Jumat, 14 Juli 2017

[Cerpen Anak] Rahasia Shafiya


Namanya Shafiya. Fiya begitu ia biasa dipanggil. Fiya adalah murid baru di kelas Hanna. Keluarga Fiya menempati rumah kosong di sebelah rumah Hanna. Jadi, Fiya dan Hanna juga bertetangga. 

Fiya anak yang supel, ia pandai bergaul. Baru beberapa hari di sekolah, Fiya sudah punya banyak teman. Semua orang menyukai Fiya yang murah senyum dan suka menyapa siapa saja. 

Hanna sering mengamati Fiya dari rumahnya. Setiap hari, Fiya sering bermain sepeda di kompleks perumahan mereka. Atau Fiya duduk membaca buku cerita di halaman rumahnya. Fiya juga sering bergabung dengan teman-teman kompleks untuk bermain bersama. 

"Fiya tidak pernah kelihatan belajar," kata Hanna kepada Billa. 

Hari ini Hanna dan teman-teman sekelas kaget. Hasil ulangan matematika minggu kemarin dibagikan. Fiya mendapatkan nilai sempurna. Biasanya Fatah sang juara kelas yang selalu mendapatkan nilai tertinggi. Tapi kali ini, Fatah harus mengakui kalau nilai Fiya lebih tinggi darinya. Ternyata selain ramah, Fiya juga pintar. 

"Mungkin kamu tidak melihatnya," kata Billa. Hanna tertegun sebentar kemudian menggeleng. 

"Kami bertetangga. Sering main bareng. Ia juga setiap sore aku lihat selalu bermain di luar rumah. Kecuali kalau hujan turun," ujar Hanna. 

"Kalau malam?" Pertanyaan Billa membuat alis Hanna terangkat. 

"Malam mungkin capek karena terlalu banyak bermain," jawab Hanna. Billa tertawa mendengarnya. 

"Hanna... Hanna... Kita kan tidak melihat kegiatan Fiya dalam 24 jam. Jadi, jangan berprasangka deh. Kata Ibu Neida, prasangka itu sebagian dari dosa," cetus Billa menirukan ucapan Ibu Neida saat mengajar di depan kelas.

"Ayo masuk kelas. Bel masuk sebentar lagi berbunyi," ajak Billa. Fiya pun mengikuti langkah Billa. Tapi keduanya terkejut saat melihat Fiya duduk tak jauh dari mereka. Fiya melempar senyum. Keduanya membalas senyum Fiya dengan kikuk.

Hanna dan Billa berpandangan. Isyarat mata mereka sama-sama berbicara, semoga Fiya tidak mendengar obrolan mereka. 

***

Hari-hari berikutnya Hanna masih sering mengamati Fiya. Fiya masih sering bermain di halaman atau di sekitar kompleks perumahan mereka. Pernah juga Hanna datang ke rumah Fiya. Mengantarkan makanan yang dimasak ibu. Saat itu malam selepas maghrib. Hanna tidak melihat Fiya sedang belajar. Fiya justru asyik menonton TV. 

Tapi nilai-nilai ulangan Fiya di sekolah selalu bagus. Fatah sekarang punya saingan yang hebat. Dulu Fatah adalah juara kelas yang tak terkalahkan.

Bruk!

Hanna menabrak seseorang. Rupanya Hanna berjalan sambil melamun memikirkan Fiya dan nilai-nilai ulangannya. Ia tak melihat jalan di depannya. Dan yang ditabrak Hanna adalah Fiya. Orang yang menganggu pikirannya.

"Maaf," kata Hanna. 

"Eh, Hanna. Tidak apa-apa," jawab Fiya dengan ramah.

Fiya kemudian berlalu meninggalkan Hanna. Hanna juga akan melangkah lagi, namun pandangannya tertuju pada sesuatu di lantai. Sebuah gulungan kertas. Hanna mengambilnya dan membuka gulungan kertas tersebut. Mata Hanna terbeliak melihat isi kertas di genggamannya. 

"Ini kan..." Hanna masih kaget. Ia melirik ke arah Fiya yang sudah berjalan jauh di belakangnya.

Fiya sepertinya tidak menyadari kalau telah menjatuhkan sesuatu. Sesuatu yang mungkin menjadi rahasia nilai-nilai bagus Fiya selama ini. Walau Fiya baru dua bulan satu kelas dengannya tapi Hanna kenal sekali dengan tulisan tangan Fiya. Karena itulah Hanna yakin sekali kalau kertas di tangannya adalah tulisan tangan Fiya. Isinya rangkuman pelajaran sekolah yang ditulis kecil sekali di secarik kertas. 

***

"Bisa jadi Fiya bikin ini buat belajar, Hanna. Bikin rangkuman di kertas kecil bukan berarti membukanya saat ulangan kan?" kata Billa. Hanna merengut sebal mendengarnya. Billa masih saja membela Fiya. 

"Tapi ini kutemukan kemarin, Billa. Saat pulang sekolah kami tak sengaja bertabrakan. Kemarin kan ada ulangan IPA. Isi kertas ini rangkuman pelajaran IPA," ujar Hanna. 

"Apa kamu melihat Fiya membukanya saat ulangan?" Tanya Billa. Hanna menggeleng.

"Bagaimana aku sempat memperhatikan Fiya. Aku sudah sibuk dengan kertas jawabanku sendiri," cetus Hanna. 

"Kalau begitu belum terbukti kan Fiya mencontek?" Tanya Billa lagi. Hanna hanya terdiam. Ia mendengus sebal mendengarnya. Billa mungkin sudah termakan manisnya sikap Fiya. Selalu saja membela Fiya. Hanna berjalan menjauh dari Billa. 

***

"Selamat pagi, Anak-anak." Suara Ibu Linda terdengar lantang dari depan kelas. 

"Selamat pagi, Bu." Teman-teman menyahut sapaan Ibu Linda.

Mereka semua tersenyum senang melihat Ibu Linda kembali mengajar. Ibu Linda baru mengajar lagi setelah cuti melahirkan. 

"Wah, ada anak baru ya. Siapa nama kamu, Nak?" Tanya Ibu Linda kepada Shafiya. Ibu Linda memang baru pertama kali bertemu Shafiya. 

"Shafiya, Bu. Panggil saja Fiya," jawab Fiya dengan senyum manis di wajahnya. 

"Wah, nama yang bagus. Mengingatkan ibu pada nama Istri Rasulullah, Shafiyah Binti Huyai. Ada yang tau cerita tentang Shafiyah binti Huyai?" Ibu Linda bertanya ke seantero kelas. Hanna menggeleng, Billa juga. Beberapa teman menjawab tidak tahu. 

"Baik. Sebelum pelajaran dimulai, ibu mau cerita tentang Shafiyah binti Huyai. Cerita beliau bersama Rasulullah." Hanna dan teman-teman serius mendengarkan. Inilah yang mereka rindukan dari Ibu Linda. Ibu Linda senang bercerita tentang Nabi-nabi, sahabat Nabi, juga anak dan istri Nabi. 

“Suatu waktu Rasulullah menggandeng istri beliau yang bernama Shafiyah keluar dari mesjid. Ketika Rasulullah sampai di pintu mesjid, tiba-tiba ada dua orang Ansar berjalan dan memberi salam kepada Rasulullah. Kalian tahu apa artinya Ansar?” Tanya Bu Linda. 

“Ansar adalah kaum yang menerima hijrah Rasulullah dari Makkah menuju Madinah,” Fiya menjawab. Ibu Linda membenarkan. 

“Kembali ke cerita Rasulullah bersama istri beliau Shafiyah binti Huyai. Saat bertemu dengan dua orang Ansar itu, Rasulullah memanggil keduanya dan berkata kalau yang beliau gandeng itu adalah istri beliau. Mendengar perkataan Rasulullah, kedua orang Ansar itu pun berkata, ‘Wahai, Rasul. Kami tidak mungkin berburuk sangka kepada engkau,’. Tetapi Rasulullah tetap menjelaskan agar tidak ada prasangka dan semuanya jelas. Kalau yang digandeng Rasul adalah istri beliau. 

“Jadi, anak-anakku sekalian, kita memang diperintahkan untuk tidak berburuk sangka pada sesama. Tapi, kita juga jangan membuat orang menjadi berburuk sangka kepada kita. Masing-masing harus saling menjaga, agar tidak ada prasangka dalam kehidupan. Paham?” Kata Bu Linda mengakhiri cerita. 

Seluruh kelas menyahut paham. Hanna mengangguk-angguk mendengarnya. Cerita tentang ini baru saja ia dengar. Kemudian ia merasa bersalah karena telah berburuk sangka pada Fiya. Hanna melirik Fiya yang ternyata juga tengah melirik dirinya. Namun ada yang ganjil dari Fiya saat itu. Gerak tubuh Fiya terlihat gelisah,  tidak seperti biasa yang penuh percaya diri. 

***

"Masih curiga dengan Fiya?" Tanya Billa saat istirahat pertama. Mereka berdua ada di kantin sekolah. Hanna tak langsung menjawab pertanyaan Billa. Sebenarnya ia mau bilang tak lagi curiga. Tapi, hatinya tak sepenuhnya yakin. 

"Tapi buat apa coba rangkuman pelajaran gitu ditulis kecil-kecil di secarik kertas," ujar Hanna. Ia tak bisa menyembunyikan kecurigaannya.

"Bisa buat belajar, Hanna. Atau kalau kamu mau tau bagaimana kalau kita tanyakan pada Fiya langsung?" Tawar Billa. Hanna mengangguk kemudian menggeleng cepat. Ia tidak mau Fiya tahu kalau ia mencurigainya. Tapi untuk tidak curiga juga susah. Duh! Hanna jadi serba salah. 

"Hanna... Billa... Boleh aku duduk di sini?" Hanna dan Billa terkejut. Ada Fiya di depan mereka yang sedang menunjuk kursi kosong di depan Hanna. Billa yang mempersilakan, sementara Hanna masih kaget melihat Fiya. Fiya seperti tahu kalau ia tengah dibicarakan atau dipikirkan. Selalu muncul di saat Hanna sedang membicarakan atau memikirkannya. 

"Hanna, aku mau minta maaf," kata Fiya mengagetkan Hanna sekali lagi. 

"Minta maaf untuk apa?" Tanya Hanna bingung. 

"Kertas.. Eh, gulungan kertas. Kamu mengambilnya kan waktu kita bertabrakan di koridor sekolah kemarin?" Hanna melirik sekilas gulungan kertas yang ada di kantong seragamnya. Ia kemudian mengangguk membenarkan. Jangan-jangan Fiya memang mencontek saat ulangan, pikiran nakal Hanna mengganggu lagi.

"Aku sengaja menjatuhkannya dan sengaja menabrak kamu di koridor, Hanna." Hanna terbelalak mendengar pengakuan Fiya. 

"Sengaja, Fi? Buat apa?" Hanna tidak bisa menyembunyikan kekagetannya.

"Errr..." Fiya menggaruk kepalanya. Entah gatal beneran atau hanya menutupi kegugupannya. Fiya terlihat gugup. "Aku mendengar pembicaraan kamu dan Billa waktu kamu bilang tidak pernah melihat aku belajar dan heran dengan nilai ulanganku yang bagus. Jadi, sekalian saja aku membuat kamu mengira aku mencontek. Jadi kujatuhkan kertas kecil itu di depan kamu. Ternyata hal seperti itu tidak boleh. Aku merasa bersalah saat mendengar cerita Ibu Linda tadi tentang istri Nabi bernama Shafiyah. Apalagi namaku sama dengan beliau." Fiya menjelaskan semuanya. Hanna dan Billa berpandangan. 

"Maaf ya, Hanna, Billa," kata Fiya lagi dengan nada menyesal. Billa kemudian bangkit dari duduknya dan merangkul Fiya. 

"Tidak apa-apa, Fiya. Yang penting kamu sudah tahu kesalahan kamu dan menyesal. Iya kan, Hanna?" Tanya Billa sambil memandang Hanna. Hanna akhirnya tersenyum dan ikut bangkit dari duduknya serta menghampiri Fiya. Ikut merangkul Fiya seperti Billa.

"Iya, Fiya. Aku juga minta maaf karena sudah curiga. Kan aku duluan yang curiga. Kamu sih tidak pernah terlihat belajar," ujar Hanna yang disambut tawa Fiya dan Billa.

"Aku belajar malam hari," kata Fiya. "Rutin setiap malam. Ada ulangan atau tidak. Ada PR atau tidak ada PR. Aku juga membuat rangkuman pelajaran di kertas kecil yang kamu temukan itu. Bukan untuk mencontek tapi agar bisa dibawa ke mana-mana dan dibaca ke mana-mana. Sambil makan bisa dibaca, sambil nonton TV juga. Sesekali kalau main juga bisa dibaca," jelas Fiya. 

"Tapi waktu aku ke rumah kamu, kamu tidak sedang belajar," cetus Hanna. Fiya tertawa. 

"Kebetulan aja aku nonton TV. Tapi kertas rangkuman pelajaran ada di dekatku saat itu," jawab Fiya. 

"Jadi masalahnya selesai kan?" Tanya Billa. Hanna dan Fiya berpandangan kemudian serempak menganggukkan kepala.

“Senang ya belajar sejarah Islam. Kita jadi belajar bagaimana sikap Rasulullah yang baik. Rasulullah memang keren sekali,” ujar Fiya. Hanna dan yang lain setuju. 

“Rasulullah idolaku,” ujar Hanna.

“Idolaku juga,” cetus Fiya.

“Aku juga mengidolakan Rasulullah.” Billa tak mau kalah.

Mereka tertawa bersama. Hanna tersenyum lega. Hari ini, ia banyak mendapat pelajaran dan Hanna yakin persahabatannya dengan Fiya akan lebih manis. Ah, Hanna akan mengajak Fiya belajar bersama supaya bisa dapat nilai bagus seperti Fiya.
*** end ***

Cerpen ini pernah saya ikutkan suatu lomba dan kalah. Hihihi... Karena cerpennya panjang dan saya menyerah duluan untuk mengeditnya ya sudahlah posting di blog saja. Semoga bermanfaat buat yang membacanya :-)






8 komentar:

  1. ada pesan moral yg bisa dipetik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Pesan buat penulisnya juga :D

      Hapus
  2. Makasih sdh share cerita ini, Kak Yanti. Salam buat Bu Neida, Bu Linda, hihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha... Ini waktu zaman2nya makai nama teman di cerita :D

      Hapus
  3. hehehe cerpennya bagus mbak.. sangat menyentuh dan pasti disukai oleh anak-anak.. masalah kalah atau tidaknya gappaa mbaa yang penting kita sudah berkreasi ya mba dan terus menerus berusahaa :)
    salam kenal dan salam blogger heheee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal dan salam bloggger juga mbak. Iyaa. Yang penting udah usaha ya. Kalah menang Allah yang menentukan :D

      Hapus
  4. Cernaknya masya Allah bagus, kenapa gak kirim ke Majalah Ummi aja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menyerah duluan ngeditnya mbak. Hihihi... Ini panjaaang

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...