke kampung halaman dan menorehkan impian ingin sekolah di Teknik Penerbangan. Menjadi seperti pak Habibie. Tapii.. sayangnya dia tidak punya ijazah SMA sehingga harus ikut ujian penyetaraan dan Alif hanya punya waktu sedikit untuk belajar mata pelajaran SMU yang tidak dia pelajari di PM. Setelah ijazah SMU dia pegang, masalah tidak selesai.. dia harus melewati UMPTN untuk masuk jurusan yang dia inginkan. Bla… bla.. gitu deh… perjuangan meraih impian, berbagai halangan yang tak menggoyahkan Alif dan mantera2 sakti yang coba Alif dengungkan untuk menyemangatinya. Man Jadda Wajadda dan Man Shabara Zhafira
Baguss Banget… Terlebih saat berbagai nestapa yang menghadang kehidupan Alif. Huwaaaa…. Bikin menangis semalam (soalna bacanya malam2). Sy akui penulisnya pintaaaar sekaliii menguras emosi pas bagian itu. Tapi itulah… semakin pekat malam itu pertanda akan semakin dekat dengan fajar
Tapi setelah sang fajar datang.. sy kok merasa konflik berjalan seadanya.. Mungkin karena di awal udah disuguhin yang "BLAARR!!!" Seperti petir menyambar hingga kemudian pas di tengah, sy merasa yang ada Cuma riak-riak kecil. Walaupun begitu si penulis tetap membeberkan beberapa cerita tentang usaha dan kerja keras untuk meraih impian. Apapun itu lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan kesabaran..
[Sabar itu awalnya terasa pahit, tetapi akhirnya lebih manis daripada madu.]
Dan tak ketinggalan adalah bumbu cerita cintanya. Ahaha… jika di negeri 5 menara ada cerita tentang Nama yang bersenandung, kali ini love-love itu memakan porsi yang lebih banyak.. Tapiii… sy rasa penulisnya lebih berbakat nulis cerita motivasi ketimbang cerita roman :p
[Diperlukan waktu untuk merawat hati dan mengikis seseorang dari ingatan.]
Trus.. ada juga tips2 menulis diselipkan. Huwaaa… cara Bang Togar ngajarin Alif menulis keren banget. Salut juga terhadap semangat Alif dalam pantang menyerah. Keren deh. Juga kebiasaan Alif menulis diary. *ingat kebiasaan lama dulu :p*
Cerita tentang persahabatan Alif dan Randai juga membuat buku ini semakin berwarna dan bermakna. ^^
[Teman tidak harus selalu bersama. Teman juga tidak harus selalu berdamai. Mungkin kadang-kadang kami perlu berpisah untuk lebih menghargai pertemanan ini. Sekali-sekali kita bisa saja bertengkar untuk menguji seberapa kokoh inti persahabatan itu.]
Sy akui Ranah 3 Warna memang lebih.. apa yaa.. lebih menyentuh ketimbang buku pertamanya Negeri 5 Menara. Trus.. full spirit jugaa… Jika di buku pertama Negeri 5 Menara bertaburan endors dari nama2 bintang di negeri ini, di R3W malah tak ada satu pun endors yang sy temukan. Iiih… kenapa ga minta sy aja gitu yang jadi endorser? Hihihi…. (catatan : untuk penulis pemula emang dibutuhkan endors2 dari mereka yang namanya terkenal.. tapi kalau udah penulis yang namanya menasional baru deh bisa ditampilkan nama2 yang ga terkenal semisal sy :p)
Di sini sy ga protes2 deh tentang si Rusdi. Ehehe… cuman namanya aja yang maksa.. untuk menyiratkan dia urang Banjar kok maksa banget nama lengkapnya pakai Banjari di ujung :p
[Sedekat apapun "hampir" itu dengan kenyataan, dia tetap saja sesuatu yang tidak pernah terjadi.]
Judul : Ranah 3 Warna
Penulis : A Fuadi
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2011
Tebal : 473 Halaman
*catatan : yang dalam tanda […] diambil dari Ranah 3 Warna.
Muhasabah Cinta Seorang Istri
Cinta menurutku tak berwarna
Ia menjadi jingga
Sebagaimana kau memaknainya
Ia pun menjadi kuning, biru, dan merah
Sebagaimana kau menginginkannya
Cinta bagiku tak ubahnya kumpulan narasi
Tentang kejujuran dan keberanian
Tentang kemarahan dan kasih sayang
Dan tak terkatakan
Sebab ia menenggelamkan kita
Pada angan-angan dan mimpi yang abadi
Dan cintaku padamu
Adalah surga yang tak bisa kumasuki tanpamu
(Muhasabah cinta seorang istri - Asma Nadia)
Bagi saya, buku-buku dari mbak Asma Nadia selalu menarik dan sy selalu tergiur buat membacanya, termasuk ketika beliau mulai menyusun buku-buku yang mengisahkan kisah-kisah nyata yang sering memakai judul "Catatan Hati". Salah satu yang sukses membuat sy jatuh cinta adalah Muhasabah Cinta Seorang Istri. Ahaha… padahal belum menjadi istri tuh :p
Tapi jangan salah.. walau judulnya ada kata2 istri tapi buku ini sy rasa lebih dikhususkan kepada wanita lajang. Hihihi… Buku ini menempati deret pertama buku-buku Catatan Hati mbak Asma yang menjadi favorit sy. Buku yang lain apa? Ada Catatan Hati Bunda, Catatan Hati di setiap sujudku dan La Tahzan for broken hearted Muslimah.
Buku ini mengupas berbagai pertanyaan yang sering muncul di benak para jomblowati. Pada bagian pertama, mengupas tentang 'Di Balik keinginan Menikah'
What was the reason we wanted to get married?
Keinginan untuk menikah tidak lantas membuat seseorang bisa memasuki gerbang pernikahan dengan simsalabim. Ada beberapa tahapan yang harus ditempuh dan selain keinginan yang harusnya diikuti juga dengan kesiapan, tentu saja ada hal-hal lain yang tidak kalah penting : menemukan calon yang bersedia dan… (ehem.. ini juga tak kalah penting) siap menikahi kita.
Trus.. pertanyaan kedua yang dikupas di buku ini adalah 'Seberapa siap kamu menikah?'
Menikah bukan hanya persoalan mau, sudah ada calon atau belum. Tetapi sebuah kehidupan dengan tanggung jawab besar menanti kita. Dan itu membutuhkan kesiapan jasad, ruh dan akal.
Yang ketiga.. hemm… ini katanya pertanyaan yang sering menghantui perempuan mana saja yang belum menikah. Is he the right one?Ahaha, di bagian ini ada tips mengenali karakter calon suami dan melihat kecendrungan-kecendrungan yang tidak baik.
Selanjutnya? Pembahasan selanjutnya lebih kepada yang sudah menikah aja tuh. Semisal to be a good mother. Tapi tetap menarik dan penting untuk disimak.
Sama halnya dengan buku Catatan Hati, selain berbagi tips.. buku ini juga memuat cerita-cerita dari mereka yang sudah berkecimpung di dunia rumah tangga yang bisa membuat kita belajar, juga merenung. Ada tulisannya mbak Febi (Yudith Fabiola) dan mbak Dedew (Dewi Rieka) juga di sini. Dua nama yang FB atau MP mereka sering sy sambangi. Hihihi…. Belakangan sy tersanjung dan terharu karena mbak Febi pernah menulis tentang sy di lomba teman maya yang klik. Makasih ya mbak Feb… :)
Kutipan menarik dari buku ini :
Saling menyalahkan adalah langkah paling cepat menyelamatkan diri sendiri, sekaligus langkah paling cepat menghancurkan pernikahan. (Sinta Yudisia - hal. 87)
Pernikahan ternyata proses penyesuaian seumur hidup ( Sinta Yudisia - hal 79)
Judul : Muhasabah Cinta Seorang Istri
Penulis : Asma Nadia, dkk
Penerbit : Lingkar Pena
Tahun : 2009
Tebal : 250 halaman
Ia menjadi jingga
Sebagaimana kau memaknainya
Ia pun menjadi kuning, biru, dan merah
Sebagaimana kau menginginkannya
Cinta bagiku tak ubahnya kumpulan narasi
Tentang kejujuran dan keberanian
Tentang kemarahan dan kasih sayang
Dan tak terkatakan
Sebab ia menenggelamkan kita
Pada angan-angan dan mimpi yang abadi
Dan cintaku padamu
Adalah surga yang tak bisa kumasuki tanpamu
(Muhasabah cinta seorang istri - Asma Nadia)
Bagi saya, buku-buku dari mbak Asma Nadia selalu menarik dan sy selalu tergiur buat membacanya, termasuk ketika beliau mulai menyusun buku-buku yang mengisahkan kisah-kisah nyata yang sering memakai judul "Catatan Hati". Salah satu yang sukses membuat sy jatuh cinta adalah Muhasabah Cinta Seorang Istri. Ahaha… padahal belum menjadi istri tuh :p
Tapi jangan salah.. walau judulnya ada kata2 istri tapi buku ini sy rasa lebih dikhususkan kepada wanita lajang. Hihihi… Buku ini menempati deret pertama buku-buku Catatan Hati mbak Asma yang menjadi favorit sy. Buku yang lain apa? Ada Catatan Hati Bunda, Catatan Hati di setiap sujudku dan La Tahzan for broken hearted Muslimah.
Buku ini mengupas berbagai pertanyaan yang sering muncul di benak para jomblowati. Pada bagian pertama, mengupas tentang 'Di Balik keinginan Menikah'
What was the reason we wanted to get married?
Keinginan untuk menikah tidak lantas membuat seseorang bisa memasuki gerbang pernikahan dengan simsalabim. Ada beberapa tahapan yang harus ditempuh dan selain keinginan yang harusnya diikuti juga dengan kesiapan, tentu saja ada hal-hal lain yang tidak kalah penting : menemukan calon yang bersedia dan… (ehem.. ini juga tak kalah penting) siap menikahi kita.
Trus.. pertanyaan kedua yang dikupas di buku ini adalah 'Seberapa siap kamu menikah?'
Menikah bukan hanya persoalan mau, sudah ada calon atau belum. Tetapi sebuah kehidupan dengan tanggung jawab besar menanti kita. Dan itu membutuhkan kesiapan jasad, ruh dan akal.
Yang ketiga.. hemm… ini katanya pertanyaan yang sering menghantui perempuan mana saja yang belum menikah. Is he the right one?Ahaha, di bagian ini ada tips mengenali karakter calon suami dan melihat kecendrungan-kecendrungan yang tidak baik.
Selanjutnya? Pembahasan selanjutnya lebih kepada yang sudah menikah aja tuh. Semisal to be a good mother. Tapi tetap menarik dan penting untuk disimak.
Sama halnya dengan buku Catatan Hati, selain berbagi tips.. buku ini juga memuat cerita-cerita dari mereka yang sudah berkecimpung di dunia rumah tangga yang bisa membuat kita belajar, juga merenung. Ada tulisannya mbak Febi (Yudith Fabiola) dan mbak Dedew (Dewi Rieka) juga di sini. Dua nama yang FB atau MP mereka sering sy sambangi. Hihihi…. Belakangan sy tersanjung dan terharu karena mbak Febi pernah menulis tentang sy di lomba teman maya yang klik. Makasih ya mbak Feb… :)
Kutipan menarik dari buku ini :
Saling menyalahkan adalah langkah paling cepat menyelamatkan diri sendiri, sekaligus langkah paling cepat menghancurkan pernikahan. (Sinta Yudisia - hal. 87)
Pernikahan ternyata proses penyesuaian seumur hidup ( Sinta Yudisia - hal 79)
Judul : Muhasabah Cinta Seorang Istri
Penulis : Asma Nadia, dkk
Penerbit : Lingkar Pena
Tahun : 2009
Tebal : 250 halaman
Skripsi Krispi
Yah, seperti yang udah bisa ditebak lewat judulnya buku ini memang menyajikan kisah-kisah mereka yang ngadapin skripsi. Cerita renyah, yang enak gurih buat disimak juga tips-tips keren :)
Di bagian persembahan buku ini disebutkan kalau buku ini dipersembahkan buat mahasiswa Indonesia yang akan dan sedang menjalani skripsi, "Selamat Berjuang!"
Skripsi memang butuh perjuangan.. bahkan jalan agar sampai pada skripsi pun butuh perjuangan yang tidak sedikit dan di buku ini kisah2 perjuangan itu dipaparkan dengan baik. Ada yang berjuang mencari dana, judul, menaklukkan dosen pembimbing sampai berjuang melawan diri sendiri karena jenuh dan malas menggarap lahan bernama skripsi.
Trus, buku ini juga dipersembahkan buat para alumni buat bernostalgia. Ahaha... bener banget. Membaca kisah2 yang ada di buku ini memang bikin sy jadi bernostalgia. Mangut2 sendiri ketika menemukan cerita yang mirip, atau berkomentar sendiri, "Ihhh... ini kisah mirip gue," dan "Benar banget tuh, skripsi emang gitu," atau malah menarik nafas lega.. Alhamdulillah... ga sempat kaya gitu dulu.
Buku ini juga dipersembahkan buat para dosen sang pendidik yang tak kenal lelah berjuang dan berbagi ilmu.. Hemm... kalau di buku ini banyak diceritakan dosen pembimbing yang killer, sy waktu skripsi untungnya dapat dosen pembimbing yang baik hati sekali... tapi tak mengurangi kenikmatan sy melahap buku ini ^^
Oh ya, ada juga yang bikin miris kalau bicara tentang dosen dari cerita di buku ini, ada dosen yangbaru ' lunak' ketika di kasih amplop. Huwaaa... kok bisa gitu? trus gimana.. gimana? Ayo baca buku ini ;)
Buku ini juga dipersembahkan buat para calon mahasiswa agar bisa berimajinasi tentang skripsi. Hihihi... jadi ingat dulu.. sukaaa ngebayangin syeramnya skripsi, waktu masih jadi MABA juga gitu, ngelihat kakak2 tingkat dengan muka berlipat2 dan diktat2 tebal di tangan. Bayangan sy skripsi itu syeram banget... Nah, seberapa seram? Setidaknya pertanyaan itu bisa terjawab dengan membaca pengalaman2 di buku ini.
Terakhir buku ini dipersembahkan buat Semua Mahasiswa.. "Kamu Tidak Sendiri!!!".. Hehehe... benar banget. Perasaan kalau kita tidak sendiri bisa membantu kita mengendalikan suasana. Dulu di tengah stressnya dengan TA berkumpul dengan teman2 yang senasib bisa sangat melegakan, saling menguatkan dan saling memotivasi. Jadi yang lagi buntu dengan skripsi, hayuk.. dilahap buku ini :))
Jika ditanya tulisan siapa yang bagi sy paling menarik di buku ini, maka sy akan menjawab tulisan berjudul 'Antara aku, laporan dan masa itu' yang ditulis oleh Fadli. Entah kenapa sy merasakan khasnya tulisan Andrea Hirata sy dapatkan di tulisan tersebut ;)
Tapi sayangnya waktu sy cari di Goodreads buku Skripsi Krispi belum terdaftar. Hiks. Didaftarin dunk... Biar tercatat di sana kalau sy udah baca nih buku :))
Oh ya... sy rasa buku ini tidak hanya asyik dibaca buat yang sedang bergelut atau pernah bergelut dengan skripsi. Di balik semuanya.. Di balik semua kisah inspiratif di buku ini tersimpan sebuah pesan, bahwa di balik kesulitan itu ada kemudahan. Semakin pekat malam, semakin dekat dengan datangnya sang fajar. Jangan Menyerah... !!!
Judul : Skripsi Krispi
Penulis : Miyosi Ariefiansyah, Ifa Avianty, dkk
Penerbit : Leutika
Cetakan : Desember, 2010
Tebal : 204 Halaman
Di bagian persembahan buku ini disebutkan kalau buku ini dipersembahkan buat mahasiswa Indonesia yang akan dan sedang menjalani skripsi, "Selamat Berjuang!"
Skripsi memang butuh perjuangan.. bahkan jalan agar sampai pada skripsi pun butuh perjuangan yang tidak sedikit dan di buku ini kisah2 perjuangan itu dipaparkan dengan baik. Ada yang berjuang mencari dana, judul, menaklukkan dosen pembimbing sampai berjuang melawan diri sendiri karena jenuh dan malas menggarap lahan bernama skripsi.
Trus, buku ini juga dipersembahkan buat para alumni buat bernostalgia. Ahaha... bener banget. Membaca kisah2 yang ada di buku ini memang bikin sy jadi bernostalgia. Mangut2 sendiri ketika menemukan cerita yang mirip, atau berkomentar sendiri, "Ihhh... ini kisah mirip gue," dan "Benar banget tuh, skripsi emang gitu," atau malah menarik nafas lega.. Alhamdulillah... ga sempat kaya gitu dulu.
Buku ini juga dipersembahkan buat para dosen sang pendidik yang tak kenal lelah berjuang dan berbagi ilmu.. Hemm... kalau di buku ini banyak diceritakan dosen pembimbing yang killer, sy waktu skripsi untungnya dapat dosen pembimbing yang baik hati sekali... tapi tak mengurangi kenikmatan sy melahap buku ini ^^
Oh ya, ada juga yang bikin miris kalau bicara tentang dosen dari cerita di buku ini, ada dosen yangbaru ' lunak' ketika di kasih amplop. Huwaaa... kok bisa gitu? trus gimana.. gimana? Ayo baca buku ini ;)
Buku ini juga dipersembahkan buat para calon mahasiswa agar bisa berimajinasi tentang skripsi. Hihihi... jadi ingat dulu.. sukaaa ngebayangin syeramnya skripsi, waktu masih jadi MABA juga gitu, ngelihat kakak2 tingkat dengan muka berlipat2 dan diktat2 tebal di tangan. Bayangan sy skripsi itu syeram banget... Nah, seberapa seram? Setidaknya pertanyaan itu bisa terjawab dengan membaca pengalaman2 di buku ini.
Terakhir buku ini dipersembahkan buat Semua Mahasiswa.. "Kamu Tidak Sendiri!!!".. Hehehe... benar banget. Perasaan kalau kita tidak sendiri bisa membantu kita mengendalikan suasana. Dulu di tengah stressnya dengan TA berkumpul dengan teman2 yang senasib bisa sangat melegakan, saling menguatkan dan saling memotivasi. Jadi yang lagi buntu dengan skripsi, hayuk.. dilahap buku ini :))
Jika ditanya tulisan siapa yang bagi sy paling menarik di buku ini, maka sy akan menjawab tulisan berjudul 'Antara aku, laporan dan masa itu' yang ditulis oleh Fadli. Entah kenapa sy merasakan khasnya tulisan Andrea Hirata sy dapatkan di tulisan tersebut ;)
Tapi sayangnya waktu sy cari di Goodreads buku Skripsi Krispi belum terdaftar. Hiks. Didaftarin dunk... Biar tercatat di sana kalau sy udah baca nih buku :))
Oh ya... sy rasa buku ini tidak hanya asyik dibaca buat yang sedang bergelut atau pernah bergelut dengan skripsi. Di balik semuanya.. Di balik semua kisah inspiratif di buku ini tersimpan sebuah pesan, bahwa di balik kesulitan itu ada kemudahan. Semakin pekat malam, semakin dekat dengan datangnya sang fajar. Jangan Menyerah... !!!
Judul : Skripsi Krispi
Penulis : Miyosi Ariefiansyah, Ifa Avianty, dkk
Penerbit : Leutika
Cetakan : Desember, 2010
Tebal : 204 Halaman
Eliana (Tere Liye)
Pada awalnya saya pikir Eliana akan beda dengan 2 adiknya terdahulu, Burlian dan Pukat. Karena di dua adiknya itu diceritakan Eliana sudah masuk SMP di kota kabupaten. Jadinya sy pikir ketika cerita Eliana hadir maka settingnya tidak di kampung lagi, tapi di kota kabupaten. Tidak ada Pak Bin lagi tapi berganti dengan guru2 di SMP kota kabupaten. Tapii... ternyata penulisnya masih setia dengan kampung dan masih konsisten dengan cerita anak-anaknya. Bukan cerita ABG.
Kecewakah saya? TIDAK. Hehhe... Bagaimana bisa saya kecewa, jika di awal saja emosi sy sudah diaduk-aduk, bikin haru dan ada airmata yang merekah (ciee...) saat si Pemberani Eliana berteriak, "JANGAN HINA BAPAKKU!" Dan sy sepakat dengan tulisan seorang teman, ketika di bab awal kita dibuat haru dan menangis, di bab selanjutnya malah ada tawa yang berderai. Menyenangkan Sekali... ^^
Ketika sampai pada tengah cerita, sy pikir cerita ini hanya akan berkutat tentang penambangan pasir. Ahaha... ternyata sy salah. Cerita tentang penambangan pasir hadir dalam porsi yang tepat, hingga sy tidak bosan. Dan cerita2 lainnya pun sungguh membuat sy takjub dan terpesona. Ah... indah nian buku ini. Banyak pelajaran yang di dapat. Sungguh sebuah makanan yang bergizi.
Ada cerita tentang lingkungan, ada juga tentang pribadi Eliana dan bagaimana Eliana berhubungan dengan orang-orang sekitar juga dengan keluarga terdekatnya. Seru dan tegang ketika Eliana bersama empat buntalnya beraksi, juga perseteruan Eliana dan Marhotap, dan terakhir dengan Anton. Dalam Eliana juga banyak keceriaan khas anak kecil yang hadir lewat tokoh Pukat dan Burlian yang nakal juga Amelia yang pintar. Ahaha.. sy telah jatuh cinta dengan sosok Amelia. Ahaha.... solidaritas sesama anak bungsu :p
Eliana adalah anak sulung. Sy juga sempat punya pikiran seperti Eliana.. oh.. bukan sempat lagi, pikiran itu masih ada bahwa menjadi anak sulung itu memang berat, punya tanggung jawab yang tidak ringan. Itu pulalah yang dirasakan Eliana dan membuat dia merajuk. Ohoho... sepakat dengan beberapa review di Goodreads yang menyebutkan pada bagian itu juga sukses membuat airmata kita berderai2.
Apa lagi yaa??? Oh iya, seperti yang sy sebutkan di atas, banyaknya pelajaran yang bisa diambil dari membaca Eliana, hal ini sempat membuat sy berangan-angan.. Bagaimana jika penulis2 seperti yang menuliskan Eliana, diangkat jadi PNS dan digaji pemerintah.. Jadi kerjanyaa cuma nuliiis buku2 bergizi seperti ini. Dan buku2 itu disebarkan gratis, akan ada di semua perpustakaan sekolah, perpus kampus, perpus daerah, rumah2 baca dan lain-lain.
Atau cerita ini diangkat ke layar kaca, seperti cerita Upin Ipin mungkin, terlebih saat sy membacanya, sy membayangkan Eliana itu seperti Kak Ros. Hehe... dan siapa lagi yang menjadi Upin dan Ipin nya kalau bukan Pukat dan Burlian. Lalu, kenapa diangkat ke layar kaca? Agar setiap orang yang tidak suka membaca bisa menikmatinya. Atau dengan kata lain... Serial anak-anak Mamak ini bisa menjangkau lingkup yang lebih luas. Sayang sekali kalau cuma dibaca segelintir orang di negeri ini. Karena ceritanya sungguh bagus dan mengesankan :)
Catatan lain lagi... ketika membaca Eliana banyak sekali kesalahan ketik yang sy temukan Dan juga satu hal yang membuat kening sy berkerut, kenapa Eliana jadi dipanggil kakak oleh adik-adiknya? Di buku sebelumnya Eliana dipanggil Ayuk. Yah, walaupun sebagai urang Banjar sy lebih familiar dan lebih nyaman membaca dengan panggilan kakak itu, tapi sepertiiii... apa ya? cita rasanya jadi berkurang gitu.
Satu hal lagi.. Aaaa... kenapa suka banget sih 'mematikan' teman si tokoh utama? Hal ini jelas membuat sy penasaran, apa ada lagi teman si tokoh utama yang 'dibunuh' dalam Amelia? Sy berharap tidak ada.
Terakhir tapi tidak kalah pentingnya... sy mengucapkan terima kasih pada seorang kakak yang telah berbaik hati meminjamkan Eliana kepada sy padahal kakak itu sendiri belum menyelesaikan membacanya. Ohoho... Makasih banyak ka :)
Beberapa kutipan dari Eliana :
Jangan sampai kebencian kau pada seseorang membuat kau berlaku tidak adil padanya
Dalam kehidupan kita selalu ada momen, kejadian atau peristiwa hebat yang bisa menjadikan dua orang musuh menjadi sahabat baik.
Barang hilang sungguh aneh perilakunya. Semakin dicari, semakin tidak ketemu. Saat dilupaka, diikhlaskan, malah muncul sendiri di depan mata.
Tidak semua yang kalian inginkan harus terjadi seketika. Kita tidak hidup di dunia dongeng.
Tidak ada yang gampang dalam sebuah perjuangan.
Jangan pernah bersedih ketika orang2 menilai hidup kita rendah karena sejatinya kemuliaan tidak pernah tertukar. Kalian tidak harus selalu membalas, bukan? Bahkan cara terbaik menanggapi olok-olok adalah dengan biasa-biasa saja. Tidak perlu marah. Tidak perlu membalas
Hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika itu memang cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali para pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia mengenggamnya erat-erat.
Judul : Eliana (Serial anak-anak Mamak)
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tahun : 2011
Tebal : 519 halaman
Kecewakah saya? TIDAK. Hehhe... Bagaimana bisa saya kecewa, jika di awal saja emosi sy sudah diaduk-aduk, bikin haru dan ada airmata yang merekah (ciee...) saat si Pemberani Eliana berteriak, "JANGAN HINA BAPAKKU!" Dan sy sepakat dengan tulisan seorang teman, ketika di bab awal kita dibuat haru dan menangis, di bab selanjutnya malah ada tawa yang berderai. Menyenangkan Sekali... ^^
Ketika sampai pada tengah cerita, sy pikir cerita ini hanya akan berkutat tentang penambangan pasir. Ahaha... ternyata sy salah. Cerita tentang penambangan pasir hadir dalam porsi yang tepat, hingga sy tidak bosan. Dan cerita2 lainnya pun sungguh membuat sy takjub dan terpesona. Ah... indah nian buku ini. Banyak pelajaran yang di dapat. Sungguh sebuah makanan yang bergizi.
Ada cerita tentang lingkungan, ada juga tentang pribadi Eliana dan bagaimana Eliana berhubungan dengan orang-orang sekitar juga dengan keluarga terdekatnya. Seru dan tegang ketika Eliana bersama empat buntalnya beraksi, juga perseteruan Eliana dan Marhotap, dan terakhir dengan Anton. Dalam Eliana juga banyak keceriaan khas anak kecil yang hadir lewat tokoh Pukat dan Burlian yang nakal juga Amelia yang pintar. Ahaha.. sy telah jatuh cinta dengan sosok Amelia. Ahaha.... solidaritas sesama anak bungsu :p
Eliana adalah anak sulung. Sy juga sempat punya pikiran seperti Eliana.. oh.. bukan sempat lagi, pikiran itu masih ada bahwa menjadi anak sulung itu memang berat, punya tanggung jawab yang tidak ringan. Itu pulalah yang dirasakan Eliana dan membuat dia merajuk. Ohoho... sepakat dengan beberapa review di Goodreads yang menyebutkan pada bagian itu juga sukses membuat airmata kita berderai2.
Apa lagi yaa??? Oh iya, seperti yang sy sebutkan di atas, banyaknya pelajaran yang bisa diambil dari membaca Eliana, hal ini sempat membuat sy berangan-angan.. Bagaimana jika penulis2 seperti yang menuliskan Eliana, diangkat jadi PNS dan digaji pemerintah.. Jadi kerjanyaa cuma nuliiis buku2 bergizi seperti ini. Dan buku2 itu disebarkan gratis, akan ada di semua perpustakaan sekolah, perpus kampus, perpus daerah, rumah2 baca dan lain-lain.
Atau cerita ini diangkat ke layar kaca, seperti cerita Upin Ipin mungkin, terlebih saat sy membacanya, sy membayangkan Eliana itu seperti Kak Ros. Hehe... dan siapa lagi yang menjadi Upin dan Ipin nya kalau bukan Pukat dan Burlian. Lalu, kenapa diangkat ke layar kaca? Agar setiap orang yang tidak suka membaca bisa menikmatinya. Atau dengan kata lain... Serial anak-anak Mamak ini bisa menjangkau lingkup yang lebih luas. Sayang sekali kalau cuma dibaca segelintir orang di negeri ini. Karena ceritanya sungguh bagus dan mengesankan :)
Catatan lain lagi... ketika membaca Eliana banyak sekali kesalahan ketik yang sy temukan Dan juga satu hal yang membuat kening sy berkerut, kenapa Eliana jadi dipanggil kakak oleh adik-adiknya? Di buku sebelumnya Eliana dipanggil Ayuk. Yah, walaupun sebagai urang Banjar sy lebih familiar dan lebih nyaman membaca dengan panggilan kakak itu, tapi sepertiiii... apa ya? cita rasanya jadi berkurang gitu.
Satu hal lagi.. Aaaa... kenapa suka banget sih 'mematikan' teman si tokoh utama? Hal ini jelas membuat sy penasaran, apa ada lagi teman si tokoh utama yang 'dibunuh' dalam Amelia? Sy berharap tidak ada.
Terakhir tapi tidak kalah pentingnya... sy mengucapkan terima kasih pada seorang kakak yang telah berbaik hati meminjamkan Eliana kepada sy padahal kakak itu sendiri belum menyelesaikan membacanya. Ohoho... Makasih banyak ka :)
Beberapa kutipan dari Eliana :
Jangan sampai kebencian kau pada seseorang membuat kau berlaku tidak adil padanya
Dalam kehidupan kita selalu ada momen, kejadian atau peristiwa hebat yang bisa menjadikan dua orang musuh menjadi sahabat baik.
Barang hilang sungguh aneh perilakunya. Semakin dicari, semakin tidak ketemu. Saat dilupaka, diikhlaskan, malah muncul sendiri di depan mata.
Tidak semua yang kalian inginkan harus terjadi seketika. Kita tidak hidup di dunia dongeng.
Tidak ada yang gampang dalam sebuah perjuangan.
Jangan pernah bersedih ketika orang2 menilai hidup kita rendah karena sejatinya kemuliaan tidak pernah tertukar. Kalian tidak harus selalu membalas, bukan? Bahkan cara terbaik menanggapi olok-olok adalah dengan biasa-biasa saja. Tidak perlu marah. Tidak perlu membalas
Hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika itu memang cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang, ia akan kembali sendiri padamu. Banyak sekali para pecinta di dunia ini yang melupakan kebijaksanaan sesederhana itu. Malah sebaliknya, berbual bilang cinta, namun dia mengenggamnya erat-erat.
Judul : Eliana (Serial anak-anak Mamak)
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tahun : 2011
Tebal : 519 halaman
Sabtu, 19 Maret 2011
Ini Mimpiku
Haiyaaa... lama bener ga ngunjungin rumah ini.. *nyapu2 dulu ah*.. :))
Waktu dengar2 MP3.. eh.. ketemu lagu ini. Pas didengerin asyik juga ya...
OSTnya Sang Pemimpi ^^ yang dibawakan Claudia Sinaga. Ini nih liriknya :
Claudia Sinaga - Ini Mimpiku
Aku berada di tengah keramaian orang orang
yang sibuk mengejar mimpinya…
aku melihat indahnya dunia
di kota kota yang berbeda nyata sekali…
ini mimpiku
yang tak pernah berhenti
ini mimpiku…
aku percaya didalam hidupku kan ada mimpi yang Tuhan ijinkan terjadi
manis airmata pengorbananaku
takkan pernah membuatku berhenti Percaya….
ini mimpiku
yang tak pernah berhenti
ini hidupku..
semangatku juga karena semua yang kucinta…
aku masih sanggup tuk trus berjalan…
ini mimpiku
ini mimpiku
ini mimpiku
yang tak pernah berhenti
ini hidupku
yang kuyakin terjadi
ini mimpiku
Waktu dengar2 MP3.. eh.. ketemu lagu ini. Pas didengerin asyik juga ya...
OSTnya Sang Pemimpi ^^ yang dibawakan Claudia Sinaga. Ini nih liriknya :
Claudia Sinaga - Ini Mimpiku
Aku berada di tengah keramaian orang orang
yang sibuk mengejar mimpinya…
aku melihat indahnya dunia
di kota kota yang berbeda nyata sekali…
ini mimpiku
yang tak pernah berhenti
ini mimpiku…
aku percaya didalam hidupku kan ada mimpi yang Tuhan ijinkan terjadi
manis airmata pengorbananaku
takkan pernah membuatku berhenti Percaya….
ini mimpiku
yang tak pernah berhenti
ini hidupku..
semangatku juga karena semua yang kucinta…
aku masih sanggup tuk trus berjalan…
ini mimpiku
ini mimpiku
ini mimpiku
yang tak pernah berhenti
ini hidupku
yang kuyakin terjadi
ini mimpiku
Langganan:
Entri (Atom)
Template by Blogger Perempuan