Tampilkan posting dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua posting

Rabu, 12 Oktober 2016

Mengunjungi Rumah Beruang Madu

Lama juga tidak posting tulisan yang dimuat di media karena memang lama tulisan saya belum dimuat di media lagi #ngikik. Tapi, jadi ingat sama tulisan yang belum dimasukkan ke blog ini, salah satunya tulisan ini. Ini salah satu tulisan yang special buat saya sebab sampai sekarang baru tulisan ini satu-satunya artikel perjalanan yang berhasil tembus media. Kirimnya juga jarang sih karena saya juga jarang jalan-jalan.

Tulisan ini menjadi special juga karena ini termasuk salah satu tulisan yang awal-awal dimuat. Sekitar awal tahun 2014. Waktu menerima kabar kalau tulisan ini dimuat rasanya senaaaang sekali bisa dimuat di rubrik Pariwisata harian Pikiran Rakyat bulan Maret 2014.  Berikut artikel saya tersebut, artikel asli yang saya kirim ke Pikiran Rakyat sebelum diedit pihak redaksi. Judul termasuk yang diedit. Hehehe…
Rubrik Pariwisata di Pikiran Rakyat

Happy Reading ^_^

Kamis, 05 Mei 2016

[Wiskul Banjarbaru] Sruput on de Road

            Sewaktu Cinta dan Rangga melanjutkan ‘petualangan bersama mantan’ di satu tempat bernama Klinik Kopi, saya langsung ingat dengan Sruput on de Road, tempat nongkrong kekinian yang pernah saya dan suami datangi di Banjarbaru. Mungkin deretan toples kopi dan penjelasan owner-nya tentang kopi yang membuat saya langsung teringat pada Sruput on de Road.

            Sruput on de Road terletak di Banjarbaru, di jalanan depan kampus UNLAM, eh, sekarang namanya ULM ya? Universitas Lambung Mangkurat buat yang belum tahu apa itu UNLAM atau ULM. Jadi, dekat pintu gerbang pertama atau pintu gerbang ke Fakultas Pertanian gitu, ada deretan penjual makanan, salah satunya Sruput on de Road ini.

            Rombong tempat deretan toples kopi dipajang ada di depannya. Buat menikmati makanan kita bisa memilih duduk di lesehan atau duduk di rombong itu. Saya memilih duduk di depan rombong jadi bisa melihat aktifitas penyajian kopi.

Rabu, 04 Mei 2016

Perjalanan 326 kilometer Menuju Balikpapan


Sebenarnya kalau diminta memilih antara perjalanan darat atau udara, saya jelas lebih memilih perjalanan udara karena lebih tidak memakan waktu, juga tenaga. Namun, ada kalanya perjalanan darat tidak bisa dihindari. Seperti perjalanan dari Barabai menuju Balikpapan yang saya jalani minggu kemarin.

            Perjalanan itu pun menimbulkan beberapa kekhawatiran dari berbagai pihak. Di antara kekhawatiran itu adalah :

            Pertama, jalan lintas provinsi Kalsel-Kaltim itu rusak. Walau tidak sepanjang perjalanan ditemani jalanan yang rusak, namun ada beberapa titik yang mengalami kerusakan parah.

Setahun kemarin saya dan kakak sudah pernah melewati jalanan tersebut. Jadi, sedikit banyak saya sudah tahu medannya. Yang tambah mengkhawatirkan adalah ada kabar kalau kerusakannya semakin parah. Walau ada juga kabar yang menyampaikan kalau sudah ada perbaikan di beberapa titik. Kabar yang saya terima masih simpang siur.

Kamis, 17 Maret 2016

Menikmati Pagi di Pasar Terapung Lok Baintan

Pasar Terapung
Pasar terapung merupakan objek wisata yang terkenal dari Kalimantan Selatan. Banyaknya sungai yang mengalir di wilayah itu menjadikan sungai merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakatnya. Karena itulah aktivitas jual beli pun dilakukan dari atas sungai, dengan mendayung jukung (sampan kecil) mereka menjajakan dagangannya. Keunikan pasar terapung ini pun kemudian menarik banyak minat para wisatawan untuk melihat secara langsung pasar yang berada di atas air alias terapung.

            Perjalanan ke pasar terapung di mulai ketika adzan subuh belum berkumandang. Mobil yang saya tumpangi sudah melaju membelah jalanan Banjarbaru menuju Banjarmasin. Ketika adzan menggema, saya dan rombongan pun mampir ke mesjid terdekat untuk shalat subuh. Setelah menunaikan kewajiban, perjalanan kembali dilanjutkan.

Jumat, 11 Maret 2016

Gerhana Matahari Total di Balikpapan

Sekitar setahun yang lalu, saya mendapat berita itu. Gerhana Matahari Total (GMT) yang akan melewati Indonesia. Ada 11 kota yang akan mendapatkan GMT 100%, salah satunya Balikpapan. Mendapati kabar tersebut tentu saya senang sekali. Balikpapan adalah kota yang dekat dengan saya. Dekat dalam artian sebenarnya secara geografis, tapi juga dekat di hati karena suami berasal dari sana dan mertua saya juga tinggal di sana. 

"Kita ke Balikpapan nanti tanggal 9 Maret 2016, ya," ujar saya kepada suami. Namun, ia tak mengiyakan, juga tidak mengatakan tidak. Ketidakpastian, itulah tepatnya. Dengan pekerjaannya yang bisa ada di daratan dan lautan membuat suami tak bisa menjanjikan apa-apa. 

Jumat, 22 Januari 2016

Perjalanan Kemarin



Kemarin saya menempuh perjalanan antar provinsi Kalimantan Selatan ke Kalimantan Timur untuk kesekian kalinya. Karena perjalanan kali ini lewat udara, jadi sebelumnya saya mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa dalam tiga tas.

Tas pertama adalah tas besar yang akan berisi pakaian dan beberapa barang lainnya. Tas besar ini rencananya akan ditaruh ke dalam bagasi pesawat. Jadi, barang-barang yang berharga tidak ditaruh di dalamnya. Tas kedua berupa ransel berwarna hitam. Ransel ini akan saya bawa ke dalam kabin pesawat. Isinya berupa laptop, tablet, dan beberapa barang lainnya. Termasuk mukena. Tas ketiga adalah tas tangan tempat saya menaruh dompet dan ponsel. Di dalamnya juga ada parfum wanita.

Jumat, 15 Januari 2016

Malam Minggu di Kota Kandangan

Kandangan adalah salah satu kota di Provinsi Kalimantan Selatan. Bertetangga dengan kota Barabai tempat saya tinggal. Jaraknya hanya sekitar 30 km. Waktu tempuh kira-kira 30 menit dengan kecepatan sedang. Walau jaraknya dekat, saya baru menyadari kalau saya nyaris tak pernah ke Kandangan hanya sekadar jalan-jalan. 

Mengunjungi kota Kandangan tentu pernah. Ada adik dan kakak mama saya yang berdomisili di sana. Setiap ke Banjarbaru atau Banjarmasin pun akan selalu melewati kota tersebut. Namun hanya sekadar lewat. Kalau pun ke Kandangan selalu ada acara yang ingin dihadiri. Sekadar jalan-jalan? Oh itu jarang terjadi. Tapi kemudian terjadi di malam minggu kemarin. 

Awalnya saya, kakak ipar, dan tante yang berencana ingin pergi ke Kandangan. Tapi tak mendapatkan izin dari om saya. Akhirnya pergilah kami bersama om dan kakak di malam minggu. 

Kamis, 14 Januari 2016

326 Kilometer Menuju Balikpapan

Berapa lama teman-teman pernah naik bus untuk menuju satu tempat? Satu jam? Tiga jam? Atau enam jam?

Kalau saya pernah naik bus selama kurang lebih 12 jam. Dari jam 7 malam sampai jam 7 pagi keesokan harinya. Hal itu saya alami saat menempuh perjalanan dari kampung halaman saya di Barabai menuju kampung halaman suami di Balikpapan. Jaraknya sekitar 326 km.

Perjalanan darat dengan menggunakan bus tentu saja berbeda dengan perjalanan udara. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan naik bus adalah harganya lebih murah daripada tiket pesawat. Tapi, waktu tempuhnya lebih lama dan lebih menguras tenaga.

Rabu, 12 September 2012

Dzulhijjah, 4 tahun silam (part 3)

Maghrib menjelang, kami pun melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Setelah selesai shalat, saya mendengar lantunan takbir berkumandang di tenda tetangga di maktab kami. Air mata saya kembali menderas. 

Ini malam Idul Adha, saya tersadar kembali akan hal itu. Kerinduan akan kampong halaman langsung menyusup cepat ke hati, ini Idul Adha pertama saya tak melewatinya beserta keluarga di rumah, tapi ini juga Idul Adha impian saya. Berada di Arafah.

Selasa, 11 September 2012

Dzulhijjah, 4 tahun silam (part 2)

Sambungan dari tulisan ini

Hari Arafah, 9 Dzulhijjah 1429 H

Selepas shalat subuh, rombongan kami langsung beranjak meninggalkan maktab di Mina menuju Bis yang akan membawa kami ke Arafah. Sebelumnya sempat terjadi kegamangan juga kapan mau berangkat ke Arafah? Karena beberapa rombongan yang bertetangga dengan tenda kami sudah menuju Arafah dini hari sekali, bahkan ada yang berangkat bada isya. Namun, para ustadz pembimbing bertahan agar kami serombongan tetap melaksanakan shalat wajib sebanyak 5 waktu dulu sebelum ke Arafah, karena sunnah Rasulullah seperti itu. Jadi kami akan berangkat bada subuh. InsyaAllah masih sempat mengejar waktu, kalau terjebak kemacetan yang parah, risiko terburuk ya harus jalan kaki.

Sabtu, 01 September 2012

Dzulhijjah, 4 tahun silam

Idul Adha, biasanya saya akan melewatinya seperti biasa, shalat ied pagi harinya, silaturrahim sebentar kemudian beranjak ke rumah nenek saya, berkumpul bersama keluarga. Idul Adha di sana meriah.. tak kalah deh dengan Idul Fitri karena keluarga akan berkumpul dan kami masak bareng. Masing-masing mengeluarkan jurus andalannya mengolah daging. Yup, daging korban yang baru dipotong. Masih segar sekali. Dibikin apa aja maknyus punya.

Namun jika ditanya, kapan Idul Adha yang paling berkesan selama hidup saya ini, tentu saja jawabannya adalah Idul Adha 4 tahun yang lalu. Idul Adha yang begitu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Idul Adha di tahun 1429 Hijriah. Idul Adha yang saya lewati hanya dengan kakak dan tante sebagai keluarga saya. Idul Adha yang saya impikan bertahun-tahun untuk berada di tempat itu. 10 Dzulhijjah yang saya lewati di Arafah, Mekkah dan Mina.

Rabu, 02 Mei 2012

[Catatan Perjalanan] Wiskul di Arab


Buat yang berangkat Haji dengan menggunakan fasilitas Haji Plus atau Umrah yang biasanya menyediakan fasilitas catering tentu saja kita akan disajikan makanan lengkap 3 kali sehari. So, ga mikirin lagi deh gimana maem di sana. Tinggal masuk ke ruang makan dan mengambil makanan yang ada.




Tapi tentu saja akan ada alasan di mana kita ingin sesekali mencicipi makanan di luar, bukan catering dari travel atau hotel. Entah itu karena masakan yang ada tak sesuai selera kita, atau sudah bosan atau emang dia hobby berwisata kuliner seperti saya. 




Sebenarnya yang paling menarik minat saya adalah ayam goreng al-Baik. Itu ayam goreng yang pernah saya nikmati selepas dari Laut Merah lebih dari 3 tahun yang lalu. Rasanya? Humm… mirip2 pisang goreng yang dibikin mama saya untuk tepungnya, dibalut dengan ayam yang super empuk. Hihihi… dan karena waktu itu saya nya laper benar jadi rasanya nikmat sekaliii….

Jumat, 27 April 2012

[Catatan Perjalanan] Bongkar isi koper


Berapa baju or pakaian yang dibawa ketika melakukan perjalanan umrah?


Nah, pasti banyak yang nanya tentang ini. Soalna ini juga menjadi trending topic gitu deh di keluarga kami sebelum keberangkatan. Humm, sepertinya saya belum cerita kalau kemarin pas umrah saya berangkat beserta abah, mama, para sepupu, acil, om dan Nini. So, ada 18 orang di rombongan keluarga kami. Semoga nanti bisa cerita ya asal muasal kenapa bisa rombongan gitu.


Kembali ke soal baju. Saya sadar diri kalau saya termasuk yang boros bener dalam membawa pakaian, entah itu buat perjalanan jauh yang luama dan termasuk juga perjalanan singkat dan dekat. Ke Banjarmasin aja kata kakak saya barang bawaan saya udah kayak mau ke Jawa. Hehehe…

Rabu, 25 April 2012

[Catatan Perjalanan] Bahasa Asing itu penting!




Tau kan kalau saya adalah orang yang parah bener dalam penggunaan bahasa asing. Kemampuan dan penguasaan yang tak memadai ditambah lagi dengan ketidakpedean yang meraja jadi deh aku akan terdiam seribu bahasa kalau diajak ngomong bahasa asing walau pernah mempelajarinya dulu, di sekolah aja sih :p (Inggris dan Arab)

Ketika harus bepergian ke Luar Negeri, ckckck… kayak sering aja ke Luar Negeri, hehehe… sedikit banyak Bahasa Asing ini mesti saya gunakan juga. Yah, walaupun kali ini rada beruntung deh karena naik pesawat Garuda jadi di pesawat masih aman cuap-cuap pakai bahasa Indonesia. Ga seperti dulu waktu naik Emirats saya harus berpikir keras menerjemahkan apa yang disampaikan pramugari dan berpikir tak kalah kerasnya menyampaikan apa yang kuinginkan pada pramugari. Padahal yang disampaikan juga masih dalam percakapan ringan-ringan saja.

[Catatan Perjalanan] Bayar Rupiah Kembali Riyal



"Nanti tukar uangnya di Madinah aja, di Mekkah susah nukarin uang. Lagian di Madinah rupiah di hargai lebih mahal ketimbang di Mekkah."

Itulah saran yang saya dapatkan dari sepupu saya yang baru saja datang dari Tanah Suci. Kedatangannya hanya berselisih hari dari waktu keberangkatan saya. Dari dia jugalah saya mendapatkan simcard mobily buat dipakai di Tanah Suci nantinya. Walaupun minim pulsa tapi simcard itu masih ada paket BB yang masih bisa saya gunakan untuk beberapa hari ke depan, sekitar 11 harian gitu deh dari total 14 hari jadwal perjalanan saya. Lumayan banget kan? Apalagi paket BB di sana lumayan mahal, untuk satu minggu seharga 29 riyal.

Nah, karena punya simcard itu lah, saya langsung bisa berkirim kabar ke Tanah Air setelah pesawat yang membawa saya terbang selama hampir 9 jam menjejak di bandara King Abdul Aziz. Belum turun pesawat saya sudah update status di BBM. Eksis banget deuu….

Kembali ke masalah uang itu. Walau sudah dinasehati demikian tapi tetap saja saya ga nurutin sepenuhnya. Hehehe… Soalna masih rada ragu-ragu gimana kalau tuker uang langsung blek semuanya di tukar (sayang maksudnya :p). Jadinya saya tukarinnya per satu juta rupiah. Agak ribet memang yah. Tapi karena money changernya dekat dengan hotel dan antrinya juga ga terlalu panjang ya sudah, saya cukup nyaman dengan cara itu.

Untuk uang satu juta rupiah, saya dapatnya ga tentu. Pernah dapatnya 396 riyal, pernah juga 398 riyal dan juga pernah dapat 400 riyal. 400 riyal adalah jumlah tertinggi yang saya dapatkan, itu artinya 1 riyal senilai 2500 rupiah. Eh, kesannya saya buanyak banget ya bawa uang? Ga kok, tukerin uang itu bukan uang saya sepenuhnya tapi juga uang anggota keluarga yang lain.

Dari jadwal yang ada, singkat sekali waktu di Madinah ini. Itu pun juga full diisi agenda dari travel. Jadinya waktu buat berbelanja juga minim sekali, walaupun dari beberapa pengalaman yang enak buat belanja oleh-oleh itu di Madinah. Selain harganya lebih terjangkau barang-barangnya juga lebih bervariasi. Kok mikirin belanja sih? Jangan salah, belanja juga bisa bernilai ibadah kan, karena kita niatnya buat ngasih oleh-oleh, menyenangkan hati orang lain. Itu yang dinasehatkan ustadz pembimbing saya dulu. Kalau belanja oleh-oleh niatkan buat menyenangkan hati mereka yang kita kasih oleh-oleh nantinya.

Nah, hari terakhir di Madinah, saya dan mama cari cepat beberapa oleh-oleh yang bisa kami beli. Dan dapat ditebak, persediaan Riyal kami pun akhirnya menipis begitu meninggalkan Madinah, menuju Mekkah.

Di Mekkah, saya jadi sok tau deh, bilang kalau saya tau kok di mana letak money changer di hotel Hilton. Yah, money changernya masih ada, tempatnya masih belum berubah. Tapi antriannya itu loh… ga nahaan. Puanjang bener. Bercabang lagi. Antriannya dari berbagai titik gitu, dari kiri kanan muka belakang. Aiiih… saya langsung mundur teratur deh ga jadi ikut ngantri.

Tapi bagaimana bisa belanja sementara uang Riyal yang ada tinggal satu dua. Di saat itulah salah satu Om saya mengusulkan agar menarik uang di ATM saja. Walau tabungan kita di Tanah Air rupiah, tapi yang keluar Riyal. Jadi qta ga perlu deh berantri-antri ria. Humm, usul yang bagus menurut saya. Karena toh saya juga mengantongi ATM kakak saya yang bisa saya gunakan di Tanah Suci.

Tapi pas saya BBM si kakak dan minta izin menggunakan ATMnya, dia malah bilang "Kalau masih ada rupiah yang bisa ditukar, itu aja dulu digunakan. Tukerin semuanya ke Riyal jadi sekali antri saja. Kalau kepepet banget baru pakai ATM"
Yaah… Gagal deh rencana narik uang dari ATM. Tapi saya rada khawatir juga dengan narik uang di ATM, takut dihargai tinggi nilai Riyalnya. Tapi ternyata ga juga. Sesuai kurs aja setelah dicek setiba di Tanah Air.

Lalu, berantri-antri ria kah saya akhirnya? Jujur malas banget buat masuk ke antrian yang mengular panjangnya itu. Dan di saat-saat genting, seorang Om saya lagi (ada 3 Om yang berangkat bareng saya) mengatakan kalau ga usah deh tuker rupiah ke riyal. Belanja aja pakai rupiah, mereka mau nerima. Lagian, kata Om saya lagi, kalau belanja pakai rupiah, 1 riyal dihargainya 2500 rupiah. Kalau qta tuker di money changer, udah ga dapat 2500 lagi untuk satu riyal.

Saya dan Mama pun akhirnya nyoba belanja tanpa uang Riyal. Ternyata memang berhasil. Pertama nyoba beli sajadah Museum di Hilton. Ketika saya bilang mau bayar dengan rupiah, dia langsung bilang 100 ribu 40 riyal. Walaupun kemudian, ada beberapa penjual yang tidak terima lagi 100 ribu senilai 40 riyal, ada yang 39 riyal, ada yang 38 riyal. Biasanya kami tawar-tawaran di nilai rupiahnya itu, bukan di harga barangnya lagi.

Nah, dari hasil belanja pakai rupiah itu lah maka bisa didapatkan uang riyal dari uang kembalian. Jadi misalkan kita belanja 30 riyal, qta kasih uang 100 ribu rupiah yang senilai 40 riyal, maka si penjual akan memberikan uang kembalian sebanyak 10 riyal. Unik ya, beli dengan uang rupiah, tapi kembaliannya dengan riyal. Tapi kan masih sama-sama uang aja hanya namanya yang beda.

Uang riyal hasil kembalian ini akan digunakan buat belanja yang ga bisa pakai rupiah, biasanya di belanja di kaki lima atau bayar taksi, ongkos transport. Selama masih bisa belanja dengan rupiah, ya dengan rupiah aja.

Oya, hati-hati juga kalau belanja jangan sampai kita gagap kurs. Gagap kurs? Apaan tuh? Misalkan gini, kita ga ngitung dengan harga riyal tapi ngitungnya masih pakai rupiah. Pengalaman nih ya, ada salah satu anggota jamaah kami yang dengan santainya nawar baju seharga 150. Bilang 150 gitu, beliau benar-benar ga nyadar kalau 150 itu 375 ribu. Kirain cuman 150 ribu.

Sama halnya waktu saya beli bakso Mang Oedin di Jeddah, harga baksonya 10 riyal. Ada Ibu di samping saya yang nyerahin uang 20 ribu buat 2 mangkok bakso. Dan langsung ditegur orang di sebelahnya. "Bu, 20 riyal Bu. Bukan 20 ribu, kalau 20 riyal jadinya 50 ribu." Ibu itu baru nyadar deh.

Mahal ya bakso semangkoknya 25 ribu. Kalau di kampung, seharga 15 ribu aja udah muahal bener tuh. Ketika bersiap menyantap tuh bakso, saya pun nyelutuk ke sepupu-sepupu saya.
"Nih bakso harganya 25 ribu loh…" yang langsung diamini oleh Dita.
"Iya kak, mahal bener ya."
Tapi langsung mendapat pelototan dari Icha yang bilang.
"Sesekali kakak, ga setiap hari juga."
Tapi bakso itu lumayan deh buat mamacah liur saya yang ga nafsu makan selama beberapa hari yang lalu.

*postingan ga jelas juntrungannya demi ngejar 1000 kata*

Senin, 26 Maret 2012

pesawatku terbang ke Jeddah

Hey, ada apa ini? Nafsu makan sy melonjak pesat sejak kedatangan kembali ke tanah air? Gazwaat... Emang sih waktu di Tanah Suci nafsu makan sy turun drastis dan sy juga merasakan ada penurunan berat badan. Hihihi... Senang.. Tapi dengan nafsu makan seperti sekarang? Oh tidaaak... Bertahanlah yanti untuk tidak terus mengunyah :p


Mau ceritaaa.... Apa yaaa.... Oh ya, tentang perjalanan kemarin itu. Saya dan rombongan terbang dengan Garuda Indonesia yang langsung mendarat ke Jeddah setelah lepas landas di Jakarta. Dan itu menjadi penerbangan terlama saya.. Kurang beberapa menit dari 9 jam melayang2 di angkasa. Penerbangan pertama? Emang dulu ga gitu? Gaaa... Dulu kan pakai emirats jadi ada transitnya di Dubai. 


Dan 9 jam perjalanan itu bikin sy bosaaaan.. Rasanya waktu lambaaaat sekali berlalu. Walaupun dalam perjalanan itu diisi dengan jalan2 di pesawat, sempat juga naik ke lantai 2 pesawat Garuda. hihihi... bercengkrama dan bernarsis2 ria dengan adek2 sepupuku. 


Dan belajar dari pengalaman terbang ke Arab Saudi terdahulu, sy menahan diri untuk makan dan minum. Ga biasa aja buang air kecil di pesawat. hihihi...


Dan humm... ini sebenarnya agak gimanaaa gitu ngeceritaannya, tapi ini penting lho sodara2... Kenapa saya menahan diri untuk sekedarnya saja makan dan minum selama di pesawat, karena duluuu.... sy kebelet BAB akibat makan dan minum mulu di pesawat. Ahahaha... Dan itu syusah sekalii... Dan keinginan buang hajat itu dulu semakin menjadi setelah mendarat di Jeddah. Dan waktu itu di Jeddah toiletnya agak susah, airnya kecil dan antriiii, terlebih waktu itu sy sudah dalam kondisi ihram dengan segala pantangannya. Kalau yang sekarang apalagi yang di ruang tunggu nyamaan sekali.


So, pengalaman adalah guru yang paling berharga... Jadinya yaa sy sewajarnya saja.. ada buah2an yang sy doyan dan banyak seratnya, sy masukin tas aja deh buat dimakan ntar. Tapi perjalanan kali ini, ga langsung ke Mekkah tapi ke Madinah. Jadinya, belum dalam kondisi ihram :)


Untuk pulangnya.. perjalanan terasa lebih singkat. Soalna sy tepar, hehehe... sengaja ga minum kopi biar bs tidur di pesawat. Bahkan sy sempat disenggol2 pramugari buat ditawarin makan krn ketiduran mulu. Biasanya sy ga bisa dengar kereta dorong pramugari langsung terjaga aja :p


Bahkan di tengah2 makan juga sempat2nya saya tidur. hihihi......


Sooo... lebih enakan mana yan? Antara transit atau langsung menuju Jeddah? Yaaa tergantung sih.. ada kurang ada lebihnya. Kalau ga transit kan lebih hemat waktu, kalau transit bisa lihat2 bandara orang, apalagi bandara Dubai yang ciamik itu ;)



Minggu, 22 Januari 2012

Catatan Perjalanan yang tertunda

Saya termasuk orang yang ga terlalu doyan jalan-jalan. Selain kesulitan mendapatkan izin buat melakukan perjalanan, sy juga kerap disergap enggan ketika harus meninggalkan rumah. Membaca buku, ngider di internet atau menonton TV atau DVD yang semuanya bisa sy lakukan di rumah itu sudah merupakan keasyikan tersendiri buat sy. :)

Untuk tahun 2011 kemarin saja, dapat dihitung dengan jemari sy keluar kota. Bahkan pernah dalam rentang waktu antara tahun 2009-2010 sy tidak keluar kota selama satu tahun. Wow... setahun sy hanya berdiam diri di Barabai terdjintah :)
Keinginan buat pergi ke Banjarmasin sebenarnya sudah menyeruak sejak beberapa bulan yang lalu. Keinginan itu sendiri muncul karena ingin nonton di bioskop, hal yang tak bisa sy lakukan di rumah karena film2 baru yang pengin sy tonton belum ada DVDnya dan belum disiarkan di TV. Tapii... keinginan tersebut harus sy pupuskan karena begitu minta izin sy mendapati reaksi abah yang tak menjawab tapi dari gesture dan mimik muka beliau, sy tau beliau tak mengizinkan. hehehe....

Kakak ipar pun sudah berkali2 merayu2 sy buat pergi ke Banjarbaru dan nantinya akan ditemani jalan2 ke Banjarmasin. Tapi tetap saja hal itu kemudian hanya sekedar rencana, belum terwujud dan keinginan sy yang tak begitu kuat buat mewujudkannya. Sampai kemudian sy tertarik dengan cerita kk ipar tentang walimahan besar yang akan beliau tangani (Kakak ipar sy ini punya usaha WO), beliau pun minta sy buat bantu2 di acara tersebut. Sy tertarik, sangat tertarik malah dan ketika sy minta izin pada abah, ajaib... abah mengizinkan dan bilang "Belajar gih, siapa tahu bisa bisnis WO juga nantinya." Yay... :)

Tapiiii.... sy juga tak bisa memastikan benar2 bisa buat acara itu. Karena di tanggal yang sama mama juga berencana pengin ke Banjarmasin. Dan tentunya.. sy ga tega kalau ngebiarin mama ke Banjarmasin sendiri. Jadinya ada 2 planning gitu. Pertama, kalau mama ga jadi ke Banjarmasin, sy berangkat sabtu. Kedua, kalau mama jadi sy berangkatnya pas hari ahad itu bareng mama dengan rencana kepulangan ya sama aja di hari senin. Bareng kakak dan kakak ipar yang memang berencana pulang ke Barabai.

Singkat kata, akhirnya rencana kedua lah yang terwujud. Sy berangkatnya ahad. Itu pun juga dengan disertai ketidakyakinan karena sehari sebelumnya tepatnya hari sabtu kondisi saya ngedrop alias sakit. Sewaktu sakit itu lagi2 saya takjub dengan rencanaNya yang luar biasa, ga ngebayangin bagaimana jika saya jadi ke Bjb hari sabtu. Kondisi saya yang drop tiba2 bisa merepotkan keluarga di sana. Allah memang sutradara terbaik.

Kembali ke perjalanan… saya berangkatnya nebeng mobil om yang super nyaman. Luxio sepertinya memang mobil yang di design buat kenyamanan penumpang ya? Walaupun duduk di bangku paling belakang tetap saja merasa nyaman. Alhamdulillah..

Sebenarnya perjalanan ini mengejar waktu karena walimahan di Bjm itu hanya berlangsung 3 jam. Dari jam 10 sampai jam satu siang. Terlebih kakak ipar meminta kami mampir dulu ke walimahan yang beliau tangani. Jadi yaa… kalau dihitung2 waktunya mepet. Di perjalanan sempat singgah buat makan, di simpang 5 Kandangan. Baru pertama kali saya mampir ke warung itu. Luamyan enak sih, setidaknya bisa mengubah rasa selain di Tambarangan selama ini.

Setelah itu.. perjalanan juga mampir buat ngisi bensin. Lumayan lah antriannya. Lumayan panjang gitu. Tapi tak berapa lama Luxio itu meluncur lagi membelah jalan dan kemudian singgah lagi di sebuah mesjid buat shalat dhuha. Tak cukup di situ… setelah sampai Martapura lagi2 Luxio berhenti untuk beli baju sasirangan. Ow.. ow.. ow.. dap[at dibayangkan betapa lamanya jadinya perjalanan itu. Tapi yaa… mau gimana lagi. Namanya juga nebeng. Dan karena itu saya juga ga sempat ketemu Ina. Hiks

Sampai di rumah kakak, langsung deh buzz….. meluncur buat ganti2 baju. Tapi yaa namanya juga wanita. Secepat apapun berdandan tetap aja butuh waktu. Hehehe… Setelah itu dibawa kakak ke tempat walimahan yang katanya budgetnya besar banget gitu. Tapi menurut saya sih biasa aja. Emang sih rada mewah dari yang lain, makanannya juga banyak. Tapi yaa… menurut saya sih sama aja dengan walimahan2 keluarga2 di Bjm biasanya.

Di sana disuguhkan kk ipar bermacam2 makanan, sampai kekenyangan. Di sana mama juga mencoba zuppa2, sop yang bikin saya pusiiing waktu makannya tapi ternyata mama suka. Ow.. ow.. ternyata lidah mamalebih modern dari anaknya :p
Trus.. habis dari situ langsung meluncur ke Banjarmasin. Ke HBI. Dan itu sudah jam satu lewat. Huhuhu…. Telaaaat. Makanannya udah amburadul. Mau ngambil malah piringnya yang ga ada, walaupun kemudian piringnya datang tapi ya makanannya udah tipiiiis. Untungnya tadi udah kenyang makan di Banjarbaru. Alhamdulillah….

Di situ saya dan mama kemudian ga ikut kakak lagi, tapi nebeng sama Uwa, desak2an di mobil buat ke Duta Mall. Singkat cerita… saya akhirnya nonton Hafalan Shalat Delisa. Yay.. 

Awalnya sih Icha pengin nonton PJP tapi PJP udah ga tayang jadi nonton HSD aja deh. HSDnya udah direview yaaa….
Setelah selesai, saya kontak kk ipar yang udah mendekati Banjarmasin. Kk ipar menawarkan apa kami mau makan di DM atau keluar aja. Kami putuskan makan di luar aja karena kondisi DM juga padat banget. Sebelumnya aja cari parkir sampai setengah jam. Dan kakak ipar cuman menjemput kami dan selanjutnya makan di d'cost. Sebuah café yang menawarkan menu dengan harga kaki lima tapi rasa bintang lima. Katanyaaa….

Tapi di sana memang ada the tawar dengan harga seratus rupiah. Beneran seratus rupiah sodara2… dan teh manis 250 rupiah, teh es 500 rupiah. Tapi makain ke bawah menunya makin mahal… harga paling mahal kepiting seharga 41 ribu. Kata kk ipar untuk ukuran Banjarmasin harga di d'cost memang murah meriah. Waktu itu dari pesanan kami… yang juara adalah kepiting Soka yang dimasak pakai orak arik telur asin. Entah bagaimana resepnya. Pengin deh 

Setelah dari d'cost kami pun melangkah ke Pandan Sari. Rumah Om yang super besar itu… sepulang dari sana ke Kayu Tangi buat menjenguk Uwa dan kemudian pulang ke Banjarbaru. Niatnya pengin nyari nasi kucing, tapi udah pada habis dan tutup. Akhirnya beli nasi goreng Murakata. Lumayan deh, menjadi pelipur rindu pada nasgor favorit waktu kuliah dulu.

Pulangnya esok paginya. Ga pagi2 amat sih… sekitar jam 10an karena mampir2 dulu ke rumah Bunda dan Mami. Dalam perjalanan pulang mampir di rantau buat beli lauk di Wong Solo.

Udah capek nulisnya.. Segini aja deh catatan perjalanan yang tertunda :p

Minggu, 12 Juni 2011

Menjejak Pulau Tumasik (Part2)

Sekarang… bagian yang menyenangkan dari S'pore.

Gemerlapnya Singapura

Negerinya bersiiiih.. tentu saja. Saya pun terpesona dengan kebersihannya. Juga disiplinnya. Orang S'pore jalannya cepat2, kata mbak Rien dan suami, makanya turis Indonesia kelihatan sekali bedanya karena jalannya lambat. Wkwkwk…. Eh, ga hanya jalan kaki nya aja yang cepat. Eskalatornya juga punya kecepatan lebih di banding escalator di Indonesia. Kami malah sempat menemui ada yang terjengkang di Eskalator. Kalau lagi berada di escalator jangan main sama hape dulu. Tetap konsen. *mengingatkan diri sendiri*



Oya, kalau naik escalator di S'pore, ambil lajur kiri, karena lajur kanan untuk mendahului. Wkwkwk.. kayak jalan raya euy. Tapi beneran lho, lajur kanan emang dikosongkan. Itu khusus buat mereka yang pengin tetap berjalan di tangga yang udah berjalan itu. Info ini kami dapat lagi-lagi dari mbak Rien dan suami.



Mbak Rien dan suami juga cerita kalau S'pore ini negeri yang aman. Kata beliau berdua kalau gadis pulang malam2 juga ga masalah, karena insyaAllah aman saja. Saya lantas bertanya, "ada copet ga?" wkwkwk… padahal juga bawa uang ga banyak, tapi takut aja dicopet dan jawaban mbak Rien, ga pernah nemu kasus pencopetan selama di sini.



Dengan keterangan itu, jadinyaa.. saya berani jalan-jalan hanya berdua dengan Icha, berpisah dengan kakak dan kakak ipar. Emmm… kata mbak Rien lagi, selama beliau 4 tahun tinggal di S'pore belum pernah menemukan yang namanya listrik padam. Whuaaa… ngiriiii.. Karena baru satu hari saya mendarat kembali di bumi Kalimantan tercinta ini, listrik padam sudah menyapa dengan sangat mesranya.



Kuasai cara penggunaan MRT dan jalan2 lah sepuasnya di S'pore.

Dari hasil googling… (Googling muluuu….) saya dapati info kalau moda transportasi yang bisa digunakan dengan asyik itu MRT atau Mass Rapid Transit. Semacam kereta bawah tanah gitu deh. Walau banyak mengantongi info dari hasil googling tapi tetap saja.. pada awalnya bingung banget gimana caranya naik MRT itu. Awalnya syusah bener, bertanya sana sini sampai akhirnya kami berhasil naik MRT. Tapi setelah bertemu mbak Rien dan dijelaskan beliau seluk beluk MRT, cara penggunaan, membaca peta MRT dan juga bagaimana mengambil deposit dengan cara mengembalikan tiket MRT itu kami jadi ketagihan dan udah lihai bener naik MRT. Wkwkwk….



Oya, katanya naik MRT itu ini juga ada kekurangannya, karena lewatnya di bawah tanah jadi kita ga bisa melihat pemandangan kota S'pore. Tak apa yang penting cepat nyampai dan juga naik MRT sama saja seperti berwisata buat sy. Eh, beneran cepat ya? Iyaaa… cepat bener. Dari satu MRT ke MRT selanjutnya juga cepat datangnya. Masuk dan keluar MRT juga harus dilakukan cepat. Tapi emang tabiat orang S'pore yang serba cepat gitu ya.



Oya, satu lagi hal penting yang mesti diketahui. Kalau kita mau naik MRT, sebelum masuk kita berdiri di samping dulu. Dahulukan mereka yang keluar, setelah yang keluar udah abis, baru deh yang mau masuk bisa masuk. Jangan asal serobot. Kata mbak Rien, kalau yang main serobot, ketahuan kalau dia turis. Dan biasanya dari Indonesia. Ups.



Saya juga kemudian berkhayal2 ria, kalau MRT ada di daerah saya. Yah, ga perlu sampai Banjarmasin, cukup di seputaran Benua Lima Enam aja. Maka kalau saya mau ke rumah nini di Ilung tinggal naik MRT aja. Huahaha…



Universal Studios

Universal Studios seperti menjadi menu utama dalam hadiah liburan ini. Sebelumnya, saya mana tau apaan itu Universal Studios. Dan lagi-lagi saya bertandang ke mbah Google menanyakan apa sih mbah Universal Studios itu. Dan dijawab sama Om Wiki, yang katanya Universal Studios Singapore dibuka pada bulan Januari 2010, merupakan wahana bermain Universal Studios yang pertama kali dibuka di wilayah Asia Tenggara, dan merupakan yang kedua di wilayah Asia setelah Universal Studios Japan. Taman bermain bertema film-film terkenal Hollywood produksi Universal Studios ini berlokasi di Pulau Sentosa, Singapura.



Awal kedatangan kami sudah diberikan tiket masuk Universal Studios dan nginapnya juga di Pulau Sentosa, jadi Cuma jalan kaki aja ke Universal. Kami bebas masuk kapan aja di sana selama 3 hari itu, tapi disarankan mas Guide masuk sana hari kedua, karena itu hari yang full kami berada di S'pore. Dan kami pun memang ke sana di hari kedua. Ada apa di sana yanti? Huwaaaa…. Banyak bener tempat buat bernarsis ria. Wkwkwk… banyak bangunan atau objek menarik gitu deh. Katanya bangunan2 yang ada di sana yang ada di zaman klasik, tahun 50an gitu deh. Dan semuanya keren abis.



Tapi, berdasarkan tips dari (lagi-lagi) mbak Rien dan suami, foto2nya nanti aja, masuki dulu apa yang bisa dimasuki. Kalau kesiangan antrinya bisa panjaaaang bener. Dan beneran. Kalau udah rada siang, antrinya ga nahan.. Tapiii… foto2 nanti juga ga efektif, karena capek udah ga semangat foto2. hehehe….



Ga semua wahana sih kami jejal di Universal. Mungkin karena tiket gratis kali ya jadi ga ngoyo amat nyoba semua atraksi. Hehehe… Tapiii.. dari yang sedikit kami coba itu benar2 mengesankan. Kereeeennn deh. Salah satu yang layak dicoba Jurrasic Park. Awalnya sih biasa aja yaaa… kita diminta naik sekoci dengan posisi melingkar, trus ngelewatin sungai dengan pemandangan ada dinosaurus dan kawan2 gitu. Terkadang melewati arus yang lambat, tapi ada juga arus deras yang bikin histeris. Asyiiik juga.. Nah, kejutan ada di akhir. Kita akan melewati sebuah lorong gelap, gelap dan gelap.. berdebar2 menunggu apaan yang akan terjadi di sana. Dan kemudian.. Huwwaaaaa……… Sebuah kejutan sukses membuat jantung saya berdegup sangat kencang. Kaget dan histeris. Tapi Seruu… apaan sih yan? Ga seru ah kalau saya ceritakan. Untungnya itu kejutan yang saya benar2 ga tau bakal kayak gitu, kalau tau udah dari awal saya mundur teratur menjejal wahana itu.



Jadi, sebuah kejutan terkadang bisa membuat kita melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin atau tidak berani kita lakukan.



Saya juga sempat nonton pertunjukan Shrek 4D. 4D? iya katanya 4D itu film 3D yang memakai efek simulator dan lain-lain. Angin berhembus berasa, terguncang2 waktu Shrek naik kereta, juga pas ada yang bersin.. upss.. ada muncratan air yang mengenai wajah kita. Sewaktu ada pasukan laba-laba.. kyaaaaa… kaki kita juga merasakan serangan laba-laba itu. Tapi seruuu… ^^



Sempat juga melihat pertunjukan “Lights, Camera, Action!” yang dipandu oleh Steven Spielberg (rekaman aja. Bukan Om Stevennya datang langsung). Pertunjukan ini menyajikan simulasi syuting adegan kota New York dihantam badai. Singkat sekali pertunjukan ini tapi benar2 mengesankan. Terbukti dengan gemuruh tepuk tangan penonton begitu pertunjukan selesai.



Song of the Sea

Dari beberapa hasil googling saya menunjukkan kalau Song of the sea adalah pertunjukan yang sangat sayang untuk dilewatkan kalau ke Pulau Tumasik. Apalagi karena saya menginap di Pulau Sentosa dan bertebaran iklan tentang song of the sea sehingga membuat saya dan Icha ngotot pengin nonton.



Karena benar2 ga tau di mana letak pertunjukan song of the sea itu maka kami pun bertanya ke sana ke mari. Pertama pada petugas yang jaga monorail. Kami diarahkan untuk naik monorail dan turun di stasiun terakhir di Pulau Sentosa, Beach Station. Dari sana bertanya lagi, ke mana beli tiketnya? Tiketnya seharga 10 dolar. Setelah dapat tiket nanya lagi, di mana pertunjukannya? Hehehe… intinyaa.. banyaklah bertanya supaya ga bingung. Dan pada akhirnya ketemu juga. Yang nonton banyak bener. Saya jadi ikut berdebar-debar seperti apa sih song of the sea itu.



Ceritanya sih sebenarnya sederhana.. tapiii… gabungan teknologi laser, air mancur dari air laut juga ada semprotan api membuat pertunjukan ini sangat menarik. Waktu ada semprotan api itu, hangatnya terasa sampai ke bangku penonton.



Kopdar dengan mbak Febi

Nama Yudith Fabiola saya kenal sejak membaca satu buku mbak Asma Nadia, di mana ada tulisan beliau di sana. Memiliki rumah di Multiply membuat saya bisa sedikit lebih mengenal beliau dan bisa sok akrab dengan berkomen2 ria di postingan beliau. Begitupun juga ketika kami berteman di facebook. Saya merasa tersanjung sewaktu ada lomba menulis tentang teman maya yang klik, mbak Febi menulis tentang saya, bersanding berdua dengan ka Antung. Whuaaaa… sebenarnya saya yang ngefans sama mbak Febi lho ^^



Ketika rencana ke S'pore ini ada, maka yang pertama saya kasih tau ya mbak Febi ini, padahal waktu itu masih maju mundur rencananya. Kami pun merencanakan buat kopdar. Sempat bingung juga menentukan waktu dan tempat buat kopdar kami. Karena saya masih buta dengan yang namanya S'pore. Singkat ceritaaa.. kami akhirnya janjian ketemu di mesjid Al-Falah di Orchard. Tapi rencana itu gagal dan mbak Febi memutuskan buat menyusul ke hotel tempat saya menginap. Dan tradaaa… ketika maya mewujud jadi nyata, saya berhasil kopdar dengan mbak Febi, kopdar pertama dengan teman maya di luar negeri. Hehehe… Hayo siapa selanjutnya?



Walau kopdar ini terasa singkat banget tapi mengesankan. Senang bisa bertemu dengan mbak Febi yang cantik. Juga sama mbak Nida dan mas Aufal.



Btw, mbak Febi menghadiahkan anggur segar buat saya. Anggurnya pun sampai ke Barabai saya tercinta. Mama saya nanya, "berapa harga anggur di S'pore?" saya pun menjawab. "Ga beli ma. Itu dikasih sama teman waktu ketemu di S'pore kemarin."

"Teman? Di S'pore? Emang punya teman di sana?" Hehehe.. mama kaget. Beliau ga tau kalau anaknya punya banyak teman di berbagai pelosok dunia. :)))



Udahan ah, udah panjang bener. Kesimpulannya apa ya?

S'pore emang keren abis.. Tapi gemerlapnya S'pore tetap tidak bisa mengikis cinta saya akan negeri tercinta ini. Juga kampung halaman Barabai saya tercinta. Hehehe….



Sewaktu rencana ke S'pore ini tersebar di keluarga kami, ada anggota keluarga yang udah pernah ke S'pore bilang kayak gini, "Negaranya bagus. Bersih, rapi. Tapi mungkin karena saya udah tua kali ya, jadi tetap jauh lebih berkesan waktu ke Tanah Suci dibandingkan ke S'pore." Dan saya sangat sepakat sekali dengan beliau walaupun masih muda. Wkwkwkwk.... Jauuuh lebih berkesan saat pandangan mata kita berkabut karena haru saat menatap Baitullah.. dan sensasi rasanya jauuuh lebih memukau saat kita menyentuh Raudah di Mesjid Nabawi. So, yang punya mimpi keliling dunia, yuks.. kita sematkan mimpi yang paling utama untuk ke Tanah Suci dulu.

Menjejak Pulau Tumasik (Part 1)

Awal bermula

Singapura. Negera yang dekat sekali dengan Indonesia, tapi entah kenapa jauh dari angan saya untuk bisa pergi ke sana. Dulu saya pernah bikin list, negara mana saja yang ingin saya datangi dan Singapura tak ada dari daftar saya itu. Kenapa? Entah. Kalau dibilang terlalu dekat ga juga, toh Malaysia masuk di daftar itu. Atau karena Singapura terlalu kecil? Dulu saya pernah baca kalau semua penduduk Indonesia buang air kecil dan disalurkan ke Singapura sana maka blep.. blep.. blep.. Singapura bakal tenggelam.

Bridgestone "The Ultimate Family Holiday", yah itulah yang kemudian mengantarkan langkah saya ke Singapore. Apa sih itu? Itu adalah semacam promo berhadiah dalam rangka yah promo ban mobil yang bernama Bridgestone. Kalau kita beli 2 ban dengan tipe yang sudah ditentukan, maka akan dapat 1 formulir dan kemudian dari formulir yang terkumpul, dicarilah para pemenang. Tentu saja itu buat pembeli, bukan pedagang seperti kami. Terkadang ada pembeli yang malas buat ngisi, ada juga yang mesti kami bujuk dulu, dengan iming-iming, "siapa tahu bisa ke Singapore, kan lumayan." Walaupun terasa jauh semua itu bisa mewujud jadi nyata.

Suatu hari, saya masih ingat itu Hari Jum'at, saya menemukan sebuah surat di meja. Saya pun membacanya dan terbelalak kaget, itu adalah surat pemberitahuan kalau salah satu pelanggan kami yang menang promo itu, ke Singapore euy… Dan di samping saya kakak sedang sibuk dengan hapenya.

"Ini beneran kak?" Tanya saya.

"Mau dicek dulu. Beneran atau penipuan," jawab si kakak dengan hape di tangan. Soalna kan biasa tuh ada penipuan dengan kedok macam gitu. Singkat cerita ternyata benar. Pemberitahuan itu asli dan ada tour 3 hari 2 malam di Singapore.

"Aku diajak juga lho," kata si kakak sumringah. Karena saya tahu kalau hadiah itu untuk 4 orang, maka saya pun menawarkan diri buat ikutan. Asumsi saya waktu itu, kalau si pelanggan berangkat sama istrinya, kan ada 2 tiket lagi tuh. Yang satu kakak, yang satunya lagi kan bisa buat saya. Wakakak, penyuka gratisan beraksi.

Bayang Singapore pun bermain-main di pelupuk mata saya. Tanpa pikir panjang, saya juga langsung minta izin ke abah dan mama, izin mereka mutlak harus saya kantongi dulu sebelum bepergian. Dan ajaibnya, mama abah yang biasanya syusah bener ngasih izin kali ini malah izin langsung keluar, tanpa harus ada lobi atau rayuan maut dulu keluar. Wow.. senangnyaaaaa…



Tapiii… mendadak saya dilanda muram lagi, dengan tegas si kakak bilang kalau dia ga mau mengajak saya, tapi pengin berangkat dengan temannya aja. Whuaaa…impian saya ke Singapore buyar. Gegas saya membelai hati saya, 'tak apa yanti, jangan sedih.. toh kamu masih bisa jalan-jalan ke S'pore lewat mbah Google.' Gedubrak!



Eits, cerita belum berakhir, ternyata si pemenang (langganan kami itu) menyerahkan sepenuhnya hadiah itu ke kami. Karena kataya ribet mesti ngurus paspor sendiri dan tiket ke Jakarta juga ditanggung sendiri. Yang gratis ya Ke Singaporenya aja. Harapan saya kembali muncul. Siapa tahu kakak mau mengajak saya ikut serta, kan sekarang tiket gratis bukan untuk 2 orang lagi, tapi empat euy.

Ternyata sama saja, meskipun begitu si kakak tetap pengin pergi sama teman-temannya aja. Hiks. Menyerahkah saya? Tidak.. hahaha… saya pun kemudian mengerahkan segenap kemampuan mempengaruhi saya agar si kakak berubah pikiran. Sanguinis beraksi. Didukung penuh oleh mama dan kakak ipar saya yang ikutan melobi dan tradaaa… dia mengangguk setuju dan saya pun segera menyiapkan berkas buat bikin paspor. Eitss.. bukannya udah punya? Belooom.. dulu baru punya paspor coklat yang sekali pakai udah kadaluarsa. Sekarang ngurus paspor hijau. Pintu buat saya keliling dunia. Aamiiiin…….

Hemmm…. Cerita yang lainnya di skip aja ya. Soalna ada banyak kejadian yang membuat maju mundurnya rencana ke Singapore ini. Kalau diceritakan kepanjangaaan, bisa jadi satu buku. Intinyaaa… pada tanggal 15 Mei 2011, mendaratlah saya untuk pertama kalinya di Pulau Tumasik. Teman yang ada di kursi sebelah saya langsung nyelutuk, "Ayo mbak.. pasang status kalau udah di S'pore." Wkwkwk….



Hal-hal yang tidak menyenangkan di S'pore…

Bingung deh menceritakan dari mana saja, jadi yah dimulai dari yang tidak menyenangkan saja dulu yaa…



Susah dapat makanan halal.

Kalau dibanding negara2 lain yang muslimnya minoritas banget, mungkin S'pore rada mendingan yah, tapi tetap saja buat saya yang kelilingnya cuman di kampung dan pedesaan bumi Hulu Sungat Tengah terdjintah dan Kalimantan Selatan tersayang nyari makanan halal di sana syusah.



Beberapa hari sebelum berangkat malah tiba-tiba ada pikiran yang menyeruak, bagaimana dengan makanan di pesawat? Dalam itinerary yang disampaikan ke kami, kalau terbang ke S'porenya menggunakan S'pore airlines.. duuuh… saya jadi kepikiran, halal ga ya makanan dalam pesawat. Emang sih ini bukan kali pertama saya terbang dengan maskapai asing, tapi dulu, ga ada keraguan sedikit pun atau karena saya ga hati-hati ya. Mungkin karena dulu terbangnya dengan Emirats, Emirats kan milik Uni Emirats Arab. Arab = Islam = Halal. Hahaha… pemikiran yang sederhana sekali :p



Nah, bagaimana dengan S'pore airlines ini? Maka saya pun googling terkait hal ini. Dan hasil googling saya menemukan artikel seperti ini "S'pore airlines menyediakan makanan halal selama Ramadhan". What??? Emangnya kita butuh makanan halal Cuma Ramadhan doang? Saya jadi ingat pernah nonton di mana gituu, ada seorang muslim yang disuruh teman2nya menengak minuman keras, dia bilang ga mau, itu haram. Trus kata teman2nya.. "tenang aja lah, Ramadhan masih lama," huhuhu… padahal yang haram2 kan haramnya ga di Ramadhan aja. Tapi setiap saat, setiap waktu kan ya.



Tak berhenti sampai di situ, saya pun menelusuri beberapa artikel yang lain dan juga bertanya pada mbak Febi. Hasilnya? Kata mbak Febi insyaAllah halal, tapi lebih baik request Moslem meal aja. Dan dari artikel yang lain menyebutkan kalau makanan halal bisa direquest 24 jam sebelum penerbangan. Maka saya pun menyampaikan hal ini ke kakak ipar untuk disampaikan ke pihak travel. Sesampainya di pesawat, saya masih ragu aja dan akhirnya bertanya ke pramugarinya dan dengan mantapnya si pramugari bilang "Semua makanan yang ada di sini Halal." Alhamdulillah :)



Di pesawat selesai, sekarang di bumi Pulau Tumasik. Oh ya, saya belum cerita kalau ternyataa, fasilitas yang kami dapatkan selama di sana tidak termasuk makan siang dan makan malam. Yang gratis cuman makan pagi doang. Olalaaa…. Makanya saya pun akhirnya googling lagi makanan halal dan murah. Dan juga persiapan dari tanah air. Bawa Pop Mie dan kue juga cemilan. Wkwkwk… Hari pertama, pop mie pun langsung disantap, karena masih buta dengan S'pore, jadi sebelum jalan makan pop mie dulu. Malamnya kami makan di Ayam Goreng President di Lucky Plaza. Tsaaaaahhhh!!! Jauh2 ke S'pore makan ayam President??? Itu mah di Banjarbaru juga ada bo… yah, mau gimana lagiii.. namanya juga cari yang halal.



Pas sarapan, karena dapat sarapan gratis dari hotel saya dan keluarga pun melangkah mantap ke restoran di hotel itu. Wessss…. Hidangannya benar-benar menggugah selera. Eits, sebelum mengambil hidangan saya bertanya ke petugas di sana, "Apa makanan di sini halal?" dan dengan wajah penuh penyesalan dia berkata "I'm sorry, non halal," dan kembali lah. Di pagi yang ceria itu menu sarapan kami adalah POP MIE. So, buat yang pengin ke S'pore, jangan lupa bawa Pop Mie atau Super Bubur. Iklan banget :p



Makan selanjutnya lebih banyak di Vivocity, kalau kita menyebrang pakai monorail dari Pulau Sentosa kan stationnya di VivoCity. Nah di lantai B2 di sana ada foodcourt yang bernama Banquet, saya tau info ini berdasarkan hasil googling, wkwkwk… thanks mbah google. Di foodcourt di vivocity ini ada 2 bagian, yang satu khusus makanan halal ya yang namanya Banquet tadi, yang satu lagi, entah apa namanya yang non halal. Dan di sana, saya menuju stan masakan padang. Wkwkwk… jauh2 ke S'pore makan nasi padang. Tapi nasi goreng Pattaya enak lho, entah beneran enak atau karena saya lapar berat.



Btw, tentang Nasi Goreng Pattaya, ingat cerita di KCB ga? Sewaktu Azzam mengantarkan barang-barang Anna dari Mesir kan disuguhkan Nasi Goreng Pattaya ini, jadi katanya nasi goreng Pattaya itu nasinya dibungkus sama telur dadar. Tapi kalau yang saya makan di Banquet ini sih bukan dibungkus, tapi di selimuti. Hehehe… soalna dulu pernah menyantap nasi goreng bungkus di mana Nasi gorengnya benar2 dibungkus sama telur dadar. Hasilnya? Kenyang makan telur dadarnya. Hihihihi….

Oya, bagaimana dengan roti atau kue? Hemm… saya tetap ga berani melahapnya. Malam pertama di S'pore jalan-jalan dengan mbak Rien (teman kost kakak ipar saya yang berdomisili di S'pore), mbak Rien bilang ga berani makan makanan sekalipun roti yang ga ada logo Halalnya. Jadinyaa.. saya ikutan ga berani.



Toiletnya ga asyik.

Wkwkwk… judulnya ga banget deh. Oke, saya cerita dulu ya, pertama masuk kamar hotel. Huwaaaa… kami segerombolan urang kampung ini langsung terpesona dengan hotelnya yang emang bagus bener. Viewnya gedung bertingkat dengan arsitektur yang keren abis. Eh.. kelihatan Merlion lagi yang katanya Merlion di Pulau Sentosa itu yang paling gede di Singapore sana. Bakat narsis dan eksis pun tersalurkan, sebelum kamar diacak2 dan masih rapi jali, kita berfoto2 dulu. Masih asyik foto2 dan bongkar2 apa saja yang ada di kamar hotel itu, kemudian terdengar teriakan histeris dari kamar mandi. Ups.. ada apaan siiih? Masa di kamar bagus kayak gini ada kecoa? Kayakna ga mungkin deh.



Dan ternyataaaa… yang teriak itu shock melihat toiletnya yang ga ada kran air, ember, shower atau apapun yang buat cebokan gitu. Hihihi… Yang ada cuman tissue. Ga masalah kali buat orang kota, tapi yang namanya orang kampung, shock juga melihat kondisi demikian. Cebokannya gimana dong? Di mana bisa beli ember dan gayung atau pipa buat menyalurkan air?



Pemutaran otak buat berpikir pun terjadi. Melirik ke sana ke mari apa yang bisa dijadikan 'alat'. Dan tradaaaa….. pandangan jatuh ke tempat sampah yang abis dibersihkan bisa berfungsi jadi ember. Gayungnya? Mikir lagi… lihat ke sana ke mari lagi.. eh, ada gelas buat gosok gigi dekat wastafel, tapi terlalu kecil euy, jadi apaan dunk? Pandangan jatuh ke gelas pop mie yang isinya tandas berpindah ke perut. Dan jadilah bekas gelas pop mie itu yang jadi gayung. Tsaaaah…. Urang kampung masuk Singapur :p



Yang bikin kami heran, besoknya waktu kamar kami dibersihkan sama petugas hotel, sementara kami ga ada di kamar, ember dan gayung versi kami itu ga disentuh sama petugas hotel. Mungkin mereka mengerti kali yaaa… ada urang kampung yang masuk hotel bintang :p



Oya, toilet yang begituan juga ada di seantero Singapura. Tapi mungkin di antara deret toilet kaya gitu, ada terselip toilet yang ada airnya, karena waktu di Changi, petugas di sana nanya ke saya kayak gini, "mau masuk ke sini?" setelah saya melongok ke dalamnya… yay… ada shower airnya bo. Senangnyaa….



Tadinya saya kira ini cuman masalah saya dan keluarga aja, ternyata ada yang komen di status saya kalau ini juga bagian yang tidak menyenangkan di S'pore *melirik miss DSN*





Susah nyari tempat Shalat

Ini termasuk yang pertama kali saya cari tau juga tanyakan ke mbak Febi :)

Dan emang tidak semudah mencari tempat shalat seperti di Tanah Air ya, saya jadi ingat kampus biru tercinta yang mushallanya ada dua, ga jauh2 amat lagi antara keduanya. Sementara di S'pore? Toloooong…



Tapi kerennya, di Universal Studio ada tempat shalat. Berdasarkan hasil googling, saya mendapatkan info kalau di USS ada ruang shalat di dekat pintu masuk. Atapnya tenda biru, satu lokasi dengan lost & found / annual pass. Nah, kami pun mencari tempat yang dimaksud. Pas sampai ke situ, celingak celinguk tapi kok ga ada terlihat praying roomnya ya? Di mana sih? Eh, di sela kebingungan kami petugas di sana menyapa dan menanyakan apa kami mencari praying room? Haiyaaa… mungkin karena kami jilbaban kali ya jadi langsung ditanya. Petugas di sana pun menunjuk ke sebuah pintu yang di balik pintu itu ada ruangan buat kita shalat, mukenanya juga tersedia. Waktu mau wudhu, petugasnya pun langsung mempersilakan kami buat berwudhu di wastafel buat anak kecil, jadinya di sana lebih nyaman buat mencuci kaki.



Hal ini berbeda dengan hotel tempat kami menginap. Karena kami harus sudah angkat kaki dari kamar yang nyaman itu jam 12 siang, sementara jemputan baru datang jam 2, saya pun bertanya pada petugas hotelnya di mana saya bisa shalat? Sengaja saya tidak bertanya di mana Mushalla atau praying room, tapi tempat di mana saya bisa shalat, dan petugasnya menggeleng lemah. Tidak ada tempat. Huwaaaa.. masa sih ga ada tempat? Saya ga mau menyerah.. akhirnya bilang ke Icha, "Cha, kita cari tempat yang agak tersembunyi yuk. Di mana aja asal bisa shalat." Icha setuju dan kami pun mencari tempat. Ketemu? Alhamdulillah ada.



Tapi sewaktu udah selesai, dan ketemu sama kakak dan kakak ipar. Olalaaa… ternyata waktu dzuhur belum masuk. Padahal udah jam satu lewat. Huhuhu…. Saya kelewatan googling waktu shalat di S'pore. Merasa perlu diyakinkan lagi, saya sms mbak Febi bertanya jam berapa waktu Dzuhur, mbak Febi bilang jam setengah dua. Huwaaaa… itu artinya saya shalat sebelum waktu dzuhur masuk. Dan saya pun kembali bergerilya mencari tempat shalat di Changi. Ada? Kalau diada2kan ya ada. Hehehe….



Minim Bahan.

Duuu.. malas cerita mendetail tentang ini. Tapi bisa tebak sendiri aja ya.. setelah saya amati foto2 yang saya ambil, ternyata bagian minim bahan ini juga ikut ada terlihat.



Karena udah panjang bener.. bersambung aja yaaa......
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...