Jumat, 21 Oktober 2016

Pakasam, Kelezatan yang Tak Pernah Usang


            Beberapa waktu ini, entah mengapa saya merasa kalau pakasam sedang naik daun. Beberapa orang mem-posting olahannya di media sosial, beberapa yang lain menjualnya dan laris diserbu para pembeli.

Layaknya makanan kampung lainnya, pakasam adalah kelezatan yang tak pernah usang. Mereka yang lama tak menyantap merindukannya, mereka yang bisa dengan mudah menikmati tak pernah bosan untuk menyajikannya di meja makan.
pakasam Barabai
            Pakasam adalah sekian cara untuk mengawetkan ikan yang ada di muka bumi ini. Diasinkan juga tapi berbeda dengan ikan asin pada layaknya karena ada samu yang menambah kelezatan pakasam. Samu adalah beras yang disangrai kemudian dihaluskan dan ditaburi atau dilumuri di sekujur tubuh ikan. Butir-butir halus samu inilah yang membuat kelezatan pakasam menjadi berlipat. Samu ini juga lah yang membuat rasa pakasam berbeda dengan ikan asin pada umumnya karena rasa ikan menjadi ada rasa asamnya.
Pakasam di Pasar Barabai
            Sebenarnya saya tidak tahu persis bagaimana cara membuat pakasam karena di kampung halaman saya, Barabai, banyak sekali penjual pakasam yang bisa dengan mudah ditemukan. Barabai adalah salah satu kota kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan. Barabai merupakan ibukota dari kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Di pasar Barabai, ada penjual pakasam yang sudah siap menjual pakasam andalannya sejak subuh hari. Kita tinggal datang dan membelinya, bisa memilih jenis pakasam yang diinginkan, baik dari jenis ikannya ataupun tingkat keasamannya. Semakin lama pakasam, biasanya semakin keluar rasa asamnya. Begitu juga jenis ikannya, ada beberapa ikan yang biasanya dijadikan pakasam dan dijual di pasar Barabai, namun yang menjadi primadona adalah ikan sepat atau ikan anakan yang kecil-kecil.
Pakasam yang digoreng dengan bawang putih yang banyak
            Di beberapa daerah di Kalimantan Selatan memang bisa ditemukan yang menjual pakasam ini, sebagian menyebutnya iwak samu. Namun, yang menjadi primadona tetap pakasam dari Barabai, tepatnya lagi pakasam yang berasal dari desa Mahang, salah satu kecamatan di kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

            Pakasam yang dijual di Pasar Barabai harus diolah dulu sebelum disantap. Biasanya diolah dengan cara digoreng dengan menggunakan irisan bawang merah atau bawang putih serta irisan cabe hijau dan cabe merah. Samu yang ada pada pakasam memang membuat perjuangan menjadi lebih ekstra saat menggorengnya karena akan ada letupan-letupan yang bisa saja mengenai kulit kita. Walaupun begitu, perjuangan saat menggoreng setara dengan kelezatan yang akan didapatkan saat menyantapnya. Letupan-letupan kecil saat menggoreng itu anggap saja harga dari sebuah kelezatan yang harus dibayar.

            Pakasam yang sudah diolah atau digoreng bisa disantap dengan nasi putih saja. Itu pun sudah bisa membuat penggemarnya menambah nasi berkali-kali dan melupakan diet yang selalu dikumandangkan. Kelezatannya menjadi berganda jika menyantapnya disertai dengan kuah bilungka bakarik. Bilungka bakarik adalah kuah santan dengan isian bilungka atau timun yang dikerik. Enaknya pakasam menjadi lebih sempurna jika disantap dengan nasi dari beras unus, beras khas dari Kalimantan Selatan.
bilungka bakarik
            Berhubung pakasam adalah ikan yang diawetkan, maka ia pun bisa dibawa sebagai oleh-oleh atau sebagai pelipur rindu orang yang merantau. Seperti saya, ketika kembali ke perantauan tak lupa untuk membawa pakasam. Namun, ketika membawanya perlu dikemas dengan rapat agar aroma dari pakasam tidak keluar.

Biasanya saya akan membungkusnya dengan kertas koran, dibungkus lagi dengan plastik, kemudian masuk ke toples yang rapat. Tak lupa saya membubuhi bubuk kopi di toples tersebut. Pernah pakasam saya masukkan begitu saja ke dalam tas, hanya dibungkus dengan plastik seadanya. Hasilnya, seluruh isi tas saya menebarkan aroma pakasam. Semua baju pun harus dicuci karena menguarkan bau tidak sedap.

Tertarik mencoba pakasam? Mari berkunjung ke kota kelahiran saya di Barabai, Kalimantan Selatan :D


26 komentar:

  1. baru kenal namanya Pakasam, aku pikir makanan yang asam. Pingin coba,

    BalasHapus
  2. Penasaran pengen nyobain pakasam

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Beneran? Samunya dimakan juga loh :p

      Hapus
  4. Dari fotonya aku kira ikannya diolah jadi semacam rendang kering gitu, ternyata pengolahannya mudah ya. Cuma kayaknya menggorengnya harus butuh keberanian ekstra nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa... Menggorengnya ada letupan2 gitu, Mbak. Salah2 bisa kena wajah.

      Hapus
  5. Gakkkk tauuu iniiii, tapi kayaknya enak banget.
    Bisa dibawa kah ini dari Kalsel? Mauuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa, Mbak Lidha. Mau? Hehehhe...

      Hapus
  6. Wah semoga saya ada kesempatan untuk nyobain pakasam ini dan kuah timunnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ke Kalsel, Mbak. Di rumah makan Agus Sasirangan ada. Tapi nama menunya iwak samu :-)

      Hapus
  7. Barabai, jadi ingat sama seseorang hiks *curcol*

    BalasHapus
  8. Jadi ini dari ikan sepat ya mba, aku tahunya ikan sepan, ikan asin gitu. Jadi penasaran sama pakasam ini, enak neh sepertinya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikannya dari ikan segar sih, Mbak. Tapi kan digaramin juga dengan beras yg disangrai itu :D

      Hapus
  9. hyaaa ampuuun yanti, aku penggemar ikaaan. kau jahaaat deh bikin aku sukses ngilerrrr

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha.... Ampuuuuuniiii saya Mama Airaa....

      Hapus
  10. duh...
    tulisanmu meuni deramah banget Yan : Letupan-letupan kecil saat menggoreng itu anggap saja harga dari sebuah kelezatan yang harus dibayar hahaha...

    makanya jangan suka nge-Wang-So terus biar kalo lagi goreng ikan gak baper-an hehe
    *minta dijambag*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakakakaaaa.... Teteeeeh... Ini pas nulis emang lagi dramaa... Adududu... Wang So bentar lagi abis Ya, Teh? Kumaha kalau ga happy ending? Heheheh...

      Hapus
  11. Huwaa.. ngecess :D
    mqakanan tradisional kita memang punya kekhasannya sendiri, salah satunya cara memperolehnya itu, gak bisa didapatkan di semua tempat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya banget, Mbak. Bahkan beras di Kaltim dan di Kalsel pun beda. Ga ada yang jual beras Banjar di sini. Hiks.

      Hapus
  12. Saya belum pernah coba nih mbak jadi belum tahu rasanya gimana, selain tidak ada di tempat saya disetiap rumah makan juga gak ada yang jual mungkin hanya diderah tertentu kah mbak ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Di Kalsel aja ini. Di rumah makan ada biasanya...

      Hapus
  13. Kalo di Palangkaraya namanya wadi Mb, persis seperti pakasam penampakannya. Enak betul di goreng garing

    BalasHapus
  14. Selalu penasaran sama cerita makanan mbak yanti

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...