Jumat, 24 Februari 2012

meninggalkan... ditinggalkan...

Dulu aku pernah menuliskan sebuah postingan di MP tentang yang ditinggalkan dan yang meninggalkan mana yang lebih nelangsa?


Postingan itu ada karena waktu itu aku baru saja mengantarkan abang buat bepergian jauh. Dan serta merta aku disergap kenangan ketika aku dalam posisi abang, meninggalkan. Dan 2 tahun setelahnya aku yang dalam posisi ditinggalkan. Dan kemudian aku mencoba membandingkan rasa keduanya. Dan sampai pada satu kesimpulan kalau ditinggalkan itu lebih nelangsa. Entahlah... Aku merasa ada yang kosong saat ditinggalkan, merasa sesak dan merasa humm... ada yang hilang.


Ketika aku yang meninggalkan, aku memang sedih berpisah untuk sementara waktu dengan orang-orang tercinta. Tapi kemudian aku kembali asyik dengan hal-hal baru yang kutemui. 


Hari ini aku mendapatkan untaian kata yang cantik dari Tere Liye tentang meninggalkan dan ditinggalkan ini. 


Dalam proses kepergian, biasanya yang pergi selalu lebih ringan dibandingkan yang ditinggalkan. Lebih ringan untuk melupakan. Yang pergi akan menemui tempat-tempat baru, kenalan-kenalan baru, kehidupan-kehidupan baru, yang pelan tapi pasti semua itu akan mengisi dan menggantikan kenangan lama. Sementara yang ditinggalkan biasanya tetap berkutat dengan segala kenangan itu 
Yah... Lihat bagaimana Tere Liye bisa menggambarkan bisa menuliskan apa yang kurasakan dengan untaian kalimatnya yang cantik :)


Kemudian.. aku jadi berpikir. Bagaimana nantinya saat aku meninggalkan untuk selamanya? Bagaimana nantinya proses saat aku berpindah ke alam lain agar tetap menyenangkan. Sebagai orang beriman, tentu seharusnya tak berkeberatan kapan pun kematian menjemput, karena kematian lah yang menjadi jalan untuk berjumpa denganNya.


Seharusnya aku juga begitu. Tapi... aku masih dilingkupi perasaan takut. Alasannya jelas... aku masih merasa bekalku tak seberapa, amalku masih kurang, dosaku masih bertumpuk. Ah, sampai kapan aku merasa belum siap? Padahal kematian akan datang tanpa bertanya sudah siapkah aku? Dia bisa datang kapan saja.


Apalagi yang bisa kulakukan selain mempersiapkan semuanya sebaik mungkin. Waspada setiap detik, karena setiap saat Izrail bisa datang menghampiri. Dan aku ingin ringan dalam meninggalkan, bersemangat ketika meninggalkan karena akan menjadi jalan bertemu denganNya. Syauqi LiqoiK.

Kamis, 23 Februari 2012

tentang Puding Kopi

Pemilihan bahan itu menjadi faktor penting kelezatan sebuah makanan. Maka, memang sangat wajar jika kita sudah memakai resep yang sama persis tapi justru hasilnya beda. Hal yang membedakannya bisa jadi di bahan.


Di rumah suka sekali dengan oseng2 tahu campur buncis dan pete. Suatu hari membuatnya tidak terlalu di senangi. Kenapa? Kualitas tahunya jelek. Berbau sedikit asam. Oseng2 kegemaran itu menjadi sepi peminat.


Beberapa hari yang lalu saya bikin puding kopi. Dari resep campur aduk yang sy temukan di dunia maya. Resepnya sy campur2 gitu deh dan diselingi dengan inisiatif dari saya. Resep pudingnya ambil di situ, resep flanya ambil di tempat lain. Dan tradaaa.... Jadilah puding kopi dengan fla yang rasanya sungguh sy gemari. Segar sekali jika disantap di tengah hawa panas yang melanda kota ini.


Puding pertama sudah ludes dan menyisakan fla yang lumayan lah... Sy pun akhirnya memutuskan membikin puding baru lagi. Simpel banget sih bikin pudingnya. Tinggal cemplungin agar2 bubuk, gula, susu dan air. Mendidih... dan tradaaa... jadi deh. Oh ya, karena ini puding kopi tentu dong sy tambahkan bubuk kopi instant dan ini sebenarnya maksud tulisan ini.


Mama merekomendasikan sy buat makai kopi instant yang ga biasa saya pakai. Kopi instans yang menyisakan ampas gitu deh kalau kita seduh. Sy tak masalah. Mencobanya. Dan sy benar2 lupa saat itu kalau kopi itui berampas. Dan baru tersadar ketika si kopi udah nyemplung di campuran agar2 dan gula juga susu. Ya sudahlah... Akhirnya.. setelah selesai dan mau menuangkannya ke cetakan, sy saring dulu. Tapi ternyata penyaringannya ga efektif, ampasnya masih ada. Tertandak di bawah, sy potong bagian bawahnya ketika ingin memakannya. Tapi tetap saja... puding kopi itu tak selezat puding kopi sebelumnya. Dan di sinilah peran fla sedemikian membantu. Rasa pahit dari kopi diimbangi dengan sangat manis oleh si fla.


Dan sy beroleh pelajaran penting... untuk tak lagi menggunakan serbuk kopi berampas buat bikin puding. hehehe....

Senin, 20 Februari 2012

Puding kopi with fla

Awalnya sih dari ngelirik foto teman di FB yang kayakna maknyus banget tuh puding. Jadi pengin nyoba. Trus, waktu saruan maulid ada juga puding sejenis dan sy cicipi tuh puding enak. So, penasaran dunk pengin nyoba.

Maka berkunjunglah sy ke foto puding si teman dan bilang ke mama kalau mau bikin. Mama bilang karena pakai saus pudingnya jangan banyak2nya. Pas banget kan, resep yang ada juga cuma makai satu bungkus puding. Tapi pas sy kasih tahu resepnya ke mama dan resepnya itu pakai saus santan, mama jadi ragu. 

"Pakai santan ya? Ga pakai susu aja? Kayakna pakai susu deh," kata mama. Ya sudah lah... sy pun googling lagi nyari resep yang pakai susu dan ketemu deh.

Jadi kemarin resepnya begini... Ini berdasarkan resep teman yang sudah sy modif :)

Bahan :
- 1 bungkus agar-agar bubuk warna putih
- 1 bungkus kopi instan (apa aja deh)
- 100 gr gula pasir (ga ditimbang, cuman pakai sendok. Dengan asumsi, satu sdm full 15 gram)
- susu kental manis secukupnya.
- 2,5 gelas air. Kira2 500-600 ml deh.
- vanili
fla:
- 2/3 gelas air
- gula secukupnya (1-2 sendok)
- 1 kuning telor kocok lepas dimangkok kecil 
- 1 sdm tpg maizena campur sedikit air
- vanill

Cara Membuat :
- Campurkan air, agar2 bubuk, kopi instan, gula pasir, susu kental manis dan vanili masak hingga mendidih dengan terus diaduk agar tidak menggumpal. Sisihkan.
- Untuk flanya,rebus air, tambahkan gula, susu dan telur, kentalkan dengan larutan tepung maizena.
- Siap disajikan. Lebih nikmat ketika dingin.

Kata mama... puding sy kebanyakan susu. So, ntar dikurangin deh susunya. Tapi enak lho... Senang waktu keluarga makannya lahap :)


Minggu, 19 Februari 2012

copas status 2 penulis

Hari ini nemu 2 status yang keren punya dari 2 penulis.


Pertama dari mbak Ari Kinoysan Wulandari. Statusnya begini :


kalau menulis bisa:

1. menuangkan pemikiran secara bebas
2. melatih berpikir secara konstruktif dan sistematis
3. membebaskan diri dari stres dan depresi
4. mengikatkan ilmu, pengetahuan, dan pengalaman
5. mendebat/menentang pendapat/pemikiran dengan baik
6. mempertajam ingatan dan memperlama pikun
7. membuat awet muda dan bahagia
8. menyampaikan pemikiran tanpa berhadapan langsung
9. menambah sahabat dan memperkaya diri
10. meninggalkan jejak peradaban melintasi ruang dan waktu

masih adakah alasan untuk tidak menulis?
mari menulis, meski hanya satu kalimat sehari.



Dan status Bang Darwis Tere Liye :
'bang sy mau belajar nulis. abang mau jadi guru sy'. baik, sy terima, 'silahkan kerjakan PR, tulis 1000 kata/hari selama 6 bulan, setelah selesai baru kita mulai belajar serius'. bukannya mengerjakan PR, malah terussss sj bertanya, bertanya dan bertanya. 


lantas kapan mulai nulisnya? sy bosan dgn orang2 yg memahami dunia menulis itu seperti idol2an, dia pikir bisa instan jadi, macam kontes boyband/girlband. 


kerjakan PR itu selama 6 bulan tanpa alpa sehari pun, maka kalian tidak membutuhkan guru siapapun utk bisa menulis lbh baik dr siapapun. jangan sibuuuuk minta sharing, minta kritisi, minta baca, padahal baru juga punya beberapa tulisan.

Kamis, 16 Februari 2012

ilmu

Ilmu itu adalah satu cahaya yang Allah melontarkannya ke dalam hati setiap hambaNYA yg dengan cahaya itu qta dapat berjalan di jalan yg benar (disampaikan ustadz MuhamMad Bakhiet,semoga Allah memanjangkn umur beliau.. Amin)

Dan bermusyawarahlah

Pelajaran hari ini... Sebenarnya kemarin2 juga : Tak mudah menyatukan isi kepala dua orang sampai pada titik kesepakatan. Apalagi beberapa orang. :s :p


Itu status yang kemarin kutulis di FB. Tentu saja bukan tanpa alasan aku menulis status demikian. Semuanya bermula dari multiperson chat di BB dengan beberapa orang teman untuk mendiskusikan tentang sesuatu. Dan tadi malam dimasuki lagi oleh orang baru yang belum masuk di diskusi sebelumnya.


Dan.... Errgghhhh.... Seperti kembali mengulang dari awal. Diskusi yang sebenarnya udah panjang bener dari kemarin dan coba kukerucutkan agar berujung pada kesepakatan tapi ternyata tetap aja kembali memanas. Hehhee.... Kembali mengemukakan pendapat masing2 dan alasan2...


But... Saved by Nisa. Nisa yang datang belakangan mencoba bersikap tegas agar diskusi itu tak melebar ke mana2.


Ahaha.... Memang yaa... dalam hal penyatuan pikiran diperlukan banyak hal. Kelapangan hati untuk menerima pendapat orang lain, juga kelapangan hati jika pendapat qta tak diterima orang lain. Juga menyingkirkan ego, bahwa pendapat qta tak selalu yang terbaik. Dan juga... dalam diskusi diperlukan seseorang yang bisa bersikap tegas dan menyimpulkan serta menegaskan agar beroleh satu kesepakatan. Dan itu tidak mudah jendral.. :)



Dan bermusyawarahlah kepada mereka dalam suatu perkara, maka jika engkau memutuskan untuk melakukan sesuatu hendaknya bertawakal kepada Allah.” (QS. Ali Imron : 159)
Dan dalam perkara mereka, hendaklah merekaselalu bermusyawarah.” (QS. Asy-Syura : 38).


Selasa, 14 Februari 2012

Berbaik Sangka terus padaNya...

Kemarin, aku kembali diingatkan kalau ilmu yang ada di hati itu lebih baik dari ilmu yang tertulis. Tapi.... kalau tak menuliskannya, ilmu itu sering terlepas dari ingatan. Oleh karena itu... aku ingin mengikatnya dalam bentuk tulisan.

Hari ini mendapat nasehat tentang Berbaik Sangka padaNya.

Selalu.

Dalam setiap hela nafas, berbaik sangka padaNya.

Dalam kepayahan... dalam kesakitan.. dalam hal2 yang tak menyenangkan.. Selalu berbaik sangka padaNya.

Dalam hal2 yang sangat kita inginkan terjadi namun belum juga terjadi.. selalu berbaik sangka padaNya.

Dalam doa2 panjang yang selalu kita pinta padaNya namun belum juga terpenuhi.. Selalu berbaik sangka padaNya.

Bahwa apa pun yang terjadi pada kita adalah kebaikan dariNya.

Ketika doa kita belum juga dikabulkan... ada beberapa hal yang bisa kita ingat agar hati ini terus berbaik sangka padaNya.
Bisa jadi Allah senang mendengar doa2 kita... Jika doa kita dikabulkan, bisa jadi kita tak lagi berdoa sekhusyu itu.

Bisa jadi.. Allah sedang menyiapkan yang jauh lebih baik dari apa yang kita minta. Hanya Allah yang tahu dengan sangat persis apa yang kita butuhkan. Dan tahu persis apakah yang kita minta baik untuk kita atau tidak.

Terus berbaik sangka padaNya.

Ketika ada seseorang yang terus menjaga malamnya dengan Qiyamul Lail.. tapi pada satu ketika dia tak terbangun di malam hari, bahkan subuh pun terlewat. Mungkin akan timbul pikiran... Dosa apa yang telah dilakukan? Hingga terlalai... 

Ah, jangan begitu... Berbaik sangka padaNya. Bisa jadi... Dia membuat kita terlalai karena dengan cara ini lah menghindarkan diri kita dari sikap ujub... sikap sombong yang bisa jadi menempel dalam hati karena kita selalu istiqomah buat bangun malam.

Berbaik Sangka terus padaNya... 

Kamis, 09 Februari 2012

Selepas membaca Manusia Setengah Salmon

Ini buku Raditya Dika yang pertama saya baca. Walau dulu pernah begitu tertarik dengan yang namanya Marmut Merah Jambu, tapi sy tak berhasil menemukan buku itu sehingga urung membelinya. Maka... Jadilah Manusia Setengah Salmon adalah buku Raditya Dika yang pertama.

Sempat begitu tertarik dengan buku ini ketika membaca satu resensi di mana di situ dikatakan kalau buku Radit yang satu ini beda dengan buku2nya terdahulu. Katanya di sini si radit jadi lebih dewasa gitu.... Dan ada pemikiran2 bijak yang bisa ditemukan di bukunya. Hal ini bikin sy kepengiiin banget baca bukunya Radit ini. Tapi buat membelinya kok masih rada berat yaa...

Maka tak berlebihan dong jika sy merasa senang luar biasa sewaktu sepupu sy bilang dia membeli buku ini. Yay... sy udah mesan mau pinjam. Tapi tunggu punya tunggu, pinjaman tak kunjung datang. Mungkin sepupu sy trauma kali yaa, beberapa buku yang sy pinjam dari dia lama banget baru balik. hehehe....

Dan akhirnya buku itu berhasil diantarkannya ke rumah sy, dengan iming2, sy pinjamnya satu hari aja. Hehehe... Berhubung punya waktu yang agak luang, jadi sy berani meminjam satu hari itu dan juga dengan keyakinan, sy bisa membaca buku itu secara cepat tanpa disergap bosan. Dan ternyataa... ya memang sy bisa menyelesaikan buku itu dengan cepat. Tanpa disergap bosan. Bukunya menarik? Yaa... enak sih dibacanya. Ada lucu2nya juga tentu, ada pesan moralnya juga.

Buku ini terdiri dari berbagai cerita.. macam2 deh.. ada tentang pindah rumah, pindah hati, tentang PDKT temannya si Radit yang namanya Trisna, ada cerita tentang sopirnya, ada cerita tentang kebiasaan ayahnya dan sepertinya yang rada banyak adalah cerita tentang nyokapnya yah... Yang paling ngebosanin dan bikin sy ngantuk cerita tentang Jomblonology itu.

Hadoh... sy mau cerita apa yah? Seperti biasa kalau buku pinjaman kan sy mau nulis review yang lengkap jadi kalau agak lupa2 gitu dengan ceritanya kan tinggal dilihat reviewnya karena ga bisa ngambil bukunya.

Oya... di sini juga Radit cerita tentang selera makan. Wuiiih... sy sih percaya benar kalau soal makan ya masalah selera. Kalau orang suka ama jenis makanan tertentu.. belum tentu qta suka. Begitu juga sebaliknya. Ah... ini sih semua orang juga tahu yaa... Di sini juga diceritakan si Radit :)

Ah ya, pada bagian makanan Radit juga bercerita tentang salah satu resto yang menyajikan pizza yang para pelayannya kelewat ramah. Ahahaha... sy tau lah apa restoran itu. Humm... benar juga sih apa kata Radit terkadang yang serba terlalu itu ga bagus. Sy jadi punya cerita sendiri tentang ini. Tapi penggambaran Radit (atau imajinasinya?) kadang malah sy ngerasanya terlalu lebay...

Trus pada bab Kasih Ibu Sepanjang Belanda... Ini bab favorit sy nih. Berkisah tentang perhatian2 nyokapnya radit yang radit merasa terganggu akan itu.. Dan kemudian.. di ending bab ini radit memberikan kesimpulan yang menarik

Seharusnya semakin tua umur kita, kita tidak semakin ingin mandiri dengan orangtua kita.
kita gak mungkin selamanya bisa ketemu dengan orangtua. Kemungkinan yang paling besar adalah orangtua kita bakalan lebih dulu pergi dari kita. Orangtua kita bakalan meninggalkan kita, sendirian. Dan kalau hal itu terjadi, sangat tidak mungkin buat kita untuk mendengarkan suara menyebalkan mereka kembali.

Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima.

Kemudian di tulisan yang berjudul Rumah yang Sempurna. Di sana Radit menganalogikan pindah rumah, beradaptasi dengan rumah yang baru seperti dengan pindah hati atau mencari seseorang yang baru. Sy sih ya ga sepaham dengan pacarannya.. mungkin lebih ke jodoh kali yaa... kalau rumah adalah dia. Karena dia adalah tempat gue pulang. Karena, orang terbaik buat kita itu seperti rumah yang sempurna. Sesuatu yang bisa melindungi kita dari gelap, hujan dan menawarkan kenyamanan.

Dan tulisan terakhir yang menjadi penutup adalah tulisan yang berjudul Manusia Setengah Salmon... Tentang Radit yang datang ke pesta kawinan temannya dan kemudian bertemu dengan temannya yang lain yang udah punya anak.. Dan kemudian dia berpikir, betapa semuanya telah berubah.. Dulu masih asyik main2, sekarang mereka udah punya kehidupan sendiri, punya istri dan anak. Ahaha... Sy juga kerap berpikir seperti ini. :)


Kenapa memakai kata salmon? Ini berdasarkan ketika si Radit menonton Discovery Channel. Saat itu, Discovery Channel sedang membahas tentang ikan salmon. “Setiap tahunnya, ikan salmon akan bermigrasi, melawan arus sungai, berkilometer jauhnya hanya untuk bertelur. Beberapa spesies, seperti Snake River-Salmon bahkan berenang sepanjang 1.448 kilometer. Di tengah berenang, banyak yang mati kelelahan atau menjadi santapan beruang yang menunggu di daerah-daerah sungai yang dangkal. Namun, salmon-salmon itu tetap pergi, tetap berpindah, apa pun yang terjadi.

Hingga kemudian hal itu membuat raditya Dika mengambil kesimpulan.. kalau Hidup sesungguhnya adalah potongan-potongan antara proses perpindahan yang satu dengan yang lainnya. Kita hidup di antaranya.


Tidak ada kehidupan yang lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan. Mau tak mau, kita harus seperti ikan salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapan. Bahkan rela mati di tengah jalan demi mendapatkan apa yang diinginkan.

Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani berpindah.

Rabu, 08 Februari 2012

kesan setelah membaca di jamuan cintaMu di Arafah

Entah kenapa saya selalu ingin bercerita bagaimana berjodoh dengan sebuah buku. Kali ini pun begitu. 


Rasanya sudah lama sekali saya tak membeli buku yang sekali lihat langsung diambil. saya belakangan rada selektif dalam urusan membeli buku. Selain karena buat menghemat budget juga karena tak ingin menyesal karena membeli buku yang tak menarik. Karenanya, saya akan mempertimbangkan betul2 kalau buku itu memang layak buat dimiliki. 


Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke toko buku dengan mengantongi satu judul buku yang pernah saya lihat ada di rak toko buku tersebut. Saya pun menginfokan pada penjaga tobuk itu kalau saya pengin buku itu dan dengan sigapnya dia langsung menelusuri buku2 yang ada di rak bagian dalam. Buku yang saya inginkan sebenarnya sudah pernah dimiliki, tapi tak tau di mana buku itu berada selepas kamar di renovasi dan saya pindah kamar.


Tapi buku yang saya maksudkan tidak ditemukan. Belakangan saya baru menyadari kalau ternyata saya salah menyebutkan judul bukunya dan saya tau itu salah ketika menemukan kembali buku tersebut. Huehehe... Untung ga jadi beli :p


Nah, dari tak ditemukannya buku itu. Kemudian si penjaga tobuk tersebut menawarkan beberapa buku yang baru datang di toko itu. Tak pernah begitu sebelumnya. Dan penawaran ini serta merta membuat saya merasa tak nyaman, karena saya terlalu sering menengok koleksi buku di situ tapi jarang sekali membelinya dengan beragam alasan. Dari ketidaknyamanan itulah akhirnya saya mengambil sebuah buku yang berjudul Di Jamuan CintaMU di Arafah karya dari Ratna Januarita. Buku yang sama sekali tak saya tahu apa isinya bagus atau tidak. Dan buku yang belum pernah saya telusuri review yang terkait buku itu. Walaupun endors dari buku itu begitu menjual, tentu saya tak bisa menyandarkan bagus tidaknya sebuah buku pada endors, kan endors memang buat mendongkrak penjualan buku.


Pulang ke rumah, ketika berkesempatan buat online saya langsung bertamu pada mbah google dan bertanya tentang buku ini. Humm... Dan bertabur pujian tentang buku itu. Saya merasa lega. Semoga tak salah menjatuhkan pilihan untuk membeli buku ini :)


Eh... sudah panjang bener saya bercerita :)


Buku ini saya baca dalam rentang waktu yang cukup lama. Sekitar satu bulan mungkin ya.. karena diselingi juga dengan membaca buku lain juga kemalasan melahap buku. Huhuhu....


Seperti yang dapat ditebak dari judulnya buku ini berkisah tentang Haji. Memoar Haji dari penulisnya sendiri. Di pembuka buku ini penulisnya juga menceritakan tentang madrasah2 yang ditemuinya sebelum keberangkatan Haji. Madrasah yang dimaksud adalah beragam masalah2 yang timbul ketika ingin melaksanakan haji (dana, dll) dan juga ketika sudah terpasang dan keberangkatan tinggal hitungan hari.


Di bagian ketika asisten dari si penulis pamit dan kemudian diketahui kalau asisten itu tak pulang kampung justru berada di rumah tetangganya sendiri membuat saya belajar tentang sesuatu, membuat saya tercenung bagaimana penulis memperbaiki hubungan dengan tetangganya itu.. humm... insyaAllah saya ceritakan di bagian lain saja ya. Biar tak terlalu panjang. 


Yang pasti saya belajar banyak hal lewat buku ini. Bagaimana penulis bisa menangkap apa yang terjadi sebagai sebuah madrasah.. Subhanallah... sering sekali banyak pelajaran yang kita dapat dari hari2 yang kita lalui, hanya saja kita yang buta untuk melihatnya.


Juga ketika dalam perjalanan Hajinya, bagaimana penulisnya begitu piawai mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Membingkai satu prosesi ke prosesi lain dalam ibadah haji dengan balutan ilmu, dengan penuh tafakkur. Keren yah... Dan tak urung apa yang dituliskan penulisnya di sini membuat saya disergap kerinduan untuk melewati prosesi2 itu. 


Panggil hamba lagi ya Allah... 

Membaca buku ini juga menyibak lagi kenangan2 akan Perjalanan yang pernah ditempuh hampir 3,5 tahun yang lalu itu. Humm... Beberapa hal sebenarnya ingin saya tuliskan di sini, tapi di lain waktu saja ya, insyaAllah. Sudah terlalu panjang :)


Saya juga mendapat pelajaran bagaimana penulisnya begitu istiqomah untuk tidak menggunakan obat apa pun buat mengatur atau menunda kodrat yang dimiliki para wanita. Haid.


Saya juga bersepakat ketika penulis buku ini mengatakan : "Sayangnya, karena ibadah haji adalah ibadah yang bernuansa kental dengan aspek sabar dan ikhlas, sehingga disalah-kaprahi sebagai excuse oleh pihak-pihak yang enggan melakukan perubahan dalam pelayanannya." 


Tapi ada beberapa hal yang tak saya sepakati ada di buku ini. Seperti apa yang dikatakan penulisnya di halaman 295 tentang Saqifah Bani Sa'idah. Dari sejarah yang pernah disampaikan Guru saya tidak seperti yang disebut di buku ini, dan saya percaya penuh dengan ilmu yang dimiliki Guru saya, beliau tak akan sembarangan menyampaikan siroh. Wallahu a'lam bisshawab.


Pada bagian di mana penulisnya mengunjungi Raudhah, di bagian itu tak diceritakan penulisnya menyampaikan salam kepada 2 sahabat utama Rasul yang juga dimakamkan di sana, Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar bin Khatab. Sy tak menggugat penulis untuk menyampaikan salam kok... hanya saja, jika saya berkesempatan untuk berziarah ke sana, insyaAllah saya tak akan melewatkan juga salam buat dua sahabat Rasulullah tersebut.


Membaca buku ini lagi2 sy mengingatkan diri sendiri untuk tidak menelan mentah2 apa yang sy baca. Bagaimana pun sebuah buku ditulis oleh seorang manusia yang bisa salah dan bisa khilaf. Begitu pun tulisan saya ini, juga ditulis oleh seorang manusia biasa yang sangat bisa salah dan teramat sangat bisa khilaf.


Semoga Allah menunjukkan kepada kita yang benar itu benar dan memberikan kekuatan kepada kita untuk mengikutinya dan menunjukkan kepada kita yang salah itu salah dan memberikan kekuatan kepada kita untuk menjauhinya. Aamiin....


Oya, ada untaian kata yang sangat indah di halaman pembuka buku ini :


Siapa pun yang sedang ragu, pernah menyimpan harapan, ataupun sudah membulatkan niat untuk pergi Haji, 
Semoga Allah menguatkan niatnya dan menyegerakan undangan-Nya
Juga,  

Siapa pun yang telah melaksanakan Haji,  
Semoga Allah senantiasa menganugerahkan haji yang mabrur, sa'i yang diterima, amal yang diterima, dosa yang diampuni dan usaha yang tidak merugi. 
Aamiin...

Selasa, 07 Februari 2012

Bel Sepeda di BB

Finally, aku ganti juga rongtone buat BBM masuk di BBku itu. Kemarin dari awal punya kan kusetting pakai nada dering yang seperti bunyi bel sepeda gitu. Kring.. Kring...


Dan ada beberapa orang yang merasa itu bel sepeda beneran. Itu masalahnyaa... huhuhu...


Dulu.. waktu awal2, abah sampai melongok ke pintu, "ada orang di luar ya?" tanya abah. 
"Emang kenapa Bah?"
"Ada suara bel sepeda gitu."


Wadoooh... aku langsung konfirmasi kalau itu bunyi dari BBku yang menandakan BBM masuk.


Trus.. Kemarin waktu nebeng mobil Om pulang dari Ilung. BBMku kan bunyi lagi, om yang nyetir dan lewat di persimpangan jalan gitu, celingak celinguk... 
"Ada sepeda ya?" tanya si Om.
Dan langsung dijawab puteri Om..
"Bukan Pah. Itu suara BBM ka Anti."


Gubrak deh. Dan akhirnyaaa... kuputuskan buat mengganti ringtonenya :D

terkejar-kejar sendirian

Kemarin, saat berkumpul dengan keluarga besar, seorang adik sepupu saya bertanya. 
"Kak, tak sabarkah pian menanti?"
Sy langsung tercenung mendapati pertanyaan tersebut dan kemudian menanyakan pada diri sy sendiri pertanyaan yang sama, "Tak sabarkah saya menanti?"

"Ulun sudah tak sabar kak," lanjut sang adik dengan wajah sumringah.

Saya hanya tersenyum menanggapinya dan kemudian kembali bergelut dengan pikiran sy sendiri tentang satu impian, satu mimpi besar yang insyaAllah tinggal hitungan hari akan terwujud, tentu saja jika Allah mengizinkannya terjadi sesuai dengan rencana. 

Saya bukan tak menanti saat itu tiba. Saya juga bukan tak bahagia karena mimpi itu hampir terwujud. Malahan sy merasa dada sy ingin meledak karena rasa syukur dan bahagia yang memenuhinya. Mimpi itu pernah bertahun2 menjadi mimpi teratas yang ingin sy wujudkan, walaupun di tahun2 belakangan ini, mimpi itu tak lagi menduduki posisi puncak, tapi tetap menjadi salah satu impian terbesar bagi saya.

Tapiii... sy merasa waktu berlalu sedemikian cepat. Rasanya baru kemarin sy menulis status "Jangan pernah membenci hari Senin, karena Rasulullah dilahirkan di hari senin... bla.. bla...".. Sekarang sudah senin kembali.

Sementara itu masih begitu banyak hal2 yang ingin sy lakukan sebelum saat itu tiba. 
Banyak hal yang harus  sy pelajari dan pahami. 
Banyak perbaikan2 yang mesti sy lakukan.
Banyak target2 yang sudah sy list yang sy ingin semuanya sudah selesai sebelum saat itu tiba. 

Dan waktu berlalu begitu cepat... sy merasa terkejar-kejar sendirian*.


07022012
H-32

*ngutip dari bukunya mbak Ifa Avianty, Jejak-jejak Kembara Cinta.

Senin, 06 Februari 2012

forgiven (yang tak terlupakan)


Saya pernah menonton sebuah film Jepang yang berkisah tentang seorang jenius yang sangat gandrung dengan matematika. Suatu ketika si jenius ini terlibat dalam sebuah pembunuhan dan kemudian ada satu orang jenius lagi yang gandrung dengan fisika yang mencoba mencari titik terang dari pembunuhan tersebut. Film itu menarik, karena si jenius matematika mencoba membuat alibi dengan logika matematika yang bermain di otaknya, yang menggandrungi fisika pun juga dengan logika2 fisikanya mencari tau apa yang terjadi di balik pembunuhan itu. Apa judul filmnya? Saya lupa!

Dan saya jadi tertarik dengan hal2 seperti di atas, cerita fiksi yang mengedepankan tentang orang2 Jenius. *sebenarnya udah dari dulu sih tertariknya* :p

Termasuk saat di twitter land saya menemukan ulasan tentang sebuah novel yang dikatakan tokohnya adalah seorang maniak fisika, juara olimpiede fisika sedunia. Terlebih saat sy menemukan testimoni orang2 yang begitu memuji terhadap novel itu. Ketertarikan saya mengkuadrat sempurna. Dan ketika menemukannya, saya tak ragu buat mengambil novel itu dan memboyongnya ke rumah :)

Bagaimana setelah membacanya?

Forgiven judul novel itu. Ditulis oleh seorang penulis kelahiran tahun 1980 yang bernama Morra Quatro. Morra Quatro adalah nama asli penulis tersebut. Bukan nama pena dan novel ini bukan novel terjemahan. Yang menulis orang Indonesia asli :)

Cerita Forgiven dimulai dengan cerita persahabatan Karla dan Will, di mana Will diceritakan begitu gandrung dengan fisika yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di dalam lab melakukan penelitian yang tak dimengerti Karla. oya, ada nama2 lain juga yang berada dalam lingkaran persahabatan mereka, ada Wahyu, Laut dan lain2, di mana mereka selalu pulang sekolah bareng dan selalu bersama2 di masa SMA mereka. Dan Karla adalah satu2nya cewek di lingkaran persahabatan itu.

Cerita2 tentang masa SMA pun bergulir di situ, kenakalan2, pahit manisnya persabatan antara mereka, saling menguatkan dan saling berbahagia ketika salah satu dari mereka mewujudkan impiannya. 

Sampai kemudian masa SMA mereka berakhir. Di titik inilah Karla begitu tak ingin kehilangan Will yang hilang tanpa jejak. Di cover belakang novel itu tertulis kepergian Will tak ubahnya bagaikan El Nino yang memporakporandakan hati Karla habis-habisan. Will adalah sahabat terbaik Karla, tempat berbagi rahasia dan mimpi-mimpi yang tak sembarang orang tahu. Bagaimana ujung dari persahabatan Karla dan Will? Sekedar bocoran, ending dari novel ini benar2 tak terduga :)

Iiih... sinopsis yang sy tulis garing banget :p Kesannya seperti hanya menyangkut dua kisah asmara anak manusia ya? humm... sebenarnya tidak juga sih. Ada banyak hal yang disajikan di novel tersebut.

Dari segi kepenulisannya si Morra ini saya suka. Cara penulis membawa pembaca hanyut dan berpenasaran ria memang piawai sekali. Ketika membaca cerita SMA mereka saya seperti membaca teenlit dan ketika periode waktunya berubah saat mereka sudah dewasa, sy pun merasa kesan teenlitnya menghilang, menjadi cerita novel bergenre dewasa yang tetap asyik dinikmati. Intinya.. sy suka dengan gaya menulis penulis ini.

Tapi... ada juga bagian yang tak saya suka, tak masuk lah buat saya. Apa itu? Pergaulan bebasnya itu loh. Yang tersaji di novel ini. Sedikit spoiler ya.. 2 tokoh wanita di novel ini diceritakan hamil di luar nikah. Aaah... Biasa aja kali yan. Namanya juga mereka tinggal di Amerika. Huhuhu... Bagi saya ini tetap bukan hal biasa. Dosa besar!

Saya jadi ngeri melihat novel2 seperti ini tersebar di mana2 dengan menceritakan pergaulan bebas itu. Bukan, novel ini tidak mengungkapkan pergaulan bebas secara vulgar, tapi tetap saja, sesopan apa pun disajikan, pergaulan bebas di novel ini tetap terasa dan tak ada taubatan nasuha yang diceritakan di situ. Mereka menanggapinya itu ya biasa aja. Sy jadi mengkhawatirkan ketika mereka yang membacanya (terlebih ABG) membuat berpikir kalau pergaulan semacam itu adalah hal yang biasa di masa kini. Padahal tetap aja kan, mau sekarang atau nanti.. mau zaman berubah gimana gitu.. tetap saja itu sebuah dosa besar. 

Huff... Jadi PR banget nih ya buat para penulis muslim dan muslimah, untuk membuat bacaan2 yang menarik dengan tetap memegang batasan2 pergaulan dan mari sebagai pembaca kita juga mengapresiasi karya2 mereka :)

"Everyone makes mistakes. But only a few could forgive. Padahal ada banyak kesalahan yang hanya perlu dimaafkan bukan dihukum."

Kamis, 02 Februari 2012

Menjelma Koki ^^

Jadi ceritanya begini..
Karena besok itu ada rencana mau ke Banjarbaru, sementara bahan masakan banyak di kulkas dan yaa... ga tahan lama gitu deh kalau disimpan lama2. Maka tadi pagi sy bela2in masak buat sarapan. Hihihi... Biasanya kan beli :p


Soalna selain besok ada rencana mau ke Banjarbaru, hari minggu juga ada acara di Ilung. Jadi waktu buat masaknya hampir ga ada. Mau masak2 siang, sorenya kan ada acara di rumah acil. So, solusinya ya pagi2. 


Pagi2 udah ngacir ke pasar, beli petai dan buncis. Karena di kulkas banyak tahu. Sebenarnya pengin bikin masakan macam2 berdasarkan hasil googling tapi kan itu belum tentu enak, juga belum tentu disuka orang rumah. Jadinya yaa... bikin yang udah pasti disuka aja :D


Apa aja yang dibikin?
Pertama, tumis tahu buncis pete.



Trus masak oseng2 pare. Wuiiih... ini maknyus banget deh. hehe... dia yang masak, dia yang muji :p
tapi beneran.. aku suka banget. :D


Ini Ikan asin masak asam manis. 


tadinya mikir bawangnya udah banyak banget. Kan biasa emang banyak bawang. Tapi ternyata masih banyakan ikan asinnya. Bawangnya udah segini...



Ikan asinnya cuman segini. Tapi ternyata bawang itu menyusut. Jadi deh kebanyakan ikan asinnya. Padahal ini bukan pertama kali bikin lho.. hehehe




Tapi Alhamdulillah puas.. Dimakan dengan lahap sama orang rumah juga 2 karyawan toko. :D

Rabu, 01 Februari 2012

bersabar dalam proses

Page 32 of 366 in 2012


Januari sudah berlalu dan Februari menyapa.


Hari ini cerita apa?


Hehehe... kegemaran sy di Januari kemarin adalah blogwalking. Berjalan dari satu blog ke blog yang lain. Menyusuri huruf demi huruf, kata per kata yang tersaji di diary elektronik itu. Dari kegemaran itu saya mendapatkan banyak hal. Banyak pelajaran, banyak pengalaman hidup yang sy dapatkan dari mereka yang rajin mengisahkan bagian2 hidup mereka di blog. 


Dari situ juga sy tersaput minder, bahwa begitu banyak mereka2 yang punya tulisan menarik atau telah banyak menuai pengalaman hidup sementara sy masih terpaku di sini. Tapi tak ingin iri lah, justru kagum yang membuat sy ingin juga ikut berlari dan terbang :)


Sy juga masih harus belajar lagi dalam mengolah kata. Karena menyadari sepenuhnya kalau menulis hanya bisa diasah ya dengan  menulis juga. Dan juga banyak membaca. Sy terkagum2 dengan mereka yang demikian apik menulis, jelas antara pembukaan, bagian tengah serta kesimpulan yang menjadi penutup. Dan itu tersaji dengan kata2 yang menarik. Bagaimana dengan saya? Ah, sy merasa tulisan2 sy masih cuap2 ga jelas. Ga jelas juntrungannya :)


Dan kemudian sy tersadar kalau semuanya perlu proses. dan betapa diperlukannnya kesabaran dalam melewati proses itu.


Teringat lagi kejadian yang menyadarkan sy beberapa waktu yang lalu. Saat sy limbung dan putus asa mewujudkan satu cita2 besar dalam hidup sy : Menghafal Al-Qur'an. Rasanya susaaah sekali firman Allah itu menempel di otak sy. Sy frustasi menatap akhir surah yang sedang sy hafal. Betapa ingin sy meleset langsung ke akhir surah itu, sementara sy masih terpaku di tengah2 surah.


Tapi kemudian, satu kenyataan menyadarkan sy. Kalau semuanya perlu proses. Sy menghafal perlu proses buat sampai ke akhir. Dan bagaimana sy bersabar menjalani dan melewati proses itu. 


Sama halnya dengan sy membikin kue. Ketika sy mencampur telur dan gula kemudian diaduk sampai mengembang tentu sy harus bersabar dulu kan sampai adonan itu mengembang sempurna. Kalau sy tak sabar, adonan itu pun akan jadi bantat.


Jadi mari qta bersabar dalam melewati proses itu. Cintaa... bersabarlah... *jyaah... kok jadi lagu Letto* :p


DI februari ini juga ingin lebih baik dari januari kemarin. Ingin banyak menulis dan membaca dan juga menghafal. Sampai maut menjemput. Terus menebar kebaikan dan melakukan perbaikan. 


Semangat ya yanti.... :D















Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...