Rabu, 23 Maret 2016

[Cerpen Bobo] Pisang Gapit

Saya penyuka ayam penyet. Ayam yang dipenyet kemudian ada sambal bawang putih yang melumuri ayam. Wuiih… Itu enak sekali. Ayam penyet favorit saya itu ayam penyet  Wong Solo. Wakakakaka… Sebut merek :p

Ayam penyet WS itu enaaak banget. Bumbunya meresap, ada bagian krispinya juga dan sambal bawang putihnya itu, lho. Nendang banget. Jadi, saat menulis cerpen dan menyebut ayam penyet, saya ngebayangin ayam penyet WS.

Cerita dibalik layar cerpen Pisang Gapit ada di sini. Cerpen ini dimuat di Majalah Bobo No. 41 Tahun XLIII Terbit 14 Januari 2016. Happy Reading ^_^
 
Pisang Gapit
Oleh : Hairi Yanti

“Enak banget.” Ayah mengacungkan jempolnya kepada Vika. Tangan ayah masih belepotan nasi dan sambal. Sementara mulut ayah terus mengunyah.
“Ayah ini di Balikpapan atau Surabaya makannya selalu ayam penyet.” Mama berkata. Vika mengangguk setuju. Setiap mereka makan di luar ayah selalu memesan ayam penyet kalau ada menu ayam penyet. Mama juga sering membikin ayam penyet di rumah.
Padahal ayam penyet itu pedas. Vika pernah mencoba mencicipi ayam penyet kegemaran ayah. Mulut Vika serasa terbakar karena pedas. Vika minum banyak air buat menghilangkan pedas di mulutnya. Vika lebih suka makan ayam bakar dengan kecap. Manis dan enak.
Vika juga suka ayam goreng seperti yang dimakan ayah. Tapi tidak dipenyet dan dikasih sambal di atasnya. Ayam penyet ayah itu sama dengan ayam goreng yang dimakan Vika. Tapi, ayam goreng ayah dipenyet dan dikasih sambal di atasnya. Rasanya pedas sekali.
“Ma, apa yang dipenyet itu selalu pedas?” Vika bertanya. Vika ingin makan sesuatu yang dipenyet tapi manis. Vika ingat mamanya juga pernah bikin tempe penyet. Rasanya sama, pedas sekali. Untunglah mama memisahkan tempe tanpa dipenyet untuk Vika.
“Ada kok yang dipenyet tapi enggak pedas. Malah manis sekali.” Mata Vika berbinar mendengar jawaban mama.
 “Namanya pisang gapit, Vika. Vika mau nyoba?” Vika mengangguk.
“Di mana Vika bisa makan itu, Ma?” Mama mengedipkan mata ke Vika.
“Besok kita ke sana.” Vika bersorak senang. Tak sabar menunggu hari esok tiba.
Esoknya, Vika dan mama naik motor ke suatu tempat. Melewati jalanan Balikpapan yang bersih dan rapi. Suasana juga terasa segar karena sehabis hujan. Di kiri kanan jalan raya Balikpapan banyak pohon-pohon. Vika senang melihatnya.
Motor mama berhenti di satu warung. Di depan warung ada nenek yang membakar sesuatu. Seperti bakaran ikan, tapi bukan ikan yang dibakar. Yang dibakar adalah pisang. Vika turun dari motor dan mendekat ke arah nenek itu.
Pisang berjejer di atas tempat pembakaran. Pisang itu terlihat gepeng. Bukan bulat seperti pisang yang biasa Vika makan.
“Kenapa pisangnya gepeng gitu, Ma?” Vika bertanya. Matanya masih memandangi pisang yang sedang dibakar.
“Pisangnya digapit dulu, Vika. Jadi gepeng deh.” Mama menjawab rasa penasara Vika.
Digapit, Ma?” Vika bingung dengan arti gapit.
“Iya, Vika. Digapit itu artinya dijepit atau bisa juga dipenyet. Tuh lihat alat buat menggapit pisang.” Mama menunjuk satu alat di samping tempat bakaran. Alat itu terbuat dari kayu. Bentuknya persegi panjang. Ada pegangan diujungnya.
Vika melihat nenek yang membakar pisang tadi mengupas pisang. Alat penggapit pisang dibuka bagian atasnya. Pisang ditaruh di bagian tengah.
Puk!
Pisang pun dijepit. Setelah itu alat penjepit tadi dibuka. Vika melihat pisang sudah berbentuk gepeng. Pisang kemudian ditaruh di atas alat pembakaran.
Pisang dibalik-balik agar matangnya sempurna. Setelah selesai pisang ditaruh di atas piring. Kemudian disiram dengan cairan berwarna coklat. Kata mama cairan itu dari gula merah dan juga santan. Vika dan mama langsung duduk buat menikmati pisang gapit.
“Hemm, enak banget, Ma,” kata Vika setelah meneguk suapan pertama pisang gapitnya.
“Mirip kolak enggak?” Mama bertanya. Vika berpikir sebentar kemudian menggeleng.
“Rasa pisang yang dibakarnya yang bikin beda dengan kolak, Ma,” jawab Vika.
“Benar, Vika. Apalagi dibakar di atas arang. Rasanya jadi khas sekali.” Vika mengangguk membenarkan. Kemudian kembali menikmati pisang gapitnya sampai habis.
 Ternyata Pisang Gapit itu makanan khas Balikpapan. Vika dan keluarga memang baru pindah ke Balikpapan satu bulan ini. Kata mama, di Balikpapan memang banyak yang jual pisang gapit. Salah satunya di Kebun Sayur tempat yang mereka datangi saat ini.
Mama juga membeli pisang gapit untuk dibawa pulang ke rumah.
“Buat ayah,” ujar mama saat Vika bertanya. Vika mengacungkan jempolnya. Ayah harus tahu kalau ada makanan yang dipenyet tapi tidak pedas. Seperti pisang gapit ini.

***

8 komentar:

  1. Aku juga suka pisang bakarrr

    BalasHapus
  2. Lama juga ya kita gak makan pisang gapit.. #kodekeras..;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha.... kode diterima. Lama juga ya ga ke Haur Gading #kodekerasjuga ;-)

      Hapus
  3. Lama juga ya kita gak makan pisang gapit.. #kodekeras..;)

    BalasHapus
  4. unikunik idenya mba yanti, kereen. pantes dimuat wae ^^
    *masih nyari ide muluk ini mau bikin hihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sambil cari ide, sambil bikin, Mbak Tin :D

      Hapus
  5. suka pisang gapit tapi males sih kalau dikasih santan :D

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...