Sabtu, 26 November 2016

Amukan si Jago Merah

            Tidak ada yang menginginkan rumahnya terbakar. Tidak ada. Tapi, ada hal yang tak bisa kita tolak kehadirannya termasuk musibah rumah terbakar. Saya mengalaminya. Dulu. Saat masih berseragam putih biru. Di suatu malam yang tiba-tiba berubah menjadi sendu.

          Malam itu biasa, seperti malam-malam sebelumnya. Yang menjadikannya tak biasa hanyalah saya ingin bersantai dengan menonton TV sepuasnya di malam itu. Malam itu malam liburan sehabis pembagian raport. Saya tentu saja bebas dari yang namanya belajar. Maka, selepas makan malam saya secepat kilat melaksanakan tugas mencuci piring agar niatan untuk santai menonton TV segera terlaksana.


          Namun, manusia hanya bisa berencana. Malam itu saya dikejutkan dengan suara tiang listrik yang dipukul dengan batu. Suaranya mampu membuat jantung berdetak lebih cepat dari biasanya karena tahu itu pertanda ada bencana kebakaran. Seisi rumah yang langsung menyeruak keluar. Dimulai dari abah, kemudian kakak saya. Saya hanya terpaku di ambang pintu. Entah kenapa, perasaan tak nyaman langsung menyerbu hati saya detik itu juga.

            “Parak. Lakasi kita basisimpun,” ujar abah saat masuk ke dalam rumah. Mengabarkan kepada kami kalau lokasi kebakaran dekat dengan rumah kami dan meminta seisi rumah bersegera mengemas barang-barang untuk diselamatkan. Saya gemetar mendengarnya namun gegas memaksa diri untuk bergerak. Mengemasi barang-barang,  berpacu dengan kecepatan datangnya si jago merah. Walaupun dalam hati dan mulut saya terus berdoa agar api tak menjalar ke rumah kami.

            Sebenarnya lokasi awal kebakaran cukup jauh dari rumah kami. Sekitar 150 atau 200 meter. Namun, kondisi rumah yang saling berdempetan dan terbuat dari kayu membuat kemungkinan api sampai ke rumah kami cukup besar. Saya pun menyambar tas sekolah saya, memasang sepatu sekolah, kemudian mengambil sepeda serta membawanya lari begitu saja. Sepeda saya letakkan di depan toko paman saya dan setelahnya saya kembali berlari ke rumah.

            “Pakai ini. Jangan dilepas,” perintah mama saya begitu saya sampai di rumah. Sebuah ransel diserahkan kepada saya, saya tau isinya merupakan surat-surat penting yang sangat urgent untuk diselamatkan. Listrik sudah padam saat itu, ada beberapa senter dan nyala lilin yang membantu penerangan. Seprai dibentangkan di tengah ruangan. Kami semua bergegas melemparkan barang-barang ke atas seprai. Setelah penuh, seprai diikat dan dibentangkan lagi seprai berikutnya.

            “Selamatkan barang-barang dagangan. Selamatkan yang bisa jadi duit.” Abah memberikan komando.

            Rumah saya memang rumah toko. Di mana, di depan rumah adalah toko tempat usaha keluarga berjalan. Di beberapa ruas rumah juga banyak barang-barang jualan. Abah dan kakak yang memang mengurus toko langsung berbagi tugas. Yang satu menuju gudang tempat penyimpanan ban-ban jualan toko kami. Yang lain mengemasi barang-barang di toko, diutamakan yang paling mahal yang lebih dulu dikemasi.

            Tak lama beberapa bantuan datang. Paman saya datang untuk membantu menyelamatkan motor. Ada juga pelanggan setia toko kami yang datang ke rumah buat membantu mengamasi barang-barang. Suara riuh terdengar dari luar. Tetangga-tetangga yang ribut menyelamatkan harta masing-masing.

            “Anti, jaga barang.” Mama memberikan perintah kepada saya. Saya tak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk setuju. Maka, saya pun keluar rumah menuju tempat yang agak jauh di mana barang-barang yang sudah dikemas diletakkan. Saat menjauh saya memandang rumah tempat saya dilahirkan itu dengan perasaan yang entah. Saya sedih, tapi juga berharap bahwa esok hari saya masih bisa tidur di rumah tersebut. Berharap sangat besar agar rumah saya selamat dari amukan si jago merah.

            Kemudian yang saya lakukan hanya menunggu. Barang-barang sesekali datang dan diletakkan di dekat saya. Lalu yang meletakkan bergegas kembali ke rumah untuk membawa barang berikutnya. Saya melihat amukan si jago merah kian membesar, menguasai langit dengan warna merahnya yang mengerikan.

            “Kita pindah, api semakin mendekat.” Kakak saya tiba-tiba muncul. Memerintahkan kalau tumpukan barang-barang akan segera dipindahkan. Saya pun hanya bisa menurut. Tapi saya melihat ada banyak sekali bantuan. Rupanya bala bantuan telah datang.

Kakak kedua saya adalah santri di salah satu pondok pesantren. Begitu pun dengan abah saya yang punya hubungan sangat baik dengan pemimpin pondok pesantren tersebut. Jadi, di malam itu dikerahkan santri-santri dewasa untuk membantu mengemasi barang-barang di beberapa rumah, salah satunya rumah saya. Dengan dibantu para santri tersebut, tumpukan barang-barang dipindahkan.

Saya semakin jauh dari rumah. Hanya melihat kobaran api yang tidak saya tahu sudah sampai di mana. Tak lama, mama pun datang menemani saya. Lidah saya kelu untuk bertanya apa rumah sudah dilahap si jago merah atau sudah selamat. Saya dan mama hanya terdiam menyaksikan kobaran api dari kejauhan.

            Kemudian kakak saya datang menghampiri saya dan mama. “Rumah kita sudah habis,” kata kakak saya lemah. Air mata pun langsung menderas keluar dari mata saya. Mama menepuk-nepuk pundah saya. “Ikhlaskan,” kata mama. “Banyak barang yang bisa diangkut kok,” ujar beliau lagi. Saya hanya mengangguk dengan lemah walau rasanya sediiiih sekali.

            “Kita pindah lagi. Takutnya api semakin dekat,” kata kakak saya. Masih dibantu oleh para santri, kami pun memindahkan barang-barang menuju halaman sebuah SD. Malam semakin larut, bahkan saat itu sudah lewat tengah malam.

            “Ma, kita tidur di mana?” Saya bertanya. Mama menggeleng. Kami kehilangan rumah tempat kami bernaung dari panas dan hujan. Untuk pertama dalam hidup saya, saya merasakan bagaimana perasaan tak memiliki rumah sebagai tempat bernaung dan pulang. Tak lama datang abah dan kedua kakak saya juga beberapa anggota keluarga lainnya. Saya dan mama diajak ke rumah paman saya dan barang-barang juga diangkut ke sana. Malam kian mendekati fajar.

            Pagi harinya saya dan mama beranjak menuju jalan rumah kami. Mendapati keadaan yang tak seperti pemandangan biasanya. Semuanya hancur lebur menjadi abu dan beberapa beton yang masih tersisa nampak menghitam. Sampai di depan rumah yang sudah tinggal puing-puing, saya hanya melihat sisa kamar mandi yang memang terbuat dari beton. Selebihnya semuanya musnah tak bersisa.

            Kebakaran yang terjadi saat itu memang sangat besar di kota saya. Menghabiskan beberapa ruas jalan, ratusan rumah, juga ratusan toko. Si jago merah memang melahap habis salah satu pasar di kota saya. Selain saya dan para tetangga, ada beberapa teman sekolah juga yang rumahnya terbakar atau pun toko tempat keluarganya berusaha yang terbakar. Ketika bertemu dengan teman sekolah yang bernasib sama, kami pun berpelukan kemudian berbagi tangis bersama. Begitu pun ketika bertemu tetangga, kami saling menguatkan satu sama lain.

            Hari itu keluarga saya pun berdatangan. Paman acil saya dari berbagai kota datang menengok dan berkumpul. Memberikan baju-baju buat pakaian sehari-hari. Seperti komando yang diberikan abah di malam kebakaran itu, memang yang diutamakan diselamatkan adalah barang-barang di toko. Jadilah pakaian kami banyak yang tak terselamatkan. Namun, saya tetap bersyukur karena baju seragam sekolah saya bisa diselamatkan semuanya. Saya juga mensyukuri karena saat itu adalah saat liburan, jadinya saya tidak perlu pergi ke sekolah saat kami menata kehidupan baru pasca kebakaran.

            Setelah empat malam di rumah paman saya, selanjutnya abah dan mama memutuskan untuk mengontrak sebuah ruko. Hidup harus terus berjalan. Begitu pun usaha keluarga kami yang harus terus dilanjutkan. Di hari kelima pasca kebakaran, kami pun menempati rumah toko kontrakan yang berada tak jauh dari rumah yang terbakar.

            Abah dan kakak saya mulai menata toko baru dan siap untuk dibuka. Alhamdulillah, banyak barang dagangan di toko yang terangkut jadi bisa dijual untuk menyambung kehidupan kami dan juga mengumpulkan uang buat membangun rumah kami lagi. Sembilan bulan pasca kebakaran, rumah toko kami sudah bisa ditempati.

     Kebakaran itu memang sudah lama terjadi. Alhamdulillah, Allah menggantikan apa yang hilang di malam itu dengan rezeki yang bertambah-tambah untuk keluarga kami. Kalau dulu rumah tempat saya dilahirkan itu hanya terbuat dari kayu dan memang sudah sangat rapuh, kemudian berganti dengan bangunan beton yang kokoh.

            Ada beberapa hal yang saya ambil pelajaran dari kejadian kebakaran yang menimpa keluarga kami beberapa tahun silam, seperti :

1.      Surat menyurat berada di satu tempat.
Dulu mama saya menaruh surat menyurat baik itu akte, ijazah kelulusan, sertifikat, buku nikah, dan surat-surat penting lainnya di dalam satu lemari kecil. Ketika kebakaran terjadi, surat-surat tersebut langsung dimasukkan dalam tas ransel kakak saya. Jadi, semua surat-surat tidak terbakar.

Kakak saya menyimpan surat-surat pentingnya sendiri. Seperti ijazah dan lain-lain. Ia simpan di kamarnya sendiri. Jadilah, surat-surat pentingnya ikut terbakar. Jadi, untuk semua anggota keluarga, kumpulkan satu surat di dalam satu tempat. Jangan dipisah-pisah.

2.     Jangan panik
Kepanikan justru akan mengacaukan segalanya. Saat kebakaran itu terjadi, abah saya sebagai pemimpin keluarga memberikan komando. Maka, komando beliau yang dilaksanakan seperti mengemasi barang-barang jualan lebih dulu. Hal itu memang keputusan yang sangat tepat karena barang-barang jualan itulah yang kemudian membuat asap dapur kami tetap mengebul.

3.     Atur siapa yang bertugas.
Barang-barang yang sudah dikemasi jangan ditinggalkan begitu saja. Walaupun kita sedang tertimpa musibah, tapi sebagian ada yang memanfaatkan hal itu. Jadi, tetap harus ada yang berjaga. Tapi yang paling penting selamatkan nyawa karena harta bisa dicari, nyawa hilang itu tak terganti.

4.     Allah tidak akan menguji kita, di luar kesanggupan kita.
Saya sangat sedih saat musibah itu terjadi. Namun, mama terus meyakinkan saya kalau saya harus ikhlas. Kalau Allah akan mengganti apa yang telah hilang dengan yang lebih baik. Alhamdulillah, memang setelahnya perekonomian keluarga kami justru membaik. Usaha keluarga semakin maju. Alhamdulillah…


Terakhir, semoga Allah selalu menjaga kita dan menjauhkan kita dari kobaran si jago merah ya. Dan terutama selalu berhati-hati terhadap apa pun yang menyebabkan kobaran api. 

43 komentar:

  1. Di rumah kp baru sering banget nyaris kebakaran..untung aja cepat tanggap, karna begitu membesar yg akan terbakar kemungkinan banyak, posisi rumah kayu yg rapat serta tak punya akses buat pemadam buat masuk ke dalam gang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga aman selalu ya yang di sana. Iya... rawan banget. Semoga selalu terjaga. Aamiin...

      Hapus
  2. Sedih saya bacanya mba, pelajaran berharga sekali mba. Namun memang tidak ada skenario Alloh diluar kemampuan kita semuanya menjadi pengalaman dan pelajaran hidup :) *ruar biasa untuk ketabahan dan keikhlasan mba sekeluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, Mbak. Ada skenario Allah yang tidak bisa kita tolak. Waktu awal2 memang sediiih banget. Tapi waktu menyembuhkan luka. Hehehe... Nanti insyaAllah saya tulis proses move on-nya :D

      Hapus
  3. Sebuah epik cerita yang memberikan inspirasi, nasihat sekaligus pelajaran yang berharga buat kita semua. Musibah datangnya sewaktu waktu dan datangnya tidak pernah memberi tahu. Terima kasih sudah berbagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Pak Asep. Betul... musibah bisa datang sewaktu2. Kita tak bisa menolak. Semoga Allah selalu menjaga kita dan diberikan keiikhlasan hati :-)

      Hapus
  4. Duh sedihnya kalau surat surat penting sampai terbakar mba :(. Pengalamanku juga sampai skarang surat surat penting gabung di satu tempat mba dan sudah masuk tas. SMoga kluarga diberikan kekuatan ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Lida. Kakak saya juga ngurus ke sana ke mari. Itu pun ada yang tidak bisa diganti. Hanya ada surat keterangan kehilangan dan surat apa gitu. Tidak sama lagi dengan yang sebelumnya.

      Hapus
  5. serius mbak, ntah saya lagi baper...tapi mata saya berkaca-kaca bacanya."Allah tidak akan menguji kita, di luar kesanggupan kita" saya percaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga nulisnya sambil berkaca-kaca, Mbak. Padahal udah lama banget kejadiannya. Iya, betul, Mbak. Allah tidak akan menguji kita di luar kesanggupan kita. Alhamdulillah... Allah memberikan banyak rezeki pasca kebakaran itu kepada kami sekeluarga :D

      Hapus
  6. Allahu akbar. Aku sediiiih sekali membacanya mbak, walaupun nyatanya mbak bisa bertahan & sampai sekarang baik-baik saja. No. 4 terbukti. Aku juga menyatukan dokumen seperti ajaran ortuku. Abah cepat sekali mengambil keputusan & mengkoordinasikannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Alhamdulillah baik2 saja sampai sekarang. Yang terbakar digantikan dengan yang lebih baik. Benar, Mbak. Allah tidak akan menguji kita di luar kesanggupan kita. Banyak hikmah dari kejadian itu :D

      Hapus
  7. Sedih ya Mba', rumah yang sudah ditempati seumur-umur, harus ludes terbakar api. Syukurnya tak ada korban jiwa. Thanks for sharing Mba'.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Julia. Sediiih banget. Tapi namanya juga musibah ya. Benar. Alhamdulillah sehat2 semua :D

      Hapus
  8. Iya di Banjarmasin cerita ortu sering kebakaran. Kenapa ya mb...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya tidak tinggal di Banjarmasin, Mbak. Di Kalsel tapi bukan Banjarmasin. Hehehe...

      Hapus
  9. Iya di Banjarmasin cerita ortu sering kebakaran. Kenapa ya mb...

    BalasHapus
  10. Rumah yang aku beelang semalam tu rumah hanyarnyakah yan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu lain yang kebakaran, Ka. Rumah yang pian datangi sumalam hanyar ditukari abah pasca kebakaran. Pindahan pas ulun kuliah :D

      Hapus
  11. Duh serem banget bacanya. Ngebayangin kebakaran dengan cepat menyambar rumah. Traumanya blm hilang juga ya Yan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih suka gemetaran kalau ada kebakaran, Mbak. Tapi sepertinya semua orang juga gemetaran ya. Hehehe... Traumanya waktu awal2 itu. Nanti insyaAllah diceritakan lagi :D

      Hapus
  12. Aku merinding bacanya Mbak. Nggak mungkin nggak panik, ya Allah. Makasih tipsna ya Mbak, memang Allah bener-bener nggak akan menguji diluar kemampuan kita

    Mbak aku follow, folbek ya :) oh ya salam kenal darikuh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Panik itu pasti, Mbak. Tapi harus dikendalikan paniknya biar bisa berpikir. Syukurlah abah cepat memberikan komando jadi kami bisa lebih tenang. Salam kenal juga, Mbak. Sudah saya folbek ya :D

      Hapus
  13. janagn panik ya , itu kuncinya atpi hebat juga klg mbak begitu terstuktur arpih shg banyak yg bisa diselamatkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah abah cepat memberikan komando saat itu, Mbak. Jadi, banyak barang selamat :D

      Hapus
  14. Bacanya sambil deg-degan, alhamdulillah sudah berlalu ya Yan. Dan bener banget, surat2 penting hrs disimpan di satu tempat. Ya Allah jangan sampe kejadian lagi spt ini kepada siapapun, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Aamiin... Aamiin... Iya, Teh. Alhamdulillah sudah lama lewat. Semoga tidak kejadian lagi pada siapa pun. Iya, itu juga jadi pelajaran buat yanti saat punya rumah sendiri. Surat2 disimpan di satu tempat. Ini surat2 lagi dititipin sama mertua. Hehehe...

      Hapus
  15. Sambil baca dari atas sampai bawah sudah terbayang suasananya, alhamdulillah saya juga menyimpan surat penting di satu tempat berjaga-jaga lebih baik ya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Rani. Penting banget surat penting di satu tempat dan harus jadi prioritas untuk diselamatkan tapi jangan sampai kejadian.

      Hapus
  16. Gemetar saya membacanya. Mungkin panik adalah hal yang manusiawi. Tapi justru itu akan memperburuk suasana. Semoga tak pernah terjadi pada keluarga kami. Dan Allah memberi kekuatan lebih bagi yang mengalaminya...aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Aamiin... Aamiin... Semoga Allah selalu menjaga keluarga Mbak Enny. Iya, Mbak. Panik itu manusiawi tapi harus tetap terkontrol. Saya sih udah deg2an parah saat itu...

      Hapus
  17. Kalau baca cerita kebakaran jadi deg-degan lagi soalnya dulu aku juga hampir membuat kebakaran di kamar kost gegara lupa matiin lilin di atas lemari kayu pas mati listrik. Untung di sebelah lilin ada botol air mineral yang masih ada isinya jadi deh apinya mati. Korbannya cuma lemari bagian atas sama kamar yang menghitam semuanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sampai sekarang suka parno, Mbak, sama hal2 yang bisa bikin kebakaran. Terkadang kalau ada colokan yang belum saya pastikan dicabut bisa balik rumah dulu. Atau kompor, bisa bolak balik ngontrol. Hehehe... Kadang suka cemas apa setrikaan sudah dicabut atau ga. Waktu ngekost pernah minta teman kost kontrolin ke kamar karena ragu setrikaan udah dicabut atau belum. Untung aja kunci kost ditinggal.

      Hapus
  18. Baca tulisan ini, saya jadi merasakan posisi mba waktu itu seperti apa. Dalam hal seperti ini memang jangan panik ya mba, harus tetap tenang, supaya semua terkendali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Panik boleh tapi harus dikendalikan. Semoga kita terhindar dari bahaya kebakaran ya, Mbak...

      Hapus
  19. Ngebacanya nggak tega dan merinding gitu mba, Orang mana yang ngggak bakal panik kalo dapat musibah kayak gini. Dari pengalaman yang mba tulis kami bisa belajar dan berhati2 lagi, terimakasi mba yanti.

    BalasHapus
  20. Duh, sedih ik, klo terbakar gitu... apa rumahnya banyak sekali ornamen kayu dan property yang mudah terbakar ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Rumahnya memang terbuat dari kayu :-)

      Hapus
  21. Duuuhh ngeri banget tentunya ya Mba pas mengalaminya. Untung Abah bisa mengontrol keadaan dan mengatur segala sesuatunya sehingga pada nggak panik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Alhamdulillah abah sebagai kepala keluarga cepat memberikan instruksi :D

      Hapus
  22. Satu lagi yang selama ini nggak terpikirkan sama saya: punya stok seprai beberapa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya, Mbak. Padahal waktu itu mama saya spontan saja menaruh seprai untuk membungkus barang2.

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...