Sabtu, 29 Oktober 2016

[Cerma] Jera

Selalu menyenangkan ketika melihat karya kita di satu media untuk pertama kali. Seperti saat cerpen saya berjudul Jera dimuat di Minggu Pagi untuk pertama kali pada hari Jum’at minggu kemarin. Minggu Pagi adalah sebuah tabloid yang terbit di Yogyakarta setiap hari Jum’at, masih satu grup dengan harian Kedaulatan Rakyat.

Minggu Pagi menerima cerpen, cerma, puisi, opini, dan juga esai. Saya mengirimkan Cerma atau Cerita Remaja ke sana pada tanggal 12 Oktober 2016 dan kabarnya dimuat di edisi tanggal 23 Oktober 2016.

Syarat Cerma 3-4 halaman, spasi 1,5 font TNR (Times New Roman), kirim ke email ini: we_rock_we_rock@yahoo.co.id. Saya tidak mendapat konfirmasi apa pun ketika cerpen ini dimuat. Penampakan cerma ini saya dapat dari Mas Sutono Suto. Terima kasih sekali, Mas ^_^


Cerpen ini sendiri adalah hasil belajar saya di kelas Penulis Tangguh II bersama Mbak Nurhayati Pujiastuti. Terima kasih buat segala ilmunya, Mbak Nur J
Berikut adalah cerma saya yang dimuat di sana. Happy Reading ^_^

Jera!
Oleh : Hairi Yanti

Kabut itu ada di mata Agus. Sungguh, Keyna melihatnya. Pandangan Keyna masih tertuju pada punggung Agus yang menjauh darinya. Perasaan bersalah menyusup pelan di hati Keyna.

"Maaf ya, Gus, aku nggak bermaksud bikin kamu sedih," Keyna berkata pelan. Tentu saja Agus tidak bisa mendengarnya karena jarak mereka sudah jauh. Keyna berbalik, ada Nesha yang sudah berdiri di belakangnya.

"Apa aku jahat bikin Agus gitu, Sha?" Nesha terlihat berpikir sejenak, kemudian menggeleng.

"Kamu nggak salah kok, Key. Salah Agus yang bikin kamu menunggu sekian lama."

Keyna menghela nafas mendengarnya. Iya, Nesha betul, Keyna sudah terlalu lama menunggu. Dan penantian itu bukan penantian yang sebentar. Rumah di ujung jalan menjadi saksi. Anak-anak kecil yang berlarian sambil memeluk Keyna juga jadi saksi. Pohon, rumput dan dedaunan juga bisa menjadi saksi. Ah, sudahlah, Keyna membatin, tak perlu dia menyebut saksi-saksi lain.

"Sekarang apa rencana kamu, Key?" Keyna mengerutkan kening mendengar pertanyaan Nesha.

"Melanjutkan semua yang sudah kita rencanakan," jawab Keyna mantap beberapa saat kemudian. Nesha tersenyum puas mendengarnya.

***

Kekhawatiran Keyna terbukti. Sudah tiga hari ini mata Keyna selalu tertuju ke ujung jalan. Berharap akan menemukan sosok Agus dalam pandangannya. Tapi selalu tidak ada Agus di sana. Keyna sampai bosan menjawab pertanyaan anak-anak kecil yang selalu berlarian ke arah Keyna kalau dia datang. Mereka selalu bertanya tentang ketidakhadiran Agus di sana.

“Sha, seharusnya aku relakan aja kali, ya. Jadi Agus bisa datang lagi seperti biasa,” bola mata Nesha terbeliak mendengar perkataan Keyna.

“Ya Ampun, Key, jangan lemah hati dong. Ini demi kebaikan kita bersama,” cetus Nesha. Keyna hanya mengangguk pelan, mencoba menguatkan hatinya.

***

“Key,” Nesha menarik tangan Keyna. Sontak Keyna menghentikan langkahnya.

“Coba lihat itu,” Keyna mengikuti arah telunjuk Keyna. Ada keterkejutan di mata Keyna. Keyna melihat Agus yang sedang melayani pembeli di sebuah toko.

“Duh, Sha. Ini pasti gara-gara hal itu deh. Aku jadi nggak tega.” Air muka Keyna yang tadi ceria berubah jadi murung. Ingatan Keyna melayang ke masa setahun yang lalu.

“Itu penipuan, Gus.” Nesha berkata yakin. Agus mendengus, apa yang dikatakannya tidak dipercaya Nesha sedikit pun. Pandangan Agus beralih pada Keyna yang hanya memandangnya ragu.

“Itu penipuan. Cuekin aja kalau nggak kamu bisa nyesal,” cetus Nesha lagi seraya menjauh meninggalkan Agus dan Keyna.

“Key,” Agus menatap Keyna. “Coba kamu lihat, di sini ada namaku, formulir yang aku isi sendiri juga ada surat keterangan dari notaris.” Agus menyodorkan lembaran kertas yang ada di tangannya pada Keyna. Ada nama Agus di bawah nama pemenang yang berhak mendapatkan mobil. Agus yakin itu bukan penipuan karena dia memang pernah mengikuti undian berhadiah itu.

“Dan waktunya sudah mepet, Key. Hanya sampai siang ini atau hadiah akan hangus. Please, Key. Aku janji akan segera mengembalikan uang itu.” Agus memandang Keyna dengan tatapan memohon. Keyna meragu, Agus meyakinkan lagi, Keyna mengangguk setuju.

Sejumlah rupiah yang rencananya akan mereka belikan berkardus-kardus buku buat taman bacaan untuk rumah di ujung jalan berpindah tangan. Agus tersenyum senang, berlari meninggalkan Keyna. Sesaat setelah berlalunya Agus, Nesha datang dan menepuk jidatnya menyadari sesuatu yang salah telah terjadi.

Sehari, dua hari, seminggu, Agus menunggu hadiah itu dikirimkan tapi penantiannya sia-sia. Nesha mengomel panjang pendek melihat kelakuan Agus. Memberitahu kalau dia sudah menelpon pihak pemberi hadiah yang resmi dan mendapatkan informasi kalau semua hadiah sudah diserahkan tanpa dipungut uang sepeserpun.

“Aku akan kembalikan uang itu, Key. Aku janji,” kata Agus setelah sebulan berlalu saat dia sudah meyakini kalau dia memang tertipu.

“Tak apa, Gus. Tidak usah diganti. Ayah sudah bersedia menjadi donatur dengan mengganti sebesar uang kemarin kok.” Keyna berkata sambil tersenyum. Memberi simpati ke arah Agus. Tapi, Nesha di samping Keyna melotot.

“Nggak bisa. Semua harus Agus ganti!” Tegas Nesha. Agus mendelik ke arah Nesha.

“Keyna yang ngasih, kenapa kamu yang nggak rela?” Protes Agus.

“Walau uang itu udah diganti tapi beda, Gus, dengan uang yang melayang. Itu uang dari para donatur yang sudah menitipkan uangnya pada kita. Kamu harus ganti.” Nesha bersikukuh diiringi tatapan tak tega dari Keyna.

“Kamu lak-laki kan, Gus? Kemarin bilang hanya pinjam. Janji sebagai laki-laki kalau pinjam ya harus dikembalikan.” Ego Agus tergores mendengar perkataan Nesha. Agus berlalu dari Nesha dan Keyna sambil berkata akan segera mengembalikan uang itu.

Setahun berlalu, uang itu belum juga kembali pada Nesha walau rumah baca yang mereka kelola sudah dibuka. Dipenuhi anak-anak kecil yang selalu minta dibacakan dongeng bergantian oleh mereka.

            “Yuk, ah. Agus bisa geer kalau tau dia kita perhatikan.” Nesha menepuk pundak Keyna. Membuyarkan lamunan Keyna yang masih terpaku menatap Agus di sebuah toko. Keyna berlalu mengikuti langkah Nesha.

            “Agus beberapa kali mencoba pinjam uang ke teman kita yang lain, Key. Karena dapat hadiah ini lah, dapat telpon hadiah itu lah. Makanya kamu harus nagih terus sama dia. Biar jera.” Keyna menghela nafas mendengarnya. Mencoba mengesampingkan rasa tak tega karena Agus harus bekerja setelah pulang sekolah.

Selamat bekerja, Gus, bisik Keyna dalam hati.

.:.Selesai.:.

15 komentar:

  1. Saya tahu orang beneran yang kayak si Agus inih. nyebelin dan emang harus dibikin kapok. Selamat ya Mbak Yanti! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas Dani. Harus dibikin jera. Hehehe... Makasiiih, Mas :D

      Hapus
  2. Eh lupa tadi udah kasih ucapan selamat apa belum, selamat ya Mbaaak Cermanya sudah dimuat. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udaaaah ucapan selamatnya. Makasiih sekali lagi, Mas :D

      Hapus
  3. Selamat, Mba. Dari FLP mana? Salam kenal ya..
    Sempet terkecoh dengan masalah di antara Agus dan Key. Bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, saya bukan anggota FLP. Itu ada logo FLP sekadar buat kepentingan lomba. Hehehe.... Terima kasih ya. Salam kenal :D

      Hapus
  4. Wah pas banget nih Agus lagi populer hehe, Agus oh Agus... ayo semangat bekerja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha.... Iyaaa. Kan di grup sering ngomongin Agus. Xixixixi...

      Hapus
  5. selamat mbaaak :) hehe
    waaah aku kapan yaa cerpennya bisa dimuat dimedia uhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak. Ayo mbak nulis dan kirim juga :D

      Hapus
  6. Balasan
    1. Alhamdulillah, Terima kasih, Mbak Tia :-)

      Hapus
  7. Keren,Mbak. Jadi ingin coba mengirim tulisan juga. Terima kasih sudah berbagi :-)

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...