Rabu, 03 Januari 2018

Markobar Balikpapan

Ada hal-hal yang di luar kuasa kita. Ada hal-hal yang seberapa pun kita inginkan, sudah di depan mata, tapi kalau bukan rezeki ya bisa lewat begitu saja.

Satu hari sebelum balik saat pulang kampung beberapa bulan yang lalu, tante saya membawakan kue yang sangat enak sekali. Saya langsung melahapnya dan habis beberapa potong. 

Melihat saya lahap, mama kemudian bilang agar saya membungkus beberapa potong kue lagi untuk dibawa dalam perjalanan. Saya setuju dan langsung melakukannya saat itu. Membungkus beberapa potong kue dan menyisihkannya agar tak dimakan orang rumah. 


Malam harinya, saya ikut Om saya pergi ke Banjarbaru sebelum esok harinya ke Balikpapan. Saya menaruh semua barang bawaan saya di ruang tamu dan kemudian kakak saya membantu memasukkan ke dalam mobil. Dan tebak apa? Kue yang saya sisihkan itu kelupaan dibawa. Hahaha... 

Esok harinya mama menelpon "Kamu melupakan kuemu. Ya, namanya belum rezeki ya," kata mama. Saya tertawa dan membenarkan. "Iya, Ma. Belum rezeki," kata saya. Tiba-tiba saya teringat lagi akan sepenggal kisah itu saat menyantap Markobar. Markobar yang usaha anak Presiden itu loooh.. 
Markobar 8 rasa

Markobar di Balikpapan ini sudah lumayan lama buka. Tempatnya pun termasuk 'daerah jajahan' saya, maksudnya saya lumayan sering ke sana. Pasar Segar Balikpapan namanya. Saya lumayan sering ke Pasar Segar ketika ke Balikpapan.
Pasar Segar di Balikpapan. Bagian dalam

Pasar Segar itu pasar bersih walau penjual tak terlalu banyak. Tapiii.. ada beberapa penjual favorit saya di sana seperti penjual buah yang selalu jujur (kapan-kapan moga saya bisa cerita tentang beliau. Orangnya jujuuur banget), juga penjual tempe dan tahu yang enak. Kerap kali saya membeli tempe yang belum jadi di Pasar Segar.

Sering ke Pasar Segar dan melewati Markobar, tidak lantas saya langsung mencobanya. Tidak kepengin aja. Dan tidak berniat untuk mencoba. Belum rezeki mencicipinya. Sampai suatu hari saya menyaksikan salah satu video Raditya Dika di youtube.

Perang martabak judul vlog Raditya Dika itu. Mencoba beberapa martabak manis dan kemudian nge-rating martabak itu. Salah satunya markobar. Saat selesai menontonnya saya bilang ke suami "Kalau ke Balikpapan kita nyoba markobar, yuk." Suami setuju. 

Maka, di bulan Desember kemarin saya benar-benar melakukannya. Ke Pasar Segar dengan tujuan Markobar. Btw... Markobar singkatan dari apa sih? 

Bentuk kedai Markobar itu tidak seperti penjual martabak manis atau terang bulan kebanyakan. Biasanya kan yang di tepi jalan pakai rombong-rombong gitu. Markobar tidak. Dia ada di sebuah pertokoan, menempati satu petak di pertokoan pasar segar. 

Ada lembaran menu yang tersedia di outlet Markobar tersebut. Emmm.. outlet-nya macam apa yak? Macam kita bayar sesuatu gitu. Apotek kali ya. Bisa dilihat di foto penampakannya ya. 
pesan markobar di Balikpapan

Ada beberapa menu Markobar. Ada martabak manis 2 rasa, 4 rasa, dan 8 rasa. "Best seller kita yang 8 rasa." Begitu informasi yang saya dapatkan dari penjaga outlet, maka saya pun memesan yang 8 rasa. 
Pilih Topping Markobar

Ada 8 dari 11 pilihan toping yang bisa kita pilih untuk Markobar 8 rasa. Harga untuk 8 rasa 80 ribu rupiah, artinya per potong 10 ribu rupiah. 
Menu Markobar

Saat malam hari berkunjung ke sana, ada bangku dan meja di depan Markobar. Rupanya itu meja dan bangku dari kedai makan di sebelah. Karena itulah sewaktu saya duduk di sana, ada pelayan kedai sebelah yang mendekati dan mengira kami akan memesan. Di Markobar sendiri ada bangku kayu yang bisa digunakan duduk untuk menunggu. 

Menunggunya tergantung antrian. Kalau langsung dibuatkan ya tidak terlalu lama. Saya lupa melihat penanda waktu di ponsel saya untuk mengetahui berapa lama persisnya saya menunggu. 

Kata Raditya Dika, markobar ini tipe martabak manis yang terbuka dan memaparkan aurat. Jika martabak manis atau terang bulan pada umumnya ditutup dua sehingga menjadi setengah lingkaran, maka Markobar tetap berbentuk bulat dengan toping yang langsung terlihat. Seperti pizza jadinya. 

Topingnya bukan jenis toping yang melimpah ruah yang bikin tangan belepotan dan mulut comel-comel. Enggaak... markobar tidak seperti itu. Topingnya menutupi seluruh permukaan dengan ketebalan yang pas. Makanya makan markobar jadinya tidak eneg karena topingnya tidak berlebihan. 

Per slice sudah dipotong, jadi kita langsung bisa menyantapnya tanpa perlu cari pisau. Potongannya pun rapi. Tidak pecah sana sini. Bahkan bagian tepi yang krispi juga terpotong rapi. Mereka motong pakai pisau atau gergaji yak?

Rasanya? Enak, krispi juga di bagian tepinya. Ketika di Markobar, saya langsung menyantap saat panas-panasnya. Tentu saja rasanya lezat sekali. Ketika Markobar belum habis, sampai rumah, saya masukkan ke dalam kulkas sisanya.

Ketika ingin menyantapnya, saya panaskan di atas wajan datar anti lengket dan ditutup. Hasilnya? Panasnya bisa merata dan rasanya tetap enak. Bagian tepi-nya itu tetap renyah dan krispi. Wah, bisa sering ke markobar kalau gini. Hahaha... karena saya kan tinggal di desa dan suka kemaruk beli macam-macam kalau pulang kota untuk kembali dibawa pulang ke desa. 


Teman-teman pernah nyoba markobar yang merupakan usaha dari anak Presiden ini? Suka tidak? 

14 komentar:

  1. di sini markobar adanya di taher square. tapi aku belum pernah nyoba sih. heu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inggih, Ka. Ternyata ada di Bjm lah.

      Hapus
  2. Duh enaknya :D Saya tim martabak manis pula, wkwk. Kalau lihat yang beginian jadi ngiler. Btw, di malang belum ada cabangnya ya? Padahal pengen nyoba Makbobar :D

    BalasHapus
  3. Saya belum pernah lho makan Markobar ini. Di daerah Cikini rasanya ada deh. Iya martabak produksinya Gibran ini macam pizza dengan aneka topping ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener, Mbak. Macam pizza aneka toping. Bisa pilih toping yang kita suka aja :D

      Hapus
  4. Sudah nyoba mbak. Lumayan sih. Tapi aku tim martabak telor heheee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha... Iyaa. Saya juga suka martabak telor. Biasanya abis makan yang manis, mau yang asin. Abis makan yang asin, mau yang manis. Hihihi...

      Hapus
  5. lumayan banget ya harganya, paling mahal 80 ribu
    seperti apa ya rasanya

    BalasHapus
  6. Wuoo makobarnya jauh juga perjalanannya ya mba... sampai menyebrangi pulau...

    BalasHapus
  7. Pengen banget nyobain, tapi selalu teralihkan dengan makanan-makanan lain. Akhirnya belum nyoba2 hehehe

    BalasHapus
  8. aku udah pernah coba juga. mayan enak, mba. walo yang coklatnya manis banget, hehe

    BalasHapus
  9. aku belom pernah makan markobar itu tante
    di sini belom ada

    BalasHapus
  10. Hhhm pasti enak nih. Belum pernah nyobain markobar. Pilih yang 8 rasa gini enak ya, bisa icip2 berbagai rasa sekaligus.

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...