Jumat, 30 Desember 2016

Menelusuri Sungai Kehidupan Sri Ningsih dalam Novel Tentang Kamu

Resensi Novel Tentang Kamu

“Ada banyak hal-hal hebat yang tampil sederhana. Bahkan sejatinya, banyak momen berharga dalam hidup datang dari hal-hal kecil yang luput kita perhatikan, karena kita terlalu sibuk mengurus sebaliknya.” (Hal 257)

Di balik pribadi seseorang yang sederhana dan bersahaja, bisa jadi tersimpan kisah hidup yang luar biasa juga kekayaan yang mencengangkan. Seperti yang ada pada seorang wanita penghuni panti Jompo di Paris yang bernama Sri Ningsih, tokoh dalam novel Tentang Kamu karya Tere Liye. Saat Sri Ningsih wafat, sebuah kantor firma hukum di Inggris mendapatkan tugas baru untuk menyelesaikan amanat Sri Ningsih yaitu mengurus harta warisannya.

Ada satu hal yang membuat karyawan di firma hukum yang mengurus tentang harta warisan tercengang yaitu kekayaan yang diwariskan Sri Ningsih bukan hanya seratus atau dua ratus juta. Tapi mencapai angka 19 triliun rupiah. Sebuah tanda tanya besar pun muncul, mengapa seorang penghuni panti jompo bisa memiliki kekayaan sebesar itu? Dan siapa ahli warisnya? Karena tak ada catatan sama sekali ia memiliki keluarga.


            Adalah Zaman Zulkarnaen, pengacara muda asal Indonesia yang bertugas menangani kasus tersebut. Zaman pun kemudian langsung terbang ke beberapa tempat untuk menelusuri kehidupan Sri Ningsih. Tempat pertama adalah Paris, di mana panti jompo Sri Ningsih bernauang berada. Di sana Zaman bertemu dengan Aimee, petugas panti. Lewat gadis berusia 30an itu, Zaman mendapatkan buku harian Sri Ningsih.

            Buku harian itu terdiri dari lima bagian yang ditulis Sri Ningsih. Sri menamai tiap bagian dengan nama juz. Juz pertama tentang kesabaran menerbangkan Zaman ke satu wilayah di kawasan Sumbawa yaitu Pulau Bungin. Di sanalah kehidupan masa kecil Sri Ningsih berada. Setelah dari Pulau Bungin, Zaman beranjak ke Surakarta, Sri menyebut Surakarta sebagai masa persahabatan yang termaktub dalam juz kedua buku hariannya. Saat di Surakarta, Sri memang bersahabat dengan dua wanita, Nur’aini dan Sulastri. Foto mereka bertiga juga tersimpan di buku harian Sri.

Selepas dari Surakarta, petualangan Sri berada di Jakarta. Zaman pun ke Jakarta menelusuri alamat yang ada pada surat-surat yang dikirimkan Sri ke Nur’aini. Kehidupan Sri Ningsih di Jakarta ternyata penuh dengan cerita jatuh bangun ia membangun bisnis. Tentang kehidupan Sri di Jakarta tertuang dalam buku hariannya pada juz ketiga yang bertema keteguhan hati.

Setelah tuntas menelusuri kehidupan Sri di Jakarta, selanjutnya Zaman kembali ke London, tempat di mana kantor firma hukum Zaman berada. Di London pulalah Sri Ningsih hijrah pasca kehidupannya di Jakarta. Dalam buku hariannya, Sri menulis London dalam juz keempat yaitu tentang cinta. Setelah mendapatkan banyak informasi di London, Zaman pun kembali ke Paris. Paris disebut Sri pada juz kelima buku hariannya yaitu tentang memeluk semua rasa sakit. Di Paris, Zaman menelusuri akhir kehidupan dari Sri Ningsih untuk menentukan siapa pewaris yang berhak akan harta yang ditinggalkan oleh Sri. Berhasilkah Zaman?

            Novel setebal 524 halaman ini merupakan karya terbaru tere Liye yang terbit pada bulan Oktober 2016. Tidak ada sinopsis khusus berupa cerita yang didapatkan pembaca jika membaca blurb di cover belakang Tentang Kamu. Karena di sana hanya tertulis untaian kata walau sederhana tapi maknanya dalam. Namun, itulah yang didapat dari keseluruhan cerita di novel ini. Dari seorang Sri yang sederhana, kita akan menemukan sebuah perjalanan hidup dengan pemaknaan yang dalam.
Cover Belakang Tentang Kamu

            Tere Liye bukan nama baru di dunia perbukuan Indonesia. Novel-novel yang ditulisnya kemudian diterbitkan selalu best seller di mana-mana. Tentu saja ini didukung oleh kelebihan-kelebihan tulisannya yang memikat pembaca. Sama halnya dengan novel tentang kamu ini. Elemen-elemen yang ada dalam sebuah karya fiksi diramu oleh Tere Liye dengan sedemikian rupa, sehingga setiap bagiannya terasa istimewa.

Sebuah karya fiksi tersusun dari elemen-elemen penyusunnya yaitu ide, karakter, plot dan alur, setting, serta ciri khas dari penulis. Dalam novel Tentang Kamu ada keistimewaan dari tiap elemen tersebut.

1.     Ide

Cerita tentang Kamu dibuka oleh seorang pengacara yang bergegas ke kantornya, kemudian disertai kilas balik tentang mengapa pengacara muda tersebut bekerja di sebuah firma hukum. Juga apa yang menjadi kelebihan firma hukum itu sehingga terasa istimewa.

Setelahnya pembaca akan disuguhkan oleh kasus yang harus ditangani oleh Zaman Zulkarnaen yaitu mencari ahli waris dari seorang penghuni panti jompo dengan kekayaan berlimpah yang bernama Sri Ningsih. Hal ini akan mengikat pembaca dari awal cerita sehingga mereka pun akan berpenasaran ria, siapa Sri Ningsih ini? Penghuni panti Jumpo mengapa sebegitu kayanya? Ide cerita ini pun kemudian mengalir menjadi sebuah kisah kehidupan yang menakjubkan dengan banyak pelajaran hidup.

2.     Karakter

Karakter yang paling menonjol ditampilkan di novel ini adalah karakter dari Sri Ningsih. Sri Ningsih tidak digambarkan sebagai wanita cantik jelita, tapi justru penggambaran yang paling sering muncul adalah pendek, gempal, dan hitam. Namun, bukan fisik yang menyedot perhatian pembaca, justru dari kisah hidupnya yang menakjubkan membuat para pembaca mengetahui kalau hati seorang Sri adalah hati yang cantik jelita.

Kehidupan Sri penuh tantangan dan kesedihan, namun, Sri memeluk semua kepahitan itu dengan lapang dada walaupun begitu dalam novel ini Sri tetap ditampilkan sebagai manusia biasa, yang kerap kali ia merasa letih juga patah semangat. Ada masa di mana Sri merasa kesedihan begitu dalam membelenggu dirinya dan ia tak bisa lepas darinya.

Zaman Zulkarnaen juga tak bisa dielakkan begitu saja keberadaannya di novel ini. Kehadiran Zaman di novel ini seperti kehadiran Zaman bagi Rajendra Khan, penjual roti di mana Zaman kerap mampir membeli sarapan. Percakapan singkat mereka hanya 60-90 detik, tapi karena nyaris setiap hari, mereka mengenal satu sama lain dengan baik lewat rangkaian potongan-potongan percakapan pendek.

Begitu pun dengan Zaman di novel Tentang Kamu, walau kisah kehidupan Sri yang lebih mendominasi, tapi rangkaian cerita-cerita singkat tentang Zaman  membuat pembaca sedikit demi sedikit tahu tentang kehidupan Zaman. Seperti tentang Zaman yang belum menikah dan ibunya yang mulai menjodoh-jodohkannya dengan tetangga sebelah. Walau prioritas cerita bukan pada Zaman, tapi kehadiran Zaman tetap menarik perhatian.

Kehadiran karakter-karakter pendukung juga ikut memperkaya jalan cerita. Aimee, Beatrice, Maximillien, La Golo, Ode, Sueb, dan yang lainnya. Yang paling menonjol adalah karakter dari Rajendra Khan. Pedagang roti yang menjadi langganan Zaman itu kerap melontarkan celutukan-celutukan yang membuat pembaca terhibur.

3.     Plot dan Alur

Alur yang digunakan di novel ini adalah alur maju mundur. Ada alur mundur dalam menengok kehidupan Sri Ningsih, juga alur maju cerita tentang Zaman yang harus menuntaskan pekerjaannya.

Dalam alur dan plot di novel ini terlihat betapa piawai seorang Tere Liye meramu sebuah ide. Karena bisa saja cerita hanya bergulir dimulai dari kehidupan Sri Ningsih lahir hingga ia wafat. Tapi, Tere Liye justru membuat alur cerita tidak demikian. Dengan cara memulai dari akhir (Saat Sri Ningsih wafat) justru lebih mengikat pembaca yang bertanya-tanya siapa sebenarnya sosok Sri Ningsih dan apakah Zaman berhasil menuntaskan tugas pekerjaannya.

4.      Setting

Setting waktu atau pun setting tempat yang disajikan novel ini sama istimewanya, perpaduan antara setting tempat dan waktu justru merupakan kelebihan tersendiri.. Dengan perpaduan itu, kita justru bisa mempelajari sejarah yang terjadi di negeri ini.

Setting tempat misalkan, membuat kita mengetahui satu tempat yang selama ini jarang sekali diulas yaitu Pulau Bungin, Sumbawa. Pulau terpadat di dunia. Berdasarkan petunjuk dari buku harian Sri yang menyebut ‘Di tempat di mana rumah-rumah yang bersinggungan atap, tiada tanah, rumput, apalagi pepehonan yang terlihat oleh elang yang terbang tinggi’, kemudian dengan bantuan Razak, pilot pesawat jet yang ditumpangi Zaman, ia mengetahui tentang Pulau Bungin tersebut. Pulau yang luasnya paling delapan hektare, seluruh pulau hanya terlihat atap rumah. Rapat satu sama lain, tidak menyisakan pemandangan tanah lagi.
Pulau Bungin
Sumber : inafeed.com

Di pulau itulah kehidupan Sri Ningsih bermula dan cerita awal betapa keras kehidupannya dan betapa begitu gigih Sri dalam menghadapi segala kesulitan hidup.

Setting tempat selanjutnya yang dituturkan di novel ini adalah Surakarta pada rentang tahun 1961-1966. Seperti yang kita tahu bahwa di tahun 1965 ada peristiwa pemberontakan di negeri ini. Tere Liye lewat untaian kata yang terbangun di novel ini juga menuturkan terkait yang terjadi di tahun 1965. Pengkhianatan yang membuat Sri lebih terluka lagi.

Penggambaran akan pembantaian yang dilakukan oleh penjahat pengkhianat itu sungguh membuat jeri. Kejadian di novel ini penting untuk diingat kembali, bukan untuk membuka luka lama, tapi untuk mengingatkan betapa kejamnya apa yang telah dilakukan para pengkhianat itu pada tahun 1965.

Pada saat Sri Ningsih ke Jakarta, perjalanan hidupnya justru seakan merekam pembangunan Jakarta pada rentang waktu 1967-1979. Sri Ningsih tidak bercerita langsung, tapi lewat penelusuruan Zaman dan bantuan dari ‘guide’ Zaman di Jakarta, pembaca disuguhkan akan sejarah pembangunan kota Jakarta.

5.     Ciri Khas Penulis

Dalam sebuah talk show, Tere Liye pernah mengungkapkan ada tiga tahapan dalam menulis yaitu menemani dan menghibur, bermanfaat, dan yang ketiga adalah menjadi inspirasi. Ketiga hal ini memang selalu ada dalam tiap karya Tere Liye.

Tentang Kamu tentu saja menemani dan menghibur para pembacanya. Cerita Zaman menelusuri kehidupan Sri Ningsih membuat pembaca penasaran. Dari novel Tentang Kamu, Tere Liye juga mengajak pembaca untuk menelusuri sejarah. Diantaranya, betapa kejamnya pemberontakan pada tahun 1965, juga sejarah pembangunanan Jakarta seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya.

Kegigihan Sri Ningsih dalam berusaha kerap kali membuat Zaman Zulkarnaen juga ikutan merasa terinspirasi dan termotivasi. Seperti saat dia ingin menemui pimpinan pabrik tapi ditolak sekuriti, maka Zaman bertanya dalam hati ‘Apa yang akan dilakukan Sri jika dalam posisi seperti ini?’ (Halaman 266)

Begitu juga kegigihan Sri dalam membangun bisnisnya yang termaktub pada juz ketiga buku hariannya. Di sana Sri menyebut : “Saat kita melakukan yang terbaik dan tetap gagal, apa lagi yang harus kita lakukan? Berapa kali kita harus mencoba hingga tahu bahwa kita telah tiba batas akhirnya? … Berapa kali kita harus menerima kenyataan, untuk tahu bahwa kita memang tidak berbakat, sesuatu itu bukan jalan hidup kita, lantas melangkah mundur? Aku sekarang tahu jawabannya … Jika kita gagal 1000x, maka pastikan kita bangkit 1001x.”

Kalimat-kalimat itu bisa saja menjadi inspirasi para pembaca Tentang Kamu untuk terus gigih berusaha. Begitu pun ketika luka dan kesedihan silih berganti mewarnai kehidupan Sri. Sri bangkit saat ia teringat pada perkataan Hakan : aku tidak akan menangis sedih karena semua berakhir, aku akan tersenyum bahagia karena semua hal itu pernah terjadi. Apa yang dilakukan Sri dalam memeluk semua rasa sakit semoga juga menjadi inspirasi para pembaca untuk senantiasa move on ketika terluka.

            Dengan segala kelebihan pada elemen-elemen penyusun yang ada pada novel ini, ada beberapa hal yang mengganjal seperti pada usia Sueb, tukang ojek yang membawa Zaman mengelilingi Jakarta untuk menelusuri alamat-alamat Sri Ningsih.

‘Usia Sueb empat puluh tahunan’ keterangan itu tertulis di halaman 202. Jika merujuk pada penggunaan aplikasi ojek online yang baru ada di Jakarta dalam dua tahun terakhir, apa yang tertulis di buku ini terjadi pada tahun 2015 ke atas, maka diperkirakan Sueb lahir pada tahun 70-an atau akhir tahun 60-an. Namun, ketika Zaman bertanya pada Pak Sueb. “Apa yang Pak Sueb ketahui tentang peristiwa Januari 1974?” Salah satu jawaban Sueb justru memberitahu kalau saat tahun 1974 ia sudah berusia belum genap dua puluh tahun. Iya sih, usia 4 tahun juga belum genap dua puluh tahun. Tapi kalimat belum genap dua puluh tahun itu seolah-olah merujuk ke usia menjelang dua puluh tahun. Jadi, sebenarnya berapa usia Sueb?

            Begitu pula saat Sri dikatakan sudah terbiasa dengan transportasi massal negara maju karena sudah pernah mengunjungi Singapura. Seperti yang tertuang dalam kalimat pada halaman 309 ‘Sri pernah mengunjungi Singapura, dia pernah merasakan langsung naik kereta bawah tanah – sistem angkutan transportasi massal negara maju.’ Hal ini sedikit mengganjal karena Sri diceritakan mengunjungi Singapura pada tahun 1975. Pada tahun tersebut, Singapura baru 10 tahun merdeka dan mereka belum mempunyai kereta bawah tanah atau MRT (Mass Rapid Transit). MRT di Singapura pertama kali digunakan pada tahun 1987. 

            Bagian yang sedikit mengganjal lagi ditemukan pada pernyataan Nur’aini kepada Zaman dengan menyebut ‘… setelah lima belas tahun di sana, surat-suratnya terhenti total…’ padahal pada halaman lain disebut ada surat lain dari Sri kepada Nur’aini. Jika ada surat terakhir, harusnya pernyataannya bukan terhenti secara total.

Ada juga beberapa kesalahan ketik, namun, tentu saja hal ini bukan menjadi masalah besar. Seperti tulisan takewondo di halaman 23 yang seharusnya taekwondo jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Saya sertakan salah satu contoh, siapa tahu bisa jadi perbaikan untuk cetakan selanjutnya.

            Walaupun begitu, ada banyak hal seru yang bisa kita dapatkan dalam novel Tentang Kamu. Seperti pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang membuat pembaca merenung dan memikirkan jawabannya. Tapi, jawaban itu tidak lantas tanpa jawaban sama sekali. Semua pertanyaan mendapat jawaban seiring cerita berjalan. Seperti pertanyaan yang diajukan oleh senior lawyer di firma hukum tempat Zaman bekerja yang bernama Eric.

Pada saat mewawancarai Zaman, Eric mengajukan empat pertanyaan, salah satunya : ‘Jika berkata jujur akan membuat empat orang jahat terbunuh mengenaskan, sedangkan berbohong akan membuatnya selamat, maka pilihan mana yang akan Anda ambil?’ Pertanyaan tersebut muncul di bab awal, kemudian terjawab di bagian akhir. Apa yang menjadi jawaban kamu jika ditanyakan hal tersebut? Dan apa yang menjadi jawaban Zaman? Tentu saja akan lebih seru jika kita mencari tahu jawaban Zaman dengan membaca buku Tentang Kamu secara langsung.

Novel setebal 524 halaman ini terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Di dalamnya kita bisa menelusuri sungai kehidupan seorang Sri Ningsih. Tentang masa lalu, rasa sakit, ketabahan, keteguhan, mimpi-mimpi dan masa depan yang semuanya akan berlalu, seperti sungai yang mengalir.

***
Judul                           : Tentang Kamu
Penulis                        : Tere Liye
Editor                         : Triana Rahmawati
Tebal Buku                  : vi + 524 Halaman
Tahun Terbit                : 2016
Penerbit                     : Republika
           


65 komentar:

  1. Dan karena belum baca ini, akuuu jadi makin pengen bacaaaa.
    Pasti lebih seru jika dibaca sekali duduk ya. Aku suka meluangkan waktu gitu untuk novel2 tertentu.

    Resensi yang lengkap, Hai 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo, Mbak. Dibaca. Hihihi... Maka kita akan berenang di sungai kehidupan Sri Ningsih :D

      Hapus
  2. Yang berkesan dari novel ini adalah bungin. Tere liye membuat riset disana, kebetulan itu kampung saya 😄😄😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, kampungnya? Wah.. Keceee. Jadi terkenal nih Pulau Bungin. Saya pun penasaran sama pulau tersebut :D

      Hapus
  3. Ah, penasaran, sempat gak ya buat baca novelnya..:p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca dunk. Udah lepas2 tuh halaman novelnya :p

      Hapus
  4. Wuiih... Yantiii.. keren sangad lah ini resensinya.. dah kayak resensi para juara..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... Mbak Linda bisa aja. Makasiiih, Mbak :D

      Hapus
  5. Sudah baca, dan ... aduhai, rasanya saya pengin punya buku-buku lainnya. Setelah ini terus baca yg matahari, beda banget tapi sama serunya.

    Resensinya mantep banget, Mbak. Semoga menang. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Makasiiih, Mbak Leli. Saya belum baca yang Bulan, Bumi, dan Matahari, Mbak. Kapan2 pengin nyoba baca. Karena itu genrenya fantasi ya. Bukan selera saya. Hehehe..

      Hapus
  6. sukaaa ending dr resensi ini. jadi pengen baca bukunya lagi. hahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Endingnya bikin bapeeer. hahaha...

      Hapus
  7. Aku suka karya2 Tere Liye, kisahnya selalu menyentuh.
    Jadi penasaran novel ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup. Saya pun, Teh. Suka banget karya Tere Liye. Kecuali genre fantasi. Kalau ada novel baru Tere Liye langsung PO :D

      Hapus
  8. Waa detail banget review-nya. Semoga sukses, yan :)

    BalasHapus
  9. Jadi tahu pulau bungin.

    Tentang kehidupan Sri di Jakarta tertuang dalam buku hariannya pada juz keempat yang bertema keteguhan hati.

    Itu seharusnya juz ketiga kali ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya, Mbak. Terima kasih koreksinya. Iya, jadi tahu Pulau Bungin :D

      Hapus
  10. Resensinya lengkap, Mbak. Novel Tere Liye selalu menginspirasi. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Mbak Ratna. Selalu ada inspirasi dari tiap karya Bang Darwis :D

      Hapus
  11. Widihhh, tajam resensinya. Pasti ngolahnya lama ini.

    Kereeen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... 4 hari, Kakak... Sambil ngobrol sih ama emak2 BL :p

      Hapus
  12. Aku udah ada bukunya tapi belum sempat baca. :o

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau udah mulai seru jadi penasaran dan susah berhenti, Mbak :D

      Hapus
  13. Sering sekali dengar Tere Liye, tapi blm pernah baca karyanya nihh. Mgkn bisa dimulai dgn Tentang Kamu ini yaaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau mau yang rada tipis ada Daun yang Jatuh Tidak Pernah membenci Angin. Tapi Tentang Kamu ini juga kece banget :D

      Hapus
  14. Aku udah baca novel ini, kak. Menarik sekali karena ceritanya benar-benar mengandung banyak inspirasi! Tapi nyesek banget sama Sri Ningsih. Karena berbagai masalah datang menghampiri secara bertubi-tubi. :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener. Nyesak. Saya paling seedih waktu Nugroho pergi. Huhuhu... Kenapa ga dibikin hidup aja gitu :(Sedih banget di bagian itu...

      Hapus
  15. resensinya keren. jadi penasaran pengen baca. anaku yg di pesantren malah udaa baca duluan, pinjem punya temennya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah.. Anak2 santri sama dengan saya waktu ngekos dulu ya, Mbak Inna. Gantian baca buku. Seru mbak Ina ceritanya :D

      Hapus
  16. Hosh hosh, makin penasaran. Belum kesampaian baca buku ini Mbak Hairi huhuhu. Karakter tokoh2 tere liye emang asik bikin kita baca sampai akhir kata perkata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Kalau udah penasaran ga bisa berhenti bacanya LD

      Hapus
  17. Aku belum pernah baca buku ini mba. Jadi penasaran baca. Pernahnyya membaca berjudul Pulang aja mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau Pulang banyak action-nya ya, Mbak. Ini banyak perenungan hidupnya. Sejenis sama Rindu :D

      Hapus
  18. kalau sudah penulisnya Tere liye mau setebal apapun pasti semangat baca sampai habis ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha... Betuuul, Mbak. Makin tebal makin asyik :D

      Hapus
  19. Teliti banget yanti...setuju...sungai kehidupan sri emang inspiratif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiiih, Mbak Lyta. Iya, Mbak. Saya pun nyaris ga pengin ikutan lomba ini. Tapi kata2 Sri di buku hariannya tentang Keteguhan Hati membuat saya mencoba juga. Hihihi....

      Hapus
  20. Sudah beli novel ini, tapi belum sempat baca.
    Suka sama resensinya mba Yanti, bikin penasaran pengen baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak... Kalau dah masuk ke ceritanya makin penasaran, Mbak :D

      Hapus
  21. Lengkap referensi nya mba noted buat tambahan baca,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa baca bukunya ya, Mbak. Buku kece ini :D

      Hapus
  22. Ingin rasanya bisa seperti Tere Liye, menulis untuk menemani, menghibur, bermanfaat dan menginspirasi. Perlu latihan terus ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Nurul. Saya pun pengin. Betul, Mbak. Harus latihan terus. Tere Liye telah melalui karier kepenulisannya sudah lama. Saya yang baru ini harus sabar melalui proses :D

      Hapus
  23. jadi penasaran tumben tokoh utama dalam novel nggak cantik jelita btw suka kata2 aku tidak akan menangis sedih karena semua berakhir, aku akan tersenyum bahagia karena semua hal itu pernah terjadi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau Tere Liye, tokoh2 wanitanya beberapa emang enggak cantik, Mbak. Seperti di Bidadari2 Surga itu. Iya, Mbak. Saya pun suka dengan kata2 itu :-)

      Hapus
  24. udah punya bukunya tapi belum sempat dibaca.duh jadi malu..hehehe..tapi emang tere liye itu kereennya pake banget.. tahapan menulis aitu menemani dan menghibur, bermanfaat, dan yang ketiga adalah menjadi inspirasi. NOTEEDD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Lingga. Saya juga senang banget tahun kemarin bisa lihat tere Liye langsung. Baik dia ngomong atau nulis tetap menginspirasi :D

      Hapus
  25. Wah keliatan seru ini ya mba Hairi bacanya. Apalagi ada setting waktu dan lokasi yang berbeda2. 5 juzz. Luar biasa. Resensi mba Hairi apik banget. Jadi penasaran baca lengkapnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Ira. Apalagi setting Pulau Bungin-nya. Kita jadi tahu tentang pulau terpadat di dunia :D

      Hapus
  26. Bener banget, kita terlalu sibuk ngurusin hala2 yg besar, padahal yang kecil2 itu membahagiakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mas. Sering abai dengan hal-hal kecil ya kita :D

      Hapus
  27. aku selalu suka buku tere liye, banyak hal-hal yang menyentuh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama< mbak. Saya pun selalu PO jika dia terbitin buku baru kecuali yang genre fantasi :D

      Hapus
  28. Dan saya langsung pengen baca bukunya,

    BalasHapus
  29. Mantep banget ini resensinya.. Hihi

    BalasHapus
  30. Belum baca novel ini.... ntar coba cari ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga dapat novelnya ya, Mbak :D

      Hapus
  31. smg bisa belinya hehehe. mks resensinya yanti..

    BalasHapus
  32. Aku sudah baca sehari habis mba saking penasaran sama Sri Ningsih ahhaha...niat banget sampe ga ke pasar pas weekend :D
    setuju sama mba ada yang ga relevan kek ojek online itu yak. Kalau aku si tanda tanya sama si Lastri segampang itukah dy kabur dari pengasingan trus kejar2 Sri mmm namanya jg fiksi tp klo dijadiin film pasti bagus mba. Aqu nangis inget Sri kisahnya kasih inspirasi untuk terus usaha krn hasil ga akan membohongi usaha :)

    BalasHapus
  33. kayaknya novelnya cocok untuk dijadikan bacaan pas waktu lagi kosong....

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...