Jumat, 11 Agustus 2017

Obsesi Oven


    Pernah tidak kamu punya keinginan terhadap sesuatu, berusaha mendapatkannya tapi tak kunjung berhasil. Sampai pada satu masa, hal yang begitu diinginkan itu tak lagi kamu inginkan. Bahkan ketika sesuatu itu tak seberat dulu untuk didapatkan. Saya? Pernah.

       Dulu, saya pernah begitu mengingankan sebuah produk jilbab. Agak mahal di kantong saya saat itu. Maju mundur cantik buat memilikinya. Suami mendorong saya, ‘Beli saja’ ujarnya. Tapi, untuk memiliki jilbab tersebut tidak cukup hanya membeli. Ada usaha lebih buat mendapatkannya. Dibuka PO setiap waktu tertentu dan rebutan dengan sesama orang yang ingin memilikinya.


       Sekali, dua kali, tiga kali, dan entah berapa kali ketika PO dibuka saya gagal mendapatkannya dengan beragam alasan. Ada yang keduluan sama yang lain, jemari saya tak cepat bergerak mengetik kata mau. Ada juga saya kelupaan, pun alasan kuota mampet yang membuat saya tidak bisa mengakses internet dengan lancar sehingga kain-kain cantik yang akan dijahit menjadi jilbab itu sudah ludes tak bersisa.

        Pernah juga saat saya sudah mendapatkan internet yang kencang, waktu yang pas, tapi mengamati satu demi satu produknya, saya merasa tak cocok. Daripada memaksakan diri, saya memilih untuk tidak ikut order. Kemudian…. Keinginan memiliki produk itu lenyap tak bersisa. Mungkin karena saya menemukan pengganti, mungkin juga karena saya sudah lelah mengejarnya.

        “Cinta itu bisa memudar,” simpul saya ketika menceritakan kejadian itu pada teman-teman.

        Dan sekarang, saya merasa CLBK, cinta lama yang bersemi kembali pada sesuatu yang begitu saya inginkan dulu. Bukan jilbab itu, tapi OVEN.
Kalau punya oven mungkin bisa bikin lasagna ini ^_^

 Keinginan memiliki oven itu lamaaa sekali. Saya masih ingat dulu kakak saya pernah bertanya kepada saya, produk elektronik apa yang saya inginkan? Saya jawab oven.
       
       Jadi, usaha keluarga saya membuat kami berkesempatan memiliki beberapa barang gratis. Baik karena bonus, atau pun karena mencapai target penjualan. TV gratis, kulkas hadiah, rice cooker bonus, jalan-jalan ke Bali pun pernah didapat kakak saya secara gratis. Karena seringnya mendapatkan yang gratisan ini, sampai-sampai ketika kakak saya pergi haji ada yang nanya apa itu juga bagian dari gratisan? Hahaha…

         Kembali ke oven. Saat memberikan jawaban itu, kakak saya tidak protes. Ia pun mengajukan oven sebagai entah hadiah dalam rangka apa. Beberapa waktu kemudian datanglah produk tersebut ke rumah, dengan semangat saya membukanya dan ternyata isinya Microwave! Mama saya senang, saya lunglai. Saya mau oven, bukan microwave. Apalagi microwave itu hanya berfungsi sebagai microwave, bukan microwave yang bisa sekalian oven. Keinginan memiliki oven pun harus saya lupakan dulu.

           Setelah menikah, oven itu kembali menjadi ambisi saya. Setiap datang ke supermarket saya selalu semangat membawa langkah saya menuju ke tempat produk elektronik dipajang. Pada satu ketika, saya (dengan restu suami) bertekad membeli oven. Menuju ke sebuah supermarket dan menunjuk satu produk. Jawaban karyawan supermarket itu “Produk kosong” Yang ada hanya display dan tidak bisa dijual. Gagal lagi deh memiliki oven dan entah karena apa semenjak itu keinginan memiliki oven memudar.

        Beberapa hari yang lalu, keinginan memiliki oven kembali muncul. Semacam cinta lama yang bersemi kembali. Pencetusnya sederhana sekali, saya melihat di IG ada yang membuat semacam roti. Tetiba saya kok pengin bikin roti seperti itu. Langsung WA suami dan bilang “Saya pengin oven”

                “Boleh. Asal dipakai,” jawab suami.

                Glek!

                Saya tak bisa menjamin hal itu.

                “Konsul dulu deh sama Ina,” kata saya pada suami.

           Kali ini oven yang saya inginkan bukan oven listrik, tapi oven tangkring. Dengan harga yang lebih murah dan saya tak perlu cemas dengan listrik yang naik, saya rasa keputusan ingin memiliki oven tangkring layak buat diwujudkan.
Kalau punya oven mungkin bisa bikin cooekies ini

      “Beli aja, Yan. Murah kok,” ujar Ina di ujung sana. Dan sederet pembicaraan kami lainnya yang membuat saya memikirkan ulang buat membeli oven. Sebenarnya Ina mendorong sih buat saya beli oven tapi ada beberapa yang menjadi pertimbangan saya seperti mikser saya yang masih ada di rumah ortu. Mikser itu sendiri adalah hadiah dari teman-teman saat saya menikah.

           Sebenarnya saya lumayan sering bolak balik ke rumah ortu walau harus menempuh perjalanan udara. Tapi untuk membawa oven, hemmm…. Sepertinya agak berat buat saya. Kecuali saya menempuh perjalanan darat lagi dengan memakai mobil sendiri seperti perjalanan darat saya dulu yang pernah saya ceritakan di sini. Kalau pakai mobil sendiri kan bisa masuk bannyak barang. Kalau bagasi pesawat saya sudah berat dan penuh oleh beras unus yang saya bawa. Wkwkwkwk....

        Selain alasan tidak ada mikser, saya pun mulai memikirkan apa yang saya bikin dari oven tersebut? Roti kan bisa beli. Bolu tidak terlalu doyan, kue kering pun begitu. Dan juga kan katanya mau diet, walaupun dietnya selalu mulai besok. Wkwkwk….. Lagipula masih banyak sekali kudapan yang bisa saya bikin tanpa menggunakan oven. Saya pun mencoba mendaftar apa saja yang ingin saya bikin dan belum saya wujudkan juga.
1.       Arem-arem
2.       Karipap atau pastel
3.       Dadar gulung
4.       Lemper
5.       Risoles
6.       Biji tiwadak dengan tahi lala, dan masih banyak lagi.
Walaupun kadang kala keinginan itu dikalahkan karena ada yang jual. Buahahahaa….
Bikin roti dengan toping keju ini ga perlu oven.
Rotinya beli :p

Jadi intinya ya suka malas dan kemudian merasa kalau biarlah saya memendam kembali keinginan untuk memiliki oven. Mungkin suatu hari akan terwujud. Mungkin juga tidak. Apa teman-teman juga punya niatan untuk memiliki oven?  

7 komentar:

  1. Kalau saya bisa dan hobi masak mungkin saya juga ngidam oven mbak. Tapi apalah daya saya hanya bisa makan :D

    BalasHapus
  2. saya juga udah lama pengen punya oven mba hehe

    BalasHapus
  3. aku masih pakai oven mama. mungkin kalau sudah punya rumah sorang nukar ae kena. lumayan gasan meulah pizza. hehe

    BalasHapus
  4. Dulu aku punya keinginan memiliki gilingan mie yang bisa juga buat gilingan untuk stik keju, karena aku suka camilan ini. Setelah bisa beli, beberapa kali bikin stik keju. Tapi karena merasa bikinnya capek tapi cepet ludes, akhirnya jadi jarang dipake >·<

    Sekarang pingin punya cetakan yang lubang-lubang (bisa buat bikin terang bulan mini, martabak bulat dsb). Cuma, ntar bakal rajin bikin kue nggak ya? ^-^

    BalasHapus
  5. mungkin belum waktunya mbak, entar bakalan datang sendiri kok ovennya

    BalasHapus
  6. Mama saya pengen oven sudah lama sekali. Dan baru terwujud, ya itu oven ankring. Paling dipakainya saat mau lebaran doang, ah enakan beli kue jadi tidak ribet. Ya namanya emak-emak :)

    BalasHapus
  7. Akuuuuh! Bertahun-tahun. Sampe jelang Ramadan kemaren, itu oven dah diturunin dari rak sama petugas toko, gak jadi beli. Kayak belum sreg di hati. *maaf ya mbak sales ��

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...