Senin, 26 Oktober 2015

[Percikan Majalah Gadis] Nama Pena



Nama pena bukan hal yang sederhana buat Riri saya. Sejak mulai berkeinginan menjadi penulis, saya sudah memikirkan nama pena. Dulu saya pernah bertanya pada Mbak Ifa Avianty tentang nama pena. Beliau bilang, "Pakai nama asli saja."

Waktu berbincang dengan Kak Fitri Gita Cinta dan mbak Luluk, kami menemukan nama-nama novelis yang berinisial huruf W. Di mana karya-karya mereka bagus-bagus. Gagasan pun muncul, "Bagaimana kalau nama pena kita juga berawalan huruf W?"

Dalam beberapa kesempatan ngobrol dengan teman-teman di grup WA, perihal nama penulis berawalan huruf W kerap saya ketengahkan. 

Beberapa nama penulis yang produktif pun kemudian mampir dalam perbincangan dan nyaris setiap hal itu dibicarakan, saya selalu menghubungkan dengan nama pena yang akan saya gunakan. Hingga suatu hari ketika saya mulai berulah seorang teman bilang, "Yanti mulai deh.." berawal dari situ seperti ada bohlam yang menyala di kepala saya.

Aha!

Kenapa tidak dijadikan cerpen saja? Tentang seseorang yang mencari nama pena. Saat menulisnya, saya sudah memasang target buat Percikan di Majalah Gadis. Alhamdulillah, bisa dimuat di Majalah Gadis. Terima kasih, Teman-teman. Untuk obrolan kita yang kemudian saja jadikan ide dan bahan cerita #pelukatuatuyangcewek

Berikut percikan yang saya kirim. Ini naskah asli yang saya kirimkan dan ada beberapa editan ari pihak redaksi. Sebelumnya saya menulis yang lumayan panjang, namun karena batasan halaman jadi harus diedit. Naskah sebelum diedit ada di sini. Yang dibuat di majalah ada di sini.
Selamat membaca dan semoga suka :-)




Nama Pena
Oleh : Hairi Yanti

Nama pena bukan urusan sederhana buat Riri. Baginya nama pena harus dipakai satu kali kemudian digunakan seterusnya. Sampai sekarang Riri belum bisa memutuskan nama pena yang akan dia gunakan.
"Pakai nama asli saja," usul Yunita.
Riri menggeleng. Bukan tidak menghargai nama yang diberikan orangtuanya. Tapi namanya terlalu biasa. Sebuah nama untuk karya tulis harus memikat. Harus bisa memerangkap setiap mata yang membacanya hingga memutuskan membaca karya yang dia tulis
"Nama penaku sepertinya harus diawali huruf W deh, Ta," ujar Riri sambil mengetuk-ngetuk jarinya ke meja.
"Novelis yang berawalan huruf  W karyanya bagus-bagus. Sebut saja Windry Ramadhina, Windhy Puspitadewi, Winna Efendi. Trus, nama yang ada huruf W di dalamnya juga karyanya bagus. Ada Riawani Elyta dan Shabrina Ws," jelas Riri.
"Ya sudah, Ri. Cari aja tuh di buku itu nama yang berawalan huruf W," seru Yunita sembari menunjuk buku nama-nama bayi. Riri mencari inspirasi dari mana-mana tentang nama, termasuk membeli buku tentang nama-nama bayi.
"Nama itu harus ada unsur nama dariku juga. Bukan asal comot nama,” elak Riri.
Mata Riri memandang deretan buku yang ada di kamar Yunita. Yunita sangat rapi menyusun buku-bukunya berdasarkan abjad nama penulisnya. Dan hey…
“Ta…” Seru Riri yang membuat Yunita kaget.
“Apaan sih?”
"Ary Nilandari, Ari Kinoysan, Ari Nur Utami. Itu nama-nama penulis yang nama mereka Ari semua." Riri menunjuk buku-buku Yunita.
"So?"
"Gimana kalau nama penaku juga pakai nama Ari?"
"Nah... Iya. Apalagi nama kamu kan ada Ri juga. Jadi pas kalau nama pena harus memuat nama kamu. Gimana kalau Aryati atau Aryanti?" tanya Yunita.
Riri menggelengkan kepalanya.
"Itu terlalu sederhana, Ta."
Yunita mendesah kecewa. Riri sangat suka menulis. Cerpen-cerpennya juga bagus. Tapi sampai sekarang dia belum pernah mengirimkan tulisannya ke media. Alasannya hanya karena nama pena.
***
"Wuiiih, Teguh Affandi namanya nongol terus di koran minggu," seru Yunita.
Yunita sedang memegang ponselnya. Yunita membuka grup Sastra Minggu di facebook. Grup yang mengabarkan karya siapa saja yang dimuat di koran minggu.
"Selain cerpen, juga ada resensi TA di koran." Yunita mendecak kagum.
"Dia pasti gigih mengirim tulisan," cerocos Yunita lagi.
"Seperti namanya, Ta. Teguh. Teguh yang teguh berjuang," kata Riri. "Eh, tunggu..." Riri teringat sesuatu.
"Bagaimana kalau nama penaku juga ada Teguh?" Yunita menepuk keningnya. Nama pena lagi.
"Boleh deh. Kamu pilih aja. Riri Teguh, Hairiyati Teguh atau Aryati Teguh," cetus Yunita.
Sungguh dia bosan membahas tentang nama pena dengan Riri. Yunita menatap Riri yang duduk dengan siku menopang dagunya. Riri sedang berpikir serius. Astagaa....
**
“Yunitaaaa….” Riri memanggil Yunita dan berlari menuju sahabatnya itu.
“Nih, ada kabar gembira buat kamu. Coba lihat.”
Riri menyodorkan dua majalah pada Yunita. Ada dua cerpen Yunita di sana. Mata Yunita terbeliak. Merebut majalah dari tangan Riri.
"Aaaaaa...." Yunita bersorak dan memeluk Riri. Kemudian dia memandang-mandang tulisan namanya yang tertulis di majalah.
"Ta," panggil Riri. "Ngiri deh sama kamu. Cerpen kamu bisa dimuat di dua majalah gini." suara Riri nampak sendu.
"Ri, cerpen kamu juga bagus. Stop mikirin nama pena. Langsung kirim aja dengan nama asli kamu. Redaksi itu enggak melihat nama kamu, tapi bagaimana tulisan kamu. Jadi, pede aja dengan nama asli."
"Iya, Ta. Mungkin harus begitu. Selama ini tenagaku habis mikirin nama pena aja." Yunita membenarkan.
"Eh tapi..." Riri teringat sesuatu.
"Kamu ingat Yuniar Khairani dan Yulina Trihaningsih?" Yunita mengangguk. Dua nama cerpenis yang Riri dan Yunita suka. Beberapa kali cerpen mereka dimuat di majalah.
"So?"
"Nama mereka, Ta." Riri nampak antusias. "Nama mereka diawali Yu. Nama kamu juga Yu. Apa aku pakai nama pena yang juga berawalan Yu?"
Astaga!

Yunita menepuk keningnya. Masalah nama pena ini entah kapan akan berakhir.

21 komentar:

  1. hehehe.... ceritanya menarik mba... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak :D
      Sebagian besar kisah nyata :D

      Hapus
  2. Haha...idenya cemerlang. Pandai memanfaatkan kesempatan yang ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihihi... Iya, Mbak Lina. Tetiba kepikiran gitu buat dijadikan cerpen. Alhamdulillah bisa nambah saldo #eh :p

      Hapus
  3. Yanti keren.. idenya adaaa aja...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... Makasiiih, Mbak Dian. Belum keren ah si Yanti :D

      Hapus
  4. Yanti keren.. idenya adaaa aja...

    BalasHapus
  5. Yanti keren.. idenya adaaa aja...

    BalasHapus
  6. Kebayang adegan ceritanya di kepala nih. Seru dan kocak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixixi... Makasiiih, Kak Nia. Moga bisa nyusul dimuat di Gadis juga ya :D

      Hapus
  7. Wah, idenya unik ^^. Oia, Mbak kalau mau kirim Percikan ke Gadis emailnya apa ya?
    Thanks sebelumnya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. emailnya ini GADIS.Redaksi@feminagroup dot com

      Hapus
  8. kereen nih ceritanya dari sekedar obrolan ringan jadi cerpen.. :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, bisa dapat ide dari situ :D

      Hapus
  9. Malam, kak! Kalau berkenan, boleh tolong informasinya tentang syarat-syarat pengiriman cerpen ke majalah GADIS? Soalnya saya udah browsing, tapi kayaknya belum ada yang up to date. Terima kasih banyak, kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dilihat di majalah Gadisnya ya. emailnya GADIS.Redaksi@feminagroup dot com. Kalau cerpen 6-7 halaman :-)

      Hapus
  10. ceritanya keren, Mbak...
    oh iya, Mbak, saya udah ngirim percikan ke majalah Gadis, tapi kok gak bisa? Alamat emailnya apa ya, Mbak? Makasih sebelumnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. alamat emailnya ini GADIS.Redaksi@feminagroup dot com
      Suka mental kan ya? Dapat balasan kalau emailnya gagal. Saya juga gitu. Bingung juga. Pernah saya tanyakan ke twitter Gadis, kata mereka abaikan saja notif fail karena email semua masuk. Tapi entahlah, kok berasa ga yakin ya kalau kita dapat notif failed.

      Hapus
  11. Penuh dengan nama penulis yang kukenal :D Btw keren ih, idenya. Aku pengen banget nembus percikan, tapi blom kesampean.

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...