Senin, 30 November 2015

[Resensi] Memanfaatkan Waktu yang Tak Akan Kembali

            Priceless Moment adalah salah satu novel terbaik yang saya baca di tahun 2014. Novel yang bikin saya nangis Bombay. Saya sungguh suka bagaimana Prisca Primasari menulis di novel ini. Novel ini bahkan sudah menarik perhatian saya pada kalimat awal pembukanya.

Pada masa berkabung, hanya beberapa jam setelah Esther meninggal, Yanuar memahami bahwa akan ada saat dia harus memasak sendiri untuk Hafsha dan Feru.

Alhamdulillah, resensi saya untuk novel ini dimuat di Koran Jakarta pada tanggal 8 September 2014. Berikut resensinya.

Happy Reading ^_^

Memanfaatkan Waktu Yang Tak Akan Kembali
Oleh : Hairi Yanti

Seorang ayah selalu ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya termasuk yang utama adalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya. Sebagai tulang punggung keluarga, sering para ayah tidak menyadari, kalau kesibukannya mencari nafkah sampai tidak mengenal waktu justru merenggut waktu mereka bersama keluarga. Hal itulah yang dialami Yanuar. Ayah dari dua anak Hafsha dan Feru.


Di tengah masa berkabung saat kehilangan istrinya, Esther, Yanuar harus bangkit untuk menjalani kehidupan demi kedua anaknya. Sejak beberapa jam setelah istrinya meninggal, Yanuar tahu kalau akan ada saatnya dia harus memasak untuk kedua anaknya. Tapi, hingga dua minggu selepas kepergian istrinya, Yanuar belum juga melakukannya.

Memasak ikan goreng tepung itu bukan masalah besar buat Yanuar, dia tinggal mesontek dari buku resep. Namun yang tak tertahankan adalah perasaan bahwa Yanuar harus mengakui bahwa istrinya benar-benar telah pergi, bahwa masakan Esther tidak akan pernah ada lagi, bahwa Yanuar kini seorang diri. Yanuar harus berhenti menganggap Esther hanya berlibur ke tempat yang jauh. (Halaman 2)

Hal yang kemudian membuat Yanuar bertambah sepi dan terluka saat dia menyadari kalau dia tidak terlalu dekat dengan anak-anaknya. Seolah ada jarak yang jauh antara dia dengan Hafsha dan Feru. Yanuar salah menggunakan tepung saat memasak salmon, Yanuar juga tidak bisa membacakan dongeng sebelum tidur. Hafsha dan Feru malah merindukan kehadiran Wira, adik Yanuar, untuk bermain bersama mereka.

Yanuar tidak ingin menyerah. Dia ingin berjuang untuk menebus waktu yang pernah terlewat membersamai anak-anaknya tumbuh besar. Yanuar berusaha menjadi ayah yang baik. Pulang lebih awal dari biasanya dan ingin selalu ada bersama anak-anaknya. Perubahan tidak serta merta terjadi. Seorang Yanuar tidak biasa untuk meninggalkan pekerjaan kantor atau pun meminta izin kepada atasan untuk menemani dan membersamai anak-anaknya. Waktu berjalan semakin cepat, dan Yanuar tidak berani menduga-duga apa jadinya jika dia tidak terlibat dalam rentang waktu antara anak-anaknya kecil dan anak-anaknya dewasa. (Halaman 88)

Di awal usahanya mendekatkan diri dengan anak-anak Yanuar sering kebingungan. Bahkan untuk memulai obrolan dengan anak-anaknya saja, Yanuar tidak tahu bagaimana cara memulainya. Seiring berjalan waktu, Yanuar mulai memahami bahwa dia tidak harus memulai, karena anak-anaklah yang sering kali mengangkat topik-topik menarik, seperti, “Kenapa langit biru, Papa?”, “Apa ada awan yang warna pink, Papa?”, “Kutub Utara itu di mana, Papa?” (Halaman 133)

Saat Yanuar sudah dekat dan akrab dengan anak-anaknya, Yanuar diliputi perasaan bersalah, karena dia baru dekat dengan anak-anaknya saat istrinya sudah tiada. Yanuar baru menyadari betapa bahagianya berada di tengah keluarga. Yanuar berkata dalam hatinya, “Mengapa selalu harus ada yang dikorbankan, atau berkorban, agar seseorang menyadari betapa berharganya hal-hal yang mereka miliki? (Halaman 157)

Sebagai seorang pria dewasa, Yanuar juga mulai memperhatikan sosok wanita lain. Karyawan baru di kantornya, Lieselotte, menarik perhatiannya. Urusan mencintai bagi Yanuar kini bukan sesuatu yang mudah. Kalaupun dia bisa bersama Lieselotte, Yanuar tidak yakin bisa menyingkirkan bayang-bayang mendiang istrinya. Belum lagi kedua anaknya harus beradaptasi dengan kehadiran orang baru, yang pasti membutuhkan banyak waktu. (Halaman 186)

Saat Lieselotte resign dari kantornya, Yanuar pun merasa gamang. Antara ingin mempertahankan gadis cantik itu atau tidak memedulikannya. Yanuar merasa takut menghadapi yang namanya perpisahan, karena perpisahan dengan istrinya sudah begitu membuat dia terluka. Begitupun saat putrinya, Hafsha, diajak mertuanya untuk ke San Fransisco, menunaikan wasiat mendiang istrinya agar Hafsha bisa bersekolah di San Fransisco.

Waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dikembalikan. Anak-anak tumbuh dewasa dan pada saatnya mereka akan hidup mandiri tidak lagi tergantung dengan orangtuanya. Priceless Moment mengajarkan pada kita bahwa uang bukan segalanya bagi seorang anak. Mereka ingin besar dan tumbuh dengan perhatian juga keberadaan orang tua mereka. Membangun kedekatan dan hubungan yang harmonis antara orangtua dan anak di sela kesibukan bukan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Dikemas dalam sebuah cerita yang manis dan mengharukan, jalinan cerita di dalamnya tak hanya menyuguhkan kisah yang romantis tapi juga penuh makna.

***
Data Buku :
Judul               : Priceless Moment
Penulis             : Prisca Primasari
Penyunting      : Yulliya Febria
Penerbit           : GagasMedia
Tebal Buku      : 298 + vi Halaman
ISBN               : 979-780-738-x

Tahun Terbit    : Cetakan Pertama, 2014

9 komentar:

  1. ceritanya menarik, tapi bakalan nangis membacanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa.. Sy nangis bombay bacanya :(

      Hapus
  2. Huiiii.. Bagus premis bukunya Mbak. Makasih ya susha dishare resensinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2, Mas Dani. Ini karya Prisca yg paling saya suka :-)

      Hapus
  3. Dimana posisi novelnya.. Nanya dulu aja sih.. :D

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Udah lama nggak kirim resensi ke Korjak. Kangen, kangen honornya,ups.
    Resensimu selalu keren Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun, Mbak. Kangeeen banget sama honornya. Hehehee.... Udah setahun lebih ga dimuat di Korjak lagi. Hiks.
      Aih, Makasiih, Mbak :-)

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...