Sabtu, 06 Februari 2016

[Cerpen Bobo] Gara-gara Papa

            Pertengahan minggu kemarin, saya mendapatkan sebuah kabar lara. Sebuah kabar yang membuat semua rencana berubah. Sehingga saya harus menempuh sebuah perjalanan dadakan dan sendirian. Itulah pertama kalinya saya menginap di sebuah hotel sendirian, pun pergi ke bandara sendirian.

Selama ini naik pesawat sendiri sih udah sering, tapi ke bandaranya selalu diantar. Bagi orang lain mungkin hal itu sudah biasa di usia seperti saya. Tapi, bagi saya itu adalah pengalaman pertama. Hehehe….
Suka ilustrasinya ^^
            Segala rencana yang berubah itu mengingatkan saya pada cerpen saya yang judulnya Gara-gara Papa. Cerpen tersebut sudah dimuat di Majalah Bobo. Di sana saya juga menyelipkan pesan tentang sesuatu yang kita inginkan terjadi tapi tidak terjadi bisa jadi itu adalah kondisi terbaik untuk kita. Seperti yang difirmankan olehNya :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

            Cerita di balik layar cerpen tersebut bisa dibaca di sini. Untuk merayakan pengalaman pertama saya itu, maka saya posting cerpen Gara-gara Papa. Happy Reading ^_^

 Dimuat di Majalah Bobo Edisi 32 Terbit 12 Novembe 2015

Gara-gara Papa
Oleh : Hairi Yanti

            Hari sudah malam tapi Maya belum bisa tidur. Maya terus membayangkan esok hari. Maya beserta papa dan mama akan mengunjungi rumah beruang madu. Beruang madu adalah maskot kota tempat Maya tinggal. Maya tinggal di Balikpapan.

            “Beruang madu itu seperti Winnie the Pooh, Ma?” Maya bertanya lagi pada mama. Maya ingat kalau Winnie the Pooh itu beruang madu yang suka makan madu.

            “Beruang madu kan banyak gambarnya, Maya. Yang seperti itu nantinya ada di KWPLH itu.” Maya mengangguk-angguk. Di Balikpapan memang sering sekali ada gambar beruang madu. Tapi maya belum pernah melihatnya secara langsung.

KWPLH itu singkatan dari Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup. Letaknya ada di kilo 23, jalan ke arah Samarinda. Maya akan berlibur ke sana besok dengan papa dan mama. Maya sudah tak sabar menanti hari esok tiba. Apalagi kata Tika yang sudah pernah ke sana, udara di sana segar sekali. Banyak pepohonan hijau di sekitarnya. Juga ada rumah kucing. Maya tambah bersemangat ingin ke sana.

“Apa kamera sudah diisi baterainya, Ma?” Maya muncul lagi di hadapan mama. Maya ingin memotret beruang madu besok.

“Sudah, Maya. Ayo cepat tidur, jadi besok segar dan enggak ngantuk.” Maya mengangguk. Dia pun ke kamar, berdoa dan tidur.

Esok harinya Maya bangun dengan semangat. Hari ini adalah hari yang dinanti Maya sejak lama. Kata papa mereka akan berangkat sekitar jam 8 pagi. Beruang madu akan diberi makan jam 9 pagi dan jam tiga sore. Ketika proses diberi makan itu bisa membuat para pengunjung melihat beruang madu keluar dari tempat persembunyiannya untuk makan.

Maya sudah siap untuk sarapan. Tapi hanya mama yang menyuguhkan nasi goreng di ruang makan.

“Papa sudah sarapan, Ma?” Maya menyendok nasi goreng dan menyuapnya. Tidak ada jawaban dari mama. Maya melirik mama yang sedang mencuci piring. Mungkin mama membereskan dapur dulu sebelum mereka berangkat.

“Papa sudah siap, Ma? Kita berangkat jam 8, kan?” Kata Maya lagi setelah menyelesaikan sarapannya. Mama duduk di samping Maya.

“Maya, ke rumah beruang madunya kita tunda, ya.” Mama berkata sambil mengelus rambut Maya. Maya kaget mendengarnya.

“Kenapa ditunda, Ma?’Maya langsung bertanya.

“Papa ada operasi penting. Kan tugas Papa menolong pasien, May. Ini kondisi darurat. Kalau enggak segera dioperasi, pasiennya bisa bahaya. Jadi, Papa minta maaf ke Maya…” Maya sudah tidak mendengarkan mama lagi. Maya berlari menuju kamarnya, langsung berbaring di tempat tidurnya dan menangis.

Maya tahu tugas papa sebagai dokter adalah menolong pasien. Tapi rencana liburan ini sudah sangat dinantikan maya. Tadi malam Maya sampai bermimpi bertemu beruang madu saking penginnya pergi ke sana. Gara-gara papa rencananya harus batal.

“Kita ke sana minggu depan ya, May.” Mama sudah duduk di sisi tempat tidur Maya.

“Kita doakan semoga operasi papa berhasil.” Mama menepuk pundak Maya. Maya mendengar langkah kaki mama yang keluar dari kamar Maya. Maya tetap menggerutu kesal. Minggu depan kan 7 hari lagi, itu masih lama. Maya ingin bilang ke mama kalau mereka bisa berangkat sore hari nanti. Tapi Maya tahu setelah operasi papa pasti butuh istirahat. Apalagi besok senin papa juga akan kembali bekerja. Maya kembali menangis dan kemudian tertidur.

“Mayaaa…” Suara teriakan Mama membuat Maya terbangun. Maya mengucek matanya dan melihat ke arah jendela. Di luar hujan deras sekali. Maya mendengar lagi suara mama memanggilnya. Dia bergegas menemui Mama.

“Gentengnya bocor, May. Selamatkan buku-buku kamu. Nanti basah.” Mata Maya terbeliak melihat tetes-tetes air di sekitar lemari bukunya. Mama menaruh ember dengan handuk di dalamnya untuk menampung tetes-tetes air hujan yang bocor. Maya segera meraih buku-bukunya. Bolak balik memindahkan buku-bukunya ke dalam kamar.

Hujan masih turun dengan deras. Maya sudah selesai memindahkan buku-bukunya ke dalam kamar. Tempias air hujan membasahi lemari buku Maya. Mama menaruh handuk juga di sekitar lemari. Agar lemari tidak rusak kena air. Maya memandangi tetes-tetes air yang jatuh ke ember sambil memikirkan kejadian hari ini.

Gara-gara papa ada operasi, mereka batal pergi ke rumah beruang madu. Jadi, Maya bisa menyelematkan buku-bukunya karena genteng yang bocor. Maya tidak bisa membayangkan kalau buku-buku kesayangannya basah kena air.

Saat papa pulang, Maya menyambut papa dengan senyum. Maya juga membikin teh hangat buat papa.

“Biar Papa tetap sehat jadi minggu depan kita bisa ke rumah beruang madu.” Papa berterimakasih pada Maya. Maya tersenyum, dia juga berterimakasih pada papa.
***

26 komentar:

  1. saya senang dengan pesan moral dari ceritanya, memang benar kadang yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan dan sebaliknya seperti dalam cerita ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiiih, Mb Meutia. Iyaa. Ini mengingatkan diri saya sendiri pesannya :-)

      Hapus
  2. Menulis cerita anak memang ga gampang ya Mbak. saya perhatikan bahasa dan pesannya bagus. Saya pernah nulis untuk media lokal, dan sukses ditolak. Ikut lomba cerpen bobo juga pernah tp nihil hehe...enak baca aja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya belum pernah ikut lomba cerpen Bobo, Pak :D
      Iya, Pak. Kadang emang susah. Apalagi kalau lama ga nulis... Susah banget. Tapi bukan berarti tidak bisa :-)

      Hapus
  3. Di tempat say sudah jarang ad majalah Bobo, jadi kepikiran langganan majalah bObo buat si kecil.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... Tinggal di mana, Mbak? Saya tinggal di kota kecamatan jg susah dapat Bobo. Harus ke Balikpapan dulu :(

      Hapus
  4. Moga gak terulang yg seperti awal cerita itu ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa.... Aamiin.. Ga enak ah sendirian :D

      Hapus
  5. Sigkat, tapi pesannya kena banget, ya? ^^

    BalasHapus
  6. Ceritanya bagus, tidak bertele-tele dan lugas, juga mengandung pesan moral yang bermanfaat sebagai pelajaran kita semua. Majalah Bobo itu sudah lama banget, dulu majalah kesukaan saya waktu kecil, sampai punya koleksi banyak.
    Terima kasih yah,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sama. Saya juga suka dari kecil. Tapi waktu kecil ga leluasa membelinya. Harus hemat :-)

      Hapus
  7. selamat saay, pengen jajal lagi nulis cerpen, kirim ke majalah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh saingan berat nih kalau mb Dedew kirim ke Bobo. Hehehe... Makasiiih, Mb Dedew :-)

      Hapus
  8. anak2 cepet banget ya, baru merajuk eh udah baik semenit berikutnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi kalau Maya di atas kan merajuknya setelah bobo siang, Tante ;-)

      Hapus
  9. Balasan
    1. Kangen dapat ide lagi, Teh. Hihihi

      Hapus
  10. Membaca cerpen mba hairi selalu enak. Jangan anak2 mak2nya aja suka..
    Karakter maya di sini kuat sekali.. suka..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiiiih, Mbak Ira. Semoga anak2 suka sama cerpen sy. Iyaa.. Pengalaman Maya mirip pengalaman saya dulu :-) tapi abah sy bukan dokter. Hehehe...

      Hapus
  11. Lama, nggak baca cerita anak mbak. Suka banget sama pesan penutupnya, meskipun serius susah banget nerapinnya. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya mbak. Kadang perlu waktu yang lamaaaa buat kita mengambil hikmah dari satu kejadian ya :-)

      Hapus
    2. Iya ya mbak. Kadang perlu waktu yang lamaaaa buat kita mengambil hikmah dari satu kejadian ya :-)

      Hapus
  12. Hehehehe kaget namanya sama ;) aku sukaaaaa banget cerpen bobo! Thank u mbak cerpenmu jadi tmn menunggu pesawatku nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... Namanya sama ya mbak Maya. Makasiiih, Mbak. Semoga lancar perjalanannya. Eh udah mendarat ya?

      Hapus
  13. Keren loh, aku pinjam cernaknya buat contoh belajar

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...