Kamis, 25 Februari 2016

Tentang Mandai, si Kulit Cempedak

Ada yang belum tahu buah cempedak? Buah cempedak ini bukan buah nangka. Tapi dari segi kekerabatan tentu saja cempedak lebih dekat dengan nangka dibanding dengan mangga. Dari berbalas pantun eh komen dengan Mbak Maharani Aulia, saya menemukan fakta kalau cempedak ini satu genus dengan nangka. Genus (jamak genera) atau marga adalah salah satu bentuk pengelompokan dalam klasifikasi makhluk hidup yang lebih rendah dari familia (Sumber Wikipedia).
cempedak atau tiwadak
Saya pun perlu googling dulu buat mengingat pelajaran zaman biologi dulu. Hahaha... Cempedak dan Nangka sama-sama genus Artocarpus. Cempedak punya nama Artocarpus integer, sedangkan nangka punya nama Artocarpus heterophyllus.


Cempedak banyak terdapat di daerah saya di Kalimantan jika sedang musim. Buahnya enak dan manis (kalau dapat yang manis). Buahnya bisa dimakan begitu saja atau digoreng dengan adonan tepung. Yang digoreng dengan adonan tepung namanya menjadi gaguduh tiwadak atau sanggar tiwadak. Sanggar di sini merujuk kepada sesuatu yang digoreng. Bukan tempat untuk kegiatan seni.

Setelah buah cempedak diambil, eits... Kulit cempedak jangan dibuang karena enak dan maknyus dijadikan lauk.

LAUK?

Yup. Lauk penggagal diet. Bagi penggemar mandai, makan dengan mandai bisa menambahkan nasi berkali-kali hingga lupa akan program dietnya. Hahaha...

Mandai?

Kulit cempedak yang siap diolah dinamakan mandai. Mandai, si Kulit Cempedak. Cara membuatnya adalah dengan mengupas bagian luar kulitnya. Kemudian tersisa bagian dalam kulit. Bagian dalam ini bisa diolah langsung menjadi lauk jika kulitnya lembut atau diawetkan terlebih dahulu untuk melembutkan kulitnya. Kalau diolah langsung tinggal tumis atau goreng. Bisa diberi bumbu balado, atau cuma duo bawang merah dan putih serta cabe.
Kulit cempedak setelah dikupas bagian luarnya
Saya lebih familiar dengan cara diawetkan karena itu yang diajarkan mama saya. Kulit cempedak yang sudah bersih dibubuhi garam, dibiarkan satu malam, kemudian esok harinya direndam dengan air dan dimasukkan dalam wadah tertutup. Banyaknya garam berpengaruh pada awet tidaknya mandai tersebut. Makin banyak garam, makin awet. 
Mandai Goreng di rumah makan Yuli Cempaka
Setelah diawetkan dan mandai menjadi lembut, mandai bisa diolah sesuai selera. Bisa langsung digoreng atau ditumis seperti yang saya sebutkan di atas. Ditumis bersama duo bawang dan cabe. Beda orang, beda cara memasak mandai. Saya pun penasaran bagaimana resep mandai yang saya nikmati di kedai Iwakaring milik Agus Sasirangan ini.
Mandai di iwakaring Agus Sasirangan
Tentang mandai, si kulit cempedak yang amat saya gemari ini saya tulis dalam bentuk cerpen dan kemudian mengirimkannya ke Majalah Bobo pada tanggal 3 Februari 2015. Setahun kemudian tepatnya di edisi nomor 47 yang terbit hari ini pada tanggal 25 Februari 2016, cerpen saya itu dimuat di Majalah Bobo. 
Cerpen di Majalah Bobo. Foto dari Mbak Yayan Rika Harari
Alhamdulillah... Senang sekali masakan kegemaran bisa dimuat di Majalah Bobo. Bisa memperkenalkan makanan kesukaan saya yang terkenal di daerah saya kepada pembaca di seluruh Nusantara.
Bobo di nomor ini ada cerpen saya ^_^
Cerita Mandai, si Kulit Cempedak adalah cerita dua bersaudara Aini dan Aida yang menikmati buah cempedak kemudian ingin membuang kulitnya. Tante mereka pun mencegah dan menunjukkan cara memgolah kulit cempedak menjadi mandai. Semoga cerpennya disukai oleh para pembaca Majalah Bobo dan tertarik datang ke Kalimantan untuk menikmati kulit buah yang jadi lauk.

Oya, ngomong-ngomong soal genus Artocarpus yang menjadi genus mandai dan nangka, saya juga menemukan kalau tarap, buah yang juga bisa dijadikan lauk di daerah saya juga punya genus Artocarpus dengan nama Artocarpus odoratissimus. Apakah genus Artocarpus memang genus yang enak dijadikan lauk? 
Di daerah saya, nangka muda pun bisa dijadikan lauk juga. Bukan gudeg, tapi serupa mandai juga. Begitu juga dengan tarap. Bedanya dengan mandai, tarap diolah berupa buahnya secara keseluruhan. Buah yang masih muda. Kapan-kapan insyaAllah saya tuliskan tentang buah tarap yang jadi lauk. Sebelumnya kasih fotonya dulu :D
Tarak yang siap diolah

20 komentar:

  1. Beli Artocarpus integer lagi yuk.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha... Yuk, ntar malam minggu ya. Kalau ga ke Balikpapan :p

      Hapus
  2. Mba.. cempedak ternyata banyak juga olahannya. Bahkan kulitnya pun bisa. Ckckckx... dulu saya sukanya sama biji cempedak. Dijemur lalu digoreng..m nyam.... :-)

    Pengen juga sesekali merasakaan kulitnya.. si mandai...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Buah banyak manfaat. Bijinya enak direbus :D kulitnya juga enaaak banget :D

      Hapus
  3. Kalau digoreng mirip sukun ya mbak. Btw, selamat ya mbak. Tembus terus di majalah bobo ei

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya mb Ika.. Cempedak masih satu genus dengan sukun. Sama2 genus artocarpos :D

      Hapus
  4. Kreatif ya orang Indonesia bisa bikin makanan dari kulit buah. Baru tau nih. Yanti juga kreatif euy nulis cerpen kuliner untuk anak-anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun ingin menemukan siapa yg pertama kali menemukan kulit buah dijadikan lauk ini, Mbak. Berjasa sekali. Hehehe... Makasiiih, Mbak Leyla. Alhamdulillah :-)

      Hapus
  5. waah baru tau kalo kulitnya bisa dibikin lauk... selama ini biji nangka aja yg kita olah lg kalo lg makan nangka... cempedak aku jrg makan sih, walo tau buahnya.. wanginya lbih menusuk ya mba drpd nangka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Wanginya lebih menusuk..tapi menusuk menusuk enak gitu wanginya. Tapi sy ga tahan juga kalau perjalanan jauh bawa cempedak di mobil berAC
      Hehehe...

      Hapus
  6. Balasan
    1. Hihihi... Iya, Mbak. Bikin lapar :D

      Hapus
  7. dari berbalas komentar bisa menjadi ide cerita dan tayang pula di Bobo ya, selamat ya Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ide darimana saja ya, Mbak. Kadang saya yang kurang cekatan menangkapnya :D

      Hapus
  8. Mandai ini beneran tahan lama ya mbak? Di rumah kdng suka dikirimi mertua, tapi cuma suami aja yg makan. Kdng suka disimpen lebih dari sebulan di kulkas, katanya awet hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneran, Mbak. Punya sy ada yg udah satu tahun ini. Disimpan di suhu ruang aja. Ga di kulkas :-)

      Hapus
  9. belum pernah makan cempedak dijadikan lauk, selama ini makannya di goreng pake tepung, sama kaya makan sukun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Itu buahnya. Kalau yg dijadikan.lauk ini kulitnya :D

      Hapus
  10. Wah...ibu ku pernah bikin. ... waktu kecil pernah makannya..cz ibuku masih ada bau kalimantan...hi2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suka ga mbak? Emang terkenal di Kalimantan ini :D

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...