Tampilkan posting dengan label Tulisan di Media. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Tulisan di Media. Tampilkan semua posting

Selasa, 03 Januari 2017

Karya Pertama di 2017

            Alhamdulillah, tepat di tanggal 1 Januari 2017 kemarin, ada resensi saya yang dimuat di Tribun Kaltim. Resensi untuk buku Teman Baru Jung Yun yang ditulis oleh Ungu Lianza dan diterbitkan oleh Lintang Indiva. Ini karya pembuka di 2017, semoga diiringi karya-karya lainnya. Aamiin…

            Sebenarnya selepas membaca Teman Baru Jung Yun ini saya agak ngedumel dengan tokohnya yang Fahri banget. Itu loh Fahri di Ayat-ayat Cinta yang sempurna sekali. Alim iya, pintar iya, baik hati juga. Intinya segala kesempurnaan ada padanya. Hal ini kemudian saya sampaikan ke teman-teman. Dan tanggapan teman-teman cukup membuat saya terpana.
Teman Baru Jung Yun

Kamis, 29 Desember 2016

Jejak Pena di 2016

            2016 menyisakan beberapa hari lagi. Seperti yang lazim dilakukan orang-orang untuk mengumpulkan jejak-jejak kejadian selama satu tahun di akhir tahun, saya pun tak ingin ketinggalan :p Mencoba mengumpulkan jejak-jejak pena di tahun ini. Sebagai evaluasi, juga motivasi untuk tahun yang akan datang.

            Layaknya dua tahun yang lalu, cerita anak dan resensi masih mendominasi dalam tulisan-tulisan saya yang diterbitkan media. Tahun sekarang pun begitu. Tercatat ada tujuh cerpen saya yang dimuat di Majalah Bobo.  Tadinya saya pikir jumlahnya hanya lima, begitu saya hitung lagi ternyata ada tujuh. Saya sendiri merasa kaget dengan jumlah tersebut karena merasa tahun ini mengalami paceklik karya di Bobo. Mungkin karena disebabkan karya saya yang terbit kebanyakan di awal tahun dan ada jeda yang lumayan panjang sampai karya penutup di tahun ini yaitu Wangidi Kamar Aggi.
Cerpen di Bobo di 2016

Selasa, 27 Desember 2016

Cerpen 'Wangi di Kamar Aggi' di Majalah Bobo

         24 Desember setahun kemarin, memories facebook saya memberitahukan kalau pada tanggal tersebut saya membuat satu album yang berisi tulisan-tulisan saya yang dimuat di media atau pun memenangkan lomba selama tahun 2015. Melihat hal tersebut, saya pun jadi tergerak ingin membuat hal serupa. Membikin semacam kaleideskop di tahun 2016. Tapiii… Seperti ada yang menahan saya melakukan hal tersebut. Entah firasat atau ngarep, saya tak piawai untuk mengidentifikasinya.

            Dalam pikiran saya, mungkin resensi yang saya kirim ke Tribun Kaltim dimuat minggu kemarin atau…. Ada cover buku yang dikirimkan oleh editor cantik saya. Lumayan kan bisa nambah-nambah foto di sejenis kaleideskop tersebut :p

Minggu, 25 Desember 2016

Resensi Sabtu Bersama Bapak

Hai… hai…. Akhir tahun banyak film baru diputar di TV. Sekarang saya sedang menyaksikan film Sabtu Bersama Bapak. Kemudian ada teman nanya tentang ceritanya dan saya lupa. Hahaha…. Ingatnya sih garis besar cerita saja. Untunglah ada resensi yang membuat apa yang terlupa bisa teringat lagi.

            Novel Sabtu Bersama Bapak sudah saya baca pada tahun 2014. Resensinya saya kirim ke Tribun Kaltim dan dimuat di sana pada tanggal 12 Oktober 2014. Ternyata resensinya belum saya posting di blog ini. Ya udah deh, mumpung lagi ingat saya posting saja. Happy Reading ^_^
Resensi Sabtu Bersama Bapak di Tribun Kaltim
Judul diubah redaksi dari yang saya kirim

***

Selasa, 15 November 2016

[Cerpen Majalah GADIS] Sepasang Mata Rindu

Seperti yang saya ceritakan di sini, cerpen Sepasang Mata Rindu dimuat di Majalah Gadis. Tepatnya di Majalah Gadis No. 21 di bulan Oktober 2016. Ini cerpen pertama saya di Majalah Gadis, tapi merupakan tulisan kedua saya di majalah tersebut. Sebelumnya ada tulisan saya yang berjudul Nama Pena yang dimuat di rubrik Percikan.

Pada Majalah Gadis terdapat informasi terkait pengiriman tulisan ke majalah tersebut. Berikut informasinya :

GADIS menerima PERCIKAN (2 halaman folio) atau CERPEN (6-7 halaman folio). Ketik rapi dan kirim melalui email ke [email protected]. Tuliskan identitas lengkap kamu, nomor rekening dan fotokopi halaman depan buku tabungan (yang mencantumkan nama dan nomor rekening) serta nomor telepon yang bisa dihubungi.

Itu info yang saya salin dari Majalah Gadis. Perihal emailnya mental mulu, saya pun tak tahu. Hehehe… Berikut adalah cerpen saya yang dimuat di sana. Happy Reading ^_^

Selasa, 08 November 2016

Cinta dalam Segala Musim



            Minggu, 6 November 2016 kemarin ada satu resensi saya yang dimuat di Tribun Kaltim. Berbeda dengan beberapa resensi sebelumnya yang dimuat dalam waktu singkat, untuk resensi kali ini saya menanti cukup lama. Sekitar tiga pekan. Padahal biasanya, langsung dimuat. Malahan pernah saya kirim hari Sabtu, esok harinya di hari minggu sudah dimuat. 
Resensi Cinta Segala Musim
            Sempat berpikir kalau resensi ini belum layak muat. Ketika curhat ke suami, seperti biasa dia akan bilang “Nulis lagi.” Hehehe…. Oya, ini resensi untuk novel Cinta Segala Musim. Judul diubah oleh redaksi yang awalnya ‘Menyingkap Makna dalam Ujian’ menjadi ‘Cinta dalam Segala Musim’. Secara garis besar, novel ini bercerita tentang kehidupan suami istri, Rae dan Rampak. 

Sabtu, 29 Oktober 2016

[Cerma] Jera

Selalu menyenangkan ketika melihat karya kita di satu media untuk pertama kali. Seperti saat cerpen saya berjudul Jera dimuat di Minggu Pagi untuk pertama kali pada hari Jum’at minggu kemarin. Minggu Pagi adalah sebuah tabloid yang terbit di Yogyakarta setiap hari Jum’at, masih satu grup dengan harian Kedaulatan Rakyat.

Minggu Pagi menerima cerpen, cerma, puisi, opini, dan juga esai. Saya mengirimkan Cerma atau Cerita Remaja ke sana pada tanggal 12 Oktober 2016 dan kabarnya dimuat di edisi tanggal 23 Oktober 2016.

Syarat Cerma 3-4 halaman, spasi 1,5 font TNR (Times New Roman), kirim ke email ini: [email protected]. Saya tidak mendapat konfirmasi apa pun ketika cerpen ini dimuat. Penampakan cerma ini saya dapat dari Mas Sutono Suto. Terima kasih sekali, Mas ^_^

Kamis, 20 Oktober 2016

Cerita Putri Mahkota dari Tanah Sunda

            Saya menonton drama Korea berlatar sejarah yang lagi nge-hits itu. Akibatnya saya jadi mencari tahu tentang Sejarah Kerajaan Goryeo di Korea sana. Kemudian ngebayangin,  coba gitu ya kalau sejarah negeri sendiri dikemas dengan apik layaknya drama Korea. Jadi, kita bisa mengetahui plus mempelajari sejarah dengan cara yang menyenangkan.

            Ngomong-ngomong tentang sejarah, saya memang penyuka yang namanya sejarah. Jadi, ingat dengan salah satu novel yang juga dikemas dengan apik dan mengambil tema sejarah yaitu Perang Bubat. Perang Bubat terjadi saat sekeluarga penguasa Tanah Sunda dibantai pasukan Gajah Mada.

            Judul novelnya Citra Rashmi karya Tasaro GK. Novelnya sih dibilang dwilogi, tapi baru satu buku yang terbit. Buku keduanya kapan terbit? Entahlah, saya sampai menyerah untuk bertanya. Hehehe… Resensi saya untuk buku ini pernah dimuat di Koran Jakarta pada bulan Februari 2014. Baru ingat kalau resensinya belum saya taruh di blog ini. Berikut resensi Citra Rashmi.

Kamis, 13 Oktober 2016

Tentang Cerpen Sepasang Mata Rindu

Sepasang Mata Rindu, judulnya. Judul yang tak direncanakan karena saya temukan selepas tuntas menulis cerpennya. Cerpen ini sendiri bermula dari tantangan untuk menulis cerpen remaja di Kelas Penulis Tangguh. Saat itu tema yang disodorkan tentang fobia. Bersama beberapa teman, saya kemudian membahas tentang fobia. fobia apa saja yang tak awam dan bisa dijadikan cerita.

"Ada fobia rindu enggak?" Tanya saya saat itu.

Mengapa saya menanyakan hal tersebut? Karena saya sedang tersengat rindu. Kata orang rindu itu indah, namun bagiku itu menyiksa. Begitulah yang dikatakan oleh Teh Melly lewat lagunya Bimbang. Dan... Saya merasakan itu. Rindu yang menyiksa. Kerinduan saat itu berdentam-dentam di dalam dada dan ingin dituntaskan tapi belum bisa. Saya tidak menikmati saat rindu itu tiba tapi justru mencoba menghindarinya.

Rabu, 12 Oktober 2016

Mengunjungi Rumah Beruang Madu

Lama juga tidak posting tulisan yang dimuat di media karena memang lama tulisan saya belum dimuat di media lagi #ngikik. Tapi, jadi ingat sama tulisan yang belum dimasukkan ke blog ini, salah satunya tulisan ini. Ini salah satu tulisan yang special buat saya sebab sampai sekarang baru tulisan ini satu-satunya artikel perjalanan yang berhasil tembus media. Kirimnya juga jarang sih karena saya juga jarang jalan-jalan.

Tulisan ini menjadi special juga karena ini termasuk salah satu tulisan yang awal-awal dimuat. Sekitar awal tahun 2014. Waktu menerima kabar kalau tulisan ini dimuat rasanya senaaaang sekali bisa dimuat di rubrik Pariwisata harian Pikiran Rakyat bulan Maret 2014.  Berikut artikel saya tersebut, artikel asli yang saya kirim ke Pikiran Rakyat sebelum diedit pihak redaksi. Judul termasuk yang diedit. Hehehe…
Rubrik Pariwisata di Pikiran Rakyat

Happy Reading ^_^

Senin, 27 Juni 2016

[Resensi] Malam-malam Terang

Resensi buku Malam-malam Terang ini dimuat di Tribun Kaltim kemarin, Minggu, 26 Juni 2016. Akar konflik dari novel ini adalah ketika Tasniem tidak mendapatkan hasil NEM seperti yang ia harapkan. Ia berharap meraih NEM minimal 48 agar bisa meneruskan pendidikan ke SMA favorit, tapi NEM yang ia peroleh hanya 44,73.

Gara-gara resensi ini, saya kemudian cerita-cerita ke suami tentang kisah di dalamnya. Perbincangan kami berlanjut tentang NEM masing-masing yang diperoleh pada zaman sekolah dulu. Dan saya langsung baper plus minder karena NEM saya jauuuuh lebih rendah dari NEM suami. Wakakaka…. Ngapain juga bapernya sekarang yak? :p

Oya, ini resensi yang saya kirim ke Tribun Kaltim. Judul diedit sama redaksi, ‘Meraih Keberhasilan’nya dihilangkan. Happy Reading ^_^

Perjuangan Meraih Keberhasilan Setelah Kegagalan
Oleh : Hairi Yanti

Senin, 13 Juni 2016

Tiga Tulisan di Media

Resensi Apa Pun Selain Hujan

Saya mengirimkan resensi itu pada tanggal 18 Mei 2016. Resensi buku Apa Pun Selain Hujan yang pernah saya review juga di sini. Saya menulis dua resensi, satu resensi untuk blog dengan bahasa suka-suka ala saya, satunya lagi yang agak sedikit formal untuk dikirim ke media. Media yang saya tuju adalah Koran Jakarta.

Satu hari, dua hari, selepas saya kirim, resensi belum juga dimuat. Saya menunggu sampai seminggu juga tak kunjung dimuat. Tambah beberapa hari lagi saya sudah pesimis dan merasa sudah saatnya menghentikan harapan. Apalagi saat sudah 2 minggu resensi itu dikirim tak juga ada resensi yang nongol di sana.

Selasa, 24 Mei 2016

Kata 'Cerlang' dan Resensi Sang Penakluk Kutukan di Tribun Kaltim

Membaca adalah sarana menemukan kosakata baru, begitu yang pernah saya ceritakan di sini, dalam sebuah postingan yang berjudul Menemukan Kata-kata. Beberapa waktu yang lalu saat membaca, saya menemukan kata baru yaitu cerlang. Penasaran dengan kata tersebut, saya pun mencari di KBBI apa artinya.
Cerlang

Cerlang artinya cahaya terang, mencerlang artinya bercahaya atau berkilau, kecerlangan artinya keindahan atau keelokan. Seperti biasa agar saya bisa mengingat kata tersebut, maka saya akan menggunakannya. Saya gunakanlah kata tersebut dalam sebuah resensi untuk buku Sang Penakluk Kutukan karya Arul Chandrana pada kalimat “Tentang kebencian yang membutakan yang menutupi kebenaran walaupun kebenaran itu begitu cerlang di depan mata.” (Idih, boros kata ‘yang’)

Kamis, 12 Mei 2016

[Cerpen Bobo] Adik Selalu Bertanya

Cerpen Bobo
Dimuat di Majalah Bobo No. 45 Tahun XLIII Terbit 11 Februari 2016
Cerita di balik layar cerpen ini ada di sini

Adik Selalu Bertanya
Oleh : Hairi Yanti

Adik selalu ingin tahu. Setiap hari Nala selalu mendengar pertanyaan adik. Ada saja yang adik tanyakan pada Nala, mama atau papa.

            Mama pulang dari pasar membawa sebuah semangka yang besar sekali. Mereka senang melihat semangka besar yang dibawa mama. Adik mencoba mengangkat semangka, tapi tidak bisa. Semangkanya berat sekali.

            “Pohon semangka itu pasti besar sekali ya, Ma?” Adik berkata lalu mengigit semangka yang sudah dipotong-potong.

Senin, 09 Mei 2016

Madura dalam Cerita

Saya jarang sekali jalan-jalan ke luar daerah. Di antara yang jarang itu, Pulau Madura pernah dua kali saya singgahi. Pertama pada tahun 1992, tahun di mana saya pertama kalinya menjejak Pulau Jawa. Saat itu di Surabaya, menginap di rumah salah satu anggota keluarga. Sepupu mama saya ada yang tinggal di Bangkalan, Madura. Beliau pun menjemput saya dan keluarga untuk menginap di Madura. Maka berangkatlah kami sekeluarga saat itu dan menyebrang ke Madura memakai ferry.

Tahun demi tahun berlalu, saya kembali ke Surabaya di tahun 2010. Saat itu, Madura juga menjadi tujuan kami. Ingin mencoba melewati jembatan Suramadu dan mengunjungi sepupu mama saya yang masih bermukim di Bangkalan adalah 2 dari beberapa alasan ke Madura. Setelah tahun 92 menyebrang dengan ferry, di kunjungan berikutnya saya dan keluarga menyebrang melintasi jembatan terpanjanh di Indonesia itu.

Rabu, 20 April 2016

[Cerpen Kompas Anak] Lari, Rheina!

            Memilih nama tokoh dalam cerita kadang memang bikin mumet. Walau mengaku tidak terlalu memikirkan nama dengan begitu detail, tapi kerap saya kehabisan ide juga memberi nama untuk tokoh dalam cerita. Beberapa kali nama yang saya gunakan berulang sehingga nama yang saya pakai itu-itu saja.

            Salah satu sumber ide nama saya adalah dari film yang saya tonton. Saya pernah menulis cerpen remaja dengan tokohnya bernama Kai. Ketika ada seorang teman yang membacanya, dia bilang nama yang saya pakai sama dengan nama tokoh pada novel karya Windry Ramadhina. Padahal, saya memakai nama Kai karena merujuk pada film yang baru saya tonton saat itu yaitu 47 Ronin. Tokohnya juga bernama Kai, kan?

            Pada satu-satunya cerpen yang dimuat di Kompas Anak ini juga saya memilih nama tokohnya berasal dari film yang baru saya tonton yaitu Rush. Niki, kakak dari Rheina di cerpen ini, ide namanya dari Niki Lauda. Cerpen ini dimuat di Kompas Anak pada tanggal 29 Juni 2014 dan sampai Kompas Anak berhenti terbit cuma satu cerpen ini yang berhasil dimuat. Hiks. Sekarang Kompas Anak sudah berhenti terbit. T_T
            

Sabtu, 02 April 2016

[Resensi Koran Jakarta] Meet the Sennas

Ini adalah salah satu resensi saya yang dimuat di Koran Jakarta. Dimuat pada saat hari-hari pelaksanaan Ujian Nasional dua tahun yang lalu yaitu tahun 2014. Maka, benarlah apa yang dikatakan orang-orang, salah satu pendukung agar suatu karya dimuat adalah momennya pas. Seperti resensi ini. Tentang UN dan dikirim saat UN berlangsung.

            Buku yang saya resensi adalah buku karya Orizuka. Salah satu penulis favorit saya. Rasanya lama sekali tidak membaca karya Orizuka #kode. Orizuka penulis Indonesia, loh. Bukan penulis luar negeri. Saya menyukai karya-karyanya.

            Dan sebagai penutup pengantar kali ini, cuma mau bilang Happy Reading ^_^
Meet The Sennas
Usaha Anak SMA Menaklukkan Matematika dalam Ujian Nasional
Oleh : Hairi Yanti

Senin, 28 Maret 2016

Cerpen di Bobo dan Resensi di Tribun Kaltim

Hari minggu kemarin saya dapat dua kabar gembira. Pertama dari Uni Dian Onasis yang mengabarkan kalau ada cerpen saya di Majalah Bobo. Alhamdulillah... Senang banget. Cerpen saya itu berjudul Krayon Apri. Cerpen satu halaman. Saya kirim pada bulan Januari 2015. Jadi, ada sekitar 14 bulan masa tunggu hingga dimuat. Tapi tidak mengurangi kesyukuran saya. Cerpennya bisa dibaca di majalah Bobo yang terbit kamis ini :D
 
Cerpen Krayon Apri di Majalah Bobo
 Sore harinya saya dapat kabar gembira lagi. Kali ini dari Mbak Tri Wahyuni Zuhri yang mengabarkan ada resensi saya di Tribun Kaltim. Asyiiik.. Alhamdulillah... Rasanya lama sekali resensi saya tidak dimuat di media. Kangen banget ngeresensi lagi. Tapi sering dikalahkan sama rasa malas. Huhuhu...

Minggu, 27 Maret 2016

[Cerpen Bobo] Mandai, si Kulit Cempedak

Cerpen ‘Mandai, si Kulit Cempedak’ saya tulis sekitar bulan Januari atau Februari tahun kemarin. Saat itu, di daerah saya sedang musim cempedak. Kemudian cerpen ini dimuat setahun kemudian pada bulan Februari juga. Tepat di saat musim buah cempedak kembali hadir ke bumi.
Mandai, si Kulit Cempedak
            Cerpen ini sendiri hadir karena membaca tips di Klinik Cerita di Majalah Bobo. Tipsnya berbunyi : "Untuk membuat cerita yang tak biasa, cobalah untuk berpikir sebagai seorang pembaca. Jangan hanya berperan sebagai penulis saja. Cerita tentang lingkunganmu mungkin akan kau anggap biasa-biasa saja. Misalnya, kalau kamu tinggal di Jakarta, cerita tentang kerak telor mungkin tidak menarik lagi. Tetapi, bagi pembacamu yang berasal dari luar Jakarta, cerita kerak telor bisa menjadi hal yang baru dan menarik. Selain cerita yang bertema kedaerahan, cerita tentang kebiasaan-kebiasaan unikmu bersama teman-teman dan keluarga juga bisa menjadi unik dan menarik."

            Dari tips itu saya kemudian mencari hal-hal yang unik di daerah saya sendiri. Salah satunya ya mandai. Cerita tentang mandai pernah saya ceritakan di sini.

Rabu, 23 Maret 2016

[Cerpen Bobo] Pisang Gapit

Saya penyuka ayam penyet. Ayam yang dipenyet kemudian ada sambal bawang putih yang melumuri ayam. Wuiih… Itu enak sekali. Ayam penyet favorit saya itu ayam penyet  Wong Solo. Wakakakaka… Sebut merek :p

Ayam penyet WS itu enaaak banget. Bumbunya meresap, ada bagian krispinya juga dan sambal bawang putihnya itu, lho. Nendang banget. Jadi, saat menulis cerpen dan menyebut ayam penyet, saya ngebayangin ayam penyet WS.

Cerita dibalik layar cerpen Pisang Gapit ada di sini. Cerpen ini dimuat di Majalah Bobo No. 41 Tahun XLIII Terbit 14 Januari 2016. Happy Reading ^_^
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...