"Jemput aja Fa," Tia, sahabatku memberikan usul. Tia tahu apa yang kupikirkan. Aku hanya menanggapi dengan diam dan memandang benda persegi dalam genggamanku, hanya dengan menekan beberapa tombol di sana aku sudah bisa terhubung dengannya.
"Ayo dong Fa, jangan ragu gitu," Tia berujar lagi. Ada nada gemes dalam suaranya. Aku menimbang, gelengan di kepalaku kemudian yang menjadi jawaban. Entah gengsi atau mungkin aku terlalu egois sehingga aku tak melakukan apa yang disarankan Tia.
"Begini deh, kalau kamu tidak menjemput, minimal kasih tahu. Dan bilang kalau kamu ingin dia datang. Sudah dikasih tahu kan?" Tanya Tia lagi bersamaan dengan sebuah lagu mengalun dari laptopku, Semoga kau datang-nya Sherina seakan menyuarakan isi hatiku.
