Tampilkan posting dengan label repost MP. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label repost MP. Tampilkan semua posting

Selasa, 20 November 2012

[Short Story] Kemiri

“Ra, ada punya kemiri ga?” Kak Arya tiba-tiba muncul di pintu kamarku. Aku menoleh. Sebal. Ga suka keasyikanku diganggu.

“Kemiri? Buat apaan?” Aneh kan, dia yang ogah banget ke dapur tiba-tiba nanya kemiri. Bikin mie instant rebus aja suka teriak-teriak minta tolong ke aku.

“Buat rambut nih, katanya teman kemiri bagus buat menguatkan dan menyuburkan rambut.”

“Ya ampyun kak.. Perawatan rambutnya ngalahin aku yang cewek aja.” Kak Arya emang perhatian banget sama rambutnya, untuk urusan ini aku kalah jauh deh dari dia.

“Bawel ah, kemirinya di mana?”

“Ada di kulkas.” Aku menjawab dan langsung berpaling ke layar laptopku. Kak Arya pun segera berlalu dari hadapanku.

“Ra, di kulkasnya di mana?” Tak berapa lama kak Arya muncul lagi.

“Di rak di pintunya itu kak. Dibungkus plastik.” Jawabku tanpa mengalihkan pandang dari layar laptop. Tak ingin obrolanku dengan beberapa teman di YM terhenti.

“Ra….” Suara kak Arya lagi. Aku menoleh sebal.

“Apaan lagi sih ka? Kemirinya ada kok, di rak di pintu kulkas. Nyarinya lebih teliti dong.” Kataku. Mendengar kata-kataku kak Arya langsung menjawab, membela diri.

“Masalahnya aku ga tau yang namanya kemiri itu yang mana.”

[Short Story] Memerdekakan Diri

"Mana FFnya? Katanya mau ikutan?," tanya Dina padaku.

"Batal!"

"Batal?," dari nada bertanya Dina, dia seperti tak percaya.

"Saingannya berat banget Na. Aku udah baca hampir semua FF yang ikut, keren dan bagus," aku beralasan, "jagoan bikin FF juga ikutan. Baca aja FFnya punya mbak Nita, mbak Wik, mbak Yudith, bagus semua. Yang menang juga cuma tiga orang, yang ikut sepertinya 300, jadi peluang buat menangnya kecil banget. Paling juga kalah, mending ga ikutan," tambahku lagi.

"Eh, Non, dengerin ya," Dina menatapku tajam, "Orang yang seperti kamu ini yang ga bisa bikin Indonesia merdeka. Yang ga bisa bikin Umat Islam Berjaya. Ingat perang Badar, pasukan kaum Kafir lebih banyak dari pasukan Muslimin, tapi pantang mundur, maju terus, berjuang," Dina berapi-api menjelaskan.

[Short Story] Cari Jodoh

Cari Jodoh

Langkah pertama kuberkaca diri
Apa aku layak untuk engkau

Langkah kedua kuberdoa
Semoga kau juga mau kepadaku

Langkah ketiga kumencoba
Beranikan diri mendekati engkau

Langkah terakhir kuberserah diri
Pada Dia Maha Menentukan

Raffi mengulum senyum mendengar lagu dari film Ketika Cinta Bertasbih yang sedang dia dan keluarga tonton.
"Eh, bang Raffi senyum-senyum," Raisa, si bungsu yang cerewet mulai mengoceh.
"Pengin punya istri kayak Anna tuh," kali ini celoteh Raisa disambut Raihan, si tengah.
"Abang kalian memang sudah waktunya menikah," Ibu tak ketinggalan bersuara.
"Bukan sudah waktunya Bu. Tapi sudah telat, udah 36 usianya," Raisa lagi

[Short Story] Bukan FF Poligami

"Apa kabar dek?"
Kakak kelas sewaktu SMA menyapaku lewat YM.

"Kabar baik mbak."

"Lama ga kelihatan nih, ke mana aja?"

"Lagi sibuk mbak."

"Hayoo, sibuk apa nih? Persiapan nikah ya?"
Astagaaa… persiapan nikah? Heran deh, aku lama ga nongol di jejaring sosial dibilang mau nikah. Kemarin aku ketemu teman di toko buku dan aku lagi asyik baca buku resep juga dibilang mau nikah. Minggu lalu, aku beli baju baru dan ketemu tetangga, dia bilang aku mau nikah. Apa segala hal yang kulakukan selalu berhubungan dengan persiapan menikah? Apa karena aku berada di usia yang sudah sangat pantas untuk menikah? Sabar Ra, aku membelai hati sebelum menanggapi.

[Short Story] Cita-cita Ghaza

"Mama..." teriakan Ghaza mengehentikan tarian jemariku di atas keyboard.

"ada apa sayang?"

"apa kain kafan itu mahal?" keningku berkerut. Apa maksud pangeran kecilku ini? bertanya kain kafan?

"ga mahal kok sayang. Memangnya kenapa Ghaza nanya seperti itu?"

"tadi dengar cerita Sahabat Nabi Mushab bin Umair.. katanya pak ustadz.. kainnya ga bisa menutupi seluruh badan. Jika ditarik kepala supaya tertutup, kakinya terbuka.. kalau ditarik menutupi kaki.. kepalanya yang kelihatan."

aku tertegun sejenak. Kemudian menceritakan ulang pada Ghaza tentang sirah Sahabat Nabi Mushab bin Umair. Tentang kesederhanaan seorang Mushab setelah hijrah, tentang mereka yang syahid tanpa perlu dikafani, dimakamkan dengan pakaian yang dikenakan.

sedetik.. dua detik.. aku menunggu Ghaza bereaksi.
"Ma, mereka yang syahid masuk surga dan disayang Allah kan?"

"iya dong sayang.." jawabku.

"Ma.. aku ingin mati syahid." Deg! hatiku terasa tercubit. Sanggupkan aku menjadi seperti al-Khansa?


***

[Short Story] Tanya Dina

"ka, waktu kakak ta'aruf dulu yang ditanyakan apa aja sih?" aku menghentikan bacaanku, menoleh ke arah Dina, adik semata wayangku.

"kenapa nanya? udah mau nikah? lulus SMU aja belum." aku menatap Dina dengan tatapan menyelidik.

"yee.. kakak.. Dina kan cuman nanya."

"kirain kamu udah mau nikah." kataku lega. Dina baru saja duduk di kelas XII.

[Short Story] Perang-perangan ala Ghaza

"Ghaza...!!! Ayo cepat mandi.." pekikku begitu melihat Ghaza masuk rumah dengan pakaian kotor berlumur lumpur. Aku mengikuti langkah kecil Ghaza.

Selang 15 menit kemudian setelah Ghaza selesai mandi, berganti baju dan meminum susu hangatnya aku duduk di sampingnya, menunggu Ghaza bercerita.

"Tadi main perang-perangan bunda." Ghaza meneguk bagian terakhir susu coklatnya.

"Seperti cerita bunda tadi malam, Ghaza jadinya terjun ke parit buat main perang-perangan. Makanya baju Ghaza jadi kotor. Paritnya ga ada airnya kok bunda, tapi penuh lumpur." Ghaza menyelesaikan ceritanya. Aku menghela nafas, tadi malam aku memang menceritakan sejarah Perang Khandaq pada Ghaza. Aku urung memarahi Ghaza.

[Short Story] Cemburu

"aku cemburu sama dia, Nay.." ketawaku hampir meledak begitu Arina selesai bercerita. Tapi melihat wajah seriusnya, kucoba sekuat tenaga menahan. Coba pikir bagaimana mungkin aku ga ketawa, Arina cemburu dengan mantan pacar suaminya dulu yang sekarang juga udah berkeluarga. Punya suami dan dua anak.

"emang wanita itu lagi rusuh ya rumah tangganya?" tanyaku.

"ga sih Nay.. sepertinya baik-baik saja."

"loh.. kenapa kamu cemburu?" aku menyatakan keherananku. Arina cemburu karena beberapa kali suaminya ngasih jempol di status wanita itu, dan wanita itu juga beberapa kali ngasih comment di status fb suaminya. Aneh kan? tak taulah.. aku kan belum menikah. Jadi belum merasakan lah bagaimana seorang istri cemburu.

[Short Story] 10 Sahabat

Aku mendekati Shidqi yang entah sedang sibuk dengan jemarinya, seperti menghitung sesuatu.
"Shidqi sedang apa?"

"ini kak.. Shidqi lagi ngitung yang 10 itu, tapi Shidqi lupa 3." jawabnya dengan wajah bingung.

"Apa? nama-nama Malaikat ya?" tebakku.

"bukan kak. Kalau itu Shidqi sudah hafal. Tapi nama-nama 10 Sahabat Nabi yang dijamin masuk surga." aku tersenyum mendengar jawaban Shidqi.

"kakak bantu mengingatnya ya.. Shidqi yang ingat siapa aja?"

[Short Story] Praduga

“Ra, PP kamu sama siapa tuh?” aku bertanya pada Lira lewat chat saat tadi masuk fb dan menemukan PPnya ganti, foto dirinya sama seorang cowok. Padahal jelas-jelas Lira belum nikah dan ga punya sodara cowok.

“Hahaha.. husnudzan aja bu. Ga bagus berprasangka, kan sebagian dari dosa tuh.” Jawabannya sama aja dengan jawabannya buat teman-teman yang pada nanya di kolom comment.

“Masih ingat dengan yang namanya tabayyun kan Ra?”

“hemm.. apaan tuh Fi?”

“Tabayyun itu me-ricek kejelasannya, aturannya jelas ada di dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 6, cek gih apa terjemahnya.”

[Short Story] Persamaan

"Kak, kalau Umar bin Khatab dan Umar bin Abdul Aziz itu ada hubungan keluarga ga sih?" Aku menoleh ke Fira, dia sedang memegang buku SKI (Sejarah Kebudayaan Islam)

"Iya Ra, Umar bin Abdul Aziz keturunan Umar bin Khatab." Aku menjawab.

"Beneran nih ka? Bukan omdo kan?" Tanya Fira, ragu.

"Nih anak dibilangin ga percaya. Jadi begini Ra, pernah dengar kan kalau Umar bin Khatab waktu jadi khalifah sering jalan kalau malam-malam nengok rakyatnya, trus suatu malam Umar dengar ada ibu yang nyuruh anaknya mencampur susu dengan air, tapi anaknya ga mau katanya khalifah melarang mencampur susu dengan air, mendengar anaknya bilang gitu, si Ibu menjawab, 'Umar tidak akan tau kalau kamu mencampurnya dengan air', tau ga puterinya menjawab apa?" aku bertanya pada Fira sekalian memberi jeda akan ceritaku yang kurasa terlalu panjang.

[Short Story] Hafalan Riana

"Kak, Riana sudah hafal nama-nama istri Rasulullah." Riana berujar seraya duduk di depanku. Beberapa hari yang lalu dia bilang disuruh ustadzahnya menghafal nama-nama istri Rasulullah.

"Oya? Siapa aja Na? Coba sebutkan satu-satu." Pintaku.

"Yang pertama Khadijah binti Khuwailid, trus Saudah binti Zam'ah. Kemudian ada Aisyah dan Hafsah, keduanya puteri sahabat Rasul juga."

"Puteri siapa Na?" tanyaku yang langsung dijawab Riana. "Kalau Aisyah puteri dari Abu Bakar, Hafsah puteri dari Umar bin Khatab."

[Short Story] Jabal

"Kak, bantuin Sidqi bikin PR ya." Shidqi mendekatiku. Aku langsung meraih remote TV dan merendahkan volumenya.

"PR apa Qi?"

"ini kak, disuruh nyari tau tentang gunung-gunung dalam sejarah Islam. Kalau Gunung Jabal Nur itu apa kak?" Aku tersenyum mendengar pertanyaan Shidqi.

"Qi, Gunung itu bahasa Arabnya Jabal. Jadi kalau udah nyebut Jabal ga perlu lagi deh nyebut gunung. Ntar malah dua kali nyebut gunungnya." Shidqi mengangguk-angguk sambil nyengir mendengar penjelasanku.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...