Sabtu, 28 November 2015

[Cerpen Bobo] Kue Istimewa

Dari cerita-cerita yang saya baca dan saya dengar, sepertinya saya paling suka cerita tentang meraih mimpi dan tentang manajemen waktu. Termasuk juga tentang bagaimana kita harus gigih meraih sesuatu. Mungkin karena …. Errr… saya pemalas! Ihiks.

Ini salah satu cerpen favorit saya karena isinya nonjok saya sendiri. Bahwa keahlian itu harus terus dilatih. Seseorang yang ahli tapi malas akan dikalahkan oleh mereka yang belum ahli tapi rajin. Seperti cerita Caca di bawah ini.

Happy Reading ^_^
Kue Istimewa
Oleh : Hairi Yanti
 Dimuat di Majalah Bobo Edisi 37, 18 Desember 2014


"Tadaaaa..." Caca membuka kotak yang dibawanya.
"Kue wortel istemewa bikinan Caca." Katanya sambil menyodorkan kotak itu ke arah mama dan papa. Keduanya langsung mengambil sepotong kue wortel.
Caca melihat mama mengunyah pelan kue wortelnya. Caca tersenyum menunggu komentar dari mama dan papa.
"Ini enak banget, Ca," seru Mama. Senyum Caca semakin melebar.
"Mirip sekali dengan kue wortel bikinan nenek," kata Papa. Caca tersenyum puas mendengarnya. Caca dan sepupunya Rara memang belajar bikin kue wortel dari nenek. Setelah beberapa kali membantu nenek membikin kue wortel sambil belajar, nenek menyuruh Caca dan Rara membikin sendiri.
Kue bikinan Caca mendapat pujian dari nenek. Sementara pada Rara, nenek bilang ada beberapa kekurangan di kue yang dibikin Rara.
"Masa sih mirip sama kue bikinan nenek? Aku mau nyicip." Tita sepupunya tiba- tiba muncul. Tita mengambil sepotong kue wortel. Matanya terbeliak setelah mengunyahnya pelan.
"Iya, Ca. Ini enak banget. Mirip dengan kue bikinan nenek." Caca tersenyum senang mendengarnya.
"Kamu sih nggak ikutan belajar bikin kue juga." Kata Caca. Caca, Tita dan Rara memang tiga cucu nenek yang usia mereka hampir sama.
"Aku lebih suka makan, Ca." Jawab Tita sambil tertawa. Caca juga ikut tertawa. Hari ini dia senang sekali bisa bikin kue yang enak. Lebih enak dari punya Rara.
"Caca, kapan kamu bikin kue lagi?" Pertanyaan Tita ini sering sekali didengar Caca. Semenjak Tita memakan kue yang dibikin Caca, Tita selalu bertanya dan bilang ingin mencicipi kue Tita.
"Nanti lah, Ta. Aku masih sibuk," elak Caca.
"Aku pengin banget makan kue bikinan kamu, Ca. Enak banget. Tapi kamu nggak pernah bikin lagi." Kata Tita lagi. Caca tertawa.
"Itulah namanya kue istimewa, Tita. Kalau tiap hari nanti nggak istemewa lagi." Kata Caca. Tita cemberut mendengarnya. Dia sudah sangat ingin menikmati kue wortel kesukaannya itu. Nenek sudah jarang sekali membuatnya. Nenek bilang sudah mengajari Caca dan Rara bikin kue itu. Nenek sudah tua dan suka cepat lelah kalau memasak.
            “Caca, ada perlombaan bikin kue. Caca mau ikut?” Mama bertanya pada Caca. Mama membawa selebaran berisi informasi perlombaan bikin kue. Ada lomba bikin kue untuk anak-anak di kelurahan.
            “Iya, Ma. Caca mau ikutan. Caca pasti menang. Kue bikinan Caca kan enak Ma,” kata Caca setelah membaca selebaran itu. Mama tersenyum mendengarnya.
            “Iya, kue bikinan Caca enak banget. Nanti mama belikan bahan-bahan buat Caca latihan bikin kue sebelum lomba, ya.”  Kening Caca berkerut mendengar perkataan mama.
            “Nggak, Ma. Caca nggak perlu latihan, kok. Caca masih ingat betul bagaimana cara bikin kuenya. Mama jangan khawatir, Caca pasti menang.” Caca meyakinkan mama.
            Hari yang dinanti pun tiba, perlombaan digelar di sebuah aula. Di sebelahnya ada Rara yang juga sedang sibuk bersiap-siap.
            “Halo, Rara. Ikutan juga?” Caca menyapa Rara. Rara tersenyum ke arah Caca.
            “Iya, Ca. Sayang sekali kalau nggak ikutan. Bisa nambah pengalaman ikutan lomba,” kata Rara dengan riang. Caca hanya tersenyum tipis. Dalam hati Caca bilang kalau Rara akan kalah dari dia. Dulu saja kue bikinan Rara tidak seenak dibandingkan dengan kue bikinan Caca.
            Perlombaan pun dimulai. Semua peserta sibuk dengan kocokan telur, tepung, margarien dan aneka bahan makanan lain. Sesekali Caca melirik ke arah Rara yang terlihat sangat serius.
Sejam kemudian, wangi kue-kue buatan peserta sudah mulai tercium. Satu per satu para peserta mengumpulkan kue bikinan mereka ke meja juri. Caca sempat kaget saat melihat Tita juga ikut dalam perlombaan.
“Aku tadi datang telat dan dapat tempat di belakang,” jelas Tita ketika Caca bertanya.
“Sejak kapan kamu bisa bikin kue?” Caca bertanya lagi dengan nada heran.
“Karena kamu nggak pernah bikinin aku kue wortel lagi, Ca. Jadi, aku belajar dari mamaku. Nenek pernah ngajarin mama,” jelas Tita. Pembicaraan mereka berhenti ketika MC mengatakan kalau pemenang lomba akan diumumkan. Wajah tegang terlihat di hampir semua peserta.
“Dan pemenang pertama untuk perlombaan kali ini adalah...” MC sengaja memberi jeda dalam kalimatnya. Kemudian berkata dengan suara lantang.
“Titaaa... Selamat buat Tita. Kue wortelnya enak sekali kata para juri.” Tita melompat senang mendengarnya. Caca terdiam di tempatnya. Wajahnya murung menyadari kue buatan Tita lebih enak dari yang dia bikin.
“Aku mencoba terus bikin kue wortel sampai bisa seenak bikinan Caca,” kata Tita. Sementara para juri memberikan penjelasan kenapa kue Caca tidak menang. Caca kebanyakan memasukkan gula. Caca lupa takaran gula yang benar karena tidak pernah berlatih bikin kue.

***

14 komentar:

  1. Bagus ceritanya Mbak Yanti. Caca malas sih ya... Hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas. Caca ga pernah latihan :-)

      Hapus
  2. Waah Mbak Yanti ini cerpennya dimuat melulu yaa di Bobo. Salut deh. Saya mah gak bisa bikin cerpen mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga dimuat mulu, Mb Nunung. Ini cerpen2 lama yg baru sy posting di sini. Ini malah udah nyaris setahun yg lalu dimuatnya :-)

      Hapus
  3. Apa judul cerpen terbarunya? Hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. BRD belum dikirim. WSK belum ditulis. Hihihi... Baru diceritakan idenya :p

      Hapus
  4. Caca malas dan terlalu PD ya hihihi sementara Tita mau berusaha. Keren mak, bikin jleb :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Yang malas akan dikalahkan oleh yang rajin :D

      Hapus
  5. Jadi semakin semangat nulis lihat Mba pamer karya terus...doakan saya nyusul. (bukan ke akhirat lho..itu nanti saja) hehe...

    tinggalkan jejak lagi.

    BW.= Kunjungi balik Mba. ayoberbagi-manfaat.blogspot.com dan jejakkukini.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha... Sy kan jg belum ke akherat, Mas :-)
      Aamiin... Semoga segera dimuat di Bobo. Sy jg semoga bisa rajin nulis resensi lagi spt Mas Saleh :-)

      Hapus
  6. Salit banget mba hairi cerpennya bermutu dan selalu menginspirasi

    BalasHapus
  7. Jadi kangen baca Bobo. Cerita anak-anak dengan pesan yang makjleb buat dewasa.

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...