Kamis, 15 September 2011

Diorama Sepasang Al Banna dan Aku

Persil 1.
‘Ada sesuatu yang aku miliki. Sesuatu yang berusaha aku pertahankan keberadaannya. Ia tersimpan di dasar jiwa. Kecil, seperti bara api, tapi tak pernah padam. Terkadang berkobar jika tersiram bensin. Ada kalanya seperti itu.’
Gadis berjilbab panjang itu becerita. Aku menatapnya dalam.

“Kau juga punya. Bukankah dulu kau sering berkata. Jika kau genggam bara itu akan menghanguskan tanganmu. Jik kau lepaskan maka akan padam. Karena itu susah payah kau pertahankan, karena cahaya itulah yang akan menuntunmu dalam kegelapan”

Suara itu muncul tiba-tiba. Jelas. Sangat jelas.

‘Dakwah bagaikan susunan dari kepingan-kepingan puzzle. Logika sederhana dari cara berpikir yang sederhana. Kepingan pertama, jihad fisik. Dilakukan oleh orang-orang yang berjuang di jalannya dengan berperang. Keeping kedua, orang-orang yang berjuang dengan hartanya. Orang2 kaya yang dermawan, para pengusaha yang membuka lapangan kerja, pendiri yayasan dan panti asuhan. Keeping ketiga dan selanjutnya, otang2 yang berjihad dengan ilmunya. Untuk kepingyang ketiga ini, jumlahnya banyak sekali krn ilmu sendiri multidisipliner.
Hanya segitukah jumlah keeping yang ada? Tidak. Tidak sama sekali. Jumlah keeping itu masih banyak.’

“di bagian keping mana aku bisa masuk?”
Seperti Rani aku pun berusaha menggabungkan keping2 itu dan persis sepertinya aku pun tercenung lama.

Persil 2.
‘Aku hanyalah sepotong kayu yang rapuh, terombang-ambing di sungai deras. Aku tak juga bertemu muaraagar bisa mengapung tenang di lautan luas. Di tengah jalan aku terhempas oleh sebatang pohon yang melintang di tengah sungai. Aku hancur berkeping2..’

Kali ini Ryan, pemuda tampan, berkacamata, dingin dan angkuh yang berkata kepadaku.
Suara itu pun muncul lagi
“kau juga seperti Ryan”

Persil 3.

Dari Ibnu Mas’ud r.a., dia berkata, Nabi SAW. Membuat gambar empat persegi panjang. Di tengah2, di tarik satu garis sampai keluar. Kemudian, beliau membuat garis pendek2 di sebelah garis yang di tengah2, seraya bersabda : ‘ini adalah manusia dan empat persegi panjang yang mengelilinginya dalah ajal. Garis yang di luar ini adalah cita2nya, serta garis2 yang pendek adalah hambatan2nya. Apabila dia menghadapi hambatan yang satu, dia akan menghadapi hambatan2 yang lain, dan apabila dia menghadapi hambatan yang lain, dia akan menghadapi hambatan yang lain lagi.’

Persil 4.
Rani bercerita tentang dirinya. Panjang lebar. Aku menyimaknya. Hingga aku tersentak oleh satu kalimat.
‘Aku menghilang dari peredaran. Semua menudingku futur. Aku digolongkan sebagai aktivis yang berguguran di jalan dakwah’
***

”aku tahu tipemu. Tipemu pasti aktivis dakwah, berbaju kok, dipanggil dengan sebutan ikhwan. Iya kan?”
Rani tersenyum, ‘mereka indah sekali di mataku. Tapi untuk kondisi sekarang, rasanya tak layak untuk mendapatkan ikhwan seperti itu’

***

‘Hidup memang penuh dengan sodoran pilihan’

Persil 5.
Ryan lah yang kemudian bercerita.
‘tepat satu tahun setelah aku bergabung, waktu itu pergantian kepengurusan. Saat itulah aku di daulau untuk menjadi ketua bidang pengkaderan. Hanya gara2 dalam satu forum, dengan gamblangnya ku menjelaskan system tarbiyah Hasan Al-Banna. Hadirin terpukau. Aku menolak tapi keputusan sudah bulat. Akhirnya, aku menerimanya dengan tanggung jawab. Bahkan beberapa orang sempat berbisik. Inilah ketua kita tahun depan..’
Aku tersenyum. Mengingat betapa seringnya aku dulu saperti orang2 yang di katakan Ryan.

***

Jadi, inikah pribadi anda yang sebenarnya?
Lalu, dimana wahai engkau yang pernah punya gealr ketua pengkaderan, yang punya gema dakwah dalam dadanya? Gema itu telah padamkah? Hilang tak berbekaskah?
Anda adalah aktivis dakwah. Tapi itu dulu. Dulu. Mengapa harus ada kata ‘dulu’?
Apa kabar dakwah? Sampai di mana perjungan kalian? Kini.. aku seorang putrid yang terkurung dalam istana megah..

Sampai di sini aku tersentak. Denting itu kini berbunyi tepat 12 kali. aku pun mulai beranjak. Agar tidak terlambat menemui Sang Kekasih beberapa jam lagi. Buku bersampul biru itu kuletakkan pelan di sebelahku. Tertulis di covernya “Diorama Sepasang ALBANNA”. Dan malam ini aku seperti terbang menyusun kembali kepingan2 puzzle. Entah kenapa.. aku kembali tidak bisa membendung cairan bening ini.


*tulisan lama. Astagaaaa.... tulisan q dulu keren juga *gubrak*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...