Jumat, 22 Januari 2016

Tentang Film Ketika Mas Gagah Pergi (Bukan Review)

Bulan berganti bulan, sesuatu yang dulunya menjadi mimpi bisa jadi telah berubah menjadi kenyataan. Seperti sebuah film yang dulu diharapkan kehadirannya kini telah tayang di bioskop-bioskop tanah air. Film yang berjudul Ketika Mas Gagah Pergi.
Sumber : www.ummi-online.com

Saya masih ingat saat dulu Mbak Helvy Tiana Rosa selaku penulis cerpen Ketika Mas Gagah Pergi mengadakan acara di Balikpapan. Saya ogah datang. Saya enggan untuk berhadir. Karena saya tak pernah merasa ingin dan perlu untuk mendukung film Ketika Mas Gagah Pergi.


Banyak hal yang berkecamuk dalam pemikiran saya saat mendengar adanya penggalangan dana untuk film tersebut. Seperti dari sekian banyak karya islami mengapa Mas Gagah yang diperjuangkan difilmkan sampai harus menggalang dana? Lebih banyak mana manfaat atau mudharatnya dengan memperjuangkan Mas Gagah sampai harus menggalang dana?

Apa tidak ada kegiatan dakwah lain yang bisa dilakukan dengan dana tersebut? Bikin sekolah kek, membuka lapangan pekerjaan kek. Kenapa uang bermilyar-milyar harus dikumpulkan hanya untuk sebuah film? Demikian berambisikah penulisnya untuk memfilmkan Mas Gagah hingga harus menggalang dana? Apa ingin seperti adek beliau yang karyanya difilmkan, tapi berhubung tidak ada yang berminat memfilmkan jadi harus digalang dana? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang memenuhi pikiran saya.

Jadinya, jangankan untuk mendukung film tersebut, untuk datang ke acaranya saja saya malas tak terkira. Ketika pertanyaan-pertanyaan itu saya tuturkan di salah satu grup WA yang saya ikuti dan kemudian teman-teman memberikan masukan apa saya harus datang atau tidak, dan ketika saya datang teman-teman pun mengatakan saya mendapatkan hidayah. Hahaaha….
Kemudian bagaimana saat saya datang?

Saya menyimak penuturan Mbak HTR tentang impian beliau tentang film tersebut. Patungan buat KMGP bukan karena tidak ada PH yang tidak mau memfilmkan KMGP. Bahkan untuk saat itu, sudah ada tujuh PH yang melamar KMGP, juga ada seorang sutradara ternama yang ingin menyutradai KMGP. Tapi semuanya ditolak Mbak Helvy. Itu semua disebabkan karena ada idealisme-idealisme yang ingin dipertahankan Mbak Helvy. Jika film Mas Gagah ditangani oleh PH-PH tersebut, Mbak Helvy takut kalau idealisme itu meluntur. Ada hal-hal prinsipil yang akan berbenturan dengan keinginan dan kepentingan pihak lain.

Mbak Helvy juga bercerita beliau menangis saat menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Suami beliau bertanya, apa Mbak Helvy sebegitu terharunya sampai terisak? Mbak Helvy menjawab bukan. Mbak Helvy bilang membayangkan betapa sedihnya seandainya Buya Hamka duduk menonton film yang diangkat dari novel yang beliau tulis,. Buya Hamka seorang ulama besar dan kita lihat bagaimana filmnya? Oh bahkan tokoh wanita di sana menggunakan tank top.
Mbak Helvy sedih sekali melihatnya dan hal itu tidak ingin mbah Helvy alami. Karena mbak Helvy masih hidup, maka beliau tidak ingin sedih melihat film dari cerita yang beliau tulis. Mbak Helvy ingin mengawal film Mas Gagah agar bisa benar-benar sesuai idealisme beliau dan memperkenalkan pada dunia bahwa seperti itulah film islami yang sesungguhnya. Hal itu hanya bisa dicapai jika didanai dengan dana sendiri. Hingga kita tidak tunduk pada industri yang membuat idealisme meluntur.

Lalu, bagaimana setelah film itu berhasil difilmkan dan ditayangkan di bioskop-bioskop tanah air?

Yuk, kita tonton film tersebut. Sudah mulai tayang pada 21 Januari 2016 kemarin. Mumpung besok weekend ayo menjawab rasa penasaran terhadap film yang islami. Sebelumnya mari lihat trailer dari film tersebut.

20 komentar:

  1. Yuk kita pesan tiket dan kopinya..

    BalasHapus
  2. musti dijadwalkan ni nonton pilem ini, terimakasih sharingnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Semoga udah nonton filmnya :-)

      Hapus
  3. wahh, tayangnya sejak kemarin yah Mbak :)
    mudah-mudahan bisa nonton kebetulan di daerah saya baru ada bioskopnya, hehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Irawati. Sudah nonton ga, Mbak?

      Hapus
  4. iya mak.. bener, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck failed banget.. sempet liat trailer aktingnya.. hadeeeeuhhhh sinetron pisan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Settingnya juga ga terlihat seperti zaman dulu, Mbak. Mewah banget...

      Hapus
  5. Novelnya dulu sukses bikin nangis, jaman masih SMA skrg udah tua..haha
    Semoga filmnya sekeren novelnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Saya lupa2 ingat sama cerpennya, Mbak. Udah beli bukunya tapi belum baca :D

      Hapus
  6. pingin nonton, soalnya dulu novelnya aku baca

    BalasHapus
  7. Masyaallah keren sekali.. idealisme memang prinsip yang harus dipegang teguh, salut bisa bikin film pakai artis top tapi dengan dana sendiri :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. artis topnya jadi cameo aja, Mbak. Iya. Salut dengan perjuangannya mbak HTR dan rekan2 :D

      Hapus
  8. Memang layak diacungi jempol Mbak Bunda Helvy. Saya mendukung idealismenya. Semoga bisa bikin film yang bagus lagi dan lagi setelah KMGP.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menanti KMGP 2 ya pak. Bukan rahasia lagi endingnya. Hehehe... Saya batal ikut lombanya. Hiks.

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...