Senin, 20 Juni 2011

Bincang tentang JODOH

Lagi baca buku yang berjudul Istikharah Cinta. Hemm... membaca cerita awal di buku ini jadi ingat deh postingan kemarin di blog yang berkisah tentang buku. Ada sebuah buku berjudul Trilogi Insiden. Saya pernah ngebet pengin dapat tuh buku, tapi ga mau beli, ikutan kuis yang diselenggarakan penerbitnya, berdebar penuh harap saat pengumuman tapi ternyataaa... belum rezeki. Bukunya ga dapat.

Beberapa bulan setelahnya, tanpa disangka2 seorang teman malah berbaik hati memberikan buku itu ke saya. Ini cerita pertama.

Cerita kedua, buku sekuelnya MLPH. Yang kali ini berjudul MPPH (Muhammad SAW, Para Pengeja Hujan). Kalau untuk buku ini udah sejak tahun kemarin saya pengiiiin banget. Tapi terbitnya baru aja. Trus ada salah satu toko buku OL yang ngadain lelang tuh buku. Lumayan juga kalau menang, apalagi kalau harga miring dan pastinya ongkir ditanggung mereka. Saya pun bersemangat buat ikutan. Tapi waktu itu.. erghhh... jaringan inet saya lambreta banget. Apalagi kuisnya di twitter, makin syusah deh bukanya. Tak menyerah sampai situ, saya pinjam BB kakak saya buat ikutan lelangnya. Upsss... Sama aja lambatnya. Finally, bukunya ga saya dapatkan.

Tapiii.... beberapa hari setelahnya buku ini hadir di rumah saya. Huwaaa... Seseorang mengirimkannya buat saya. Katanya sih, karena bulan Juni adalah bulan di mana saya dilahirkan. Uhuk.. kalau gini, boleh deh saya ulang tahun tiap bulan. hehehe...

Dan inti dari dua cerita itu.. kalau yang namanya rezeki kita ya akan sampai ke kita juga kan? Walaupun kita belum tau kapan waktunya dan bagaimana caranya hal itu sampai ke kita.

Kembali ke buku Istikharah Cinta.. Jadiii... ceritanya tentang Sari. Sari ini pernah dilamar seseorang, tapi lewat istikharahnya (yang berkali-kali) malah dia ditemui seseorang lewat mimpi dengan wajah purnama yang bernama Teja Permana. Nah, yang ngelamarnya bukan Teja, jadi Sari menolak lamaran itu. Begitupun ketika lamaran kedua datang, Sari istikharah lagi... selaluuu saja Teja Permana yang muncul di mimpinya. Padahal Sari ga tau Teja Permana itu orangnya yang mana.

Suatu hari Sari mendapat telpon terkait lamaran kerjanya di sebuah perusahaan. Surprise... karena yang menelponnya bernama Teja Permana. Dengan penuh harap dan gugup Sari pun menemui Teja Permana itu dengan urusan pekerjaan sih.. Dan ternyataaa... Yang namanya Teja Permana itu jauuuuh dari bayangan laki2 sholeh, malah sering mabok tuh Teja, pergaulannya juga bebas mungkin imbas karena pernah kuliah di LN. Tapi mimpi2 tentang Teja Permana itu masih saja mampir dalam hidup Sari. Satu hal lagi yang penting, Teja itu jenius (apa coba?)

Akhirnyaa... Sari pun memberanikan diri juga memantapkan hati menawarkan pernikahan pada Teja (setelah 7 tahun penuh warna, satu 'atap' dalam urusan pekerjaan (satu kantor gitu..)), Ehh.... laki2 itu hanya mengucap terima kasih trus.. terkesan menghindar gitu dari Sari. Sari pun tahu diri, dan memilih resign dari pekerjaan agar perasaannya tak semakin menjadi-jadi. Bagaimana tanggapan Teja sewaktu Sari resign? Dingin.. Dia cuek aja malah ga ngucapin kata perpisahan, sms dan telpon Sari juga tak dia gubris. Padahal sebelum Sari menawarkan pernikahan itu mereka akrab dan sering terlibat diskusi.

Endingnya... (biarin deh Spoiler).. suatu hari ada seorang tamu yang datang kepada Sari. Dan ternyata Teja. Dia bilang ingin menikah. Sari dengan penuh kebesaran hati mengucapkan selamat kepada Teja. Tapi apa kata Teja, "aku ingin menikah, tapi pengantinnya kamu Sari." Uhuk.. happy ending nih...

Ternyataa... si Teja itu udah lamaaa suka sama Sari. Tapi dia tau diri, siapa dia dan siapa Sari. Dia pun bertekad untuk berubah menjadi lebih baik agar pantas menikah dengan Sari. Perjuangan yang tidak mudah. Pada saat Sari menawarkan pernikahan, Teja merasa dia belum cukup baik untuk Sari karena itulah dia menghindar. Dan setelah merasa siap baru deh Teja mendatangi Sari, mengajak Sari menikah.

Intinyaaa... kalau jodoh ga akan ke mana-manaaaa.... hehehehe....
ngutip penutup dari cerita itu :
Sungguh Allah saja yang tahu siapa jodoh kita dan kapan akan diberikan. Namun, yakinlah, itu semuanya akan diberikan di waktu dan kesempatan yang tepat dan paling baik untuk kita.

Sabtu, 18 Juni 2011

Rezeki udah ditulis

Mau nuliiiissss.... :)))
Kemarin lagi2 ikutan kuis buku, jadi ingat sesuatu deh. Pernah suatu kali aku ikutan kuis buku dengan hadiah buku Trilogi Insiden. Dapat? Gaaaa... Tapiii.. beberapa bulan setelahnya aku malah dapat tuh buku dari seorang teman. Buku yang sama, tetap gratis, tapi yang ngasih beda dan waktunya juga beda.

Pernah juga (ini kejadian baru aja), aku ikutan lelang buku. Sekuelnya MLPH. Dapat? Gaaaa.... Tapi beberapa hari setelahnya ada yang ngasih buku itu, katanya sebagai hadiah milad. Buku yang sama. Tetap gratis, cuman yang ngasih dan waktunya beda.

Intinyaaa... Yang namanya kalau udah rezeki kita pasti akan sampai ke kita. Mungkin hanya waktunya, caranya yang belum pas. So... jangan pernah khawatir ya yanti. Semangats... ^^


*180611*

Senin, 13 Juni 2011

Hingga Detak Jantungku Berhenti (Alm. Nurul F Huda)

"Aku hanya mencoba mengambil pelajaran dari kisah yang kudengar tentang perempuan ayan yang datang menemui Rasulullah. Ia datang meminta doa agar sembuh. Rasulullah pun memberikan pilihan, bahwa Rasul bisa mendoakannya agar sembuh. Namun, jika ia bersabar atas sakitnya yang tentu saja menahun, bahkan selamanya, maka Allah menjanjikan surga. Perempuan itu memilih bersabar dan minta didoakan agar ketika ayannya kambuh, tidak tersingkap bajunya sehingga terlihat auratnya. Rasul pun mengabulkannya."


Itulah yang diuraikan mbak Nurul F Huda ketika ada yang bertanya mengapa beliau harus menjalani check up rutin setiap bulan? Dan jawaban itu tidak tercipta dalam satu malam apalagi sekejap. Saat pertama kali, menyadari kalau dalam diri beliau ada kelainan terhadap satu organ penting pada tubuh manusia, ada pertanyaan yang membanjiri kepala, memenuhi rongga hati. "Mengapa terjadi padaku?" dan "Kapan aku sembuh?" adalah pertanyaan yang sering terlontarkan, bahkan hingga pertanyaan itu tak lagi bernada mencari tahu tapi sudah bernada putus asa. Hingga kemudian beliau memilih untuk menerima kenyataan.



Tidak selalu ada jawaban untuk pertanyaan mengapa, atas apa yang Tuhan ciptakan. Hanya Tuhan yang tahu dan aku hanya mampu berusaha untuk mencari tahu, tanpa pernah benar-benar tahu (Hal. 34)


Di bagian lain, beliau juga bercerita tentang perasaan tak nyaman saat orang-orang terkasih mengorbankan waktu, pikiran, tenaga hingga dana yang tak sedikit agar jantung beliau terus berdetak. Hingga muncul kata

"Abah.. sudahlah. Ani ga usah dioperasi. Biarkan saja. Ani semakin membebani Abah, Ibu, adik-adik…".

Tapi cinta orangtua adalah cinta tanpa batas, tanpa syarat.

"Uang bisa dicari, nyawa ke mana hendak dibeli? Sudah kewajiban Abah dan Ibu melakukan semua ini. Kamu amanahku, tugasku melakukan usaha terbaik,"



Anakku adalah bukan anakku. Ia adalah titipan-Nya yang harus dikembalikan untuk berbakti di jalan-Nya. Sepenuhnya.



Hingga Detak Jantungku Berhenti memang bercerita tentang kehidupan penulisnya (Almarhumah Nurul F Huda) yang berhubungan dengan dunia medis. Menuturkan perubahan-perubahan yang terjadi saat kondisi fisik beliau yang tadinya lincah kemudian menjadi mudah lelah dan sering mengalami nyeri yang mendera di dada bagian kiri. Hingga kemudian di vonis mengalami kelainan jantung, beranjak ke Jakarta buat melakukan ikhtiar penyembuhan, di operasi dan hingga katup jantung beliau yang rusak harus diganti dengan platina yang mengharuskan beliau meminum obat pengencer darah seumur hidup (membaca tentang proses operasi di buku ini bikin saya jadi ingat dengan K-drama yang berjudul New Heart. Di sana juga bercerita tentang operasi jantung.)



Buku ini tidak ditulis dengan bahasa yang mellow terus2an atau sediiih melulu.. terkadang malah ada cerita lucu yang terselip atau bahasa ringan yang bikin kita nyengir, semisal saat bercerita tentang pengalaman2 beliau di Rumah Sakit pra dan pasca operasi, tapi tetap saja… ada banyak bagian yang bikin saya sukses didekap haru. Mungkin karena sepanjang membacanya saya terus mengingat kalau sang penulis kini telah tiada.



Lewat buku ini saya menangkap banyak hal tentang penerimaan, mengusahakan ikhlas dan sabar juga ikhtiar, berusaha melakukan yang tebaik dan juga tentang kesehatan, betapa sehat itu teramat sangat berharga. Buku ini juga melukiskan betapa cinta orangtua terhadap seorang anak itu tanpa syarat dan tanpa batas (Sudah saya sebutkan di atas ya..).



Saya juga merasakan bagaimana mbak Nurul terus bersemangat, walau kondisi fisik terus melemah. Simak apa yang dikatakan mbak Nurul dalam penutup buku ini.

Aku hanya direhatkanNya. Aku sedang disuruh memupuk kesabaran dan banyak melakukan perenungan. Akan tiba saatnya ketika aku kembali berlari, memetik mimpi demi mimpi dan tetap akan berusaha memberikan konstribusi ini : Hingga Detak Jantungku Berhenti!



Selamat Jalan mbak Nurul. Semoga goresan pena saat jantung masih berdetak menjadi amal jariah buat beliau.



Kuasa Allah di atas segalanya dan manusia harus diposisikan sebagai perantara saja, termasuk dokter dengan segala ilmu dan kemampuannya. Dan tentu saja obatnya.



*Buku ini bisa dipesan lewat fbnya mbak Afifah Afra atau lewat sms ke nomor 085717221803. Harga Rp 40 rb (belum ongkir). Sebagian keuntungan akan disumbangkan untuk pendidikan putera & puteri Almarhumah

Minggu, 12 Juni 2011

Menjejak Pulau Tumasik (Part2)

Sekarang… bagian yang menyenangkan dari S'pore.

Gemerlapnya Singapura

Negerinya bersiiiih.. tentu saja. Saya pun terpesona dengan kebersihannya. Juga disiplinnya. Orang S'pore jalannya cepat2, kata mbak Rien dan suami, makanya turis Indonesia kelihatan sekali bedanya karena jalannya lambat. Wkwkwk…. Eh, ga hanya jalan kaki nya aja yang cepat. Eskalatornya juga punya kecepatan lebih di banding escalator di Indonesia. Kami malah sempat menemui ada yang terjengkang di Eskalator. Kalau lagi berada di escalator jangan main sama hape dulu. Tetap konsen. *mengingatkan diri sendiri*



Oya, kalau naik escalator di S'pore, ambil lajur kiri, karena lajur kanan untuk mendahului. Wkwkwk.. kayak jalan raya euy. Tapi beneran lho, lajur kanan emang dikosongkan. Itu khusus buat mereka yang pengin tetap berjalan di tangga yang udah berjalan itu. Info ini kami dapat lagi-lagi dari mbak Rien dan suami.



Mbak Rien dan suami juga cerita kalau S'pore ini negeri yang aman. Kata beliau berdua kalau gadis pulang malam2 juga ga masalah, karena insyaAllah aman saja. Saya lantas bertanya, "ada copet ga?" wkwkwk… padahal juga bawa uang ga banyak, tapi takut aja dicopet dan jawaban mbak Rien, ga pernah nemu kasus pencopetan selama di sini.



Dengan keterangan itu, jadinyaa.. saya berani jalan-jalan hanya berdua dengan Icha, berpisah dengan kakak dan kakak ipar. Emmm… kata mbak Rien lagi, selama beliau 4 tahun tinggal di S'pore belum pernah menemukan yang namanya listrik padam. Whuaaa… ngiriiii.. Karena baru satu hari saya mendarat kembali di bumi Kalimantan tercinta ini, listrik padam sudah menyapa dengan sangat mesranya.



Kuasai cara penggunaan MRT dan jalan2 lah sepuasnya di S'pore.

Dari hasil googling… (Googling muluuu….) saya dapati info kalau moda transportasi yang bisa digunakan dengan asyik itu MRT atau Mass Rapid Transit. Semacam kereta bawah tanah gitu deh. Walau banyak mengantongi info dari hasil googling tapi tetap saja.. pada awalnya bingung banget gimana caranya naik MRT itu. Awalnya syusah bener, bertanya sana sini sampai akhirnya kami berhasil naik MRT. Tapi setelah bertemu mbak Rien dan dijelaskan beliau seluk beluk MRT, cara penggunaan, membaca peta MRT dan juga bagaimana mengambil deposit dengan cara mengembalikan tiket MRT itu kami jadi ketagihan dan udah lihai bener naik MRT. Wkwkwk….



Oya, katanya naik MRT itu ini juga ada kekurangannya, karena lewatnya di bawah tanah jadi kita ga bisa melihat pemandangan kota S'pore. Tak apa yang penting cepat nyampai dan juga naik MRT sama saja seperti berwisata buat sy. Eh, beneran cepat ya? Iyaaa… cepat bener. Dari satu MRT ke MRT selanjutnya juga cepat datangnya. Masuk dan keluar MRT juga harus dilakukan cepat. Tapi emang tabiat orang S'pore yang serba cepat gitu ya.



Oya, satu lagi hal penting yang mesti diketahui. Kalau kita mau naik MRT, sebelum masuk kita berdiri di samping dulu. Dahulukan mereka yang keluar, setelah yang keluar udah abis, baru deh yang mau masuk bisa masuk. Jangan asal serobot. Kata mbak Rien, kalau yang main serobot, ketahuan kalau dia turis. Dan biasanya dari Indonesia. Ups.



Saya juga kemudian berkhayal2 ria, kalau MRT ada di daerah saya. Yah, ga perlu sampai Banjarmasin, cukup di seputaran Benua Lima Enam aja. Maka kalau saya mau ke rumah nini di Ilung tinggal naik MRT aja. Huahaha…



Universal Studios

Universal Studios seperti menjadi menu utama dalam hadiah liburan ini. Sebelumnya, saya mana tau apaan itu Universal Studios. Dan lagi-lagi saya bertandang ke mbah Google menanyakan apa sih mbah Universal Studios itu. Dan dijawab sama Om Wiki, yang katanya Universal Studios Singapore dibuka pada bulan Januari 2010, merupakan wahana bermain Universal Studios yang pertama kali dibuka di wilayah Asia Tenggara, dan merupakan yang kedua di wilayah Asia setelah Universal Studios Japan. Taman bermain bertema film-film terkenal Hollywood produksi Universal Studios ini berlokasi di Pulau Sentosa, Singapura.



Awal kedatangan kami sudah diberikan tiket masuk Universal Studios dan nginapnya juga di Pulau Sentosa, jadi Cuma jalan kaki aja ke Universal. Kami bebas masuk kapan aja di sana selama 3 hari itu, tapi disarankan mas Guide masuk sana hari kedua, karena itu hari yang full kami berada di S'pore. Dan kami pun memang ke sana di hari kedua. Ada apa di sana yanti? Huwaaaa…. Banyak bener tempat buat bernarsis ria. Wkwkwk… banyak bangunan atau objek menarik gitu deh. Katanya bangunan2 yang ada di sana yang ada di zaman klasik, tahun 50an gitu deh. Dan semuanya keren abis.



Tapi, berdasarkan tips dari (lagi-lagi) mbak Rien dan suami, foto2nya nanti aja, masuki dulu apa yang bisa dimasuki. Kalau kesiangan antrinya bisa panjaaaang bener. Dan beneran. Kalau udah rada siang, antrinya ga nahan.. Tapiii… foto2 nanti juga ga efektif, karena capek udah ga semangat foto2. hehehe….



Ga semua wahana sih kami jejal di Universal. Mungkin karena tiket gratis kali ya jadi ga ngoyo amat nyoba semua atraksi. Hehehe… Tapiii.. dari yang sedikit kami coba itu benar2 mengesankan. Kereeeennn deh. Salah satu yang layak dicoba Jurrasic Park. Awalnya sih biasa aja yaaa… kita diminta naik sekoci dengan posisi melingkar, trus ngelewatin sungai dengan pemandangan ada dinosaurus dan kawan2 gitu. Terkadang melewati arus yang lambat, tapi ada juga arus deras yang bikin histeris. Asyiiik juga.. Nah, kejutan ada di akhir. Kita akan melewati sebuah lorong gelap, gelap dan gelap.. berdebar2 menunggu apaan yang akan terjadi di sana. Dan kemudian.. Huwwaaaaa……… Sebuah kejutan sukses membuat jantung saya berdegup sangat kencang. Kaget dan histeris. Tapi Seruu… apaan sih yan? Ga seru ah kalau saya ceritakan. Untungnya itu kejutan yang saya benar2 ga tau bakal kayak gitu, kalau tau udah dari awal saya mundur teratur menjejal wahana itu.



Jadi, sebuah kejutan terkadang bisa membuat kita melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin atau tidak berani kita lakukan.



Saya juga sempat nonton pertunjukan Shrek 4D. 4D? iya katanya 4D itu film 3D yang memakai efek simulator dan lain-lain. Angin berhembus berasa, terguncang2 waktu Shrek naik kereta, juga pas ada yang bersin.. upss.. ada muncratan air yang mengenai wajah kita. Sewaktu ada pasukan laba-laba.. kyaaaaa… kaki kita juga merasakan serangan laba-laba itu. Tapi seruuu… ^^



Sempat juga melihat pertunjukan “Lights, Camera, Action!” yang dipandu oleh Steven Spielberg (rekaman aja. Bukan Om Stevennya datang langsung). Pertunjukan ini menyajikan simulasi syuting adegan kota New York dihantam badai. Singkat sekali pertunjukan ini tapi benar2 mengesankan. Terbukti dengan gemuruh tepuk tangan penonton begitu pertunjukan selesai.



Song of the Sea

Dari beberapa hasil googling saya menunjukkan kalau Song of the sea adalah pertunjukan yang sangat sayang untuk dilewatkan kalau ke Pulau Tumasik. Apalagi karena saya menginap di Pulau Sentosa dan bertebaran iklan tentang song of the sea sehingga membuat saya dan Icha ngotot pengin nonton.



Karena benar2 ga tau di mana letak pertunjukan song of the sea itu maka kami pun bertanya ke sana ke mari. Pertama pada petugas yang jaga monorail. Kami diarahkan untuk naik monorail dan turun di stasiun terakhir di Pulau Sentosa, Beach Station. Dari sana bertanya lagi, ke mana beli tiketnya? Tiketnya seharga 10 dolar. Setelah dapat tiket nanya lagi, di mana pertunjukannya? Hehehe… intinyaa.. banyaklah bertanya supaya ga bingung. Dan pada akhirnya ketemu juga. Yang nonton banyak bener. Saya jadi ikut berdebar-debar seperti apa sih song of the sea itu.



Ceritanya sih sebenarnya sederhana.. tapiii… gabungan teknologi laser, air mancur dari air laut juga ada semprotan api membuat pertunjukan ini sangat menarik. Waktu ada semprotan api itu, hangatnya terasa sampai ke bangku penonton.



Kopdar dengan mbak Febi

Nama Yudith Fabiola saya kenal sejak membaca satu buku mbak Asma Nadia, di mana ada tulisan beliau di sana. Memiliki rumah di Multiply membuat saya bisa sedikit lebih mengenal beliau dan bisa sok akrab dengan berkomen2 ria di postingan beliau. Begitupun juga ketika kami berteman di facebook. Saya merasa tersanjung sewaktu ada lomba menulis tentang teman maya yang klik, mbak Febi menulis tentang saya, bersanding berdua dengan ka Antung. Whuaaaa… sebenarnya saya yang ngefans sama mbak Febi lho ^^



Ketika rencana ke S'pore ini ada, maka yang pertama saya kasih tau ya mbak Febi ini, padahal waktu itu masih maju mundur rencananya. Kami pun merencanakan buat kopdar. Sempat bingung juga menentukan waktu dan tempat buat kopdar kami. Karena saya masih buta dengan yang namanya S'pore. Singkat ceritaaa.. kami akhirnya janjian ketemu di mesjid Al-Falah di Orchard. Tapi rencana itu gagal dan mbak Febi memutuskan buat menyusul ke hotel tempat saya menginap. Dan tradaaa… ketika maya mewujud jadi nyata, saya berhasil kopdar dengan mbak Febi, kopdar pertama dengan teman maya di luar negeri. Hehehe… Hayo siapa selanjutnya?



Walau kopdar ini terasa singkat banget tapi mengesankan. Senang bisa bertemu dengan mbak Febi yang cantik. Juga sama mbak Nida dan mas Aufal.



Btw, mbak Febi menghadiahkan anggur segar buat saya. Anggurnya pun sampai ke Barabai saya tercinta. Mama saya nanya, "berapa harga anggur di S'pore?" saya pun menjawab. "Ga beli ma. Itu dikasih sama teman waktu ketemu di S'pore kemarin."

"Teman? Di S'pore? Emang punya teman di sana?" Hehehe.. mama kaget. Beliau ga tau kalau anaknya punya banyak teman di berbagai pelosok dunia. :)))



Udahan ah, udah panjang bener. Kesimpulannya apa ya?

S'pore emang keren abis.. Tapi gemerlapnya S'pore tetap tidak bisa mengikis cinta saya akan negeri tercinta ini. Juga kampung halaman Barabai saya tercinta. Hehehe….



Sewaktu rencana ke S'pore ini tersebar di keluarga kami, ada anggota keluarga yang udah pernah ke S'pore bilang kayak gini, "Negaranya bagus. Bersih, rapi. Tapi mungkin karena saya udah tua kali ya, jadi tetap jauh lebih berkesan waktu ke Tanah Suci dibandingkan ke S'pore." Dan saya sangat sepakat sekali dengan beliau walaupun masih muda. Wkwkwkwk.... Jauuuh lebih berkesan saat pandangan mata kita berkabut karena haru saat menatap Baitullah.. dan sensasi rasanya jauuuh lebih memukau saat kita menyentuh Raudah di Mesjid Nabawi. So, yang punya mimpi keliling dunia, yuks.. kita sematkan mimpi yang paling utama untuk ke Tanah Suci dulu.

Menjejak Pulau Tumasik (Part 1)

Awal bermula

Singapura. Negera yang dekat sekali dengan Indonesia, tapi entah kenapa jauh dari angan saya untuk bisa pergi ke sana. Dulu saya pernah bikin list, negara mana saja yang ingin saya datangi dan Singapura tak ada dari daftar saya itu. Kenapa? Entah. Kalau dibilang terlalu dekat ga juga, toh Malaysia masuk di daftar itu. Atau karena Singapura terlalu kecil? Dulu saya pernah baca kalau semua penduduk Indonesia buang air kecil dan disalurkan ke Singapura sana maka blep.. blep.. blep.. Singapura bakal tenggelam.

Bridgestone "The Ultimate Family Holiday", yah itulah yang kemudian mengantarkan langkah saya ke Singapore. Apa sih itu? Itu adalah semacam promo berhadiah dalam rangka yah promo ban mobil yang bernama Bridgestone. Kalau kita beli 2 ban dengan tipe yang sudah ditentukan, maka akan dapat 1 formulir dan kemudian dari formulir yang terkumpul, dicarilah para pemenang. Tentu saja itu buat pembeli, bukan pedagang seperti kami. Terkadang ada pembeli yang malas buat ngisi, ada juga yang mesti kami bujuk dulu, dengan iming-iming, "siapa tahu bisa ke Singapore, kan lumayan." Walaupun terasa jauh semua itu bisa mewujud jadi nyata.

Suatu hari, saya masih ingat itu Hari Jum'at, saya menemukan sebuah surat di meja. Saya pun membacanya dan terbelalak kaget, itu adalah surat pemberitahuan kalau salah satu pelanggan kami yang menang promo itu, ke Singapore euy… Dan di samping saya kakak sedang sibuk dengan hapenya.

"Ini beneran kak?" Tanya saya.

"Mau dicek dulu. Beneran atau penipuan," jawab si kakak dengan hape di tangan. Soalna kan biasa tuh ada penipuan dengan kedok macam gitu. Singkat cerita ternyata benar. Pemberitahuan itu asli dan ada tour 3 hari 2 malam di Singapore.

"Aku diajak juga lho," kata si kakak sumringah. Karena saya tahu kalau hadiah itu untuk 4 orang, maka saya pun menawarkan diri buat ikutan. Asumsi saya waktu itu, kalau si pelanggan berangkat sama istrinya, kan ada 2 tiket lagi tuh. Yang satu kakak, yang satunya lagi kan bisa buat saya. Wakakak, penyuka gratisan beraksi.

Bayang Singapore pun bermain-main di pelupuk mata saya. Tanpa pikir panjang, saya juga langsung minta izin ke abah dan mama, izin mereka mutlak harus saya kantongi dulu sebelum bepergian. Dan ajaibnya, mama abah yang biasanya syusah bener ngasih izin kali ini malah izin langsung keluar, tanpa harus ada lobi atau rayuan maut dulu keluar. Wow.. senangnyaaaaa…



Tapiii… mendadak saya dilanda muram lagi, dengan tegas si kakak bilang kalau dia ga mau mengajak saya, tapi pengin berangkat dengan temannya aja. Whuaaa…impian saya ke Singapore buyar. Gegas saya membelai hati saya, 'tak apa yanti, jangan sedih.. toh kamu masih bisa jalan-jalan ke S'pore lewat mbah Google.' Gedubrak!



Eits, cerita belum berakhir, ternyata si pemenang (langganan kami itu) menyerahkan sepenuhnya hadiah itu ke kami. Karena kataya ribet mesti ngurus paspor sendiri dan tiket ke Jakarta juga ditanggung sendiri. Yang gratis ya Ke Singaporenya aja. Harapan saya kembali muncul. Siapa tahu kakak mau mengajak saya ikut serta, kan sekarang tiket gratis bukan untuk 2 orang lagi, tapi empat euy.

Ternyata sama saja, meskipun begitu si kakak tetap pengin pergi sama teman-temannya aja. Hiks. Menyerahkah saya? Tidak.. hahaha… saya pun kemudian mengerahkan segenap kemampuan mempengaruhi saya agar si kakak berubah pikiran. Sanguinis beraksi. Didukung penuh oleh mama dan kakak ipar saya yang ikutan melobi dan tradaaa… dia mengangguk setuju dan saya pun segera menyiapkan berkas buat bikin paspor. Eitss.. bukannya udah punya? Belooom.. dulu baru punya paspor coklat yang sekali pakai udah kadaluarsa. Sekarang ngurus paspor hijau. Pintu buat saya keliling dunia. Aamiiiin…….

Hemmm…. Cerita yang lainnya di skip aja ya. Soalna ada banyak kejadian yang membuat maju mundurnya rencana ke Singapore ini. Kalau diceritakan kepanjangaaan, bisa jadi satu buku. Intinyaaa… pada tanggal 15 Mei 2011, mendaratlah saya untuk pertama kalinya di Pulau Tumasik. Teman yang ada di kursi sebelah saya langsung nyelutuk, "Ayo mbak.. pasang status kalau udah di S'pore." Wkwkwk….



Hal-hal yang tidak menyenangkan di S'pore…

Bingung deh menceritakan dari mana saja, jadi yah dimulai dari yang tidak menyenangkan saja dulu yaa…



Susah dapat makanan halal.

Kalau dibanding negara2 lain yang muslimnya minoritas banget, mungkin S'pore rada mendingan yah, tapi tetap saja buat saya yang kelilingnya cuman di kampung dan pedesaan bumi Hulu Sungat Tengah terdjintah dan Kalimantan Selatan tersayang nyari makanan halal di sana syusah.



Beberapa hari sebelum berangkat malah tiba-tiba ada pikiran yang menyeruak, bagaimana dengan makanan di pesawat? Dalam itinerary yang disampaikan ke kami, kalau terbang ke S'porenya menggunakan S'pore airlines.. duuuh… saya jadi kepikiran, halal ga ya makanan dalam pesawat. Emang sih ini bukan kali pertama saya terbang dengan maskapai asing, tapi dulu, ga ada keraguan sedikit pun atau karena saya ga hati-hati ya. Mungkin karena dulu terbangnya dengan Emirats, Emirats kan milik Uni Emirats Arab. Arab = Islam = Halal. Hahaha… pemikiran yang sederhana sekali :p



Nah, bagaimana dengan S'pore airlines ini? Maka saya pun googling terkait hal ini. Dan hasil googling saya menemukan artikel seperti ini "S'pore airlines menyediakan makanan halal selama Ramadhan". What??? Emangnya kita butuh makanan halal Cuma Ramadhan doang? Saya jadi ingat pernah nonton di mana gituu, ada seorang muslim yang disuruh teman2nya menengak minuman keras, dia bilang ga mau, itu haram. Trus kata teman2nya.. "tenang aja lah, Ramadhan masih lama," huhuhu… padahal yang haram2 kan haramnya ga di Ramadhan aja. Tapi setiap saat, setiap waktu kan ya.



Tak berhenti sampai di situ, saya pun menelusuri beberapa artikel yang lain dan juga bertanya pada mbak Febi. Hasilnya? Kata mbak Febi insyaAllah halal, tapi lebih baik request Moslem meal aja. Dan dari artikel yang lain menyebutkan kalau makanan halal bisa direquest 24 jam sebelum penerbangan. Maka saya pun menyampaikan hal ini ke kakak ipar untuk disampaikan ke pihak travel. Sesampainya di pesawat, saya masih ragu aja dan akhirnya bertanya ke pramugarinya dan dengan mantapnya si pramugari bilang "Semua makanan yang ada di sini Halal." Alhamdulillah :)



Di pesawat selesai, sekarang di bumi Pulau Tumasik. Oh ya, saya belum cerita kalau ternyataa, fasilitas yang kami dapatkan selama di sana tidak termasuk makan siang dan makan malam. Yang gratis cuman makan pagi doang. Olalaaa…. Makanya saya pun akhirnya googling lagi makanan halal dan murah. Dan juga persiapan dari tanah air. Bawa Pop Mie dan kue juga cemilan. Wkwkwk… Hari pertama, pop mie pun langsung disantap, karena masih buta dengan S'pore, jadi sebelum jalan makan pop mie dulu. Malamnya kami makan di Ayam Goreng President di Lucky Plaza. Tsaaaaahhhh!!! Jauh2 ke S'pore makan ayam President??? Itu mah di Banjarbaru juga ada bo… yah, mau gimana lagiii.. namanya juga cari yang halal.



Pas sarapan, karena dapat sarapan gratis dari hotel saya dan keluarga pun melangkah mantap ke restoran di hotel itu. Wessss…. Hidangannya benar-benar menggugah selera. Eits, sebelum mengambil hidangan saya bertanya ke petugas di sana, "Apa makanan di sini halal?" dan dengan wajah penuh penyesalan dia berkata "I'm sorry, non halal," dan kembali lah. Di pagi yang ceria itu menu sarapan kami adalah POP MIE. So, buat yang pengin ke S'pore, jangan lupa bawa Pop Mie atau Super Bubur. Iklan banget :p



Makan selanjutnya lebih banyak di Vivocity, kalau kita menyebrang pakai monorail dari Pulau Sentosa kan stationnya di VivoCity. Nah di lantai B2 di sana ada foodcourt yang bernama Banquet, saya tau info ini berdasarkan hasil googling, wkwkwk… thanks mbah google. Di foodcourt di vivocity ini ada 2 bagian, yang satu khusus makanan halal ya yang namanya Banquet tadi, yang satu lagi, entah apa namanya yang non halal. Dan di sana, saya menuju stan masakan padang. Wkwkwk… jauh2 ke S'pore makan nasi padang. Tapi nasi goreng Pattaya enak lho, entah beneran enak atau karena saya lapar berat.



Btw, tentang Nasi Goreng Pattaya, ingat cerita di KCB ga? Sewaktu Azzam mengantarkan barang-barang Anna dari Mesir kan disuguhkan Nasi Goreng Pattaya ini, jadi katanya nasi goreng Pattaya itu nasinya dibungkus sama telur dadar. Tapi kalau yang saya makan di Banquet ini sih bukan dibungkus, tapi di selimuti. Hehehe… soalna dulu pernah menyantap nasi goreng bungkus di mana Nasi gorengnya benar2 dibungkus sama telur dadar. Hasilnya? Kenyang makan telur dadarnya. Hihihihi….

Oya, bagaimana dengan roti atau kue? Hemm… saya tetap ga berani melahapnya. Malam pertama di S'pore jalan-jalan dengan mbak Rien (teman kost kakak ipar saya yang berdomisili di S'pore), mbak Rien bilang ga berani makan makanan sekalipun roti yang ga ada logo Halalnya. Jadinyaa.. saya ikutan ga berani.



Toiletnya ga asyik.

Wkwkwk… judulnya ga banget deh. Oke, saya cerita dulu ya, pertama masuk kamar hotel. Huwaaaa… kami segerombolan urang kampung ini langsung terpesona dengan hotelnya yang emang bagus bener. Viewnya gedung bertingkat dengan arsitektur yang keren abis. Eh.. kelihatan Merlion lagi yang katanya Merlion di Pulau Sentosa itu yang paling gede di Singapore sana. Bakat narsis dan eksis pun tersalurkan, sebelum kamar diacak2 dan masih rapi jali, kita berfoto2 dulu. Masih asyik foto2 dan bongkar2 apa saja yang ada di kamar hotel itu, kemudian terdengar teriakan histeris dari kamar mandi. Ups.. ada apaan siiih? Masa di kamar bagus kayak gini ada kecoa? Kayakna ga mungkin deh.



Dan ternyataaaa… yang teriak itu shock melihat toiletnya yang ga ada kran air, ember, shower atau apapun yang buat cebokan gitu. Hihihi… Yang ada cuman tissue. Ga masalah kali buat orang kota, tapi yang namanya orang kampung, shock juga melihat kondisi demikian. Cebokannya gimana dong? Di mana bisa beli ember dan gayung atau pipa buat menyalurkan air?



Pemutaran otak buat berpikir pun terjadi. Melirik ke sana ke mari apa yang bisa dijadikan 'alat'. Dan tradaaaa….. pandangan jatuh ke tempat sampah yang abis dibersihkan bisa berfungsi jadi ember. Gayungnya? Mikir lagi… lihat ke sana ke mari lagi.. eh, ada gelas buat gosok gigi dekat wastafel, tapi terlalu kecil euy, jadi apaan dunk? Pandangan jatuh ke gelas pop mie yang isinya tandas berpindah ke perut. Dan jadilah bekas gelas pop mie itu yang jadi gayung. Tsaaaah…. Urang kampung masuk Singapur :p



Yang bikin kami heran, besoknya waktu kamar kami dibersihkan sama petugas hotel, sementara kami ga ada di kamar, ember dan gayung versi kami itu ga disentuh sama petugas hotel. Mungkin mereka mengerti kali yaaa… ada urang kampung yang masuk hotel bintang :p



Oya, toilet yang begituan juga ada di seantero Singapura. Tapi mungkin di antara deret toilet kaya gitu, ada terselip toilet yang ada airnya, karena waktu di Changi, petugas di sana nanya ke saya kayak gini, "mau masuk ke sini?" setelah saya melongok ke dalamnya… yay… ada shower airnya bo. Senangnyaa….



Tadinya saya kira ini cuman masalah saya dan keluarga aja, ternyata ada yang komen di status saya kalau ini juga bagian yang tidak menyenangkan di S'pore *melirik miss DSN*





Susah nyari tempat Shalat

Ini termasuk yang pertama kali saya cari tau juga tanyakan ke mbak Febi :)

Dan emang tidak semudah mencari tempat shalat seperti di Tanah Air ya, saya jadi ingat kampus biru tercinta yang mushallanya ada dua, ga jauh2 amat lagi antara keduanya. Sementara di S'pore? Toloooong…



Tapi kerennya, di Universal Studio ada tempat shalat. Berdasarkan hasil googling, saya mendapatkan info kalau di USS ada ruang shalat di dekat pintu masuk. Atapnya tenda biru, satu lokasi dengan lost & found / annual pass. Nah, kami pun mencari tempat yang dimaksud. Pas sampai ke situ, celingak celinguk tapi kok ga ada terlihat praying roomnya ya? Di mana sih? Eh, di sela kebingungan kami petugas di sana menyapa dan menanyakan apa kami mencari praying room? Haiyaaa… mungkin karena kami jilbaban kali ya jadi langsung ditanya. Petugas di sana pun menunjuk ke sebuah pintu yang di balik pintu itu ada ruangan buat kita shalat, mukenanya juga tersedia. Waktu mau wudhu, petugasnya pun langsung mempersilakan kami buat berwudhu di wastafel buat anak kecil, jadinya di sana lebih nyaman buat mencuci kaki.



Hal ini berbeda dengan hotel tempat kami menginap. Karena kami harus sudah angkat kaki dari kamar yang nyaman itu jam 12 siang, sementara jemputan baru datang jam 2, saya pun bertanya pada petugas hotelnya di mana saya bisa shalat? Sengaja saya tidak bertanya di mana Mushalla atau praying room, tapi tempat di mana saya bisa shalat, dan petugasnya menggeleng lemah. Tidak ada tempat. Huwaaaa.. masa sih ga ada tempat? Saya ga mau menyerah.. akhirnya bilang ke Icha, "Cha, kita cari tempat yang agak tersembunyi yuk. Di mana aja asal bisa shalat." Icha setuju dan kami pun mencari tempat. Ketemu? Alhamdulillah ada.



Tapi sewaktu udah selesai, dan ketemu sama kakak dan kakak ipar. Olalaaa… ternyata waktu dzuhur belum masuk. Padahal udah jam satu lewat. Huhuhu…. Saya kelewatan googling waktu shalat di S'pore. Merasa perlu diyakinkan lagi, saya sms mbak Febi bertanya jam berapa waktu Dzuhur, mbak Febi bilang jam setengah dua. Huwaaaa… itu artinya saya shalat sebelum waktu dzuhur masuk. Dan saya pun kembali bergerilya mencari tempat shalat di Changi. Ada? Kalau diada2kan ya ada. Hehehe….



Minim Bahan.

Duuu.. malas cerita mendetail tentang ini. Tapi bisa tebak sendiri aja ya.. setelah saya amati foto2 yang saya ambil, ternyata bagian minim bahan ini juga ikut ada terlihat.



Karena udah panjang bener.. bersambung aja yaaa......
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...