Jumat, 27 November 2015

[Cerpen Bobo] Protes si Gula Manis

Konon katanya apa yang kita perjuangkan dengan susah payah kemudian berbuah akan terasa manis lebih dari yang lainnya. Dalam menulis cernak saya lebih suka menulis cerpen realis, yang bisa dikatakan cerpen dengan tokoh manusia. Jadiii… konfliknya bisa dilihat di sekeliling kita atau mengamati anak kecil atau konflik kita sendiri.

Kalau dongeng? Aduhaii… Itu susah. Makanya saat dapat tugas di grup PT untuk membuat dongeng saya pusiiiiing mikirin idenya. Salah satu clue yang diberikan para mentor kemarin adalah Gula. Maka kemudian sambil berpikir saya memandang toples gula di dapur seolah berkata pada gula, “Apa yang bisa aku tulis darimu, Gula?”

Setelah beberapa saat saya mendapat ide. Menjadikan gula dan teman-temannya bisa berbicara. Tentang gula yang merasa tak dianggap. Dan senang ketika mbak Eni (Shabrina WS) bilang suka dongeng saya ini. Hihihi… Tersipu dipuji penulis keren.

Happy Reading ^_^


Protes si Gula Manis
Oleh : Hairi Yanti
Dimuat di Majalah Bobo Edisi 04, Terbit 30 April 2015


Gula mendengus. Suara dengusan Gula terdengar nyaring. Penghuni dapur yang lain serentak menoleh pada Gula.

"Ada apa denganmu, Gula?" Tanya Kecap yang ada di dekat Gula. Kecap mengikuti arah tatapan Gula yang tertuju pada Dika. Dika sedang meminum Teh sampai habis.

"Aku pasti tidak disebut." Gula menghela nafas. Kecap dan teman-teman penghuni dapur yang lain mengerutkan kening. Belum mengerti apa maksud Gula.

"Teh ini enak sekali," terdengar suara Dika yang membuat wajah Gula semakin tertekuk mendengarnya.

"Benar kan, Teman-teman? Dika hanya menyebut Teh. Tidak menyebut Gula. Padahal Teh enak juga karena Gula,” keluh Gula. Teh dan teman-teman yang lain kaget mendengar penuturan Gula.

"Maafkan aku, Gula. Aku tidak bermaksud seperti itu." Teh berkata sambil menunduk. Ada perasaan bersalah dalam nada bicaranya. Gula lekas menggeleng. "Ini bukan salahmu, Teh," Gula berkata cepat. Gula tidak mungkin menyalahkan Teh. Gula hanya kecewa pada manusia.

Gula tahu kalau dirinya larut di air. Bentuk Gula sekarang padat. Tapi kalau dilarutkan di air dan diaduk, maka Gula akan menyatu dengan air. Sehingga Gula tidak lagi terlihat. Keberadaan Gula pun diabaikan.

"Seandainya aku tidak larut di air, adanya aku akan tetap menarik perhatian." Gumam Gula. Manusia jika menikmati rasa manis akan menyendok Gula dan memakannya langsung. Jadi, manusia akan sadar kalau Gula itu manis. Tidak diabaikan keberadaannya kemudian yang disebut cuma Teh atau Kopi. Sepanjang malam Gula terus berpikir seperti itu. Gula memohon pada Tuhan supaya dia tidak larut di air.

Pagi datang menjelang. Seluruh penghuni dapur tersenyum riang. Ibu Dika sedang menyiapkan sarapan. Penghuni dapur ingin memberikan yang terbaik agar sarapan terlezat bisa dinikmati hari itu. Tapi ada yang aneh saat ibu Dika membikin kopi untuk ayah.
"Kenapa, Bu?" Dika bertanya melihat ibunya yang terus-terusan mengaduk teh.

"Gulanya tidak larut, Dika." Ibu masih mengaduk kopi dengan wajah heran. Penghuni dapur langsung melirik ke arah Gula. Gula tersenyum sumringah. Permintaannya dikabulkan. Pagi ini Gula tidak larut di air.

"Tenang, Teman-teman. Jika ingin manis, mereka bisa menyendokku langsung dan memakannya," sahut Gula bangga. “Dengan begitu mereka akan tahu kalau aku penting.”

Penghuni dapur menunggu dengan deg-degan saat ayah Dika meminum kopi tanpa gula yang larut. Kening ayah Dika tampak mengernyit. Mimik ayah Dika tidak seperti biasa yang menyeruput Kopi dengan nikmat. Gula tetap berada di dasar gelas ketika ayah Dika meletakkan gelas Kopi dan berlalu dari dapur untuk berangkat ke kantor. Gula pun cemberut.

“Ayah Dika hanya belum terbiasa saja,” Gula berkata pada teman-temannya.

Sore datang kembali, saat Ibu Dika membikin teh untuk bercengkrama dengan keluarga. Kesibukan kembali terlihat di dapur rumah Dika. Gula tersenyum cerah. Penghuni dapur yang lain pun ikut bersemangat di sore hari. Siap mempersembahkan yang terbaik untuk santapan dan minuman.

Ibu Dika mengambil gelas dan mengambil Teh celup. Meletakkan Teh celup ke dalam gelas kemudian menuangkan air panas ke dalamnya. Gula tersenyum senang, bersiap diri untuk dicampurkan dengan Teh.

"Tehnya sudah siap." Suara ibu Dika mengagetkan penghuni dapur. Gula belum dimasukkan ke dalam Teh.

"Tehnya sore ini pakai Madu. Karena Gula hari ini tidak larut di air." Suara ibu Dika mengagetkan Gula. Gula baru ingat ada Madu yang bisa jadi pengganti sumber manis selain dirinya. Gula mendengus lagi, antara sebal tapi juga sedih.

“Tak masalah kalau kita tidak disebut, Gula.” Garam berkata lembut pada Gula.

“Aku juga jarang disebut manusia, padahal tanpa aku makanan jadi hambar. Walau tak terlihat dan jarang disebut, yang penting kita bermanfaat,” ujar Garam lagi.

Gula menatap Garam yang melempar senyuman manis pada Gula. Garam benar, Gula berujar dalam hati. Daripada aku tak disentuh sama sekali dan hanya berdiam diri lebih baik aku tetap larut di air dan menyenangkan Manusia yang mencicipiku. Kini Gula berdoa agar dia kembali bisa larut di air.
***



21 komentar:

  1. Halo Mbak Yantiiii. Saya mampir sini lagiii. Baguuus dongengnya. Mengingatkan saya akan masa kecil. Sukaaak!!! ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Mas Dani. Kalau dah mampir rugi kalau ga komen. Hahaha... Terima kasih sudah mampir ya, Mas :-)

      Hapus
  2. Selamat yaaa.. Coba ya kucari bobo edisi tersebut, kayaknya masih nyimpan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak Arin. Di Bobo terbaru juga ada cerpen saya :-)

      Hapus
  3. Dija sedang belajar membaca Tante
    masih terbata bata, belom lancar

    nanti cerpennya dija baca sambil belajar yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Dija... Semoga segera bisa membaca ya :-)

      Hapus
  4. walah, lama sekali saya nggak langganan majalah bobo...dulu jaman kecil suka sekali dengan majalah satu ini...ternyata masih eksis sampai sekarang ya...hehe...salam kenal, dan assalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh...izin follow blog nya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih sudah follow blog saya. Iya.. Bobo masih eksis sampai sekarang. Majalah yang masih bertahan dari dulu :-)

      Hapus
  5. Sederhana tapi mengena. Seperti tulisan saya beberapa waktu lalu tentang para pejuang sosial di tanah air. walau tak pernah dipuja atau dicela, mereka tetap bekerja. Cemerlang dalam diam, seperti gula ini. Memaniskan kopi namun tak pernah disebut. Ikhlas berdaya guna. Cocok untuk mengasah keikhlasan pada anak-anak, Mbak. Terima kasih. Super!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Pak. Benar.. Ada orang2 yang cemerlang dalam diam. Mereka bekerja malah terkadang yang mendapat pujian bukan mereka tapi mereka tetap memberikan yg terbaik :-)

      Hapus
  6. Luar biasa. Idenya itu realis, walaupun dongeng. Orang memang menyebut teh manis, bukan teh gula. Terima kasih ilmu dari cernak ini, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga, Mbak Kayla. Iya ya. Ga ada yang nyebut teh gula. Pukpuk gula. Hehehe..

      Hapus
  7. Mba Yantiii...superb! Kreatif sekali dirimu :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih, Mbak Rotun. Alhamdulillah... Puji dan syukur hanya untuk Allah :D

      Hapus
  8. Super, Mbak Hairi. Terima kasih sudah berbagi tulisan yang bagus. Saya masih tertatih menulis cernak. Izin menimba ilmu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2, Mbak Leli. Sy juga masih belajar terus.. Menimba ilmu terus... :-)

      Hapus
  9. Bagus Mba. Edukasinya dapet

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... Makasiih, Mb Dewi :-)

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...