Sabtu, 09 April 2016

Ira Guslina dan Keputusan Menepi Dari Dunia Kerja



Hidup adalah rangkaian memilih pilihan demi pilihan. Dari pilihan kecil hingga besar. Sarapan pagi saja kita memilih, mau nasi kuning, nasi uduk, bubur ayam, atau sarapan sehat buah ala food combining. Pilihan dalam hal yang lebih besar? Tentu saja ada. Memilih menerima atau tidak sebuah lamaran untuk menikah misalkan, ini termasuk pilihan yang besar karena akan ada kehidupan baru yang akan kita hadapi setelahnya. Termasuk pilihan besar adalah memilih menepi dari dunia kerja oleh seorang ibu pekerja seperti Ira Guslina, selanjutnya saya panggil beliau Mbak Ira.

Menepi dari dunia kerja, itulah istilah Mbak Ira karena beliau sendiri belum putus hubungan sepenuhnya dengan tempat beliau bekerja. Status beliau sekarang adalah pegawai non aktif. Non aktif karena mengambil cuti di luar tanggungan selama dua tahun. Cuti di luar tanggungan ini beda tipis dengan resign karena sudah tidak terikat apa-apa lagi dengan kantor. Tidak dapat gaji dan fasilitas apapun.


Bedanya dengan resign, bila masa cuti dua tahun berakhir bisa masuk kembali tanpa proses seleksi dan penerimaan ulang. Namun, setelah melewati masa-masa di rumah bersama anak-anak, resign buat seorang Mbak Ira tinggal menunggu waktu saja.

            Saat masih bekerja dalam mengasuh anak-anak, Mbak Ira dibantu oleh pengasuh yang bekerja dari pagi sampai Mbak Ira atau suami pulang kerja. Pekerjaan Mbak Ira sendiri dulu normalnya dari pukul 10 pagi sampai 6 sore. Tapi kenyataannya sering over time apalagi ditambah dengan kemacetan Jakarta yang merajalela sehingga baru sampai di rumah pukul 8 atau 9 malam. Suami Mbak Ira juga punya beban pekerjaan yang 11 12 dengan Mbak Ira. Dengan load pekerjaan yang tinggi itu, otomatis waktu bersama anak-anak hanya sebentar. Paling lama hanya selama dua jam di malam hari karena sebelum bekerja sudah sibuk dengan beragam hal seperti beberes, masak, dan bersiap-siap untuk berangkat ngantor.

Tidak ada masalah dengan pertumbuhan Bintang, sulung dari Mbak Ira. Tapi Mbak Ira dan suami merasa ada yang kurang. Semakin sering mengikuti seminar, membaca, dan berdiskusi tentang tumbuh kembang, semakin Mbak Ira merasa bersalah pada Bintang. Beberapa hal itu juga membuat beliau semakin yakin bahwa jika ingin memberikan yang terbaik, berikanlah yang terbaik.

Kegalauan Mbak Ira semakin menjadi karena Mbak Ira tidak punya keluarga di Jakarta. Keluarga Mbak Ira dan suami semuanya ada di Padang. Jadi, sehari-hari Bintang hanya bersama pengasuh. Mbak Ira mengakui, kalau mungkin kegalauan yang ia alami akan berbeda jika ada saudara / nenek / kakek ada yang membantu ‘melihat’ anak-anak saat beliau bekerja walaupun anak tetap diasuh oleh pengasuh.

            Untuk meninggalkan dunia kerja, menurut Mbak Ira tantangannya ada dua, yaitu ekonomi dan eksistensi. Sebelum memutuskan sebuah keputusan besar itu, dua hal ini harus dikhatamkan dulu di hati masing-masing.
  1. Ekonomi
Dalam hal ini harus dihitung berapa pengeluaran yang harus dikeluarkan ketika harus bekerja atau stay at home mom. Kalau bekerja biaya buat pengasuh, buat playgroup, dan lain-lain. Ditambah lagi dengan perhitungan biaya buat transportasi dan akomadasi sang ibu kala bekerja. Kalau hasilnya impas, pertanyaannya lalu mengapa memilih bekerja. Apa yang dicari? (Setiap orang pasti punya jawaban sendiri-sendiri)

Sedangkan kalau hasilnya ternyata lebih untung bekerja dan masih ada sisa, coba pikir lanjutannya. Bila diasuh seorang pengasuh apakah anak akan mendapatkan stimulasi yang tepat untuk merangsang kecerdasannya. Kalau ternyata tidak maka kelak ibu akan keluar biaya buat les ini dan itu, ataupun kursus bidang studi ini dan itu. Bandingkan bila ada ibu di rumah yang bisa membimbingnya.

Tentu saja untuk poin ekonomi itu setiap orang punya pertimbangan yang berbeda-beda, seperti ada keluarga yang ekonominya baru bisa ditalang bersama suami dan istri. Hal ini pembahasannya beda lagi. Dan apa yang diperhitungkan Mbak Ira hanya contoh kasus yang dialami dalam kehidupan Mbak Ira. Sebab beliau yakin, kalau dengan saudara apalagi orangtua (kakek-nenek), anak pasti mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan dari ibu dan ayah.

  1. Eksistensi
Tentang eksistensi ini silakan tentukan sendiri karena setiap orang punya hal berbeda memaknai eksistensi. Buat Mbak Ira, eksistensi ibu adalah ketika ia berhasil mengantar anaknya ke kehidupan yang lebih baik, mendampingi sampai anak siap bertarung dan mencari eksistensi sendiri. Anak-anak harus mendapatkan bagian itu minimal untuk 1000 hari pertama.

Jadi, jika selain hati dan mental, dua hal tersebut harus dipertimbangkan betul-betul berdasarkan kebutuhan masing-masing. Jika yes, lanjut resign. Jika imbang atau 50:50 sebaiknya lanjutkan kerja karena tidak baik memulai sesuatu setengah-setengah. Karena jika yang setengah-setengah ini, maka setelah berhenti bekerja, dikhawatirkan malah semakin galau sehingga waktu yang harusnya dihabiskan bersama anak-anak, justru terpangkas oleh kegalauan diri sendiri.

            Ada kalanya ketika seseorang wanita memutuskan untuk resign, mereka merasa ada ‘jetlag’ dalam kehidupannya. Proses adaptasi dari bekerja menjadi di rumah kadang tidak semudah yang dibayangkan. Tapi, Mbak Ira tidak merasakan hal itu karena keinginan untuk berhenti sudah lama dan sudah dinantikan sejak dulu. Dan lagi, beliau sudah mengkhatamkan hal-hal yang menjadi pertimbangan itu, ekonomi dan eksistensi.

Kata Mbak Ira, yang jetlag justru adalah orangtua beliau yang tidak yakin Mbak Ira yang terbiasa aktif sejak SMA bisa tahan di rumah. Tapi ternyata Mbak Ira betah karena ada dunia yang Mbak Ira tekuni sekarang, Dunia BiZa, Dunia Bintang Dan Ziza atau Zizi, kedua buah hati Mbak Ira. Dunia Biza ini juga kemudian menjadi nama buat blog Mbak Ira di mana salah satu pembahasannya adalah tentang Parenting bisa kita dapatkan di sana.
 
Blog Ira Guslina
Menjadi blogger sebenarnya belum terbayangkan oleh seorang Ira Guslina saat menepi dari dunia kerja. Keinginan menepi dunia kerja semata karena memang ingin mendedikasikan waktu buat anak-anak. Beliau tidak mengenal blogger, tidak berpikir menulis lagi di blog walaupun sudah punya blog sejak tahun 2009. 

Saat masih bekerja, Mbak Ira jarang menyentuh media sosial apalagi blog karena di dunia nyata sudah penuh dengan kesibukan. Waktu yang tersisa benar-benar berharga dan digunakan Mbak Ira untuk family time.

Namun, setelah satu bulan di rumah, Mbak Ira merasa tetap harus ada media untuk aktualisasi diri, agar tidak cepat menjadi pikun. Mbak Ira juga merasa kelebihan energi. Secara fisik memang sudah banyak terpakai untuk menemani dua anak dengan jarak umur yang berdekatan (selisih 18 bulan). Bintang yang masih butuh perhatian dan sedang butuh pendampingan juga Zizi yang masih bayi. Tapi di sisi lain, energi di otak masih full karena terbiasa bekerja keras. Untunglah Mbak Ira kemudian menemukan penyalurannya yaitu ngeblog dan medsos. Apalagi Mbak Ira suka sekali dengan menulis, maka blog menjadi pilihan yang tepat.

Setelah blog jadi dan menjadi blogger, Mbak Ira malah ketagihan karena ngeblog itu menyenangkan. Apalagi setelah bergabung dengan komunitas dan bertemu banyak teman-teman baru. Meski tidak berinteraksi dengan banyak orang secara langsung tapi masih bisa terkoneksi dengan dunia lewat blog dan media sosial. Walaupun Mbak Ira mengaku belum menemukan ritme yang pas untuk ngeblog karena siang menemani Bintang dan Zizi bermain, sedangkan malam beristirahat.

Untuk event yang mengundang blogger, Mbak Ira mengakui suka mendatanginya karena beliau suka ketemuan dengan orang-orang dan suka aktualisasi diri. Tapi, sekarang semua itu dilakukan sebisanya saja karena keluarga tetap menjadi prioritas utama beliau.

Untuk para ibu yang dirumah mengurus buah hatinya dan masih galau, Mbak Ira bilang jalani dengan senang karena nanti ibu itu sendiri akan menuai hasilnya. Mbak Ira yakin sekali akan hal tersebut. Anak-anak akan menjadi seseorang dan sebagai bonus akan ada banyak peluang yang bisa ibu raih dan ciptakan.

            Itulah pilihan yang diambil oleh seorang Ira Guslina dengan segala konsekuensi dan pertimbangan matang yang telah beliau lakukan. Tentu saja setiap rumah tangga punya masalah dan tantangan yang berbeda-beda yang berpengaruh pada pilihan yang diambil oleh msing-masing keluarga.



21 komentar:

  1. Wahaa.. ditulis semua...:-)
    Terima kasih mba ulasannya. Jadi self reminder bgt nih buat saya hari ini dan nanti2... ~^_^~

    BalasHapus
  2. aaakkk..bikin envy..
    pingin suatu saat bisa stay dirumah..ngurus keluarga dan blog tetap jalan... happy banget bisa fulltime ngurus suami anak..

    BalasHapus
  3. Aku juga memilih menjadi ibu rumah tangga full time. Smile emoticon... Cling

    BalasHapus
  4. Aku belum bisa memilih sebagai ibu rumah tangga, mbaa. Masih semangat kerja nih :)

    BalasHapus
  5. Mba Ira emang mantep memilih jadi full mom. Gak semua orang bisa, tapi ini pilihan. Salut Mba Ira

    BalasHapus
  6. seorang wanita memang harus jadi ibu rumah tangga baiknya. dan yang bekerja mencari nafkah adalah tugas seorang laki-laki. karena istri dan anak adalah tanggung jawab seorang suami.

    BalasHapus
  7. saya yg baru 10 bulan resign ada masih jetlag mba, oreang tua pun. aneh rasanya tidak punya "uang pribadi". tp mungkin jetlag itu akan hilang setelah punya anak. pengen banget bisa kayak mb Ira, ikhlas dan senang menjadi full time mom

    BalasHapus
  8. Temen-temenku banyak yang ngambil cuti di luar tanggungan. Eh keasyikan malah akhirnya resign beneran, Mba :)

    BalasHapus
  9. semoga dengan waktu yang singkat ini kita bisa lebih bnayka lagi menghasilkan karya, semangat mbaaa.

    BalasHapus
  10. Eksistensi ibu untuk keluarga. Sip!

    BalasHapus
  11. Aku salut sama perempuan-perempuan yang rela resign karena fokus untuk mengurus anak.

    BalasHapus
  12. Salut dengan Mbak Ira. Serius. Semoga istikomah ya Mbak. Cuti 2 tahunnya jadi 5 tahun. #eh?

    Saya tidak bisa kerja sampai malam. Sungguh. Waktu kerja, jam 4:30 sudah sampai rumah, itu pun rasanya....

    BalasHapus
  13. Wohoooo pengen rasanya mengikuti jejak Mbak Ira..
    Semoga saat itu akan tiba pada waktunya. Amiinn...

    BalasHapus
  14. Semangat buat Mbak Ira, di dunia ini memang kita selalu dihadapkan dengan berbagai pilihan yang menentukan kita sukses atau tidak.

    BalasHapus
  15. Saluuut dengan ibu yang berani membuat keputusan besar seperti mbak Ira

    BalasHapus
  16. Dan aku seorang suami yang mengambil keputusan besar itu. sudah terlalu muak dengan kemunafikan di bidang pekerjaan sebelumnya. hahaha.

    BalasHapus
  17. hebat mbak... keputusan yang sangat berani demi sebuah keluarga... memang harus ada pengorbanan... semangat terus mbak...

    BalasHapus
  18. waw... luar biasa, terus berkarya dan memberikan contoh terbaik bagi ibu lain :)

    BalasHapus
  19. Mbak Iraa, semangat! Kita pernah satu acara tp saya ngga ngeh itu mba Ira

    BalasHapus
  20. Mba iraaaa, diriku juga dalam posisi mbak. Tapi masalahnya masih kuliah :'D bukan kerja hehehe

    BalasHapus
  21. Wahh ceritanya mba Ira menginspirasi banget

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...