Sabtu, 30 Januari 2016

[Dibalik Layar] Cerpen 'Rani Ditangkap Polisi' di Majalah Bobo

Semenjak suka menulis cerpen anak, saya kerap mengubek memori masa kecil untuk mendapatkan ide. Kenangan-kenangan akan masa lalu kemudian timbul di permukaan. Salah satunya pengalaman saya naik mobil polisi saat masih SD dulu.

Saya ingin menjadikan pengalaman tersebut sebuah cerpen. Tapi cerpen seperti apa? Saya belum tahu. Ibaratnya saya sudah punya bahan untuk memasak. Namun, mau dibikin apa bahan tersebut? Saya masih belum tahu. Sampai kemudian saya mendapatkan bahan baru untuk dimasak bersama bahan tersebut.

Bahan baru itu berupa perasaan gemes. Gemes melihat orang begitu mudahnya menyebarkan informasi tanpa cek dan ricek. Hanya sekali lihat atau baca, kemudian menyebarkan. Padahal belum tentu apa yang terlihat seperti kelihatannya atau bisa juga semuanya sudah basi.

Kamis, 28 Januari 2016

Bikin Paspor (Part 1)

Pertanyaan mau ke mana, seperti selalu menyertai di saat kita mengatakan pada orang-orang kalau mau bikin paspor. Bahkan oleh petugas imigrasi sekali pun. Lalu apa tujuan saya bikin paspor? Eh, bukan bikin baru sih. Tapi memperpanjang paspor lama saya yang akan habis bulan April nanti 
Hemm, belum ada rencana ke mana-mana. Kalau impian sih banyaak. Pengin ke negara ini, ingin ke negara itu. Terutama ke Tanah suci. Tapi kalau sekadar jalan-jalan saya lebih ingin pergi mengelilingi negeri kita tercinta. Untuk satu tempat yang ingin saya datangi, saya malah sudah dari beberapa bulan yang lalu bersemangat mencari tahu travel tips untuk ke daerah tersebut. 


Salah satu negara impian. Sumber di sini

Rabu, 27 Januari 2016

Ijak Perpustakaan Digital

Saya mengetahui tentang Ijak dari salah satu postingan seorang blogger. Kemudian beberapa kali membaca review dari para blogger buku yang menyebut kalau buku yang mereka review hasil pinjam di Ijak. Dari situ saya pun install aplikasi itu dari Playstore. Mendaftarkan diri saya ke sana. Melihat-lihat. Dan sudah, begitu saja.
Ijak di Playstore

Tidak tertarik dengan perpustakaan digital itu?

Dulu, tidak. Karena saya punya timbunan buku yang banyaaaak. Masa mau nambah timbunan lagi dengan minjam di perpus digital?

Selasa, 26 Januari 2016

Membangkitkan Gairah dalam Ngeblog


Pernah mengalami kebosanan dalam melakukan sesuatu yang sebetulnya kita suka? Seperti seorang kutu buku yang tetiba bosan membaca buku. Atau seorang blogger yang merasa tidak tahu harus bagaimana untuk update blognya sendiri? Kalau ditanyakan hal itu kepada saya, tentu saja jawabnya pernah. Namanya juga kehidupan yang flaktuatif, ada naik dan turunnya. Kadang semangat, kadang yah gitu deh…

            Kemudian saat saya malas dalam update blog, apa yang biasa saya lakukan? Ada beberapa cara yang efektif membangkitkan gairah dalam ngeblog lagi versi saya.

            Pertama, membaca buku. Yup, karena kesenangan saya membaca buku dan me-review setelahnya maka membaca buku bisa menjadi cara yang ampuh buat saya ngeblog lagi. Apalagi kalau bukunya cetar. Entah itu cetar bagusnya atau sebaliknya. Hehehe… Biasanya gatal nih tangan pengin mengulas dan mengulik. Saya juga merasa otak saya penuh sekali sehabis membaca buku itu dan saya harus menuangkannya dalam bentuk tulisan agar lebih legaan. Jadilah, saya akan menulis tentang buku tersebut dan posting di blog.

Jumat, 22 Januari 2016

Tentang Film Ketika Mas Gagah Pergi (Bukan Review)

Bulan berganti bulan, sesuatu yang dulunya menjadi mimpi bisa jadi telah berubah menjadi kenyataan. Seperti sebuah film yang dulu diharapkan kehadirannya kini telah tayang di bioskop-bioskop tanah air. Film yang berjudul Ketika Mas Gagah Pergi.
Sumber : www.ummi-online.com

Saya masih ingat saat dulu Mbak Helvy Tiana Rosa selaku penulis cerpen Ketika Mas Gagah Pergi mengadakan acara di Balikpapan. Saya ogah datang. Saya enggan untuk berhadir. Karena saya tak pernah merasa ingin dan perlu untuk mendukung film Ketika Mas Gagah Pergi.

Perjalanan Kemarin



Kemarin saya menempuh perjalanan antar provinsi Kalimantan Selatan ke Kalimantan Timur untuk kesekian kalinya. Karena perjalanan kali ini lewat udara, jadi sebelumnya saya mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa dalam tiga tas.

Tas pertama adalah tas besar yang akan berisi pakaian dan beberapa barang lainnya. Tas besar ini rencananya akan ditaruh ke dalam bagasi pesawat. Jadi, barang-barang yang berharga tidak ditaruh di dalamnya. Tas kedua berupa ransel berwarna hitam. Ransel ini akan saya bawa ke dalam kabin pesawat. Isinya berupa laptop, tablet, dan beberapa barang lainnya. Termasuk mukena. Tas ketiga adalah tas tangan tempat saya menaruh dompet dan ponsel. Di dalamnya juga ada parfum wanita.

Selasa, 19 Januari 2016

[Cerpen Bobo] Kue Lempeng Nenek

            Seperti yang saya ceritakan di sini, kalau ide cerpen ini berawal dari saya yang suka lupa sama resep masakan. Jadi, untuk memudahkan kadang saya tulis di blog. Kalau mau nyari tinggal ‘search’ di blog sendiri.

            Awalnya sempat galau juga sih mau resep apa yang ditulis. Mau rendang, ribet kali ya apalagi saya belum pernah berhasil masak rendang. Wkwkwk.. Mau risoles, aih… sama ribetnya. Kemudian dipilihlah kue limping alias lempeng. Mungkin juga saat itu suami lagi senang dibikinin kue lempeng ini, atau karena saya ingin memasukkan unsur lokalitas dalam cerpen tersebut atau perpaduan semuanya. Entahlah saya tak ingat persis.
Kue Lempeng atau Wadai Limping
Oya, saya juga ingat kalau pernah membaca tips di klinik cerita di Majalah Bobo. Isinya begini : 
"Untuk membuat cerita yang tak biasa, cobalah untuk berpikir sebagai seorang pembaca. Jangan hanya berperan sebagai penulis saja. Cerita tentang lingkunganmu mungkin akan kau anggap biasa-biasa saja. Misalnya, kalau kamu tinggal di Jakarta, cerita tentang kerak telor mungkin tidak menarik lagi. Tetapi, bagi pembacamu yang berasal dari luar Jakarta, cerita kerak telor bisa menjadi hal yang baru dan menarik. Selain cerita yang bertema kedaerahan, cerita tentang kebiasaan-kebiasaan unikmu bersama teman-teman dan keluarga juga bisa menjadi unik dan menarik."
 Mungkin berdasarkan itu juga kemudian saya menulis beragam kuliner daerah saya dalam bentuk cerpen. Selain kue lempeng, saya juga menulis tentang pisang gapit

 Cerpen Kue Lempeng Nenek ini dimuat di Majalah Bobo Edisi 34, Terbit 26 November 2015.

Happy Reading ^_^
           

Senin, 18 Januari 2016

5 Kuliner yang Bisa dicoba di Balikpapan

Mengunjungi suatu daerah rasanya tak lengkap jika tak melakukan wisata kuliner, setidaknya untuk saya yang doyan makan ini. Hehehe..

Balikpapan adalah daerah yang punya banyak pendatang. Ada beragam suku di sana. Hal ini juga membuat wisatawan yang berkunjung punya pilihan wisata kuliner dari beragam daerah.

Berikut 5 kuliner yang bisa dicoba di Balikpapan:

1.      Pisang Gapit

Pisang gapit adalah salah satu kuliner khas dari Balikpapan. Gapit artinya jepit. Sesuai namanya sebelum diproses, pisang dijepit terlebih dahulu. Selanjutnya pisang akan dibakar. Aroma khas pisang yang dibakar ini menjadikan rasa pisang menjadi unik.

Setelah dibakar, pisang akan dipotong-potong dan kemudian disiram dengan kuah kental yang lezat. Beberapa penjual pisang gapit bisa ditemui di kota Balikpapan. Yang legendaris dan terkenal ada di kawasan Kebun Sayur. Namun jika ingin menikmati pisang gapit sembari duduk menatap lautan, datanglah ke kawasan Melawai. Di sana juga terdapat beberapa penjual pisang gapit.

Jumat, 15 Januari 2016

Malam Minggu di Kota Kandangan

Kandangan adalah salah satu kota di Provinsi Kalimantan Selatan. Bertetangga dengan kota Barabai tempat saya tinggal. Jaraknya hanya sekitar 30 km. Waktu tempuh kira-kira 30 menit dengan kecepatan sedang. Walau jaraknya dekat, saya baru menyadari kalau saya nyaris tak pernah ke Kandangan hanya sekadar jalan-jalan. 

Mengunjungi kota Kandangan tentu pernah. Ada adik dan kakak mama saya yang berdomisili di sana. Setiap ke Banjarbaru atau Banjarmasin pun akan selalu melewati kota tersebut. Namun hanya sekadar lewat. Kalau pun ke Kandangan selalu ada acara yang ingin dihadiri. Sekadar jalan-jalan? Oh itu jarang terjadi. Tapi kemudian terjadi di malam minggu kemarin. 

Awalnya saya, kakak ipar, dan tante yang berencana ingin pergi ke Kandangan. Tapi tak mendapatkan izin dari om saya. Akhirnya pergilah kami bersama om dan kakak di malam minggu. 

Kamis, 14 Januari 2016

Cerpen 'Pisang Gapit' di Majalah Bobo

         Hari ahad kemarin, saya mendapat kabar kalau resensi saya dimuat di harian TribunKaltim. Itu adalah tulisan pertama di 2016 yang dimuat di media. Dua hari setelahnya saya mendapat kabar lagi kalau tulisan saya dimuat di Majalah Bobo. Horeee…. Alhamdulillah… Senang banget mendapat kabar tersebut.

          Ketika diberitahu kalau ada cerpen yang dimuat di majalah Bobo, pastilah saya bertanya-tanya, cerpen dengan judul apa yang dimuat? Karena ada beberapa cerpen yang saya kirimkan ke majalah tersebut.

Untunglah hari itu, Mas Bambang Irwanto yang mengabarkan kalau cerpen saya dimuat langsung memberi foto cerpen tersebut. Jadinya saya tahu kalau cerpen yang dimuat berjudul Pisang Gapit. Setelah Kue Lempeng Nenek, cerpen yang dimuat kembali bertema kuliner daerah.

326 Kilometer Menuju Balikpapan

Berapa lama teman-teman pernah naik bus untuk menuju satu tempat? Satu jam? Tiga jam? Atau enam jam?

Kalau saya pernah naik bus selama kurang lebih 12 jam. Dari jam 7 malam sampai jam 7 pagi keesokan harinya. Hal itu saya alami saat menempuh perjalanan dari kampung halaman saya di Barabai menuju kampung halaman suami di Balikpapan. Jaraknya sekitar 326 km.

Perjalanan darat dengan menggunakan bus tentu saja berbeda dengan perjalanan udara. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan naik bus adalah harganya lebih murah daripada tiket pesawat. Tapi, waktu tempuhnya lebih lama dan lebih menguras tenaga.

Senin, 11 Januari 2016

Tulisan Pertama di 2016

          Saat teman-teman menyusun resolusi untuk tahun ini, saya pun begitu. Namun, semua tak saya paparkan di depan umum. Ada sih beberapa yang saya sebut ke suami atau teman-teman terdekat. Tapi  tercetus begitu saja. Semisal saya berkata, ‘Tahun depan mau bla bla bla…’ atau ‘Resolusi 2016 mau bla bla bla…’ udah sih gitu aja. Paling yang diumumkan cuma resolusi baca buku aja.

           Walaupun begitu ada kok resolusi yang hanya ada di hati seperti tidak masang status atau upload foto di FB di 2016 sebelum ada tulisan yang dimuat atau menang lomba apa gitu. Plus juga saya sempat bilang kalau 2016 mau adem ayem kalau ada tulisan dimuat. Tidak langsung hora hore bergembira gitu. Et dah, setelah dipikir-pikir resolusinya agak bertolak belakang ya? Satu sisi mau pasang status kalau tulisan dimuat, eh resolusi lain malah pengin adem ayem. Ya gitu deh… Namanya juga orang gamang :p

            Kenyataannya bagaimana?

Sabtu, 09 Januari 2016

Menemukan Kata-kata

Membaca adalah sarana untuk menemukan kosa kata baru. Setidaknya itulah yang saya rasakan dari hobi kegemaran aktivitas membaca selama ini. Sebenarnya sejak dulu sih sering mememukan kata-kata yang unik atau jarang didengar dan dipakai. Namun sekarang saya mulai menekadkan diri untuk mencatat kata-kata tersebut agar bisa digunakan dalam proses menulis. Jadi, tidak memakai kata yang itu-itu saja.

Ada berapa sih kata yang tercatat di KBBI? #nanyadoang #malasgoogle #KalauMalasGooglingDihitungajadikamus :p

Salah satu kata yang pernah saya temukan dalam buku yang saya baca adalah kata terbeliak. Terbeliak berasal dari kata beliak - membeliak yang artinya membuka lebar-lebar. Kata itu pun beberapa kali saya gunakan dalam cerpen yang saya tulis. Daripada ditulis melotot? Terbeliak sepertinya lebih pas menurut saya.

Jumat, 08 Januari 2016

Zia Anak Hebat


Kemarin saat saya posting tentang 2016 Reading Challenge saya terkaget sendiri karena 2016 sudah berjalan hampir satu minggu sementara saya nyaris tak mengkhatamkan satu buku pun. Merasa terkejar-kejar dengan target yang dibuat sendiri, akhirnya menarik satu buku. Yang tipis saja biar cepat selesai. Hihihi… Jadilah saya melahap Zia Anak Hebat karya Mbak Linda Satibi.

Apa yang membuat seorang anak dikatakan hebat? Juara kelas? Punya keahlian tertentu? Atau yang bagaimana? Seperti itukah Zia jadi di judul dikatakan hebat?

Jawabannya adalah baca saja bukunya.

Review selesai.

Rabu, 06 Januari 2016

Menghadirkan Ide

Kalau kata Fatin dalam lagunya ada banyak cara Tuhan menghadirkan cinta. Kalau kata penulis ada banyak cara Tuhan menghadirkan ide. Saya setuju sekali. Terkadang ide muncul dari mana saja.

Jadi, saya mau cerita bagaimana ide-ide datang ke saya. Karena saya sering sih merasa tidak punya ide. Huhuhu.... Dan jadilah saya terkenang-kenang pada cerpen-cerpen anak yang berhasil saya tulis dan kemudian berhasil dimuat. Mengenang sembari berpikir, kok bisa kemarin dapat ide nulis gituan? Hihihihi...

Ide menulis cerita anak itu bisa dari :
1. Kejadian saat kita masih kecil.
2. Hasil mengamati apa yang dialami oleh anak-anak di sekitar kita.
3. Pengalaman kita saat dewasa kemudian dieksekusi menjadi cerita anak-anak dengan tokoh anak-anak.
4. Sebuah pesan atau quote yang membekas dalam ingatan kita.
5. Perenungan.
6. Mengikuti Kelas Menulis.
7. Perpaduan dari semuanya.

Sabtu, 02 Januari 2016

Cinta Beda Keyakinan, Apakah Memiliki Masa Depan?


Sebuah novel yang jika saya bisa merasakan apa yang dirasakan tokoh di dalamnya buat saya itu adalah sebuah karya yang bagus. Bisa dapat 'feel'nya. Sekarang sih nyebutnya lebih mudah. Saya baper saat membacanya. Heu... Baper oh Beper.

Kamila adalah seorang asisten dosen untuk satu mata kuliah. Sementara Piter adalah seorang adik tingkat Kamila. Mereka bertemu pada satu kejadian tak terduga. Saat itu, Kamila terasa memesona buat Piter. Piter ingin meminta nomor telpon Kamila. Kamila mengajukan syarat, singkat cerita Piter akhirnya mendapatkan nomor telpon Kamila.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...